
......................
Pintu terbuka, dan memperlihatkan sosok Igor, Maxim dan Alexander dan Dominick Ivanov memasuki ruangan.
Alessio menatap mereka tak suka. Memeluk pinggang Lyra dengan posesif.
"Aww.. Romanov. Kau bahkan belum mengenalkan wanitamu pada kami. Kita tidak bisa memulai pestanya jika belum saling mengenal". Ujar Dominick. Mengedipkan sebelah matanya pada Lyra yang memeluk Alessio semakin erat.
Diantara mereka berlima, Dominick adalah yang paling terkenal sebagai womanizer. Pria ini berganti ganti wanita semudah ia berganti baju, tidak terhitung sudah berapa wanita yang sudah menjadi korbannya.
"Sudahlah, Ivanov. Dia tidak ingin berkenalan denganmu". Alessio mengerutkan kening sembari memeluk Lyra semakin erat.
"Halo, lassie. Omong-omong, aku Dominick Ivanov. Telah memperhatikanmu cukup lama sekarang, tapi Tuhan, kamu terlihat lebih menakjubkan dari dekat," dia menyeringai padanya, sama sekali mengabaikan tatapan membunuh dari Alessio.
Lyra hanya membenamkan wajahnya di d*da Alessio seperti anak kecil yang ketakutan. Mereka semua memang nampak sangat mengintimidasi.
"Dia takut padamu, Ivanov. Bersenang senanglah dengan gadis liar diluar sana". Salah satu dari mereka terkikik.
"Diam Vasiliev, Jangan samakan aku dengan kau dan pacarmu Volkov. Dan selain itu, aku juga suka jika wanitaku takut padaku". Dominick menyeringai. Matanya menjelajahi lekuk tubuh Lyra yang terlihat jelas dibalik gaun malam satinnya.
"Oh Tuhan, she's so fit. Tangkapan yang bagus disana, Romanov".
Alessio tak berkata apa apa, Namun Lyra terlonjak begitu laki laki itu mengeluarkan sesuatu dibalik saku celananya yang ternyata adalah pistol. Alessio menodongkan pistol itu kepada Dominick Ivanov.
"Geez... Tidak perlu terlalu sinis. Aku hanya menikmati pemandangan indah disini". Dominick meringis mengangkat tangannya pertanda menyerah. Tahu betul konsekuensi yang akan ia terima jika memprovokasi emosi Alessio.
Alessio kemudian melepas jas yang ia pakai, kemudian memakaikannya pada Lyra. Karena tubuhnya lebih besar, maka otomatis jas itu terlihat kebesaran di badannya yang mungil.
"Kenapa kalian semua ada disini?". Tanya Alessio.
Igor Volkov memandangi seisi ruangan dengan lekat, "Karena kami akan membiarkan pak tua itu menyelesaikan urusan mereka".
Kemudian mereka saling berbincang. Lyra mengamati satu persatu dari mereka. Semuanya terlihat menyeramkan dan sangat mengintimidasi. Kemudian pandangannya terfokus pada seorang laki laki berambut pirang yang tengah bersandar di pojok ruangan —sedari tadi laki laki itu tidak bicara satu katapun. Wajahnya juga pasif.
Namun hal yang menganehkan adalah ketika laki laki itu terus menatap lekat padanya.
Lyra sontak menyembunyikan wajahnya yang memerah. Entah mengapa tatapan laki laki itu membuatnya merasa aneh. Kenapa pula ia menatapnya sampai sebegitunya
"Hey, baby. Kau baik baik saja?". Tanya Alessio memecahkan lamunanya.
"Aku tidak apa apa"
"Bagaimana Romanov? Kau harus mengeceknya sekarang". Desar Maxim.
__ADS_1
Alessio memijit batang telinganya. "Aku tidak bisa meninggalkan Lyra disini".
Lyra menyentuh lengan Alessio lembut, "tidak apa apa, Alessio. Aku tidak akan kemana mana" . Ujarnya.
Alessio masih nampak skeptis. Memandang khawatir pada Lyra, "Tidak, princess. Suasana hatimu baru saja memburuk".
Lyra tersenyum lembut, Senyum yang selalu berhasil membuat jantung Alessio berdetak lebih keras karenanya. "Tidak apa apa. Aku sudah lebih baik, percayalah". Ujarnya menyakinkan.
Laki laki itu menarik nafas panjang kemudian membelai surai coklat keemasannya. "Kau yakin?". Tanyanya memastikan yang dijawab anggukan oleh Lyra.
"Baiklah. Tapi tunggu disini, aku akan memanggil seseorang untuk menjagamu".
"Tidak perlu. Aku akan menemaninya disini". Sontak Lyra menoleh pada laki laki pirang yang menatapnya tadi.
Alessio menatapnya tidak percaya. "Kau? Kenapa kau mau disini?".
"Karena aku malas mengotori tanganku". Ujarnya enteng. Seluruh ruangan terdiam. Lyra bertanya tanya apakah Alessio akan mengijinkannya atau tidak.
Hingga kemudian laki laki itu berbalik dan menatapnya, "Baby, kau kau disini saja bersama Alexander? tidak apa apa jika menolak. Aku akan mengirim seseorang bersamamu".
"Tidak apa apa Alessio". Jawabnya.
Alessio tersenyum —senyum yang tidak mencapai matanya dan cenderung dipaksakan. "Baiklah. Tetap disini, aku akan kembali lagi sebentar ini".
Mendapat anggukan persetujuan dari Lyra, laki laki itu kemudian memberi satu kecupan final dan kemudian mengisyaratkan Dominick, Igor dan Maxim untuk keluar mengikutinya.
Alexander tidak menjawab. Lyra kira ia akan menghiraukannya. Namun ternyata laki laki itu pun berjalan dan menempatkan dirinya disebelah Lyra.
Keadaan kembali hening. Lyra dapat merasakan pandangan laki laki itu yang terus tertuju padanya dibalik ujung matanya.
"Siapa namamu?". Lyra terpengkur. Menatap pada Alexander dan mendapati laki laki itu masih menatapnya intens.
"Uhmm.... Aku Lyra Estrella. Apakah Alessio tidak pernah menceritakan tentang aku pada kalian"
Butuh waktu lama bagi Alexander untuk menjawab. "Tidak. Ia lebih menyimpan kehidupan pribadinya pada dirinya sendiri"
Lyra menggumamkan "Hum" untuk mengiyakan. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Apakah kalian sudah kenal sejak lama?"
"Aku dan Alessio, kami sudah bertemu semenjak usia lima tahun. Tapi aku tidak tahu pastinya untuk Igor, Maxim dan Dominick"
Lyra mengolah informasi tersebut. Jika dipikirkan lagi, ia memang kurang tahu akan kehidupan pribadi laki laki itu. Apalagi tentang organisasi mereka.
"Hei, aku ingin bertanya apakah kau —"
__ADS_1
Belum sempat Alexander menyelesaikan kalimatnya. Alessio sudah terlebih dahulu masuk. Laki laki itu langsung mengambil tempat diantara Lyra dan Alexander.
Lyra pun bergelayut manja di pelukan Alessio. Menyandarkan tubuhnya yang sudah mulai terasa mengantuk pada laki laki itu.
"Tampaknya kau lelah, sayang. Mau tidur sekarang?"
Entahlah, namun ia merasa lebih lelah dari biasanya. Akhirnya iapun menyetujui perkataan Alessio.
Alessio pun menggendongnya didepan seperti koala. Lalu mengucapkan selamat tinggal pada tamu tamunya.
"Bagaimana kau bisa tahu ruangan bawah, princess?"
"Aku tidak tahu. Hanya mengikuti Aleksei tadi". Jawabnya polos. Alessio terkekeh.
"Alessio.... Sebenarnya siapa tadi?".
Alessio terdiam sejenak. Menunggu sampai ia selesai menyelesaikan langkahnya sampai ke atas tangga.
"Mereka adalah petinggi Bratva?"
"Brat-vawh?"
Alessio mengecup pelipisnya. "Tidak sayangku. Bratva. Mereka adalah kelompok mafia Rusia. Apakah kau tidak pernah mendengarnya?"
"No.. My daddy never told me about this"
[ Translate : Tidak. Ayahku tidak pernah memberitahuku tentang ini ]
"Singkatnya. Semua sindikat mafia itu terkumpul dalam Bratva. Kami semacam kelompok brotherhood. Jadi jika salah satu dari mereka membutuhkan bantuan kami dapat membantunya dan begitupun sebaliknya. Satu masalah Bratva menjadi masalah kami semua"
"Apa yang kalian, para mafia lakukan?"
"Kami mempunyai usaha masing masing. Mungkin banyaknya pekerjaan ilegal seperti menjual senjata dan lain lain, termasuk memiliki bar dan kasino. Namun kami juga terkadang memimpin perusahaan normal. Yang tadi kau lihat itu, mereka adalah The Heir. Para pewaris"
"oh, lalu apa kalian mempunyai pemimpin?"
"Tentu princess.. setiap kelompok membutuhkan pemimpin agar tetap berjalan"
"Siapa dia?"
"Kami. Para Romanov"
................
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.