Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 28 | The Argument


__ADS_3


......................


Asteria tidak bodoh untuk tidak menyadari ejekkan dalam kalimat Lyra.


Beraninya wanita murahan ini!


Menginjakkan kaki ke rumahnya dengan seenaknya...


Asteria mengepalkan tangannya menahan emosinya yang semakin lama semakin memuncak.


"Yeah... Rumahku memang tidak seberapa, namun kau lihat itu... itu yang membuatnya sangat berharga"


Asteria menunjuk pada sesuatu di dinding. Lyra mengikuti arah jari telunjuknya. Dan yang ia temukan membuat emosinya mendidih seketika.


Foto pernikahan Alessio dan Asteria.


Disana, Alessio memakai tuxedo berwarna hitam sementara wanita itu menggunakan gaun pengantin warna putih dengan belahan d*da yang cukup seksi.


Ini adalah cara Asteria untuk menunjukkan bahwa ia dan Alessio sudah sah dimata hukum.


Kini, gantian Lyra yang merasakan emosi sampai ke puncak ubun ubunnya. Gadis itu baru saja akan membalas ucapan Asteria ketika matanya menatap sosok familier yang memasuki ruangan.


Kakinya berjalan tergesa gesa menuju Alessio. Wajahnya menyiratkan keseriusan yang sangat kentara. Membuat Alessio menatap heran sekaligus khawatir padanya.


Ketika sampai didepan Alessio, tanpa banyak bicara Lyra pun menarik kerah laki laki itu dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang brutal.


Netra abu abu Alessio membulat. Sama sekali tak menyangka dengan sifat agresif Lyra yang tiba tiba. Tak sampai disitu, gadis itu juga ******* bibirnya dengan brutal —sampai mengigit bibir bawah Alessio agar Lyra bisa menelusupkan lidahnya ke dalam.


Alessio hampir mend*sah disana. Tiba tiba saja celananya terasa lebih ketat. Tapi laki laki itu sempat sempatnya menyunggingkan senyum miring diantara ciumannya.


Asteria yang melihat pemandangan itu tak main panas bukan kepalang. Ingin rasanya ia kesana dan menembak sampai mati perempuan murahan itu. Tapi yang membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa Alessio sama sekali tidak menolak dan kelihatan sangat menikmatinya.


Para pelayan melihat kejadian itu, merekapun mulai berbisik bisik mengasihani nyonya mereka. Asteria melempar mereka dengan tatapan tajamnya.


Lyra melepaskan ciuman mereka, kemudian berbisik dengan seduktif di telinga Alessio. "Aku menginginkanmu, Alessio"


Jika tadi Alessio terkejut, sekarang bola matanya hampir keluar dari kelopaknya karena laki laki itu membelalakkan matanya. Sama sekali tidak menyangka bahwa Lyra akan menggodanya dengan seperti ini. Ia dapat melihat kobaran panas di mata hazelnya.


"Sekarang?". Tanya laki laki itu sembari menenggak ludahnya dengan susah payah.


Lyra menggesekkan d*danya di lengan Alessio. Laki itu harus mengambil nafas dan memejamkan matanya sejenak.


"Iya. Aku mau sekarang"

__ADS_1


Alessio menatapnya lapar, "Baiklah, princess... Aku milikmu untuk kau gunakan"


Lyra tersenyum puas. Kemudian menggengam tangan Alessio, "Tunjukkan dimana kamarmu"


Maka dengan perintah itu, Alessio mulai membawanya di kamar atas. Namun sebelum itu, Lyra berbalik dan menampilkan senyum puasnya pada Asteria yang wajahnya telah memerah.


"Hentikan!". Sentak perempuan itu terengah engah.


Alessio dan Lyra pun menghentikkan langkahnya kemudian memandangi Asteria yang kini melempar sebuah guci kaca ke lantai hingga guci itu pecah. Para pelayan pun terlonjak melihatnya.


"Dasar kurang ajar! Jika kalian ingin melakukanya, jangan dirumahku! Aku tidak sudi jika rumahku dikotori oleh perempuan murahan itu".


Dalam sepersekian detik, Alessio sudah kembalu menuruni tangga dan berdiri didepan Asteria. Pria itu menunjuknya marah.


"Jangan memanggil Lyra dengan sebutan itu". Geramnya.


Namun Asteria sama sekali tidak terlihat takut. "Oh, ya? memang itu kenyataanya bukan? selingkuhanmu itu adalah pel*cur murahan!"


"ASTERIA!". Suara Alessio terdengar nyaring hingga semua orang menunduk ketakutan.


Dalam sekejap, Lyra sudah berada di sisinya dan mengusap lengannya. "Sudahlah, Alessio. Dia memang benar. Ini salahku karena tidak tahu tempatku dimana".


Gadis itu berdrama, menunjukkan muka berpura pura sedihnya yang membuat Alessio melembutkan tatapanya.


Asteria menggertakkan giginya. Sangat muak dengan drama murahan Lyra.


"Alessio... Tidak mungkin kau percaya dengan drama gadis ini. Lihat! Dia hanya berpura pura". Tunjuknya memohon, meminta untuk Alessio mengerti.


Lyra berpura pura menyembunyikan wajahnya di lengan Alessio —tubuhnya bergetar bak anak kecil yang ketakutan.


"Asteria. Kau menakutinya"


Asteria tertawa sumbang. "Haha.. Aku tidak berpikir bahwa kau sebodoh ini, Alessio. Tidakkah kau lihat dia? You are really gone too far now". Air mata menetes dimatanya.


Alessio sama sekali tidak terpengaruh dengan air mata istrinya. Laki laki itu memijit pelipisnya. "Dengar, Asteria. Aku sama sekali tidak mau kita bertengkar gara gara ini, okay? aku tidak meminta kau untuk menerima Lyra. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika kau menganggunya"


Asteria masih terdiam. Air mata mengalir di pipinya. Lyra yang melihat itu hati nuraninya juga tersentuh —ia merasa iba entah mengapa.


Maka dari itu Alessio meneruskan. "Juga, asal kau tahu. Lyra sama sekali tidak menggodaku. Aku yang memaksanya untuk tinggal bersamaku"


Mendengar pernyataan Alessio membuat Asteria mendongak dengan wajah berlinang air mata. Keterkejutan menghiasi wajahnya.


Bagaimana bisa?


Selama ini ia selalu mengira bahwa Lyra-lah yang menggoda Alessio sehingga laki laki itu berpaling darinya. Namun kenyataanya adalah yang sebaliknya.

__ADS_1


Entah mengapa fakta itu justru membuat hatinya terasa lebih sakit. Itu artinya Alessio lah yang menciptakan hubungan ini.


Apa memang tidak ada kesempatan baginya di hati Alessio?


Kenapa laki laki itu sangat jahat padanya.


Asteria memang memiliki segalanya didunia, namun ia tak bisa memiliki orang yang paling ia inginkan dan cintai, yaitu Alessio.


Lyra, memutuskan untuk menyudahi itu kemudian berkata. "Alessio, aku mau pulang"


Alessio kemudian mengangguk mengiyakan kemudian menggengam tangan Lyra dan membawanya keluar mansion utama.


Dimobil, Lyra menyandarkan kepalanya di pundak Alessio. Pikiranya masih terbayang bayang tadi. Apakah Alessio benar benar sebegitu tidak ada perasaan pada Asteria.


"Alessio". Panggilnya.


"Hmm.."


Lyra mendongak menatapnya, "Kenapa kalian tidak seperti suami istri yang biasanya?"


"Itu karena kami tidak pernah mencintai satu sama lain sayang"


Apa Alessio buta? tidakkah ia melihat bahwa Asteria bahkan akan memuja tanah tempatnya berpijak jika laki laki itu menginginkannya.


Lyra tertawa kecil. "Kau ini benar benar tidak peka. Dia sangat mencintaimu, Alessio"


Hal itu membuat Alessio terdiam sejenak. Lama tak ada respon membuat Lyra berpikir bahwa laki laki itu telah mengabaikannya.


"Ya, aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya. But i couldn't give her love that she deserve".


[ Translate : Tapi aku tidak bisa memberikannya cinta sebagaimana ia pantas mendapatkannya ]


Lyra menipiskan bibirnya. "Lalu, bagaimana kalian bisa menikah kalau seperti itu?"


"Keluarga Mikhailov adalah salah satu keluarga paling berpengaruh dan berhubungan langsung dengan presiden Rusia. Ayahnya Asteria adalah prime minister Rusia. Pernikahan kami sebatas menyatukan dua aliansi"


Lyra memproses apa yang dikatakan oleh Alessio. Selama ini ia sangat awam dengan permainan politik. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa keluarga Alessio juga pengendali politik Rusia hingga menjadikan presiden Rusia tunduk dibawah mereka.


"Sudah, jangan dipikirkan sayang. Lebih baik kau tidur". Alessio membawa sisi kepalanya untuk bersandar padanya, tak lama kemudian Lyra terlelap.


......................


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.

__ADS_1


__ADS_2