Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 39 | One Call Away


__ADS_3


......................


Elain tengah mendengarkan musik dengan nanny-nya dan beberapa pelayan yang tengah merapikan pakaian di walk in closet megah miliknya.


Gadis itu terus men-scroll feeds instagram sembari mendengarkan musik Lowkey. Kemudian satu notifikasi muncul.


Jasonblackford is following you


Elain tersenyum sendiri. Ia dan Jason memang semakin dekat —dalam artian pertemanan tentunya. Kerap kali mereka bertukar pesan setiap harinya walau hanya menanyakan kabar saja. Laki laki itu benar benar membuatnya terhibur. Selama ini, Elain tidak pernah memiliki teman dekat laki laki —mungkin kecuali Dominick. Tapi Jason itu benar benar teman yang baik baginya.


Elain pun memencet tombol follow back sambil melihat isi instagram Jason. Jason hanya mengupload satu foto, itupun foto siluet saja.


Hingga kemudian suara tembakan yang memekikan telinga membuatnya terpekik.


Dorrr...


Dorrr...


Berkali kali tembakkan itu terdengar, Elain berusaha menutup telinganya. Tubuhnya bergetar, matanya memandang was was pada pintu kamarnya.


Nanny Daphne pun duduk disebelahnya, ikut memeluk tubuhnya yang tak berhenti bergetar.


Suara tembakkan itu sudah berakhir. Namun seisi rumah masih dilingkupi oleh aura mencekam. Elain semakin mendekatkan dirinya pada Nanny-nya.


"Ada apa ini, Nanny?".


Nanny Daphne mengelus rambutnya, "Tenanglah, nona. Bantuan akan segera datang".


Lalu, ruangan yang sebelumnya terang benderang tiba tiba saja mati. Akses listrik mereka sedang dipotong.


Kenop pintu dibuka, Elain menahan nafasnya dan ia bisa bersumpah jantungnya berhenti kala itu juga ketika pintu terbuka.


Nyatanya, seorang pelayan berlari tergopoh gopoh padanya.


"Nona.. anda harus bersembunyi. Telah terjadi penyerangan nona! mereka telah membunuh para penjaga"


Nafasnya tercekat. Tubuhnya benar benar berkeringat dingin sekarang. Elain menatap pada telapak tangannya yang tak berhenti bergetar, kepalanya jadi berkunang kunang. Ia merasa sesak —seperti tercekik. Perutnya melilit.


Gadis itu terkena panic attack.


Nanny Daphne meraih bahunya dan menggoyangkannya. Berharap mengembalikan kesadaran Elain. "Nona! anda harus bersembunyi nona!"


Kemudian nanny Elain bersama pelayan menarik Elain berdiri dan mengiring gadis itu melalui ruangan persembunyian dibalik walk in closet.


Ruangan itu berbentuk petak yang lumayan kecil. Kira kira mampu memuat sampai dua orang —itupun mereka harus berdesak desakan.


Para pelayan beserta nanny Daphne mendorongnya masuk, kemudian akan menutupnya sebelum Elain mencegah mereka.


"Tunggu! kalian mau kemana?". Tanyanya panik. Segala skenario terburuk sedang menari nari dikepalanya.


Salah satu dari pelayan itu menjawab, "Kami akan ada di ruangan persembunyian didepan anda nona". Elain mengangguk. Kemudian pintu itu bergeser tertutup.

__ADS_1


Gelap. Dan ia sendirian.


Elain memeluk lutunya sendiri. Adrenalin mengalir diseluruh tubuhnya. Tubuhnya masih saja bergetar, tak henti henti ia memanjatkan doa pada Sang Penguasa.


Elain pun teringat sesuatu. Kemudian mengambil ponselnya yang ada disaku dressnya.


"Baiklah, take care Elain. Kalau ada apa apa jangan lupa menghubungiku, i'm only one call away"


Gadis itu akan menagih janji Dominick.


......................


Disisi lain, kini Dominick tengah berada di apartemen Aluna. Mereka berdua tengah berpelukan santai di sofa ruang tamu Aluna sembari menonton acara tv.


"Astaga.. Lihat! dia benar benar konyol!". Komentar Aluna.


Dominick terkekeh geli. Kemudian mendaratkan kecupan di atas rambut Aluna yang selalu wangi. "Katanya tadi tidak boleh bicara?"


Aluna mendongak menatapnya. Kemudian memicingkan mata hijaunya pada Dominick. "Terserah aku!". Jawabnya.


Dominick mengangkat satu alisnya. Kemudian bergerak mencium bibir Aluna. Ini bukanlah ciuman pertama mereka, tapi rasanya sama. Masih dapat membuat perasaan mendebar debar dihatinya selalu terasa.


Aluna memang selalu memiliki efek yang luar biasa padanya.


"Semuanya memang terserah dirimu, sayang". Ujar Dominick ditengah tengah ciumannya. Aluna mengangguk.


Mereka terus berciuman, hingga kemudian ponsel Dominick berdering. Dominick akan menghentikan cumbuannya dan mengangkat telepon. Namun Aluna mencegahnya.


"Jangan diangkat.... Kita baru saja bertemu tadi". Tak tega dengan raut memelas Aluna —karena ia memang hari hari ini sibuk. Iapun menyetujuinya, kembali memberikan perhatiannya penuh pada Aluna.


Dominick mengambil ponselnya. Kemudian Aluna dengan memutar bola matanya jengah bertanya. "Siapa itu?".


Dominick mengerutkan keningnya. "Ini Elain. Aku akan menjawabnya terlebih dahulu".


Aluna merenggut tak suka. "Elain lagi Elain lagi. Kenapa sih kau tidak bisa mengabaikannya saja?"


"Aluna.... Elain itu seperti adikku sendiri. Kau harus mengerti"


"Ya ya... Seperti adik. Aku paham". Aluna pun membaringkan tubuhnya penuh di sofa.


Dominick menghiraukan nada sarkas Aluna dan mengangkat teleponnya.


"Halo.."


"Dominick.. Tolong aku.. aku takut"


Seketika Dominick panik. Laki laki itu segera memakai jas nya yang mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari Aluna. suara Elain terlihat sangat bergetar. Membuat Dominick ketakun.


"El.. Amor. Katakan padaku apa yang terjadi, hm?"


"Hikss... aku tidak tahu. Tadi ada suara tembakkan dan aku sedang bersembunyi"


"Okay. Goodgirl. Teruslah bersembunyi, aku akan segera datang".

__ADS_1


"Baiklah"


Dominick segera mematikan teleponnya. Dan menyamber dompetnya yang ada disofa dengan tergopoh gopoh.


"Aku harus pergi"


Akuna pun berdiri. "Tapi kenapa? kau baru saja disini!". Ujar wanita itu merengek.


Dominick menatapnya datar. "Aluna.. Aku harus pergi. Elain membutuhkanku"


"Elain terus yang menjadi prioritasmu. Kau yakin jika kau tidak menyukai Elain?". Sinis Aluna.


perkataan Aluna membuat pikiran kacaunya semakin menjadi jadi. Dominick jadi emosi. "ALUNA! JAGA BICARAMU!"


Dibentak seperti itu, Aluna tertunduk dan mulai menangis. Dominick merasa bersalah. Namun Elain lebih membutuhkannya.


"Aluna.. Aku tidak bisa menerima jika kau meremehkan perasaanku padamu. Aku minta maaf. Aku akan memperbaikinya nanti, Elain sedang sangat membutuhkanku". Memberikan kecupan terakhir pada Aluna. Dominick pun pergi.


Aluna terus terisak setelah kepergian Dominick. Entah rasanya sakit sekali ketika laki lakimu lebih mementingkan perempuan lain dibanding dirimu.


Sejak awal, Aluna tahu jika Elain itu akan menjadi duri di hubungannya dengan Dominick. Dominick tak henti hentinya selalu memuji dan membicarakan gadis itu ketika bersamanya. Aluna sangat muak mendengarnya.


Ia sangat membenci Elain


......................


Elain terus meringkuk. Tak henti henti gadis itu merapalkan doanya. Kenapa disaat seperti ini benar benar tidak ada orang dirumah? tutornya sudah pulang beberapa jam yang lalu. Igor dan papa juga sedang ada keperluan diluar.


Mengingat ini, Elain jadi teringat kejadian yang sama beberapa tahun yang lalu. Ketika mamanya dan dia juga mengalami nasib yang sama.


Tidak tidak...


Elain menyingkirkan memori buruk itu dari pikirannya.


Kemudian tiba tiba gadis itu mendengar suara langkah kaki. Sontak ia menutup mulutnya sendiri untuk tidak mengeluarkan suaranya. Elain benar benar takut setengah mati.


Langkah kaki itu berhenti tepat didepannya. Elain menahan nafasnya.


Pintu pun terbuka.


Dan Elain bisa bernafas lega. Karena bukan sosok penjahat yang datang. Dominick Ivanov berada di depannya. Dengan jas hitam yang berlumuran darah.


Laki laki itu nampak seperti malaikat pencabut nyawa.


Namun Elain tak peduli.


Gadis itu menghamburkan dirinya dipelukan Dominick. Elain bisa merasakan Dominick memeluknya erat dan mengelus punggungnya.


"Shh..Aku disini, amor. Kau aman bersamaku"


......................


**Baru up malam. Aku banyak tugas. Semangatin dong (⊙_☉)

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen dan like ya... Biar aku rajin huhu...


Xoxo**.


__ADS_2