Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 55 | It's Okay


__ADS_3


......................


"Keluarkan saja semuanya".


Lyra berkata sembari menepuk nepuk punggung Elain yang tengah menangis sembari memeluknya. Ia tidak berkata apa apa, hanya membiarkan Elain meluapkan segalanya.


Elain menangis dengan sejadi jadinya. Walau tanpa suara, karena bagaimanapun juga ia pasti akan malu jika kepergok Alessio dengan keadaan menangis didepan Lyra.


Elain tak membutuhkan waktu lama setelah kejadian kemarin untuk berkendara sendiri dengan nekat menuju pada mansion Lyra dan Alessio. Ia benar benar butuh punggung untuk bersandar kali ini.


Biasanya peran itu adalah untuk Dominick dan Igor.


Tapi tidak mungkin ia mencari kenyamanan pada seseorang yang begitu mempengaruhinya untuk saat ini seperti Dominick.


Lalu bagaimana dengan Igor? Elain masih marah pada kakaknya yang membiarkan hal ini terjadi. Ia tahu jika ini sama sekali bukan salah Igor, Igor juga tidak bisa menolak permintaan papa mereka.


Jadilah ia kesini.


Kemudian Elain menarik dirinya. Lyra mengambil sehelai tisu dan mengelap air mata di pipi gadis itu. Jika orang asing melihat mereka sekarang, maka mereka akan mengira jika Lyra dan Elain itu pasti kakak beradik.


"Sudah lebih baik?"


Elain mengangguk seperti anak kecil. Membuat Lyra jadi gemas sendiri pada gadis itu.


"Maafkan aku kerumahmu tanpa izin. Maaf juga menghabiskan sarapan di meja makan. Hanya saja aku sangat lapar, hiks"


Lyra terkekeh mendengar pernyataan Elain. Memang benar, tadi pagi ia hampir berteriak bahwa ada maling karena sarapan yang tadinya ia sisakan di meja makan untuk Alexander hilang begitu saja. Kemudian tanpa ia duga, ia menemukan Elain memakan sarapan itu di taman belakang. Setelah kepergok, gadis itu langsung menangis dan Lyra segera menenangkannya dengan mengatakan bahwa itu baik baik saja.


"Tidak apa apa. Kau boleh kesini kapanpun kau mau, kok. Hanya saja tadinya kau seharusnya bilang saja jika kau memang lapar. Aku bisa menyuruh pelayan untuk memasakkan makanan kesukaanmu".


Pipi Elain memerah. "Tetap saja. Sangat tidak sopan berkunjung ke rumah orang lalu memakan makanan mereka tanpa ijin —ya walaupun aku lapar sekalipun"


Karena akibat dari kenekatannya yang keluar dari rumah sendiri dan tanpa berpamitan. Elain jadi tidak sarapan. Tidak hanya itu, ia juga belum makan dari semalam. Karena itulah perutnya tidak bisa diajak berkompromi ketika mencium aroma harum makanan di meja makan Lyra.


"Sudah, kubilang tidak apa apa. Alexander pasti tidak keberatan jika sarapannya kau makan. Lagipula aku sudah menyuruh pelayan untuk membuatkan makanan yang baru untuknya"


Mendengar ucapan Lyra, Elain membulatkan matanya. "A—apa? Alexander? Jadi itu punya Alexander"


Lyra menatapnya tidak mengerti. Tapi kemudian gadis itu mengangguk.


Elain mend*sah kemudian menangkup wajahnya dengan telapak tangannya. Kemudian merengut. Wajahnya sangat memelas, membuat Lyra menahan tawanya.


"Matilah aku!". Rengeknya. Kemudian Elain meraih tangan Lyra dan mengenggamnya. Kemudian menatapnya memelas.


"Huhu... Lyra bagaimana ini? Nanti Alexander bisa balas dendam bagaimana? huhu aku mau menghilang saja"

__ADS_1


Akhirnya, Lyra tidak bisa menahan tawanya. Gadis itupun tertawa, menyebabkan Elain semakin merengut.


Apa apaan! Disini Elain khawatir dengan nasibnya di tangan pangeran es itu, dan Lyra justru menertawakannya.


Haish...


"Ishhh.... Jangan tertawa". Rengeknya.


Lyra pun berhenti tertawa. Namun masih menatap jahil pada Elain. "Kau ini lucu sekali, Alex itu tidak sekejam itu"


"Mungkin hanya padamu". Gumam Elain lirih namun masih dapat didengar oleh Lyra.


"Hah? apa maksudmu?"


"Tidak tidak!" Elain dengan cepat menyangkal.


Sejujurnya, ia sudah mau bertanya tentang perihal ini pada Lyra, namun tentu saja ia merasa sungkan. Ia merasa hubungan Lyra dan Alexander itu sangat tidak wajar.


Ayolah, mereka disini membicarakan tentang seorang Alexander Konstantine! pria yang bahkan tidak mau berdekatan dengan wanita dalam radius tiga meter.


Dan Alexander jadi sedekat ini dengan Lyra? ini fenomena dunia yang keberapa?


Lyra masih terlihat tidak yakin, sehingga Elain harus memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan. "Lagipula, kenapa Alexander kesini?"


"Ah, ya. Tadi malam Alex memberitahuku karena ia akan berkunjung. Ditambah lagi Alessio harus pergi untuk mengurusi pekerjaannya yang tertunda karenaku, jadi aku tidak masalah dengan Alex kesini. Sejujurnya ia sudah sering kesini, kok". Jelasnya.


Tapi ia tidak mau mencampuri urusan orang lain.


Kemudian dengan senyum yang dipaksakan, Elain berucap. "Jangan lupa datang ke pernikahanku, ya"


Suasan pun berubah menjadi lebih berat. Hilang sudah sisa sisa tawa mereka tadi. Lyra menatap pada Elain yang sudah tertunduk. Gadis itu kemudian meraih tangan Elain dan mengenggamnya.


"Elain, ini mungkin adalah pertanyaan yang sangat bodoh dan kau pasti sudah bosan mendengarnya. Tapi apakah kau baik baik saja?"


Elain tertawa hambar. "Tidak sama sekali. Namun tidak ada yang bisa kulakukan, Lyra."


"Bagaimana dengan Dominick?"


Elain terdiam. Ia tidak tahu apakah ia harus memberitahu Lyra tentang perjanjiannya dengan Dominick atau tidak.


"Elain? ada apa?"


"Lyra... Aku..." Kemudian Elain menjelaskan semuanya secara detail. Mulai dari awal mula rencana perjodohan yang dilakukan oleh papanya dan orang tua Dominick, hingga kemudian Dominick yang bertanya tentang perasaanya. Lalu kata kata terakhir Dominick sebelum laki laki itu pergi yang masib terngiang ngiang di pikirannya.


Elain menceritakan itu semua.


Kemudian di akhir cerita. Elain mendongak, mendapati raut penuh amarah dari Lyra. Gadis itu juga mengenggam tangannya dengan erat membuat Elain meringis.

__ADS_1


Lyra pun menjelaskan genggaman tangan mereka.


"Dasar Dominick br*ngsek! bria baj*ngan! bisa bisanya ia berlaku seperti itu. Lihat saja, aku akan memberitahu Alessio tentang ini". Lyra sudah akan mengambil ancang ancang berdiri namun kemudian ditahan oleh Elain.


"Lyra, kumohon. Apapun yang ada dipikiranmu, jangan kau lakukan". Pinta gadis itu.


Lyra pun mendengus. Namun gadis itu menurut. Kemudian kembali duduk. "Elain, kenapa kau bisa membiarkannya memperlakukanmu seperti itu? dia akan menikah denganmu, Demi Tuhan! dan masih berhubungan dengan Aluna itu?".


Sejujurnya, ia ingin mengoreksi Lyra tentang keadaanya yang tidak jauh beda darinya. Ketika Alessio sudah menikahi Asteria namun masih memilih untuk bersama Lyra.


Semuanya terasa familiar.


Namun Elain hanya tersenyum kecil. "Tidak apa apa. Aku sungguh mengerti perasaan Dominick. Aku tidak bisa memaksanya berada di dekatku sementara ia memiliki seorang wanita untuk diperjuangkan"


Lyra tertegun mendengar penjelasan Elain. Di umurnya yang masih belia, Elain bisa berpikir selayaknya orang dewasa yang sudah memiliki berbagai pengalaman.


Berbeda terbalik dengannya yang masih manja dan labil. Iapun juga jika di posisi Elain pasti akan merebut Dominick dengan seluruh usahanya.


Mungkin karena inilah Tuhan menjadikan mereka teman, untuk saling melengkapi kekurangan masing masing.


"Tapi, apa kau tidak apa apa Elain?"


Elain tersenyum lembut. "Bukankah selama ini aku sudah terbiasa tidak apa apa?"


......................


Jadi gini guys. Sebenarnya akutu udah nulis hampir tiga bab di laptop. 2.800 an kata, eh lupa mencet save, terus akhirnya gak kesimpen dan hilang😀👌🏻 hiks mo nangis😩


Terus aku mau nulis ulang lagi, tapi pas lagi sama mas NaNa digangguin sama anak tetangga sebelah. Kzl👎🏻



itu pelakunya😡👎🏻



BUSET SENYUMANNYA GE MANIS BANGET KEK CENDOL PAK ALI 😭😭😭😭


dahla.


bai....


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


- Balqis istrinya NaNa

__ADS_1


__ADS_2