Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 17 | Feeling Insecure


__ADS_3


......................


"Nanny... Apakah aku masih cantik? Masih s*ksi?".


Tangan Nanny Elise yang tadinya menyisir rambut coklat Lyra pun terhenti. Begitupun dengan Irina dan Iris yang tengah merapikan tempat tidur nya. Mereka menatap Lyra bingung.


Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Namun semenjak satu jam yang lalu, Lyra tidak berhenti memandangi tubuhnya dari cermin full body di kamarnya. Sudah puluhan baju yang ia pakai namun tak memuaskannya. Lyra memprotes kurang ini dan kurang itu.


Saat ini, gadis itu menjatuhkan pilihannya pada dress pink muda off shoulder yang memperlihatkan bahunya. Rambutnya tergerai dan disisir oleh Nanny-nya. Penampilannya elegan dan polos namun juga s*ksi di waktu yang bersamaan. Namun entah kenapa, Lyra tidak bisa merasa percaya diri kali ini.


"Tentu saja nona. Anda adalah wanita tercantik —hanya orang buta saja yang tidak bisa melihatnya. Semua orang terpesona dengan anda". Jawab Nanny Elise.


Lyra mengangkat dagunya, "Ya— hanya orang bodoh dan buta yang tidak akan terpukau olehku. Apalagi jika Alessio meninggalkan aku untuk istri jeleknya itu, laki laki itu fix buta sekali".


Ketakuna Lyra ini bukannya tanpa alasan. Tadi pagi, ia terbangun oleh suara notifikasi ponsel dari Alessio. Seketika ia menyesal membukanya.


Terdapat puluhan pesan dari Asteria.


Asteria : Kau tidak pulang, Alessio?


Asteria : Aku merindukanmu


Asteria : Baby, kau tidak membalasku?


Asteria : Aku sedang memakai dress hijau kesukaanmu.


Asteria : Kau selalu berkata aku cantik di dress ini :)


Dipesan terakhir, wanita itu mengirimkan foto menggunakan dress panjang dengan belahan sampai lutut. Memang sangat modis dan s*ksi. Ditambah dengan rambut messy dan juga make up smokey wanita itu, membuat Lyra cemburu.


Serius? Jika dia yang memakai dress itu, pasti akan lebih cantik.


Jadi Alessio juga mendadani Asteria dan memujinya cantik. Apa ini berarti perkataan Alessio yang memujinya selama ini adalah bualan semata?


Ia tidak suka perasaan ini.


Lalu, ketika Alessio bangun. Iapun cepat cepat menghapus pesan dari Asteria. Namun naas wanita kampungan itu justru menelpon Alessio. Laki laki itupun menerima telponnya sebelum mengecup singkat pipinya.


Kemudian, Alessio berkata ia harus kembali ke mansion utama untuk mengurusi beberapa urusan. Lyra tidak perlu bertanya dimana "mansion utama" itu.


Saat itulah moodnya mulai turun. Ketika Alessio memberikannya kecupan pagi, Lyra sama sekali tidak membalasnya. Begitupun ketika laki laki itu mengajaknya berbicara, Lyra hanya menjawabnya dengan sekenanya.

__ADS_1


Hal terakhir yang Alessio katakan sebelum pergi adalah. "Kita akan bicara nanti".


Dan beberapa jam sudah berlalu. Lyra tidak bisa menghilangkan kekhawatiranya. Memangnya sepenting apa urusan itu hingga memakan waktu selama ini? Bagaimana jika disana Alessio bermesra mesraan.


Ish.. Memikirkannya saja membuat ia ingin menangis. Lyra sungguh tidak rela.


Namun jika dipikir pikir, mengapa disini ia memotretkan Asteria sebagai tokoh jahatnya. Ketika disinilah ia yang merebut suami wanita itu darinya? Bukankan wajar jika mereka memang berduaan? yang tidak wajar itu dia yang berduaan dengan suami orang.


"Nona. Ada apa? Kenapa anda menangis?". Suara Iris membuat Lyra tersadar dari lamunannya. Rupanya, saking asyiknya meresapi pemikirannya, gadis itu sampai tidak sadar jika mata coklatnya tengah meneteskan satu bulir air mata.


Lyra cepat cepat menghapus air matanya sebelum itu sempat merusak riasannya. Kemudian kembali menampilkan senyum penuh percaya dirinya.


"Tidak apa apa Nanny. Hanya saja mataku kelilipan bedak tadi". Nanny Elise nampak tidak percaya. Namun wanita berusia setengah abad itu mengangguk, tidak ingin memperburuk suasana hati nonanya.


Setelah sudah selesai bersiap siap. Lyra pun keluar dari kamar dan hendak bersiap berjalan menuju kolam ikan di taman belakang, namun ketika melewati ruang tengah. Ia melihat Theodore tengah membaca majalah, Lyra pun mengambil inisiatif untuk menghampirinya.


"Hei, Theo! apa yang sedang kau baca?".


Theodore mendonggak dari majalah yang ia baca —memberikan Lyra senyum hangat kemudian menjawab. "Hanya majalah biasa". Laki laki itu memandangnya dari bawah sampai atas, kemudian mengernyitkan kening heran.


"Tumben kau berdandan secantik ini"


Lyra, bukannya tersanjung malah melengkungkan bibirnya kebawah. "Jadi, kau pikir aku tidak cantik begitu?". Tanyanya muram. Rasa insecure kembali terbesit, sungguh! dalam kali pertama dalam hidupnya ia merasa insecure.


Awalnya Theo ingin menggoda Lyra, namun ketika melihat bibir gadis itu yang bergetar ia jadi panik sendiri.


Lyra tersenyum lega mendengar penjelasan Theo. Namun ia harus memastikan hal lain pada Theo.


Lyra memandangnya ragu ragu. "Theo. Kau pikir aku dan Asteria itu cantik siapa?". Tanyanya sambil mengigit bibir bawahnya.


Theo nampak terkejut, namun laki laki itu tetap menjawab. "Cantik itu obyektif. Tapi aku lebih menyukaimu ketimbang Asteria". Lyra merasa kurang puas akan jawaban Theo. Namun untuk kali ini ia menerimanya.


"Kenapa bertanya seperti itu, babygirl?"


"A—aku hanya. Asteria—"


"Asteria kenapa?"


Lyra membulatkan matanya sebelum kemudian berbalik. Mendapati Alessio tengah menggulung lengan kemejanya sembari berjalan ke arahnya.


Ia baru saja akan berlari dan memeluk laki laki itu selamat datang ketika ia teringat bahwa ia masih marah pada laki laki itu. Iapun hanya memalingkan wajahnya.


Theo menatap kearah keduanya. Kemudian denhan anggukkan kepala dari Alessio, laki laki itupun paham bahwa tugasnya disini sudah selesai. Iapun pergi.

__ADS_1


Lyra merasakan seseorang mengelus puncak kepalanya. Kemudian mengecupnya pelan.


"Apa yang kau bicarakan dengan Theo, sayang".


"Tidak ada"


Alessio mendekat. Kemudian meraih dagu Lyra dengan tangannya, menghadapkan wajahnya pada Alessio.


"Apa kau cemburu?". Tanya Alessio dengan suara rendah.


Lyra membuka dan menutup mulutnya. "Aku tidak cemburu!". Ujarnya menggeleng keras kepala.


"Sure, Princess..." Kekeh Alessio.


Laki laki itu kemudian membawa Lyra kedalam pelukannya, mendekap gadis itu di dalam kungkungannya. Awalnya Lyra memberontak —namun dibandingkan dengan tenaga Alessio yang jauh lebih kuat darinya, iapun kalah. Lyra pun pasrah.


"Serius, Alessio. Aku tidak cemburu. Aku hanya... Aku hanya". Lyra mengigit bibirnya, tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.


"Hanya apa, hmm?" Goda Alessio. Ia kira Lyra akan memerah malu, namun ia tidak menyangka jika gadisnya justru akan menangis dipelukannya.


"Huwaa.. Kau jahat sekali. Aku benci". Lyra memukul d*da Alessio dengan air mata yang berderai.


Alessio menahan tangan Lyra, kemudian menggenggamnya lembut. Menangkup kedua pipi gadis itu, ia berkata.


"Hei, jangan menangis, baby. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, okay?". Ujarnya lembut sembari menghapus air mata Lyra dengan ibu jarinya.


Lyra memprotes, "Lalu, apa yang kau lakukan disana?". Cicitnya.


Alessio menghela nafas, kemudian menyandarkan dagunya pada atas kepala Lyra, "Ayahku menelepon. Aku harus melakukan sesuatu, dan ia memintaku melalui Asteria untuk menemuinya di mansion utama".


"Kenapa ayahmu tidak meneleponmu langsung?"


"Entah, mungkin karena Asteria yang menawarinya"


Betul, kan! Dasar wanita kampungan!


"Berarti, kau disana tidak untuk bersenang senang". Tanya Lyra memastikan.


Alessio memgecup punggung tangannya, "Astaga, tidak sayang. Percayalah, aku lebih baik menghabiskan waktu 24 jam bersamamu. Dan juga, aku suka kau cemburu seperti ini. Aku tahu kau juga menghapus pesan Asteria di ponselku".


Lyra menyembunyikan wajahnya di d*da bidang Alessio. Membuat tawa terbahak bahak laki laki itu terdengar dimana mana.


......................

__ADS_1


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


__ADS_2