
......................
Lyra sudah selesai mandi dan berpakaian ketika gadis itu melihat Alessio keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang menutupi pinggang hingga lututnya.
Netranya mengikuti gerakan Alessio yang melintasi ruangan, dan pria itu melihatnya tersenyum ketika mata mereka bertemu.
Alessio di depannya, dia mengangkat alisnya ke arah Lyra dengan nakal.
"Senang dengan apa yang kau lihat?" godanya.
Sambil menghela nafas, Lyra menggelengkan kepalaku dengan putus asa. Alessio bisa membuatnya frustasi kadang-kadang. Laki laki itu selalu terlihat tenang di segala keadaan dan benar-benar sombong. Tak lupa percaya diri dalam segala hal.
Tetapi itu adalah beberapa hal yang Lyra sukai dari Alessio. Dia bukanlah pria yang tidak tahu batas atas atau berbuat tak senonoh.
Alessio tahu dia seksi dan menggunakannya untuk keuntungannya setiap saat.
"Memang," gumam Lyra pelan dengan memutar mata.
“Lebih keras. Aku tidak mendengarnya," kata Alessio, laki laki itu mendekat ke arah Lyra.
Sambil menggelengkan kepala, Lyra tertawa. "Tidak. Aku tidak akan mengatakannya. Kau sudah mendengarnya"
"Baby...". Ujar Alessio rendah —sebuah peringatan.
Lyra merinding saat mendengar nama panggilan Alessio untuknya itu terdengar dari bibir pria itu. Lyra tidak akan menyangkalnya, gadis itu suka ketika Alessio memanggilnya dengan panggilan kesayangan semacam itu. Ada sesuatu yang intens dan memikat saat Alessio mengucapkannya.
"Alessio, aku akan terlambat. Nanny menungguku dibawah. Aku tidak mungkin membuatnya menunggu". Tegur Lyra. Masih menatap Alessio lurus.
Alessio menyilangkan tangannya, menatap Lyra penuh harap. Sambil menggelengkan kepala Lyra tersenyum. Pria itu benar benar sulit untuk ditolak.
"Tidak". Tegas Lyra sekali lagi. Gadis itu tidak boleh luluh oleh tatapan memelas yang diberikan oleh Alessio.
Memandangnya sekalu lagi, Lyra berbalik dan pergi ke menghadap kaca untuk memperbaiki rambutnya. Gadis itu melihat pantulan rambutnya yang sudah tersisir rapi ketika melihat Alessio kembali dengan pakaian setelan hitamnnya.
Pria itu berjalan ke arahnya dan melingkarkan lengannya di pinggan Lyra, menarik gadis itu ke tubuhnya sampai punggungnya berada di depannya. "Kamu tidak memberikanku ciuman selamat pagi," gumamnya, menatap Lyra melalui cermin.
__ADS_1
Oh Lyra lupa. Alessio itu juga sangat menuntut.
Menyingkap rambutnya ke samping, Alessio menempatkan ciuman basah di sepanjang leher jenjang gadis itu. Dia menggigit,
menghisap, dan menjilat sampai leher putihnya terdapat corak kemerahan.
Lyra melebur ke dalam pelukannya, semakin menenenggelamkan diri ke dalam pelukan Alessio. Pria menemukan titik sensitif Lyra dibelakang telingannya dan menggodanya dengan jilatan lidahnya. Kemudian memberi gigitan kecil di cuping telinganya. Pria itu terkekeh saat Lyra bergetar oleh sentuhan memabukkanya.
Kapalanya jatuh ke dada Alessio saat bibir pria itu jatuh di pangkal bahu dan sebelum akhirnya menggigit bahunya dan memberikan sedikit isapan pada kulitnya.
Lyra meng*rang, "Alessio..."
Alessio membalasnya dengan sebuah 'hmm'
"Kita tidak bisa… aku akan… terlambat…” Lyra menghela nafas saat pria itu terus menggodaku dengan senntuhan sentuhan yang menyiksa. Tubuhnya bergetar saat merasakan jemari panjang pria di ujung dressnya,
kemudian perlahan mendorong ke atas —memperlihatkan paha seputih susu milik Lyra.
Alessio benar benar seorang perayu handal , dan Lyra tidak punya kekuatan untuk mengatakan tidak. Jari-jarinya bergerak
menelusup ke dalam ****** ***** sang gadis, dan dia menekannya melalui kain tipis itu tepat di atas intinya yang hangat —membuat Lyra merintih.
"Aku bisa merasakan betapa basahnya kamu, dan aku hampir tidak menyentuhmu, baby". Bisik Alessio di telingannya
Menempatkan ciuman di sana, Alessio melepaskan tangannya dari bawah gaunku, membuatku merasa —anehnya kosong. “Kau akan terlambat, kan?” gumamnya. "kita tidak ingin nanny-mu marah"
Lyra menghela nafas dan berbalik dalam pelukan Alessio. Setelah tiga bulan disini, gadis itu cukup mengenalnya untuk tahu bahwa Alessio sedang menggodanya. Pria itu suka meninggalkan Lyra sudah berada di ujung —dan memohon pelepasan. Hanya dengan begitu dia akan memberikan apa yang Lyra inginkan.
"Kau adalah pengaruh buruk untukku," gumam Lyra, meletakkan tangannya diatas dada Alessio.
"Aku tahu," jawabnya. "Kau juga pengaruh buruk untukku. Selalu bisa membuatku candu"
Terkikik mendengar jawabannya, Lyra mencium dadanya. Alessio menggenggam tangannya dan memegangnya di atas dadanya sendiri.
Menempatkan jari di bawah dagu Lyra, dia mengangkat sedikit kepalanya dan mengklaim bibir Lyra. Ciuman itu mulai lambat dan lembut pada awalnya, tetapi kemudian Alessio menciumnya seperti laki laki itu kelaparan.
Ciuman itu brutal dan posesif. Alessio menciumnya seolah ia adalah segalanya baginya.
__ADS_1
Pegangan Alessio kuat di pinggangnya saat dia menariknya lebih dekat. Alessio melepaskan satu tangannya dari pinggangnya dan melingkarkan jari-jarinya di rambut coklat Lyra, lalu memiringkan kepala gadis ke atas, dengan posisi yang ia mau.
Alih-alih menolaknya, Lyra melebur ke dalam pelukannya, mengambil ciumannya dan menuntut lebih banyak
"Kurasa aku tidak akan pernah merasa bosan denganmu," Alessio berkata, helaaan nafasnya terasa di bibir Lyra.
“Hmm…” bisik gadis itu dalam keadaan linglung.
Dadanya bergetar dengan tawa rendah, dan Alessio perlahan melepaskannya. “Aku akan menemuimu untuk sarapan"
Memberi Lyra kecupan cepat di hidung, Alessio tersenyum dan kemudian pergi.
Lyra tersenyum sembari melihat punggung Alessio yang semakin menjauh. Gadis itu kembali menghadap pada cermin, dan saat itulah ia melihatnya. Bekas bekas merah di lehernya akibat ulah Alessio. Lyra kemudian mengambil alat make upnya dan sesegera mungkin menutupi bekas cupangan itu dengan concealer.
Setelah dirasa sudah pantas, gadis itu pun turun dan segera menuju pada meja makan. Ia melihat nanny nya disana. Namun tidak ada tanda tanda Alessio dimanapun.
"Nanny Elise, apakah melihat Alessio disini?"
Wanita paruh baya yang sedang menyiapkan buah di meja makan itu menoleh, lalu memberikan tatapan bingung pada nonanya. "Tidak nona, saya tidak melihat Tuan muda sedari tadi. Saya kira beliau akan turun bersama anda"
Lyra mengangguk oleh penjelasan nannynya. "Baiklah, nanny. Aku akan mencarinya, siapa tahu ada di taman belakang"
Nanny Elise mengangguk. Lyra pun melangkahkan kakinya menuju pada taman belakang. Dan benar saja, ia melihat punggung Alessio yang membelakanginya. Gadis itu berniat menghampiri laki laki itu ketika tiba tiba tubuhnya tak sengaja bertubrukan dengan seseorang.
Untung saja seseorang yang menabraknya itu memegang bahunya dan mencegahnya untuk bertubrukan langsung dengan tanah.
"Ah... terima ka—". Ucapannya terhenti begitu matanya menelisik wajah orang yang menolongnya sekaligus orang yang menabraknya.
Seketika matanya membulat.
Orang didepannya ini adalah ayahnya Alessio — Nikolai Romanov!
......................
Jadi aku mau ganti semua judul bab/chapter ke English language aja. Karena itu emang style nulis aku huhu... aku dari dulu emang udah kebiasaan nulis gitu. Aslinya aku juga mau bikin judulnya di bahasa Inggris, tapi aku nyesuain orang orang yang ada di NT. Kalian juga pasti kesulitan cari kalau judulnya English.
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa