
......................
"Baiklah. Daddy dan Leo akan melihat lihat keadaan hunian ini terlebih dahulu"
Lyra sontak mencebik mendengar perkataan daddynya. Pasalnya mereka baru saja sampai dan sudah akan pergi pula. Ya, walaupun pergi dalam konteks hanya disini. Tapi kan tetap saja..
"Ishh... Daddy kan baru datang. Lagian, mau apa sih kok melihat lihat?"
"Ya, daddy ingin memastikan jika rumah ini sesuai dengan kebutuhan putri daddy"
Terlepas dari rasa kesalnya. Lyra tak bisa menahan senyumannya. Daddynya itu memang masih sama dan tak berubah, selalu memprioritaskan kenyamananya dimanapun ia berada.
"Baiklah daddy". Ujar gadis itu menyetujui.
Hingga kemudian tiba tiba mommy nya bersuara. "Baik, mommy juga akan ikut"
Sontak mata Lyra pun membulat. Apa apaan mommy nya ini! jika ia ditinggal disini bersama Alberto nanti kan jadinya canggung.
"Mommy...". Rengek gadis itu. Berusaha memberi kode pada mereka melalui sudut matanya. Namun entah mereka yang tidak melihatnya, atau Lyra yang tidak digubris. Tapi keluarganya sama sekali tidak mengindahkannya.
Gadis itu menghela nafas kasar ketika melihat mommy, daddy dan Leo sudah keluar. Kini tinggal lah dia dan Alberto yang ada di ruang tamu ini sendirian. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Ekor matanya melirik pada Alberto.
Ternyata pria itu tengah melihat ke arahnya. Entah mengapa Lyra merasa sangat risih.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu? seperti tidak ada kerjaan saja".
Terlepas dari ke ketusan yang diberikan oleh Lyra, Alberto hanya menanggapinya dengan tersenyum pada gadis itu. "Karena kau cantik"
Jika itu adalah Alessio yang mengucapkannya, maka Lyra akan langsung memerah. Namun karena ini Alberto, Lyra lagi lagi merasa risih.
Sebenarnya ada apa dengannya? bukankah ia memang menyukai pujian tak peduli darimana datangnya pujian tersebut?
"Terimakasih. Aku tahu itu". Jawabnya masih tidak mau memandang pada Alberto.
Kemudian telinganya menangkap suara Alberto yang tengah tertawa terbahak bahak. Iapun memberikan tatapan tajam pada pria yang berada di seberangnya. Namun Alberto masih melanjutkan tawanya.
"Kau itu memang sesuatu yang lain, neonata. Lihat bagaimana percaya dirinya dirimu"
__ADS_1
Lyra hanya mendecih. "Jika memang kau punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Kau boleh percaya diri"
"Ya, aku bisa membayangkan betapa bangganya si Romanov itu telah memilikimu"
Lyra lagi lagi mendelik tak suka pada Alberto. "Kau berbicara seolah olah aku ini barang, Alberto"
"Maaf maaf jika kesannya seperti itu. Tapi apakah kau tidak bosan neonata?"
satu alis Lyra terangkat. "Maksudmu?"
"Hidup secara sembunyi sembunyi. Dunia tidak tahu jika Romanov adalah milikmu. Kau harus terkurung disini, tanpa bisa keluar dengan suamimu kelak. Tidak memiliki kebebasan dan berada di pihak yang jahat"
Tangan Lyra terkepal. Semua ucapan Alberto menusuk tepat di hatinya. Dan Lyra tidak bisa menyanggah itu semua. Lantas, apa yang diinginkan laki laki itu dengan membeberkan fakta menyakitkan itu padanya?
"Apa maumu, Alberto?"
Pria itu menatapnya mantap lalu berucap.
"Jadilah milikku. Maka kau tidak harus bersembunyi. Jadilah milikku maka kau akan mendapatkan apapun yang kau mau. Jadilah milikku maka aku akan menjadikanmu ratu dan memperlihatkannya pada dunia. Jadilah milikku, Lyra Estrella".
Lyra terlalu terpaku. Sama sekali tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulut Alberto. Lidahnya tiba tiba saja kelu untuk menjawab.
Daddynya lalu berjalan ke arahnya sambil menyodorkan sebuah kertas. Lalu bertanya.
"Lyra, darimana Alessio bisa mendapatkan foto masa kecilmu yang ini?"
......................
Sementara itu, disisi lain Jason dan Elain tengah menikmati udara yang sejuk diatas dataran tinggi. Ternyata Jason membawanya ke salah satu situs cagar alam yang sangat indah. Namun tak banyak orang mengetahuinya.
Mereka berada di dataran tinggi yang lumayan jauh dari pusat kota. Membuat Elain bisa melihat seluruh kota dengan jelas. Saat ini keduanya tengah duduk di sebuah bangku yang langsung menghadap pemandangan pemukiman penduduk.
Benar benar indah.
Elain jadi merasa bahwa ini adalah trip healing nya. Setelah berminggu minggu merasa stres dan terbebani dengan segala masalah yang ada di pundaknya. Akhirnya Elain bisa bernafas untuk sekejap saja. Dan itu terimakasih untuk Jason.
Berbicara tengang Jason, Elain memandang pada Jason yang ada disebelahnya. Laki laki itu memiliki raut wajah yang sangat tenang, seolah juga menikmati pemandangan ini sama seperti Elain.
"Jason". Panggilnya. Jason tidak menyahut namun langsung menoleh pada Elain.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum lembut, kemudian meraih tangan Jason dan mengenggamnya. Memberikannya remasan lembut.
"Terimakasih sudah membawaku kemari". Tutur gadis itu.
Jason hanya tersenyum lembut, kemudian kembali menatap lurus kedepan. "Tidak masalah. Aku merasa kau memang butuh ini"
Elain menunduk. Apa yang dikatakan Jason memang benar. Setelah masalah yang ada didepannya, Elain memang membutuhkan ini.
Ah, memikirkan itu saja membuat Elain menjadi muram seketika. Pikirannya kembali berkelana pada Dominick yang meninggalkannya pagi ini.
Jason, menyadari perubahan pada Elain pun memandang gadis itu lekat lekat dengan raut khawatir. "El, ada apa?". Tanyanya lembut.
Entah itu karena efek pemandangan yang menakjubkan, Jason yang menanyainya dengan lembut, ataupun Elain yang terbawa suasana. Karena di detik selanjutnya, gadis itu memeluk Jason dan menangis menumpahkan segalanya.
Jason pun terkesiap. Namun laki laki itu tak ayal segera melingkarkan tangannya pada Elain. Memberikan perlindungan dan bahu yang dibutuhkan gadis itu.
"Jason. Kenapa semuanya sangat sakit? aku lelah...". Adu Elain. Air matanya turun membasahi bagian depan baju yang dikenakan oleh Jason.
"Berceritalah jika itu membuatmu tenang, El".
Maka Elain pun membuka suaranya dan mulai bercerita. Mengenai perasaannya yang ia pendam pada Dominick selama ini, Dominick yang mencintai Aluna, pernikahan mereka yang didasari oleh perjodohan. Dan juga tentang hubungan Dominick dan Aluna yang masih bertahan hingga Sekarang. Semuanya Elain tumpahkan.
Sementara itu, Jason yang mendengar Elain menceritakan itu tak ayal mengepalkan tangannya dan menahan emosinya. Ia tak habis pikir. Dominick itu benar benar br*ngsek! bisa bisanya menyia nyiakan gadis yang sangat murni seperti Elain.
Jason lalu memegang bahu Elain. Kemudian dengan lembut mengusap air matanya. Laki laki itu menatapnya lurus dengan keseriusan yang dalam.
"Dengarkan aku Elain. Kau tidak perlu menyakiti dirimu seperti ini. Aku ada disini, aku yang akan menjadi obatmu jika kau mengizinkanku. Aku akan membawamu lari sekarang juga jika kau mau. Aku akan melakukan apapun, yang harus kau katakan hanyalah 'iya' dan aku akan mengurus sisanya".
Elain dibuat tertegun mendengarnya.
......................
Halo... Akhirnya gais wifiku udah bisa yeayy... anyways..
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
- Balqis istrinya NaNa
__ADS_1