
......................
"Jadi. Apa kau mau mengakui bahwa kau tengah cemburu, hmm?".
Lyra membelalakkan matanya. Kemudian bergerak untuk Menjauhi Alessio. Sayangnya, laki laki itu tak memberikannya kesempatan untuk menjauh karena di detik selanjutnya, pria itu memeluk pinggang nya dari belakang.
Sontak, darahnya berdesir begitu merasakan hembusan nafas Alessio di tengkuk lehernya.
Sayangnya, belum sempat mereka melanjutkan percakapan itu. Theo sudah terlebih dahulu datang.
"Tuan Alessio. Tuan Romanov memanggil anda di ruang kerja anda"
Lyra dapat merasakan postur tubuh Alessio yang awalnya rileks menjadi tegang. Ditambah Theo yang berbicara formal, membuat Lyra semakin yakin ada yang tidak beres disini.
Ia tidak mengenal Nikolai Romanov secara personal. Namun dari yang ia tahu dari pelayan disini, pria itu sangat tegas dan tidak memandang bulu entah itu pada anak buahnya atau pada putranya sendiri.
Sementara informasi tentang Aleshia Romanov. Ibu dari Alessio itu sudah meninggal semenjak Alessio berusia sembilan tahun.
"Kenapa kau membiarkannya pergi ke ruang kerjaku?"
"Lalu dimana ia harus menemuimu?"
Pertanyaan Theo bagaikan skakmat bagi Alessio. Membuat laki laki itu langsung terdiam. Kemudian wajahnya berubah lembut saat menatap pada Lyra.
"Kau tunggu aku, aku berjanji ini tidak akan lama sayang". Ujarnya memberi kecupan pada dahi Lyra sebelum kemudian keluar bersama dengan Theo dibelakangnya.
Tentu saja Lyra tidak akan diam menunggu. Gadis itu memilih untuk pergi ke ruangan favoritnya, ruang musik.
Disana, ia mulai bermain piano. Bermain piano selalu bisa membuatnya melupakan hal hal yang membebani pikirannya dari awal —membuatnya terasa bebas. Rasanya sangat tenang.
Hingga kemudian, ketenangan itu hancur ketika ia mendengar tepukkan tangan seseorang.
Lyra membalikkan badan, ia sama sekali tidak percaya bahwa orang yang ada di depannya adalah orang terakhir di muka bumi yang ingin ia temui.
Asteria.
__ADS_1
"Wow! Selain mengambil suami orang, kau ternyata juga punya bakat lain ya?". Ujarnya sarkas. Senyum miring menghiasi wajahnya.
Lyra menatap Asteria dari atas sampai bawah. Penampilannya cukup modis dan classy, wajahnya juga lumayan cantik. Namun perempuan kampungan ini sama sekali tidak mencapai levelnya.
Karena itu ia menjawab dengan tenang, "Kenapa? Mungkin saja aku mempunyai bakat menarik perhatian lawan jenis dan mempertahankanya. Tidak seperti seseorang yang kutahu —yang bahkan tidak bisa menjaga perhatian suaminya". Ujarnya menyindir.
Luntur sudah semua wajah kepura puraan dari Asteria. Wanita itu kini menunjukkan taringnya, menatap tajam seakan menghunus dengan mata pedang pada Lyra. Asteria mengambil langkah mendekat.
"Jaga bicaramu! kau ini hanyalah selingkuhan! jangan jadi tidak tahu diri". Ujarnya sengit.
Memang benar, apa yang harus Asteria takutkan? disini derajatnya lebih tinggi daripada wanita murahan ini. Asteria adalah istri sah, dan wanita ini —Lyra tak lebih dari selingkuhan yang sebentar lagi Alessio akan bosan. Batin Asteria.
Lyra melipat tangannya dibawah d*da dan membusungkan d*danya. Lalu berkata angkuh.
"Lalu? ini rumahku —yang diberikan oleh Alessio. Kenapa aku harus menjaga cara bicaraku? bukankah kau yang harus menjaga cara bicaramu. Kau ini hanya tamu disini". Ucap Lyra menekankan kata 'rumahku'
"Diam!". Asteria mengangkat tangannya, hendak menampar Lyra hingga kemudian ia berfikir dua kali atas konsekuensi apa yang akan ia peroleh jika menampar selingkuhan Alessio.
"Tunggu apa lagi? Kau takut?". Tantang Lyra. Mungkin dia tidak memiliki cincin dan juga nama belakang Romanova —namun ketika teringat jika Alessio lebih memilihnya daripada wanita kampungan ini membuat Lyra merasa kuat.
Sebenarnya ia hendak menengahi sedari tadi. Namun ketika mata coklat Lyra memberinya kode dibalik punggung Asteria untuk jangan ikut campur, ia memilih untuk melihat perdebatan mereka. Sampai akhirnya Asteria bersiap akan menampar Lyra —namun lagi lagi gadis itu mencegahnya lewat tatapan matanya.
"Tutup mulutmu! Dasar p*lac*r tidak tahu diri! Aku akan membuatmu menyesal telah mencari gara gara denganku. Sebaiknya wanita perebut suami orang sepertimu lebih pantas dibakar di neraka". Geram Asteria sembari menangkupkan wajah Lyra dengan kasar diantara ibu jari dan telunjuknya.
Namun Asteria belum selesai, perempuan itu melanjutkan perkataanya.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu merebut Alessio dariku? Kau tidak tahu apa yang kulalui untuk mendapatkan semua ini". Ia tertawa pahit. "Tentu saja tidak. Yang harus kau lakukan hanyalah terlihat cantik sementara aku —"
"Asteria... Ku—kumohon lepaskan aku. A—aku minta maaf, apapun itu a—aku sama sekali tidak bermaksud. Kumohon, lepaskan aku. Ka—kau menyakitiku". Lyra tiba tiba memohon.
Reaksi tak terduga Lyra sangat mengejutkan baik Asteria maupun Theo —yang ada dibelakang Asteria. Sungguh menakjubkan ketika ia berubah dari gadis tidak tahu diri menjadi gadis yang terluka seolah ia adalah korban —padahal disini Asteria lah korbannya.
Untuk sesaat disana, Theo terpaku melihatnya. Hanya saja Lyra terlihat sangat polos dengan bola mata bulatnya yang memandang memohon dan kepolosan yang bak anak kecil, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terpikat.
Betapa ia membuat orang lain sebagai penjahat paling jahat didunia ketika sebenarnya Lyra-lah yang bersalah. Bahkan Asteria tertegun dan Theo hampir jatuh ke mata bulat berwarna madu dan bibir bergetar itu.
Si*lan! Ia bahkan hampir menyeret Asteria untuk meminta maaf pada Lyra.
__ADS_1
Sampai ia tahu apa alasannya...
"Apa yang terjadi disini?"
"Alessio!". Lyra menangis, lalu berlari melewati Asteria dan menuju pada pelukkan Alessio. terlihat seperti gadis paling polos di dunia, seolah Alessio baru saja menyelamatkannya dari serigala jahat yang besar. Seolah-olah Theo tidak melihatnya memprovokasi Asteria.
Pintar. Gadis pintar.
Alessio dengan penuh kasih sayang mencium pelipisnya sambil mengelus punggungnya saat Lyra memeluknya dengan mata penuh air mata, bak rusa betina, menatapnya seperti gadis kecil yang terluka dan meminta perlindungan.
Adegan itu hampir teatrikal. Baik Asteria maupun Theo hanya bisa melongo tak percaya padanya. Lyra gemetar ketakutan, terlihat sangat polos bak malaikat dengan gaun putihnya yang mengembang di pinggang yang berhenti di bawah lutut nya, memperlihatkan kaki yang indah saat dia berjinjit untuk mengistirahatkan seluruh berat badannya ke Alessio. Rambutnya yang berwarna coklat keemasaan terselip di d*da Alessio saat Alessio memeluknya dengan protektif.
Benar benar omong kosong, tapi si*lan, bagi Theo dia terlihat cantik.
Lyra benar-benar tampak seperti malaikat, bahkan air matanya terlihat seperti buliran air suci dari surga. Siapa yang tidak percaya padanya? Dia bahkan hampir melakukannya.
Jika tadi ia tidak melihat argumen keseluruhan antara Asteria dan Lyra, sudah pasti ia akan percaya begitu saja.
"Theo, kenapa kau diam saja saat aku menyuruhmu untuk menjaganya". Suara Alessio terdengar marah, tak ayal membuat Theo meneguk ludahnya susah payah.
"Alessio— dengarkan aku! Jangan percaya pada wanita bermuka dua ini! Dia hanya berpura pura Alessio, kumohon". Asteria hendak mendekat. Namun Alessio mengangkat tangannya.
"Cukup! Pergilah Asteria!"
"T—tapi Alessio aku—".
"Kubilang pergi!". Titah Alessio tajam, Asteria menatapnya takut. Dan kemudian menatapnya memohon —agar Alessio mempercayainya. Namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan dingin laki laki itu.
Hal terakhir yang Asteria lihat adalah senyum miring di wajah Lyta yang tengah terbenam di d*da Alessio.
......................
Well, gimana? Udah tahu gimana Licik dan manipulatif nya Lyra? Btw aku disini sama sekali tidak membenarkan perilaku Lyra karena emang dia bener bener salah, jadi kalian jangan ditiru ya...
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.
__ADS_1