
......................
Alessio duduk ditepian ranjang, memandangi sosok Lyra yang masih tertidur.
Sinar mentari pagi masuk dan menyinari rambutnya, membuat rambutnya memijarkan warna emas yang terbentuk seperti sebuah Halo. Posisinya tengah telungkup, satu tangannya menjadi bantal di kepalanya, dan satunya lagi memegang selimut yang menutupi tubuh bagian atasnya. Punggung polosnya terekspos untuk mata Alessio.
Pemandangan terbangun dipagi hari bersama Lyra adalah sesuatu yang ia tidak akan pernah bosan lakukan.
Alessio membelai punggungnya, kemudian wajahnya. Lyra itu sangat halus, kelewat halus dan rapuh. Alessio mengecup keningnya. Gadis ini benar benar membuatnya kehilangan kewarasan.
Namun kemudian Alessio menegapkan badannya. Mengusap wajahnya kasar.
Bodoh! apa yang ia lakukan sebenarnya?
Jujur, Alessio sendiri saja sebenarnya tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Yang ia tahu hanyalah ia ingin mendapatkan Lyra semenjak kali pertama ia bertemu.
Saat ini adalah kali pertama ia merasakan keraguan atas keputusannya yang sebelumnya sudah mutlak.
kali ini ia terlalu tergesa gesa mengambil keputusan. Tanpa memikirkan pro dan kontranya sama sekali.
Seorang Angel seperti Lyra sama sekali tidak cocok berada di dunia bawah mereka yang kelam dan keras. Lantas alasan apa yang membuat Alessio keukeuh untuk mendapatkannya?
Tidak mungkin ia menyukainya!
Sangat mustahil.
Laki laki seperti Alessio sudah diajari untuk tidak melibatkan perasaanya dalam dunia mereka. Sejak kecil ia dilatih untuk mematikan hatinya, agar musuh tidak memanfaatkan kelemahan yang ia miliki. Ia dilatih untuk tidak memiliki kelemahan.
Dan Lyra, Alessio tidak bisa membiarkannya masuk ke dalam hidupnya. Ia tidak ingin apa yang terjadi pada ibunya terulang kembali, ia tidak ingin mengulangi kesalahan ayahnya.
Ah, teringat akan ayahnya. Alessio baru ingat bahwa ketika ia bangun, ponselnya sudah memiliki notifikasi panggilan tidak terjawab dari ayahnya, Nikolai Romanov.
Alessio mencuri satu pandang pada Lyra, kemudian memakai kimononya dan berjalan menuju balkon.
Segera ia memencet tombol "panggil" pada kontak Nikolai.
"Son"
"Hello, father. Ada apa kau memanggilku dipagi ini?"
"Aku akan langsung to the point, son. Anak buahku mengatakan bahwa kau terlihat dengan putri dari Orion Estrella. What are you thinking?"
[ Translate : apa yang kau pikirkan? ]
__ADS_1
Pegangan tangan Alessio pada ponsel mengerat, rahangnya mengeras.
"Father, apa yang aku lakukan itu sama sekali bukan urusanmu"
"Oh tentu urusanku jika itu menyangkut tentang keluargaku. She's a pretty little thing. Apa yang kau mau lakukan dengannya?"
[ Translate : Dia gadis yang cantik ]
"I'm gonna make her mine"
[ Translate : Aku akan menjadikannya milikku ]
Hening beberapa saat, sebelum kemudian suara Nikolai terdengar marah.
"Kau sudah beristri, Alessio"
"Lalu?"
"Apa yang mau kau lakukan? Kau lupa akan peraturan kita?".
Alessio menghela nafasnya. Tentu saja ia tidak lupa akan salah satu aturan Bratva yang ada sejak dulu, sama halnya dengan Cosa Nostra yang mengatakan bahwa istri harus dihormati dan tabu hukumnya suami untuk mendua.
"Aku tidak lupa, father. Tapi itu tetap tidak akan mengubah keputusanku"
"Kau akan menjadikannya simpananmu?"
"Son, jangan terlalu dalam menyelami semua ini. Perasaan, kau tidak boleh memilikinya. Jangan sampai kau menjadikan gadis itu sebagai kelemahanmu".
Alessio menggeram marah.
"Aku bukan dirimu, aku bisa menjaganya"
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi aku sudah memperingatkanmu"
Alessio pun mematikan teleponnya. Ia berbalik, melihat bahwa Lyra sudah bangun. Perempuan itu kini tengah duduk di ranjangnya sembari mengusap ngusap matanya.
Lyra yang baru terbangun dari tidurnya pun menatap jam yang ada pada nakas. Menunjukkan pukul enam lima belas, kuliahnya akan dimulai pukul tujuh tiga puluh. Masih banyak waktu yang ia bisa gunakan.
Iapun kembali membaringkan tubuhnya dan berniat untuk tidur lima belas menit lagi. Sebelum kemudian matanya membelalak begitu ingat dimana dia sekarang.
Matanya menoleh kearah bawah selimut dan melihat tubuhnya yang telanjang bulat. Kemudian meraih selimut dan menutupi tubuhnya, mengucek matanya lalu melihat sosok Alessio yang tengah mengenakan kimono berjalan dari arah balkon ke arahnya.
Laki laki itu mendudukan diri dihadapanya. Menatap intens pada Lyra membuatnya merona. Lalu kemudian Alessio melakukan sesuatu yang tidak pernah ia duga. Laki laki itu mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan singkat pada bibirnya.
"Bagaimana tidurmu?". Tanyanya.
__ADS_1
Lyra, dengan masih mengenggam selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri menjawab, "Baik"
Alessio tersenyum kecil, "Tidurku juga baik, apalagi ada kau disampingku".
Lyra melempar bantal pada Alessio, "Sejak kapan kau menjadi perayu ulung seperti ini" Cebiknya.
Alessio menangkap bantal yang dilemparkan oleh Lyra dengan mudah, "Aku tidak sedang merayumu".
Lyra menunjuk wajah Alessio dengan mata menyipit, "Jangan bersikap sok romantis ya".
Alessio tidak menjawab, pandangan wajahnya turun dan Lyra dapat melihat mata abu abunya menggelap.
"Apa kau berniat menggodaku, baby?". Tanyanya dengan suara serak.
Lyra mengernyitkan dahinya, hingga kemudian ia tersadar akan apa yang Alessio bicarakan. Ternyata selimut yang ia pegang sudah jatuh hingga tubuh bagian atasnya tersingkap. Memperlihatkan asetnya yang terpampang dihadapan Alessio.
Cepat cepat ia kembali meraih selimut itu, sekarang Lyra merasakan seluruh pipinya memanas. "Ugh... menyebalkan sekali" Cebiknya mengerucutkan bibir seperti anak kecil. Alessio menatapnya gemas.
Laki laki itu kemudian mengusap pucuk kepalanya, "Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi".
Lyra kemudian merentangkan kedua tangannya, memberikan Alessio tatapan puppy eyes-miliknya. "Gendong aku". Pintanya manja.
Alessio menaikkan satu alisnya, "Gendong?"
Bibir Lyra kembali mengerucut, "Iya, gendong aku! kau yang membuatku pegal pegal. Jadi kau harus bertanggung jawab".
Lyra kira Alessio akan menolaknya, namun ia dikejutkan dengan sikap laki laki itu yang tiba tiba mengangkatnya dan menggendongnya. Melepaskan selimut yang melilit tubuhnya. Lyra dengan cekatan menutupi asetnya dengan telapak tangan, Alessio terkekeh geli melihat sikap lucu gadis itu.
"Tidak perlu ditutupi, sayang. Aku sudah melihat semuanya"
Ucapan Alessio dihadiahi pukulan dibagian pundaknya. Namun kemudian, Lyra justru menyandarkan kepalanya pada d*da bidang Alessio, menghirup aroma khas laki laki itu yang menenangkan. Tak lupa mengalunkan kedua tangannya erat pada pundak laki laki itu.
Bagi Alessio, Lyra benar benar terlihat mirip seperti anak kucing yang sangat lucu dan menggemaskan.
Alessio kemudian menurunkannya secara hati hari pada bathtub, dan Lyra mend*sah lega begitu merasakan hangatnya air yang menyentuh kulitnya. Kemudian menatap pada Alessio yang bersandar pada daun pintu dengan tangan menyedekap bertanya tanya.
"Kenapa kau masih ada disini?"
Alessio melemparkanya senyum miring menggoda, "Kau yakin tidak butuh bantuan untuk memandikanmu?".
Sebelum Lyra sempat melemparkan botol sampo pada Alessio. Laki laki itu sudah terlebih dahulu keluar dari kamar mandi dengan tawa yang terbahak bahak.
......................
•| Bratva : Perkumpulan persaudaraan Mafia Rusia yang paling disegani. Mereka ini semacam pemimpin inti dengan anggota keluarga mafia lainnya. Terdapat 4 keluarga utama yang Romanov sendiri adalah Pakhan (pemimpinnya). Mengatur politik dan ekonomi Rusia.
__ADS_1
•| Cosa Nostra : Organisasi besar Mafia Italia yang berasal dari Sicilia. Merupakan klan terkuat dengan anggota Mafia. Dikenal dengan kode etik mereka yaitu kode "OMERTA" atau kewajiban tutup mulut. Mereka sangat menjaga tinggi kerahasiaan dan lebih suka mengendalikan politik dari balik layar ( menggunakan tokoh politik sebagai boneka adalah hal biasa ). Terdapat satu pemimpin yang mereka sebut sebagai "The Godfather"