
......................
"Alberto? apa yang kau lakukan disini?".
Alberto Romanov. Berdiri dengan anggun memakai setelan jasnnya. Menatap Lyra dengan penuh kerinduan.
Lalu, laki laki bermarga Moretti itu kemudian mengambil langkah mendekat, menangkup kedua pipi Lyra dalam tangannya.
"Kemana saja kau, Neonata?". Tanyanya lembut.
Lyra mengambil langkah mundur, otomatis membuat tangan Alessio terjatuh.
Lyra memilih untuk mengabaikan pertanyaan Alberto. "Kenapa kau bisa ada disini, Alberto?".
Alberto memijit pangkal hidungnya. "Kau tidak tahu betapa gilanya aku ketika menemukanmu tak ada di kediaman keluargamu"
Lyra mengerutkan keningnya. "Kau tidak menjawab pertanyaanku, Alberto".
"Aku kesini karena mengikutimu". Ucapnya enteng.
Lyra membuka mulutnya karena terkejut. Kemudian amarah menghiasi wajah cantiknya. Gadis itu mendekat pada Alberto.
"Alberto! siapa kau berani sekali mengikutiku". Geram Lyra.
Alberto mengangkat tangannya frustasi. "Karena kau tidak memberitahuku kemana kau pergi!"
"Kenapa juga aku harus memberitahumu? apa urusannya denganmu Alberto?". Ujar Lyra sinis.
"Karena kau pergi dengan si br*ngsek Romanov itu!".
Lyra dapat melihat ke frustasian di wajah Alberto. Disisi lain, ia bingung kenapa Alberto bisa mengenal Alessio. Apa mereka semacan rekan bisnis yang ia tidak tahu sebelumnya? Dan bukankan Alessio sudah mengatakan jika mall ini telah ditutup dan dijaga oleh orang orangnya, kalau begitu bagaimana Alberto bisa masuk kedalam sini.
Lyra menatapnya penuh curiga.
"Bagaimana kau bisa mengenal Alessio?". Tanyanya curiga.
"Itu tidak penting, neonata. Yang terpenting adalah dia bukanlah orang yang baik". Peringat Alberto.
__ADS_1
Lyra hendak menjawab, namun gadis itu kemudian mendengar seseorang membuka pintu kamar mandi dengan paksa. Matanya membulat begitu Ia melihat Alessio yang sangat marah masuk kedalam.
Laki laki itu tak menunggu banyak waktu untuk melayangkan pukulan pada rahang Alberto. Menyebabkan laki laki berusia tiga puluhan tahun itu terjatuh kebelakang. Tak sampai disana, Alessio meraih kerah Alberto dan memaksanya berdiri untuk memberikan bogeman pada perutnya. Sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Alberto untuk melawan.
"Alessio!". Pekik Lyra. Namun gadis itu tidak berani untuk menengahi mereka. Takut dengan Alessio yang saat ini bak tengah kesetanan.
Laki laki itu melepaskan Alberto ketika sudah puas. Darah menggenangi sudut bibirnya yang tampak robek dan membiru.
Alessio menunjuk Alberto dengan kasar, "Jangan sekali kali kau berani mendekatinya lagi".
Kali ini Alberto tidak diam. Pria itu memberikan pukulan pada Alessio tepat di tulang pipinya, Alessio mundur kebelakang sembari menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
"Aku akan membayarmu untuk ini, Romanov". Seumur umur ia mengenal Alberto. Baru kali ini ia melihat laki laki itu semarah ini.
Alessio terkekeh mengejek, "Kau mau aku membayarmu dengan apa?". Tantangnya.
Alberto tidak berkata apa apa. Namun pandangan matanya mengarah pada Lyra. Membuat Alessio kembali emosi.
"Jangan berani berani berpikir sampai kesana Moretti". Peringat Alessio. Laki laki itu menempatkan dirinya didepan Lyra, otomatis menghalangi pandangan gadis itu.
"Kenapa? Dia bukan milikmu Romanov"
"Dia milikku Moretti". Ujar Alessio sembari mengertakkan giginya.
Alberto terdiam. Laki laki itu kemudian merapikan jasnya, kemudian keluar. Namun sebelum itu ia sudah terlebih dahulu berbisik.
"Aku akan merebutnya darimu Romanov". Sebenarnya Alberto mengatakan sesuatu lagi pada Alessio namun ia tak dapat mendengarnya.
Begitu Alberto pergi. Alessio menekan invisible ear piece yang ada di telinganya. Kemudian berseru marah.
"Kalian semua! Kejar Alberto Moretti. Jika kalian kehilanganya, kepala kalian yang akan menjadi taruhannya".
Lyra hendak saja bersuara namun dibungkam oleh tatapan tajam Alessio. Kemudian laki laki itu mengenggam erat tangannya dan menyeretnya keluar dari mall hingga sampai kemobil. Disanapun Lyra tidak berani bersuara karena takut oleh Alessio.
Sesampainya di gerbang familier hunian mereka. Alessio menariknya keluar dan masuk ke rumah —sepenuhnya mengabaiksn sapaan dari para pelayan. Bahkan Nanny Elise menatapnya khawatir.
Ia dibawa oleh Alessio sampai pada kamar disana. Dimana laki laki itu melepas jam tangan yang ia pakai kemudian memunggungi Lyra yang masih tertunduk.
Lyra terlalu sibuk memandangi lantai hingga ia tidak sadar jika Alessio sudah berada di hadapannya dan merobek pita lengan gaun yang ia pakai dan melepaskan dressnya dengan kasar.
__ADS_1
Lyra terkesiap saat udara dingin menyapu kulitnya. Membuatnya meremang. Rasa dingin akibat keadaan telanjangnya kemudian tergantikan hanya terasa sepanjang beberapa milidetik hingga kemudian rasa panas dan hangat menggantikannya.
Tangan Alessio melingkari tubuhnya. Merem*s pay*dara sintalnya dan memberikan ciuman terbuka di sepanjang lehernya.
"Kau milikku. Tidak ada orang lain yang bisa mengubah itu. Kamu sudah terikat denganku. Everyone can f*ck it!". Alessio menggeram sambil langsung menyeret dan melemparkannya ke tempat tidur, membuatnya terkesiap kaget.
[ *Translate : Pers*tan semua orang*! ]
Semua terlalu tiba tiba. Emosi Alessio seakan memiliki sakelar mekanis sendiri. Ia bisa bersikap manis namun juga kasar di detik selanjutnya. Ia adalah pria paling tidak terduga didunia.
Tubuhnya mendarat di tempat tidur berukuran besar itu. Meskipun tubuhnya bertabrakan pada kasur super empuk itu, namun bagi Lyra tetap terasa sedikit sakit akibat kekuatan dorongan Alessio. Ia mencoba berdiri sembari menutupi tubuh telanj*ngnya. Buah d*danya masih terasa sensitif akibat cengkraman brutal Alessio tadi.
Lyra tahu bahwa Alessio sangat bersemangat dalam segala hal yang menyangkut dirinya —terutama aktivitas *****al mereka. Namun kali ini, seperti ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Seolah Alessio tengah membuktikan sesuatu —menghapus noda keraguan atau mungkin rasa kepemilikan.
Namun sebelum ia bisa bertanya apa yang salah, laki laki itu sudah terlebih dahulu menjepit kedua tangannya diatas kepala Lyra dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya kanannya dengan kasar meraba raba tubuh moleknya.
Pertanyaan pertanyaan yang telah disiapkannya keluar begitu saja dari kepalanya ketika pria itu turun untuk menciumnya. Menarik bagian bibir bawahnya dengan giginya agar gadis itu membuka mulutnya dan Alessio bisa menjelajahi mulutnya.
Mereka berciuman seakan telah terjadi selamanya. Lyra merasakan dirinya berputar akan ciuman Alessio. Laki laki itu tahu seberapa besar tekanan yang ia gunakan untuk membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya.
"Kau milikku. Hanya aku yang bisa melihatmu seperti ini".
Lyra mengangguk tidak bisa mengeluarkan kata katanya. Namun seketika ia terpekik ketika ia merasakan Alessio memukul p*ntatnya.
"Jawab aku!". Geramnya. Terus mengeksplorasi tubuh Lyra.
Mata hazel sayu itu kini menatap Alessio memohon. "Aku milikmu, Alessio". Jawabnya lembut.
Perkataan Lyra membuat Alessio kembali lepas kendali. Laki laki itu kembali menciumnya kasar. Masih menahan kedua tangan gadis itu untuk menunjukkan dominasinya.
......................
Jadi, earpiece itu kek gini tapi yg dibuat Alessio komunikasi sama anak buahnya tu warnanya gak terlihat alias invisible.
Part ini jg dipotong ya.. Kalau mau baca penuh adegan 'anu' bisa ke wa**pad @Balqisyl_ ( Tanpa @ B besar ) dan cari judul One Shot.
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.