
......................
Lehernya terasa kaku. Begitu juga seluruh tubuhnya begitu mendengar suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan gelas porcelain milik ibunya.
Mengapa ia melakukan ini? acar minum teh yang membosankan setiap minggunya. Mendiskusikan hal yang membosankan setiap kalinya tanpa gagal.
Acara amal. Gosip sampah. Siapa yang memakai gaun terjelek dan sama setiap tahunnya di acara pesta.
Sangat membosankan.
Harusnya tidak. Pikirnya dalam hati. Acara minum teh ini, gosip kecil dan juga pesta. Ia dilahirkan dengan itu dalam darahnya. Dia dibesarkan dan dipamer pamerkan kepada semua rekan kerja orang tuannya semenjak ia bisa menegakkan dagunya.
Jika dulu, ia akan sangat suka dengan perhatian yang ia dapat. Namun baru baru ini ia merasa tidak peduli seperti biasannya.
Terlahir dalam keluarga yang makan menggunakan sendok emas, ini memang sudah kewajibannya. Orang tuanya membesarkannya untuk ini.
"Jadi, Aster"
Mata Asteria menatap sayu pada lawan bicaranya.
"Katakan pada mother, apakah ada yang baru darimu?". Isabella Mikhailova. Ibunya, bertanya dengan keformalan yang familier.
"Oh, tidak ada yang baru,” Asteria tersenyum sopan, menegakkan punggungnya dan menyilangkan pergelangan kakinya.
Sebuah kebohongan.
Banyak yang baru sebenarnya. Seperti contohnya, Alessio yang semakin jarang dirumah. Dan entah mengapa Asteria merasa laki laki itu semakin hari semakin menjauh dari jangkauannya.
"Seseorang yang masih muda dan cantik sepertimu. Sepertinya tidak mungkin. Katakan, bagaimana hubunganmu dengan Alessio?"
Asteria menarik nafas dalam dalam dan bergerak secara tidak nyaman dikursinya.
"Kami... baik". Ujarnya sembari tersenyum paksa.
"Bukankah dia harusnya sudah pulang? Kenapa dia masih belum kembali. Apa kalian banyak menghabiskan waktu bersama?"
"Well.. Kami mencobanya". Ujarnya berbohong dengan mudah sembari menyesap tehnya.
Alessio. Dia baik baik saja —mereka baik baik saja, atau begitu pikir Asteria. Suaminya semenjak ia berusia tujuh belas tahun dan Alessio delapan belas. Satu satunya pria yang ada dihatinya.
Ia masih teringat pertemuan pertama mereka. Saat itu Asteria tidak lebih dari 14 tahun dan Alessio 15 tahun. Saat itu acara pesta tahunan. Dia ingat merasa gugup ketika melihat seorang bocah laki laki dengan mata abu abu yang dapat mencuri perhatiannya. Bagaimana ia melirik diam diam dibalik tubuh ibunya. Namun saat kecil sekalipun, Alessio sama sekali tidak meliriknya dan bersikap dingin padanya.
__ADS_1
Kemudian mereka berdua dibawa ke ruang kerja ayahnya. Mereka menjelaskan tentang kontak yang akan mengikat kedua keluarha itu. Kemudian ayahnya dan Mr.Nikolai berjabat tangan yang diselingi tepukan tangan. Semua orang menandatangani dokumennya, semua kecuali Asteria. Rupanya, tidak ada yang membutuhkan izinnya untuk menyerahkan hidupnya dan pikiran itu meninggalkan rasa pahit di mulutnya.
Tangan gemetar Alessio memegang pena tepat di atas kertas dan dia ragu-ragu untuk beberapa saat sebelum kemudian tangan Nikolai menemukan bahunya dan meremasnya dengan kuat.
Dan dengan begitu mereka bertunangan.
Asteria tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Menjadi Mrs. Romanova itu bagaikan sebuah mimpi fantasi. Ia sampai tidak bisa tidur memikirkannya.
Setelah itu mereka tidak lagi bertemu, setidaknya sampai mereka mengucap janji suci dihadapan Tuhan dan pendeta.
Semua mimpinya lenyap.
Harapanya datang kerumah dengan suami yang melebarkan tangan hangat padanya lenyap. Alessio tidak pernah memperhatikannya. Lelaki itu bahkan tidak mau menyentuhnya jika bukan karena ia yang meminta.
Ia selalu bersikap dingin, membuatnya menjadi bahan pembicaraan para pelayan sebagai nyonya rumah yang tidak dicintai. Namun terlepas dari itu, ia mencintai Alessio.
Cintanya tumbuh seiring waktu. Segala hal ia lakukan demi mendapat perhatian Alessio. Bahkan ia pernah dengan sengaja menjatuhkan diri dari tangga hingga tidak sadarkan diri selama tiga hari. Dan apa yang ia dapatkan? Alessio yang memandangnya dingin sembari berkata.
"Apa kau tidak punya mata sampai sampai tidak tahu arah jalanmu?".
Asteria tahu jika Alessio jauh dari kata mencintainya. Namun sedikit harapan itu ada. Harapan bahwa suatu hari nanti suaminya itu akan memberikannya cinta yang pantas ia dapatkan.
......................
Lalu, kepala pelayan menghampirinya, "maaf Nona. Kami ingin memberitahukan bahwa Tuan muda sudah kembali"
Kata kata itu membuat senyum tercetak di wajah cantiknya, "Benarkah? ia disini?". Kepala pelayan itu mengangguk.
Asteria dengan semangat memasuki mansion mereka. Kemudian netranya melihat sosok familer tengah membelakanginya.
Alessio.
"Kau kembali?". Binar semangat itu terlihat jelas diwajahnya.
Alessio berbalik, menoleh sebentar ke arahnya kemudian kembali memfokuskan diri pada ponsel pintar di genggamannya.
"Aku ada urusan disini". Jawabnya singkat. Asteria merasa kecewa, namun ia bertekat keras untuk berjuang mendapatkan hati suaminya.
"Kalau begitu, apa kau sudah sarapan? Aku akan menyiapkan sarapanmu"
Alessio terlihat seperti akan menolak. Namun kemudian laki laki itu nampak menimbang nimbang. "Kopi saja sudah cukup"
Asteria mengangguk antusias. Kemudian berjalan dengan cepat menuju dapur. Seorang maid hendak membantunya namun ia menolak.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kopi ini adalah permintaan dari suamiku, aku yang akan memberikan padannya"
Iapun membuat kopi dengan telaten, dan kemudian setelah dirasa sudah pas. Ia membawa kopi itu kembalu ke ruang tamu pada Alessio.
Ia dapat melihat Alessio yang tengah berdiri membelakanginya. Nampak berbicara dengan seseorang
"Aku tidak peduli. Kau urus semua keperluannya, aku tidak mau ada satupun yang kurang"
"..."
"Tidak. Kau pesankan pakaian dari desainer ternama. Semua atas ukuran Lyra, hanya dibuat untuknya".
Asteria mengerutkan keningnya heran. Siapa Lyra? apakah ia sepupu jauh Alessio yang tidak ia tahu?
"..."
"No. Tentu saja dia tidak akan tinggal disini, aku sudah menyiapkan mansion kami yang akan ia tinggali".
Saat itu juga Asteria membeku. Bagai tersambar petir, hingga tak sadar pegangan tangannya pada gelas kopi ditangannya melemah dan gelas itu jatuh, dengan kopi yang masih panas menumpahi kakinya.
Prang....
Alessio berbalik. Menatap ke arah Asteria yang menangis tanpa ekspresi.
"Apa maksudmu, Alessio? apa—apa kau memiliki wanita lain diluar sana?".
Alessio tidak menjawab. Hanya menatapnya datar dengan rahang mengeras. Asteria berlari mendekat kemudian memukuli d*danya dengan tangannya. Perempuan itu terisak histeris.
"Hikss.... Kenapa kau melakukannya Alessio? Sementara aku disini menunggumu, kau malah bersenang senang dengan wanita lain? Aku ini istrimu! kenapa kau begitu kejam! aku selalu mencintaimu, tapi kenapa kau—". Asteria tidak bisa menyelesaikan perkataanya. Perempuan itu terus terisak sembari memukuli Alessio yang dibiarkan oleh pria itu.
Lama kelamaan, pukulanya terhenti. Berubah mencengkeram kemeja yang dipakai oleh Alessio, menyandarkan diri padanya. Asteria menangis di d*da Alessio. Namun Alessio sama sekali tidak bereaksi. Kedua tanganya tergantung di sisi badannya.
Selang beberapa lama, Alessio memundurkan diri. Menyebabkan Asteria mendongak menatap dengan matanya yang masih mengeluarkan air mata.
Laki laki itu kemudian berucap, "Jangan lagi mencampuri urusanku, Asteria". Peringatnya lalu pergi. Meninggalkan Asteria yang meneriaki namanya memintanya untuk tinggal.
Seorang pelayan datang sembari membawa kompres "Nona. Obati dulu kaki anda, nanti bisa melepuh". Bahkan Asteria tidak sadar akan rasa sakit dikakinya. Karena nyatanya, rasa sakit yang Alessio berikan lebih besar dan terasa seribu kali lipat lebih sakit.
......................
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat uo sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1