
......................
"Elain... Kumohon dengarkan aku". Dominick berusaha untuk menggapai Elain, yang tangannya ditepis oleh Elain.
Gadis itu melewati Dominick begitu saja. Dominick pun menyusulnya, kemudian menggengam tangannya. Lagi lagi Elain mengibaskan tangannya, kemudian mengusapnya. Seakan tidak mau disentuh oleh Dominick.
Sebuah pemandangan yang menyakitkan bagi Dominick. Sebab gadis itu selalu bergantung padanya, selalu mengikutinya kemanapun.
Dan ini semua karenanya. Semua salah mulutnya yang berbicara tanpa terkontrol.
Sekarang laki laki itu sangat menyesalinya. Ia tahu bahwa topik traumanya adalah hal yang sensitif dan bisa bisanya ia dengan gampangnya mengatakan hal itu didepan Elain?
"El, kumohon biarkan aku menjelaskannya, Mi Amor".
[ Translate Spanyol : Sayangku ]
Oh tidak tidak...
Elain tidak boleh luluh.
Tapi Dominick memanggilnya mi Amor?
Dominick biasa memang memanggilnya Mi Amor. Namun itu jarang, hanya terjadi ketika Elain merajuk ataupun ketika laki laki itu melakukan kesalahan.
Elain pernah merasa itu spesial —bahwa ia spesial. Nyatanya itu hanyalah panggilan khas kakak ke adiknya.
"Kumohon, Elain. Aku minta maaf —aku sama sekali tidak bermaksud—".
"Aku memaafkanmu". Dominick terkejut dengan Elain yang tiba tiba saja berkata demikian. Pria itu mulai mengembangkan senyumnya, kemudian mengambil langkah ingin memeluk Elain ketika gadis itu menghentikannya dengan tangannya.
"Tapi itu bukan berarti aku akan melupakan ini begitu saja Dom, kau tidak bisa merayuku dan berharap semua akan baik baik saja. Kau tahu jika ini adalah topik yang sangat sensitif untukku. Dan apa yang kau lakukan? kau berhasil mengulik luka lama sekaligus mempermalukanku didepan Jason dan Aluna".
Dominick nampak kecewa serta terluka, matanya menunduk. Elain harus memalingkan wajahnya agar tidak merasa kasihan pada laki laki itu.
"Aku minta maaf"
Elain menghela nafasnya. Sejujurnya ini juga berat baginya, dari dulu ia sering bertengkar dengan Dominick. Namun kali ini lebih terasa, karena laki laki itu begitu mengecewakannya.
"Aku ingin sendiri"
"Baiklah, take care Elain. Kalau ada apa apa jangan lupa menghubungiku, i'm only one call away"
[ Hanya butuh satu panggilan saja dan aku akan datang ]
Elain mengangguk. Masih tidak mampu menghadap wajah Dominick secara langsung.
Setelah Dominick pergi. Barulah Elain bisa menghela nafas lega. Berada di dekat laki laki itu benar benar melelahkan, baik batin maupun raganya.
Gadis itu mengeluarkan ponselnya dari saku. Melihat sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
From : Unknown
To : Elain
Hai... Apakah ini nomornya Elain?
Elain mengerutkan keningnya. Siapa ini? tiba tiba saja mengiriminya pesan. Dulu, pernah ada seseorang yang menerornya melalui pesan terus menerus. Membuat Elain jadi was was sendiri.
^^^From : Elain^^^
^^^To : Unknown^^^
^^^Maaf.. Siapa ini?^^^
Tak Disangka, Orang itu mengirimi balasan dengan secepat kilat.
From : Unknown
__ADS_1
To : Elain
Seriously? Kau baru saja memberikan nomormu beberapa hari yang lalu dan sekarang sudah lupa?
From : Unknown
To : Elain
Ps.. Ini Jason btw :)
Astaga... Ternyata Jason. Memang benar Elain sempat memberikan nomor teleponnya pada Jason saat di cafe beberapa hari yang lalu. Gadis itu membalas pesan Jason dengan senyuman. ia memutuskan untuk mengerjai Jason sedikit
^^^From : Elain^^^
^^^To : Jason^^^
^^^Maaf? Aku tidak merasa memberikan nomorku pada siapapun. Jangan berpura pura menjadi Jason.^^^
From : Jason
To : Elain
Tidak percaya?
*Mengirimkan gambar*
Astaga astaga... Elain memekik dalam hati. Dari dulu ia memang mengakui jika Jason itu tampannya level dewa. Tapi ketika dikirimi foto bareface laki laki itu yang sedang imut imutnya memegang bantal?
Jika Elain ada di film Anime atau komik. Pasti sekarang hidungnya langsung mimisan dan ada efek hati di sekitarnya.
Okay, harus play cool...
^^^From : Elain^^^
^^^To : Jason^^^
From : Jason
To : Elain
Jahat sekali :(
^^^From : Elain^^^
^^^To : Jason^^^
^^^Hehe.. Aku bercanda^^^
From : Jason
To : Elain
Sangat tidak lucu. Apakah muka tampanku ini benar benar sepasaran itu?
^^^From : Elain^^^
^^^To : Jason^^^
^^^Dih... Pede sekali?^^^
From : Jason
To : Elain
Memang harus pede :)
Elain tidak tahu harus membalas apa setelahnya. Itu juga karena ia bukanlah pencari topik pembicaraan yang handal. Namun seketika ia teringat sesuatu yang ingin ia katakan pada Jason.
__ADS_1
^^^From : Elain^^^
^^^To : Jason^^^
^^^Jason, aku minta maaf atas perlakuan Dominick di cafe kemarin^^^
From : Jason
To : Elain
Bolehkah aku meneleponmu?
Elain kaget. Dan baru saja gadis itu berpikir, ponselnya sudah terlebih dahulu berdering dengan notifikasi panggilan dari Jason.
Elain pun mengangkatnya.
"El, sebelum kau berbicara. Aku hanya ingin mengatakan lebih langsung padamu. Ini bukanlah salahmu. Ketika aku memikirkannya, aku mengambil keputusan bahwa apa yang dikatakan oleh Dominick memanglah benar. Aku tidak berbuat apa apa ketika mereka membullymu. Itu menjadikanku tidak lebih dari seorang pembully"
"Jason, dengarkan aku. Kau jangan pernah merasa bersalah hanya karena perkataan Dominick. Pembully an itu sama sekali tidak ada kaitannya denganmu, Jason. Lagipula apa yang bisa kau lakukan? kau sudah melakukan sebisamu bukan? berbicara denganku saja sudah membuat reputasimu ternoda"
"Aku sama sekali tidak menyesal pernah mengenalmu. Bagiku apa yang mereka semua katakan sama sekali tidak benar. Tapi aku tidak bisa menyingkirkan perasaan bahwa itu semua salahku, jika saja aku tidak menabrakmu dikantin saat itu sekuanya tak akan terjadi".
Elain baru saja akan menjawab sebelum kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Sebentar, Jason. Ada seseorang yang mengetuk pintuku. Aku mau membukakanya dulu"
"Okay"
Elain membukakan pintu tanpa mematikan teleponnya. Terlihat ada seorang pelayan tengah berdiri sembari membawa bungkusan ditangannya.
"Nona. Seseorang mengirimkan anda ini". Ujarnya sembari menyodorkan bingkisan itu.
Elain mengintip kedalamnya, dan melihat satu kotak Pizza dan juga susu coklat panas.
"Siapa yang mengirimkannya?"
"Saya tidak tahu, nona. Kurir tidak memberitahu siapa yang mengirimkan". Elain mengangguk, pelayan itupun pergi dan Elain menutup pintunya. Kemudian melanjutkan percakapannya lagi dengan Jason.
"Ini aneh..."
"Aneh kenapa?"
"Ada seseorang yang mengirimiku makanan. Aku jadi ragu apa harus memakannya atau tidak"
"Makan saja, siapa tahu kau lapar"
"Bagaimana kau ta—... Tunggu, Jangan bilang jika kau yang mengirimkan ini padaku?"
"Jika iya kenapa?"
"Astaga, Jason! kau tidak perlu melakukan itu. Tapi terimakasih"
"Sama sama. Aku tahu hal yang dapat membuat moodmu naik adalah pizza dan coklat panas. Jangan lupa dimakan sambil menonton netflix"
"Bagaimana, kau tahu jika aku sedang badmood?"
"Hanya tebakan saja. Jangan lupa dimakan, ya? Ada sesuatu yang harus kuurus. Aku akan mengabarimu lagi nanti"
"Terimakasih, Jason"
"Sama sama".
Elain pun menutup teleponnya. Jason berhasil membuat moodnya yang turun karena Dominick jadi naik. Ia benar benar bersyukur.
Elain tak mengambil banyak waktu untuk segera memakan pizza dan menyalakan netflix.
Terimakasih untuk Jason yang membuatnya sementara lupa akan Dominick.
......................
__ADS_1
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.