
......................
Elain meremat kuat gaun pengantinnya. Gadis itu terduduk dengan tegap di pinggiran kasur. Ia sangat tegang, sampai sampai ada pergerakan sedikitpun di ruangan membuatnya terlonjak begitu saja.
Setelah acara pernikahan selesai, Dominick dan Elain pun pergi di mobil yang sama. Keduanya sama sama berada di kursi penumpang dengan seorang supir didepan. Namun baik Dominick maupun Elain tak ada yang bersuara. Keduanya terlalu canggung untuk membuka obrolan.
Apalagi Elain yang masih memikirkan nasib ciuman pertamannya yang diambil oleh Dominick di hari pernikahan mereka. Ia tidak munafik, jikalau selama ini orang yang ia bayangkan untuk first kissnya adalah Dominick. Semenjak Elain tahu sebuah frasa ciuman di kelas JHS, gadis itu tidak pernah membayangkan lelaki lain selain Dominick.
Tapi disisi lain, Elain tidak bisa menyangkal ke dongkolan dihatinya. Sepanjang perjalanan gadis itu terus melirik pada pria disampingnya yang terus terusan terdiam. Ia tahu, bahwa skenario dikepalanya sangat jauh berbeda dengan angan angan yang dimiliki Dominick.
Ketika Elain semenjak tahu apa itu cinta, selalu membayangkan hidupnya bersama Dominick. Laki laki itu pasti memiliki angan angan lain yang sudah pasti tidak melibatkannya.
Menikah dengan Aluna atas dasar cinta, kemudian bisa memiliki gadis itu seutuhnya. Elain bukanlah bagian dari angan angan Dominick. Gadis itu hanya karakter sampingan yang kebetulan muncul sebagai kerikil di percintaan mereka.
Dominick membawanya menuju sebuah mansion dengan gaya yang persis seperti dream house sensational di Surrey. Arsitekturnya paduan antara vintage tradisional diluar dengan Eropa modern di dalam. Elain sejujurnya tidak terkejut kala melihatnya. Karena beberapa hari sebelum pernikahan mereka, Dominick bertanya tentang pendapatnya mengenai arsitektur mansion.
Dan sekarang disinilah ia, di kamar utama. Dominick mengatakan bahwa laki laki itu sedang ada urusan.
Elain mengasihani dirinya sendiri. Pengantin macam apa yang ditinggalkan pasangannya di malam pertama pernikahan mereka? agaknya hanya dia saja yang begitu.
Gadis itu masih terdiam di kasur kingsize ber sprei putih. Menatap ke sekeliling kamar megah yang mulai sekarang akan menjadi huniannya bersama Dominick.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah mereka akan tetap tinggal di kamar yang sama atau berpisah kamar?
Lalu juga, apa yang akan terjadi malam ini? apakah mereka akan melakukan 'itu'?
Haish... Elain menggelengkan kepala cepat cepat untuk mengusir pikiran mesum itu dari kepalanya. Bisa bisanya saja ia memikirkan hal itu di saat saat seperti ini!
Oke dia benar benar butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari semua ini.
Disaat itulah matanya menangkap sebuah objek yang ada di atas meja disebelah kasurnya.
Sebotol vodka.
Elain dengan ragu ragu menggapainya. Memikirkan bagaimana selama ini ia sangat asing dengan hal hal berbau alkohol di umurnya yang sudah menginjak 18 tahun.
__ADS_1
Oke tidak apa apa. Selalu ada waktu pertama kali untuk segalanya bukan?
Dengan keberaniannya, gadis itu membuka tutup botol dan langsung menenggak isi vodka dalam sekali tegukan. Ia harus meringis ketika rasa pahit itu masuk di tenggorokannya.
"Tidak buruk juga". Gumamnya.
Ia merasa lebih ringan. Juga semuanya terlihat lucu di mata Elain. Ia merasa bahagia.
Maka gadis itu terus terusan menenggaknya sampai ia merasa ingin melupakan dunia ini dan segala masalahnya.
......................
Dominick merapikan kerah tuxedo nya yang mulai kusut. Laki laki itu menyugar rambutnya ke belakang. Di hari pernikahannya pun ia tidak bisa menikmati waktunya. Banyak pekerjaan yang menantinya.
Ia menetralkan degup jantungnya yang tiba tiba saja menggila lalu membuka pintu kamar. Melihat bahwa pengantinnya sudah terkapar di kasur.
Dominick mendudukkan dirinya disamping Elain. Memandang wajah cantik perempuan itu yang sudah tertidur.
Ia mengusap kasar wajahnya. Sekarang mereka sudah menikah, lalu apalagi? ia benar benar tidak percaya sudah menikah dengan seseorang yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Ia melihat kesamping, menemukan botol vodka yang sudah setengah habis. Lalu melirik lagi ke arah Elain. Jadi ini penyebab gadis itu sampai tepar.
Tak lama kemudian, ketika kesadaran dan kewarasannya sudah diambang. Ia merasakan seseorang mengelus tengkuknya dari belakang.
Ia menoleh. Mendapati Elain yang menatapnya sayu, gadis itu kemudian tanpa apa aba meraih wajahnya dan menciummnya, sama sekali tidak memberikannya celah untuk menolak ketika gadis itu menangkup wajahnya.
Karena efek alkohol, Dominick pun mulai terbuai. Apalagi ketika Elain dengan liarnya menjilat cuping telingannya.
Laki laki itu tidak tinggal diam. Tangannya mulai beraksi menggerayangi tubuh Elain yang masih terbalut gaun pengantin. Tangannya mulai menurunkan resleting, kemudian melepas gaun itu dan menyisakan si gadis dengan ********** saja. Melanjutkan dengan melepaskan ornamen ornamen rumit yang menghiasi rambut Elain. Membiarkan helaian coklat itu terlepas.
Dominick menghirup aroma gadis itu dalam dalam. Kemudian Elain mulai menariknya untuk melepaskan segala pakaiannya. Bersama, mereka sama sama melepaskan helaian yang menutupi tubuh mereka. Menyisakkan anak adam dan hawa itu tanpa helaian apapun.
Sekarang posisi Dominick berada di atas tubuh Elain. Kulit mereka saling bersentuhan, ruangan ber ac ini terasa panas. Dominick mulai menjulurkan tangannya di paha Elain, mengelus di sana sampai gadis itu meremang.
"Dominick—aku". Elain terengah engah, memandang sayu pada Dominick diatasnya.
"Aku akan memuaskanmu malam ini Amor".
__ADS_1
Kemudian jari Dominick bekerja disana. Membuat Elain merasakan sensasi aneh yang tidak pernah ia sampaikan, setiap sentuhan membuat tubuhnya semakin panas.
Lalu ia merasakannya, sebuah kenikmatan yang hanya bisa dideskripsikan di novel novel erotis.
Dominick melihat itu menyeringai, "Keluarkan saja".
Dan Elain pun mendapatkan pelepasan pertamannya.
Mereka saling bertatapan. Elain mulai gugup, apalagi ketika ia melihat ke bawah sana. Namun Dominick kembali meraih dagunya, membuat gadis itu kembali mengalihkan atensinya padanya.
"Tidak apa apa. Aku akan berusaha selembut mungkin"
Elain mengangguk. Memberikan persentujuannya. Ia merasakan benda tumpul yang berusaha masuk dibawah sana. Kemudian dalam sekali sentakkan, Elain merasakan rasa sakit.
Ujung matanya mengeluarkan air mata. Dominick berhenti untuk sekejap.
"Apakah sakit sekali? haruskah aku berhenti?". Tanya Dominick khawatir.
Elain menggeleng. "Lanjutkan saja". Ujarnya parau.
Dominick pun mulai menggerakkan pinggulnya. Awalnya pelan —laki laki itu berusaha menahan gairahnya yang memaksanya untuk bergerak liar. Ia tidak ingin istrinya kesakitan.
Lama kelamaan, rasa sakit itu berganti menjadi sesuatu yang nikmat. D*sahan Elain pun terdengar semakin keras. Membuat Dominick pun semakin semangat.
Sentakkan itu semakin kuat, membuat kasur yang mereka tiduri berdecit. Peluh memenuhi keduanya. Hingga kemudian keduanya sama sama mencapai pelepasannya. Dominick pun ambruk disebelahnya.
Keduanya sama sama mengatur nafasnya. Bau alkohol masih menyelimuti mereka bersamaan dengan bau pergumulan mereka.
Akhirnya Elain dan Dominick pun tertidur.
......................
Mau bikin scene anu nya yg detail tapi kesel. Ditolak mulu ama NT😩 jadi ya gini.
Nanti tour mansion Elain sama Dominick ada link nya dikomen ya...
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa