
Keesokan paginya, Lyra terbangun dengan absennya Alessio disebelahnya. Nyawanya belum sepenuhnya terkumpul dan matanya masih sayu sayu terbuka namun kesadarannya sudah kembali. Ia meraba raba sisi ranjang yang kosong, menghela nafas kecewa.
Sudah ditinggalkan?
Kenapa rasanya sangat sesak. Ketika Alessio tidak ada ketika ia bangun, apalagi saat mereka selesai melakukan 'itu'. Membuat Lyra merasa Alessio hanya menggunakan tubuhnya sebagai pelampiasan n*fsunya.
"доброе утро, My princess"
[ Translate : Selamat Pagi ]
Lyra sontak membuka matanya saat suara bariton yang memberikan efek gelenyar aneh dan desiran pada tubuhnya. Ia melihat Alessio yang baru keluar dari kamar mandi. Dengan handuk meliliti pinggang hingga lututnya. Buliran air menetes dari tubuh adonisnya, dan juga dari helaian rambut di dahinya. Membuatnya nampak mengkilap dibawah sinar matahari pagi. Lyra tidak dapat berhenti mengagumi pahatan Tuhan yang bagaikan dewa Yunani itu. Benar benar menakjubkan.
"Kukira kau masih tidur tadi". Alessio mengusap pelan rambut Lyra, sebelum kemudian mendaratkan ciuman pada pipinya singkat.
"Kukira kau pergi tadi". Cicit Lyra.
"No, aku sebenarnya ingin mengajakmu mandi bersama tadi. Tapi semenjak kau tertidur bagai putri tidur aku tidak tega membangunkanmu"
Lyra mengangguk.
"Kau mandi dulu ya, sayang. Kita akan sarapan dibawah bersama nanti". Lyra kembali mengangguk. Kemudian bersamaan dengan Alessio yang menghilang dibalik walk in closet, gadis itu meraih kimono yang entah kapan sudah berada di samping ranjang.
Gadis itu melakukan rutinitas paginya. Kemudian setelah selesai ia pun memakai dress putih dengan tali strap spaghetti. Dan memutuskan untuk menggerai rambutnya.
Melihat bahwa Alessio sudah turun kebawah terlebih dahulu, Lyra pun memutuskan untuk menyusulnya menuju meja makan megah yang elegan. Lyra bisa melihat Alessio di ujung meja makan, disebelah kanannya terdapat dua orang pria yang tak ia kenali, kemudian disebelah kirinya tersedia satu kursi kosong yang disebelahnya juga pria yang tidak ia tahu.
Seperti merasakan kehadiran gadis itu, Alessio menolah. Kemudian senyum tipis tersungging di bibirnya, membuat jantung Lyra kembali memompa dua kali lebih cepat.
"Kemarilah. Duduk disampingku". Bersamaan dengan perkataanya, ketiga pria itu ikut menolehkan kepalanya pada Lyra. Membuat Lyra menundukkan kepalanya malu.
Gadis itu mengambil langkah, kemudian mendudukkan diri pada kursi disebelah Alessio yang ditunjuk oleh pria itu.
"Lyra. Pria disebelahmu adalah Viktor Romanov". Lyra menoleh pada pria berambut sandy blonde yang tengah tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Lyra mengulurkan tangannya, "Lyra Estrella" Ujarnya memperkenalkan diri. Tanpa diduga, bukanya menjabat tangan Lyra, pria itu justru mengambil tangan Lyra dan memberikan kecupan di punggung tangannya.
"Oh, percayalah.... Aku tahu, Love". Ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata.
Lyra dapat mendengar geraman dari sebelahnya, kemudian menoleh dan mendapati Alessio tengah menatap tajam pada Viktor.
"Viktor..." Peringatnya. Viktor pun melepaskan tangan Lyra dengan tatapan geli.
"Lalu, diseberangmu adalah Theodore dan Aleksei". Lanjutnya.
Lyra menatap pada kedua pria didepannya. Satu dengan rambut coklat gelap yang sedari tadi menatapnya tanpa jeda, kemudian satu lagi dengan wajah dingin tanpa ekspresi yang membuat Lyra bergidik ngeri.
"Halo". Ujarnya malu malu.
Laki laki bernama Viktor kemudian tersenyum lembut padannya, tatapanya lembut. Lyra merasa aman dengannya, "Halo, babygirl"
"Hai". Hanya itu yang keluar dari bibir Aleksei. Namun terlepas dari wajahnya yang menyeramkan —Lyra sama sekali tidak mempermasalahkannya. Gadis itu tersenyum lembut pada Aleksei.
"Mereka bertiga akan tinggal bersama kita disini. Karena aku akan tinggal disini, we are family".
Sebuah kata yang aneh. Karena selama ini keluarganya adalah Mommy, daddy dan Leo —mungkin Kenzie dan Ashley. Namun sekarang, ketika Alessio memproklamirkan dirinya sebagai keluarga. Lyra sama sekali merasa tidak masalah.
Sepanjang sarapan. Lyra dapat melihat kenapa Alessio bisa menganggap Theo, Viktor dan Aleksei sebagai keluarga. Mereka bertiga saling melengkapi. Viktor si pembuat canda dan pencair suasana yang suka menggoda Alessio dan Aleksei yang sesekali didukung oleh Theo. Aleksei yang terlepas dari sikap dinginnya —Lyra dapat melihat kepedulian yang dalam pada mereka. Theo yang sesekali menengahi dan Alessio yang menjadi pemimpin diantara mereka. Melihatnya membuat senyum hangat terlukis diwajah cantiknya.
"Jadi, babygirl. Beritahu kami, apa Alessio memperlakukanmu dengan baik?". Tanya Theo.
Viktor memutar bola matanya, "Tentu saja. Kau tidak tahu betapa gilanya laki laki ini". Alessio kembali melayangkan tatapan tajam pada Viktor.
"Tentu saja. Kalau tidak aku akan mematahkan burungnya!". Jawab Lyra angkuh. Viktor dan Theo tertawa terbahak bahak, bahkan Aleksei saja tersenyum tipis.
"Gadis nakal. Aku akan menghukum mu nanti, Princess". Bisik Alessio membuat bulu kuduknya meremang.
......................
Saat ini, Lyra tengah bersantai di ruang bioskop sembari menonton film. Baru satu hari namun ia sudah sangat bosan, tidak ada kulaih seperti biasanya. Dan ditambah di mansion se luas ini ia jadi bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Kemudian, ketika ia sangat suntuk. Ia pun memutuskan untuk pergi berkeliling rumah megah ini. Sampailah ia di satu ruangan polos dengan kanvas dimana mana. Berdinding kaca yang bisa terbuka menghadap langsung pada taman belakang yang indah.
"Wow". Ujarnya takjub. Lulus dalam jurusan seni, tak ayal membuat Lyra suka dengan berbagai macam seni. Termasuk seni lukis dan seni musik, walaupun jurusannya adalah seni designer.
"Kau suka?". Tanya seseorang dibelakangnya. Lyra tersenyum simpul.
"Sudah berapa kali kau bertanya seperti itu padaku? Rasanya aku tidak perlu kaget ketika kau membuatku kehilangan kata kata. Dan jawaban untuk pertanyaanmu itu, aku sangat suka sekali. Darimana kau tahu aku senang melukis?". Tanyanya.
Alessio membelai sisi wajahnya, "Aku tahu apapun tentang dirimu, sayang. Ayo sekarang ikut aku. Aku akan menujukkan sesuatu padamu". Ujarnya sembari mengulurkan tangan, yang langsung disambut Oleh Lyra.
Alessio menunutunya melalui satu ruangan yang dekat dengan kamar mereka dan berpintu putih. Ketika dibuka, Lyra tak dapat mencegah pekikkan senang yang keluar dari bibirnya. Ruangan itu sangat luas. Dengan sebuah perapian, sofa dan juga berdindingkan kaca dengan gorden warna rosegold. Namun bukan itu yang membuat Lyra takjub, melainkan sebuah grand piano berwana putih di tengah ruangan
Lyra berjalan mendekati piano itu, jari jemari lentiknya menelusuri tuts piano.
Alessio yang ada disampingnya mengelus rambutnya, "Play for me, Princess"
[ Translate : Bermain untukku ]
Lyra mengangguk antusias. Gadis itu pun duduk di dudukkan piano, kemudian mulai menekan tuts piano dengan jari lentiknya. Memainkan karya terkenal Beethoven yaitu fur elise, setiap dentingan nada yang keluar dapat membuat bulu kuduk Alessio berdiri. Melodi yang dikeluarkan begitu cantik dan mampu menangkap perhatiannya.
Terlebih pemandangan Lyra yang tengah memainkan piano, dengan dikelilingi cahaya mentari pagi dan pemandangan kebun mereka. Wajahnya sangat tenang, terlihat seperti seorang peri. Alessio dibuat kehilangan suaranya.
Saat selesai bermain, Lyra mendongak ke arah Alessio. Melihat laki laki itu menatap takjub padanya. Kemudian pria itu mendekat dan mendaratkan ciuman lembut pada bibirnya.
"Kau bermain dengan sangat indah, princess. Like a fairy. My little fairy"
[ Translate : Seperti peri. Peri kecilku ]
Lyra dengan senang hati membenamkan dirinya pada Alessio. Merasakan hatinya menghangat seiring dengan perlakuan manis yang selalu diberikan laki laki itu.
......................
By the way guys, untuk multimedia diatas kalian bayangin aja kalau warna pianonya itu putih ya...
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.