
......................
Alessio menatap dingin pada pria ditengah ruangan yang tengah ditahan oleh dua anggotannya. Laki laki itu tengah duduk di satu satunya kursi disana. Satu kakinya diletakkan diatas kaki secara bersilang. Membuatnya nampak seperti raja diatas singgasananya.
Disebelahnya, Viktor dan Theo berdiri dengan raut pasif mereka. Sementara Aleksei mengambil tempat dibelakang laki laki yang tengah ditahan dua orang itu.
Alessio menyalakan rokok, kemudian menyelipkannya diantara bibirnya. Sebenarnya laki laki itu bukanlah perokok —hanya di beberapa kesempatan, dan inilah salah satunya. "Who sent you?"
[ Translate : Siapa yang mengirim mu? ]
Laki laki yang tengah bersujud dengan dua orang menahan pundaknya itu terdiam. Kemudian Alessio memberikan isyarat pada Aleksei dengan dagunya yang langsung diangguki pria itu.
Aleksei pergi kehadapan orang itu, kemudian memukul dagunya dari bawah menggunakan lututnya, suara gemelatuk tulang dan gigi dapat terdengar. Laki laki itu meringis kesakitan, hendak ambruk namun di tahan oleh dua pengawal Alessio.
"Siapa yang mengirim mu?". Kali ini Aleksei yang bertanya dengan ketenangan yang menakutkan.
Laki laki itu tidak menjawab, hanya merintih menyedihkan. "Aku —aku tidak tahu aku bersumpah —". Belum sempat laki laki itu meneruskan perkataan, lagi lagi Aleksei melayangkan pukulan —kali ini pada sisi perutnya. Laki laki itu kembali meng*rang kesakitan, air matanya tumpah.
Kali ini ia bersimpuh, berlutut dihadapan Alessio, "Maafkan aku tuan —sungguh aku berkata jujur".
Alessio memutar bola matanya malas, kemudian berdiri dari tempatnya lalu kemudian berjalan dengan perlahan menuju laki laki itu —bak singa yang tengah mengincar mangsanya.
Kemudian saat sampai disana. Ia memberikan isyarat pada anak buahnya yang berada di ujung ruangan. Kemudian salah satu dari mereka membawa nampan berisi pisau lipat dan juga palu.
"Jika kau tidak mau berbicara, aku akan mematahkan jarimu satu persatu lalu mengirisnya. Kau mau?". Ancam Alessio.
Pria itu menggeleng dengan kuat, berusaha berontak di cekalan pria Alessio. "Tuan Romanov. Saya mohon —saya tidak tahu. Saya bersumpah".
Alessio berdecih, kemudian mengambil pisau itu dan memberikanya pada Aleksei, "Aku ingin kau membuatnya berteriak hingga ia melupakan namanya sendiri". Aleksei tersenyum miring pada pria malang itu.
Alessio berbalik, terdengar suara rintihan dan mohonan hingga kemudian seseorang berbicara lantang.
"TIDAK!"
Alessio berbalik, menatap pada pria itu yang kini tengah menundukkan kepalanya. "Aku mohon jangan sakiti aku —aku akan memberitahukannya". Mohonnya.
Alessio menaikkan satu alisnya seolah berbicara 'lanjutkan'.
"Alberto. Alberto Moretti memberikanku perintah disini".
__ADS_1
Mendengar nama pria itu, ketenangan itu lenyap. Digantikkan oleh amarah yang teramat mendalam. Seakan api yang menyulut tubuhnya hingga pada saraf saraf selnya.
"Apa yang ia mau?". Tanya Alessio.
"Ia —ia menyuruhku untuk mengawasi nona Lyra tuan". Mendengar nama Lyra, membuat monster dalam dirinya semakin tidak terkendali. Mengambil langkah cepat, iapun mengambil pipinya dan menjepitnya erat, membuat kukunya menusuk pada pipi laki laki itu. Matanya menampilkan kemarahan yang membuat laki laki itu ketakutan.
"Apa kau bilang? Apa yang ia mau dari Lyra?". Geramnya marah.
Laki laki itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, "Aku tidak tahu tuan. Tuan Moretti hanya menyuruhku untuk mengawasi nona Lyra".
Alessio berdecih. Laki laki suruhan Alberto ini benar benar menyedihkan.
Satu lagi anj*ng suruhan Alberto yang perlu disingkirkan.
Melepaskan genggamannya dari pria itu, Alessio merapikan pakaian yang ia pakai. Menatap pada Aleksei, "Urus dia" Aleksei mengangguk patuh.
Setelah itupun, Alessio pergi meninggalkan ruang itu, diikuti dengan Theo dan Viktor dibelakangnya. Serta teriakan kesakitan laki laki itu di ruang bawah tanahnya.
......................
Alessio menemukan Lyra di ruang melukis. Gadis itu dengan wajah tenang tengah melukis. Seketika, ketegangan hilang dari tubuh Alessio. Laki laki itu tersenyum lembut seakan tidak pernah membunuh seseorang beberapa menit yang lalu.
Alessio mendekat pada Lyra, kemudian menangkap aroma familier —Jamine dan Vanilla. Seketika monster dalam dirinya kembali tenang. "Apa yang sedang kau lukis?".
Melihat Lyra, Alessio pun gemas sendiri. Laki laki itu kemudian mencubit pipi Lyra, membuat sang empu mengaduh kesakitan. "Aku tahu. Makanya aku tanya, kau sedang melukis apa, hmm?"
"Ish.. Kau tidak punya mata? Jelas jelas aku sedang melukis taman kita".
Alessio tidak buta. Ia jelas jelas mempunyai dua mata abu abu yang dapat melihat dengan jelas jika apa yang dilukis oleh Lyra adalah pemandangan taman belakang mereka yang asri dengan kolam dan air mancur ditengahnya. Namun salahkah ia bertanya tentang keseharian gadisnya?
"Kau ini benar benar tidak peka". Cibir Alessio pelan.
Lyra menyipitkan matanya, "Apa yang kau bilang?". Tanyanya.
"Tidak ada"
"Jelas jelas kau bilang sesuatu tadi. Apa kau mengejekku?".
"Tentu tidak, astaga!"
"Tidak mungkin. Kau pasti mengatakan bahwa lukisanku jelek, bukan?". Seiring dengan perkataanya, bibirnya mulai melengkung dan bergetar. Alessio yang melihat itu pun menangkup wajahnya frustasi.
__ADS_1
"Ya Tuhan, tidak sayang! aku mengatakan bahwa kau itu sangat cantik!"
Sontak perkataan Alessio membuat Lyra mendonggakkan kepalanya dan menatapnya berbinar, "Benarkah?". Tanyanya bak anak kecil yang haus pujian.
Alessio mengelus pucuk rambutnya, "Tentu. Yang tercantik dari yang pernah kulihat". Tentu saja jawaban Alessio membuat Lyra terbang ke awan awan. Namun kemudian, ia teringat sesuatu yang membuat kerutan tercipta di dahinya.
"Dasar. Kau pasti mengatakan itu pada selingkuhanmu yang lain, bukan?". Tanyanya sembari memiringkan kepalanya —menolak sentuhan yang diberikan Alessio.
Alessio menatapnya heran, bibirnya melengkung tak suka. "Apa yang kau bicarakan, Lyra? I have no other woman beside you"
[ Translate : Aku tidak punya wanita lain selain dirimu ]
Lyra menatap Alessio dengan mulut mengangga. Sama sekali tidak mengira akan jawabannya. Selama ini ia mengira Alessio sebagai seorang b*stard yang suka mengoleksi wanita seenaknya. Hingga kemudian ia mengingat wanita yang menjadi saingannya, Asteria Romanov.
"Lalu, bagaiman dengan istrimu?"
"Jangan khawatirkan dia, okay?". Baru saja Lyra hendak membalas. Alessio menatap jam tangannya dan kembali berkata.
"Saatnya makan siang. Yang lain juga sudah menunggu kita". Alessio mengenggam tangannya. Menuntunnya pada meja makan.
Seperti biasa, sudah ada Theo, Viktor dan Aleksei yang menunggu mereka di meja makan. Hingga kemudian Lyra menemukan sesuatu yang janggal.
Gadis itu melihat bekas berdarah seperti gigitan gigi di lengan Aleksei. "Ya Ampun Aleksei! apa yang terjadi dengan tanganmu". Tanyanya panik.
Aleksei hanya mengendikkan bahunya. "Tidak apa apa". Jawabnya tenang.
"Itu tidak terlihat seperti tidak apa apa. Irina! tolong bawakan kotak p3k". Irina mengangguk kemudian tak lama membawakan kotak itu pada nonanya.
Lyra mengambil tangan Aleksei, awalnya laki laki itu sempat tersentak —seolah tidak pernah mengira bahwa seseorang akan menyentuhnya selembut ini. Namun kemudian laki laki itu menurut ketika Lyra mengobati lukanya.
"Luka seperti ini lebih baik diobati, Aleksei. Aku tidak ingin kau kenapa napa"
Semua orang menatap Lyra takjub. Bahkan Aleksei — laki laki itu sama sekali tidak mengira bahwa Lyra akan sepeduli ini. Semua orang yang bertemu dengannya selalu takut dan menatapnya layaknya seorang monster. Namun disini Lyra mengobati tangannya seolah hal itu adalah hal paling normal didunia.
Aleksei tidaj pantas mendapatkan perlakuan baik dari gadis yang murni bak malaikat seperti Lyra.
Tetapi tak hanya Aleksei yang berpikiran seperti itu. Nampaknya begitu pula dengan Alessio, Theo dan Viktor. Seorang angel yang datang pada dunia gelap mereka.
Mereka akan selalu melindunginya.
......................
__ADS_1
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.