Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 37 | Jason Blackford


__ADS_3


......................


"Huft.. sangat membosankan, apa yang harus kulakukan ya?". Gerutu Elain yang tengah bermalas malasan di kamarnya.


Ia telah menyelesaikan pr kalkulusnya. Kemudian dirumah juga sama sekali tidak ada penghuninya, membuat gadis itu sungguh bosan.


Biasanya, jika ia bosan ia akan mendatangi Dominick. Namun pasalnya ia tak mau menganggu pasangan baru itu.


Iya, Dominick resmi berpacaran dengan Aluna.


Itu terjadi setelah pesta keluarga Petrov pekan lalu. Dominick memberitahunya bahwa ia sudah mengajak Aluna untuk berkencan dan langsung disetujui oleh perempuan itu.


Pasti kalian bertanya tanya bagaimana awal pertemuan Dominick dan Aluna. Well, Dominick juga bercerita padanya semalam.


Saat itu, Dominick tengah menghadiri acara gala. Kemudian saat tengah di belakang venue, ia mendengar seseorang meminta tolong dan ternyata itu adalah model terkenal, Aluna Grace dengan seorang laki laki asing yang mencekal tubuhnya.


Dominick menjadi pangeran penyelamat, pun berpura pura menjadi kekasih Aluna untuk menyelamatkan wanita itu dari seseorang yang bermaksud untuk melecehkannya.


Dan seperti adegan adegan klise di film romansa ketika sang pemeran utama pria jatuh cinta pada pandangan pertama ke perempuan yang ia lindungi.


Seperti itulah awal kisah Dominick dan Aluna.


Elain tersenyum getir. Dominick sangat terlihat mencintai Aluna, terbukti dengan laki laki itu yang menyetujui permintaan Aluna untuk tidak mengumukan hubungan mereka ke publik karena wanita itu takut akan cercaan publik.


Oke, tidak saatnya ia memikirkan itu dan kembali membuat hatinya sakit. Kembali ke topik kebosanannya.


Tidak mungkin juga ia menemui Lyra, karena kabarnya perempuan itu tengah berada di Maldives bersama Alessio.


Membuat iri saja.


Akhirnya karena sudah putus asa, gadis itu memutuskan untuk mengambil mantel nya karena cuaca dingin dan berjalan jalan keliling kota saja.


Ketika akan keluar, nanny yang sudah mengurusnya bahkan dari bayi. Nanny Daphne menghadangnya ketika ia akan keluar.


"Nona. Anda mau kemana pagi pagi seperti ini?". Tanya wanita tua itu khawatir.


Elain memberikannya senyum menyakinkan, "Aku mau jalan jalan sebentar, nanny"


"Baiklah, nanny akan memanggilkan pak supir untukmu".


Sebelum nanny-nya sempat beranjak. Elain sudah terlebih dahulu mencegahnya. "Jangan, Nanny! aku mau jalan jalan sendiri dulu hehe".


"Nona... Anda mau berjalan kaki sendirian? bagaimana kalau kaki anda kelelahan?"


"Tidak apa apa nanny. Percayalah". Mohon Elain.


Nanny Daphne tampak berpikir sejenak, kemudian berkata. "Baiklah. Tapi bawalah satu bodyguard bersama anda nona. Itu untuk keselamatan anda sendiri, Tuan muda pasti juga akan berpikiran yang sama"


Elain menghela nafasnya. Sebenarnya ia sangat ingin keluar tanpa pengawasan. Namun nanny Daphne juga benar, nantinya pasti Igor akan memarahinya kalau ia keluar tanpa pengawasan.


"Baiklah, nanny. Tapi aku mau bodyguard itu mengawasiku dari jauh saja agar aku tidak terlihat seperti orang aneh". Tawar Elain.


"Baiklah, nona".

__ADS_1


Elain pun kembali melanjutkan langkahnya keluar dari mansion Volkov. Kemudian berjalan kaki di trotoar dan menikmati udara pagi.


Hingga kemudian sebuah cafe kecil di sudut jalan menarik perhatiannya. Cafe itu terlihat sangat hangat dan vitange. Maka dari itu Elain datang kesana.


Nama cafenya adalah Cinnamon Nibble Joint.


Elain memesan roti dan juga americano hangat untuk sekedar menikmati suasana pagi yang dingin. Saat tengah asyik menyesap Americano, ia merasakan seseorang menepuk pelan pundaknya.


Ia menoleh, mendapati seorang laki laki tampan dengan mata coklat dan rambut coklat messy tengah tersenyum ke arahnya.


"I'm sorry. Do i know you?". Tanya Elain.


[ Translate : Maaf, tapi apa aku mengenalmu? ]


Laki laki itu memberikannya senyum hangat, memperlihatkan lesung pipi di pipi bagian kirinya. "Kau Elain Volkov bukan?"


Okay, sekarang Elain benar benar panik sendiri.


Orang tak dikenal yang mengetahui namanya. Mungkinkah dia adalah salah satu musuh Igor atau papanya.


Astaga, dimana bodyguardnya sekarang?


Laki laki itu pasti melihat raut panik di wajah Elain, maka dari itu ia cepat cepat menambahkan.


"Hei hei, kau benar benar tidak kenal aku? Jason Blackford? teman sekolahmu dulu"


Elain memutar otaknya. Nama Jason Blackford memang terdengar familier. Hingga kemudian ia mengingatnya.


"Astaga! Jason! si the most wanted boys dulu?". Seru Elain.


Telinga Jason memerah, bersamaan dengan laki laki itu yang menggaruk bagian belakang lehernya.


"Duduklah, Jason". Ujarnya sembari menunjuk pada kursi didepannya.


Seorang pelayan datang dan menanyakan apa yang ingin Jason pesan. Yang langsung dijawab "samakan saja dengan nona didepanku" olehnya.


"Bagaimana kabarmu, Jason". Tanya Elain.


Laki laki itu tersenyum hangat padanya. "Baik. Bagaimana sendiri denganmu?"


"Masih sama. Seperti yang kau lihat. Ngomong ngomong, aku mendengar kau mewarisi perusahaan ayahmu bukan?".


Jason Blackford. Merupakan satu satunya penerus keluarga Blackford. Keluarga yang memiliki Blackford Airlines, penerbangan luxury international.


"Ya... Semua orang membesar besarkan tentang hal itu". Ujar Jason sambil mengendikkan bahunya.


Elain tersenyum lembut padanya. "Aku tidak berpikir itu melebih lebihkan, Jason. Kau memang pantas mendapatkannya".


Dulu, meskipun Jason adalah laki laki yang paling diinginkan satu sekolah, tak ayal membuat laki laki sombong. Jason termasuk kedalam jejeran siswa terpintar se angkatan —selalu mendapat peringkat satu pararel. Namun laki laki itu sangat humble dan rendah hati, selalu menyempatkan untuk mentutor siswa siswa yang kesulitan dalam pelajaran.


Bahkan setelah peristiwa pembullyan itu, Jason adalah satu satunya orang yang tidak menjauhinya. Laki laki itu terus terusan meminta maaf, yang jelas jelas itu bukanlah salahnya. Ketika Elain akan memakan makan siangnya di rooftop sendirian, Jason terkadang menemaninya. Ia juga kerap kali membelanya ketika orang orang berkata tak sedap terhadapnya.


Akan tetapi saat Elain di homeschool, mereka lost contact.


Elain dan Jason pun banyak berbincang. Rata rata mengenai kehidupan mereka yang sekarang.

__ADS_1


Namun tiba tiba, rasanya jantung Elain akan berhenti saat itu juga ketika ia melihat Dominick dan Aluna memasuki cafe.


Tolong jangan lihat aku....


Tolong jangan lihat aku....


Akan tetapi doanya tidak terkabul ketika Dominick menatap kearahnya dan berjalan ke mejanya.


Laki laki itu menatap tak suka padanya. Kemudian pandangannya teralih pada Jason yang ada didepannya —rahang Dominick mengeras.


Sekali lagi, Elain merasakan hatinya sakit ketika melihat Aluna yang mengalunkan tangannya di lengan Dominick.


Suasana menjadi canggung, maka dari itu Elain mengambil inisiatif pertama.


"Umm... Dominick, ini Jason Blackford, teman sekolahku dulu. Jason, ini Dominick. Dia umm..... Teman kakakku".


Jason pun mengulurkan tangannya. "Jason Blackford". Ujarnya memperkenalkan diri.


Namun Dominick mengabaikan uluran tangan Jason —hanya menatap remeh pada Jason kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada Elain. Laki laki itu terlihat marah.


"Elain. Pulang sekarang" Titahnya.


Elain membelalakkan matanya, sama sekali tidak menyangka jika Dominick akan bersikap otoriter padanya.


Gadis itu memprotes. "Apa katamu? Tidak! aku tidak mau!"


Dominick benar benar menatapnya tajam kali ini —Elain jadi takut. "Elain. Berbahaya bersama dengan orang asing sendirian. Pulanglah"


Elain balas menatapnya garang, "Tidakkah kau mendengarkanku tadi? Jason itu teman sekolahku dulu. Kenapa kau sok mengaturku seperti itu. Kau itu bukan siapa siapaku!"


Dominick terlihat terpukul dengan pengakuannya. Sesaat Elain merasa bersalah karena berkata demikian.


Namun memang ada hak apa Dominick? kenapa bertingkah seperti pacar yang pencemburu saat ada Aluna disampingnya?


Tak ia sangka, Dominick menyungginkan senyum miring meremehkan. "Oh ya. Apa dia orang yang sama membullymu dulu?".


Elain terdiam mematung mendengar ucapan Dominick. Ia kira, Dominick adalah orang yang paling mengerti tentang traumanya, tapi kenapa sekarang ia...?


Bahkan Elain tidak menyadari jika Jason sudah menarik kerah baju yang dipakai Dominick.


"Beraninya kau!". Dominick menatap Jason enteng, sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman Jason.


Laki laki ini hanya bocah tengik ingusan.


Namun kemudian matanya membulat saat melihat air mata menetes di pipi Elain. Rasanya ia menyesali apa yang ia katakan, sungguh ia hanya terbawa emosi.


Melihat air mata Elain, rasanya seperti hatinya ditusuk ribuan jarum.


Ia tak suka melihat Elain menangis.


Hingga kemudian gadis itu menatapnya, kemudian mengutarakan satu kalimat yang akan terus menghantui Dominick.


"Aku membencimu, Dominick"


......................

__ADS_1


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


__ADS_2