
......................
Lyra memasuki mansion dengan terkagum kagum. Semua perabotannya benar benar memanjakan mata dengan sentuhan elegan klasik dan warna netral. Puluhan pelayan menyapannya, namun ia sama sekali tidak melihat mereka. Perhatiannya tertuju pada seseorang yang menunggunya diatas ujung tangga.
"Turunkan aku!". Lyra menepuk pundak Alessio.
Alessio dengan patuh pun menurunkannya dari gendongannya.
Lyra pun berlarian menaiki tangga. Tangan Alessio terulur, berusaha mengejarnya, "Hati hati! ". Peringatnya.
Lyra berbalik dan mengangguk pada Alessio.
Gadis itu terus menaiki tangga dengan tergesa gesa. Hingga kemudian, ia sampai di puncak tangga. Tanpa ba bi bu, ia melemparkan diri pada pelukan Nanny Elise.
Saking kerasnya, wanita itu sampai mengambil beberapa langkah ke belakang, dan dua maid dibelakangnya juga membantu menjaga keseimbangannya.
"Nanny!". Serunya. Sungguh, melihat wajah familer disini membuat Lyra benar benar bahagia.
Nanny Elise terkekeh, mengelus punggung nona mudanya. Dibelakangnya, Lyra bisa melihat dua lagi wajah familier. Iris dan Irina. Dua pelayan pribadinya dari mansion Estrella.
"Kalian juga disini?". Tanya Lyra heran, namun ia juga sangat senang.
Irina tersenyum, "Tentu, nona. Tuan muda sendiri yang meminta kami ikut"
Dengan itu, Lyra berbalik. Menemukan Alessio sudah berada tepat dibelakangnya, dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku.
"Kau... yang membawa mereka kemari?". Tanya Lyra.
Alessio mengedikkan bahu, "Ya, aku tentu tidak akan membiarkanmu disini sendiri, baby"
Kali ini, Lyra memekik senang kemudian menghamburkan diri pada Alessio. Memeluk laki laki itu erat, pipinya tertempel pada d*danya. "Terimakasih". Lirihnya.
Alessio tersenyum kecil, mengusap punggungnya dan mendaratkan kecupan manis di pucuk kepalanya.
"Apapun yang membuatmu senang, princess".
Lyra tidak bisa menyembunyikan rona merah yang merekah di pipinya. Serta jantungnya yang berdetak kencang tak karuan. Perlakuan Alessio mulai membuatnya terenyuh.
Alessio kemudian menarik diri, mengecek jam tangan Daniel Wellington di tangannya. Kemudian berkata pada Lyra, "Kau lihat lihat dulu, beritahu pelayan jika ada yang tidak kau suka".
Kerutan terlihat menghiasi keningnya, "Kau mau pergi? Tapi kita baru sampai". Ujarnya mengerucutkan bibir bak anak kecil yang tidak diberi permen.
Alessio mengelus pucuk kepalanya lembut, "Tidak perlu khawatir, baby. Aku hanya pergi sebentar, okay?". Lyra mengangguk meskipun terpaksa.
Alessio memberikannya kecupan dipipi kemudian pergi. Lyra menarik nafasnya, kemudian berusaha tersenyum saat Nanny Elise mengelus rambutnya.
__ADS_1
"Dia terlihat begitu memperhatikanmu".
Lyra mengigit bibirnya, "Entahlah, Tapi Alessio itu menyebalkan". Jawabnya menghentakkan kaki. Diikuti oleh Nanny Elise, Iris dan Irina.
Lyra melihat sekelilingnya. Mansion ini sangat besar, melebihi besarnya Mansion Estrella. Bahkan grand staircase nya sangat megah seperti di hotel bintang lima. Kemudian sebuah bioskop pribadi, gym pribadi, tempat bersantai yang sudah dilengkapi dengan meja bilyard, perpustakaan yang super megah, bar pribadi dan juga ruang tengah yang sudah dilengkapi dengan perapian.
Saat tengah mengagumi keindahan tempat tinggal barunya, seorang maid menghampirinya sembari membungkukkan badan.
"Maaf nona, saya akan mengantar anda pada kamar anda dan tuan muda". Ujarnya sopan.
Tuan muda?
Kamarnya dan Alessio?
"A—apa? kamarku dan Alessio". Tanyanya bingung. Lyra kira ia akan mendapat kamar yang berbeda dengan Alessio.
"Iya, nona. Mari iku saya". Lyra pun mengikuti si pelayan itu menuju lantai dua. Dengan banyak pintu dan ruangan, kemudian mereka sampai pada satu ruangan dengan pintu mahogani.
Si pelayan itu membukanya, dan Lyra terperanjat ketika melihat sebesar apa kamar itu. D*mn! Luasnya benar benar mengalahkan kamar asli Lyra —mungkin dua kali lipat besarnya. Ornamen ukiran disana sini, dengan chandelier megah yang tergantung ditengah tengah ruangan. Di tengah tengahnya, terdapat kasur kingsize berwarna hijau royal dengan sprei putih.
Lyra melangkahkan kakinya lebih jauh. Melihat kamar mandi pribadi yang dilengkapi dengan bathub dan juga televisi, kemudian walk in closet yang ternyata sudah diisi dengan pakaiannya dan Alessio— walaupun miliknya lebih mendominasi.
Lyra menyentuh kain pakaian itu. Rata rata dari mereka adalah desain khusus yang tidak pernah keluar, lalu ada pula merk ternama seperti Chanel, Louis Vuitton, Gucci, Prada, Bvlgari, Versace dan juga baju desainer khusus untuk ukurannya lainnya. Sementara milik Alessio lebih didominasi oleh jas.
Lyra memandang pada kasur, mengelus kain yang sehalus sutra itu sebelum kemudian merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
Laki laki itu mendaratkan ciuman di lehernya, dan menghirup aroma khas Lyra dalam dalam.
"Kau suka?". Tanyanya dengan suara serak.
Lyra mengigit bibirnya, menahan senyum. "Suka sekali. Tapi kenapa kamar kita menjadi satu?"
Alessio membalikkan tubuh Lyra, meletakkan tangannya pada pinggul gadis itu. Menaikkan satu alisnya, "Kau tidak berpikir aku akan membiarkanmu tidur sendirian bukan?".
Lyra tidak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Hingga kemudian ia merasakan Alessio memberikan kecupan kecupan dilehernya.
"Alessio...". Er*ngnya sambil berusaha memberontak.
Namun Alessio tidak memberikan kesempatan itu pada Lyra, laki laki itu mencekal kedua tangan gadis itu dibelakang punggungnya. "Kau harus membayarku"
Lyra memutar bola matanya, "Kau mau berapa? kau lupa jika kartu kreditku tanpa limit". Ujarnya sarkas.
Alessio terkekeh di ceruk lehernya, "Tidak dengan itu"
"Lalu dengan apa?"
"ini". Laki laki itu kemudian menyambar bibir Lyra, mencumbunya hingga gadis itu hilang kepayang.
__ADS_1
Alessio melepaskan cekalan tangannya pada Lyra, membuat tangan gadis itu kini berpegangan pada pundaknya. Alessio menciumnya seperti pria yang tengah kelaparan.
Kemudian, laki laki itu secara perlahan memajukan tubuhnya, membuat Lyra harus mundur dan pada akhirnya mendarat pada kasur mereka. Alessio memegang sisi wajah Lyra.
"Strip for me, Princess". Titahnya.
[ *Translate : Tel*njangi dirimu untukku, princess* ]
Mata abu abu Alessio berkobar dengan n*fsu ketika melihat Lyra dengan perlahan dan gugup menanggalkan pakaiannya. Lyra —dia begitu polos, begitu naif, tidak ternoda dan tidak menyadari kecantikkan yang dimilikinya bisa membuat semua laki laki bertekuk lutut dibawahnya.
Dan dia adalah miliknya.
Lyra Estrella adalah miliknya.
"Sangat cantik" Bisiknya sembari menunduk dan melepaskan jepit rambut kristal di rambutnya, membuat helaian itu terulur dengan lembut jatuh ditangan Alessio.
Saat rambutnya yang indah menjulur melewati bahunya, nafas Alessio tercekat.
Alessio nampak terpesona. Bagaikan seorang pelaut pemberani yang telah melewati perjalanan panjang dan melihat seorang putri duyung yang paling cantik yang pernah ia lihat.
"Berbaringlah untukku, princess". Netra abu abunya tak terlepas dari setiap lekukan tubuh Lyra. Pay*d*ra bulatnya yang mengkilap oleh keringat.
"F*c*! kau terlalu cantik". Des*hnya. Tangannya menelusuri lengan dan kaki Lyra. Ke pinggulnya sampai pada lekukan pinggangnya yang ramping. Sampai kemudian menangkup pay*d*ranya.
Lyra menutup matanya rapat menerima sentuhan Alessio. Ia membiarkan laki laki itu memuja tubuhnya dengan setiap kecupan, gigitan dan jilatan yang membuatnya ketagihan.
Alessio mengutuk dirinya sekarang, membuka seluruh pakaianya dan menyatukan tubuh mereka. Mengubur dalam dalam di diri Lyra.
Tempat tidur kingsize itu bergoyang goyang dengan setiap sentakkan kuat Alessio. Buku buku jari Lyra memutih saat meremas sprei dibawahnya. Ia dapat mendengar suara derit ranjang yang bercampur dengan er*ngan keras dan des*han mereka.
Lyra tidak tahu bagaimana itu terjadi, namun kemudian ia sudah melengkungkan tubuhnya —bergantung pada perasaan yang tidak dapat dideskripsikan sebelum kemudian mencapai nirvana. Hanya beberapa detik kemudian, Alessio mengikutinya, mencapai pelepasan sangat kuat hingga laki laki itu membisikkan namanya.
Alessio memeluknya terlalu erat, terlalu posesif sehingga membuat Lyra terpaksa menempel pada d*danya. Seperti Hawa saat ia pertama kali tercipta dari Adam di awal perciptaan dunia.
Ketika Lyra mendongak, Alessio sudah tertidur pulas. Dengan senyum kecil menghiasi wajahnya.
......................
Hai hai! Maaf banget guys, harusnya kemarin itu aku udah update. Tapi karena aku sakit jadi nggak sanggup buat ngedit😔 Sekarang aja masih sakit, tapi aku bisa bisain buat update satu chapter. Mungkin insyaallah besok bisa dua. Kalian jangan lupa jaga kesehatan ya dimasa pancaroba seperti ini ♡´・ᴗ・`♡
Anyways... Apa menurut kalian adegan sensornya kebanyakan di sini? baru 14 chapter bang Alessio udah makan berkali kali aja. Apa perlu aku kurangi?
Jangan lupa like, vote dan comment ya! Biar aku semangat updatenya! kalau ada yang ditanyain bisa komen aja😉
Xoxo.
__ADS_1