Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 61 | Stop comparing me to you!


__ADS_3


......................


"Ah... terima ka—". Ucapannya terhenti begitu matanya menelisik wajah orang yang menolongnya sekaligus orang yang menabraknya.


Seketika matanya membulat.


Orang didepannya ini adalah ayahnya Alessio — Nikolai Romanov!


Memiliki mata yang sama dengan Alessio. Juga garis rahangnya, yang membedakan hanyalah beberapa keriput yang sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan dan kewibawaan laki laki dihadapannya ini.


Dibelakangnya, Lyra dapat melihat seorang pria yang berumur sama dengan ayahnya Alessio. Laki laki itu mirip dengan Theo, maka Lyra akan mengasumsikan bahwa itu adalah ayahnya Theo.


Kemudian Lyra merasakan sebuah tangan yang melingkari bahunya, ia tersentak terkejut. Namun kemudian tenang ketika ia menyadari bahwa itu adalah Alessio. Laki laki itu memberikannya pelukan yang menenangkan.


Mata Nikolai mengikuti gerakan tangan Alessio yang ada di bahu Lyra. Tatapannya sangat tajam hingga rasanya Lyra ingin melarikan diri saja dari sana. Kemudian tatapannya beralih pada Lyra, dan gadis itu hampir tersentak mundur oleh tatapan yang diberikan oleh Nikolai. Bergerak lebih jauh ke tubuh Alessio dibelakangnya, Lyra mencari kenyamanan dalam sentuhannya.


"Theseus". Alessio mengangguk kenarah pria dibelakang Nikolai yang tadinya Lyra asumsikan sebagai ayahnya Theo.


Kemudian melakukan hal yang sama pada ayahnya, "Father". Suaranya dingin dan hampa emosi, cara yang aneh untuk memanggil ayahnya.


"Kita akan sarapan dan mendiskusikan hal ini". Lanjut Alessio.


Nikolai dan Theseus pun berlalu. Namun sebelum itu, Nikolai kembali memberikannya padangan menyeramkan pada Lyra. Ekspresinya membuat bulu kuduk Lyra merinding sendiri.


Begitu mereka menghilang dari pandangannya, Bahu Lyra pun turun dengan lega. Rasa lemas itu masih ada — walaupun tidak separah tadinya. Gadis itu menarik nafasnya dalam dalam. Mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu liar.


"Kau tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan menyakitimu, dan akan kupastikan begitu". Bisik Alessio di telingannya.


"Tapi mereka terlihat sangat menakutkan". Bisik gadis itu. Dadanya berdesir oleh tawa rendah Alessio di belakangnya. Laki laki itu menempatkan satu ciuman di pelipisnya, Lyra pun berbalik dan menghadap pada lelaki di belakangnya.


"Lebih menakutkan diriku?". Goda Alessio.


Lyra menggeleng, "Tidak. Kau lebih menakutkan". Lyra memang mengakui bahwa semua pria yang tinggal disini sangat berbahaya dan memiliki aura gelap dan tegang di sekitar mereka, tapi Alessio memiliki aura yang paling mengerikan diantara mereka.

__ADS_1


"Lalu apakah kau juga takut? denganku?". Alessio bertanya, sembari menarik tubuh Lyra lebih dekat padanya.


Lyra lagi lagi menggeleng, kemudian meraih tangan Alessio dan mencium buku buku jarinya. "Tidak. Aku tahu kau tidak akan melukaiku"


Alessio tersenyum puas, kemudian menyampirkan sehelai rambut yang terjatuh di wajah Lyra. "Good. Sekarang kau bisa sarapan dulu, ada sesuatu yang harus ku urus dengan Father"


Lyra mengangguk. Kemudian beralih memberikan Alessio satu ciuman terakhir di bibir laki laki itu. "Sampai jumpa"


Alessio membiarkannya pergi dengan anggukan. Lyra pun berjalan menuju taman belakang bagian utara. Udara pagi yang segar menerpa wajahnya, dan gadis itu memejamkan mata.


......................


"Siapa dia?". Itulah hal pertama yang ditanyakan oleh Theseus ketika mereka memasuki ruangan kerja pribadi Alessio. Sementara sejak tadi Nikolai memberikannya tatapan tajam.


Alessio tahu siapa yang dibicarakan oleh tangan kanan ayahnya, namun ia memilih untuk mengabaikannya.


Alessio tengah menunggu Theodore ditaman belakang ketika Nikolai dan Theseus datang. Ia melihat Lyra yang hampir terjatuh dan berhasilnya di tangkap oleh Nikolai. Juga bagaimana gadis itu membeku ketika berhadapan dengan Nikolai.


Naluri pertamanya adalah untuk pergi menemui Lyra. Dan dia melakukannya... tanpa berpikir dua kali akan konsekuensinya. Tapi Alessio terlambat menyadari apa yang telah ia lakunan.


Melihat Alessio yang masih acuh akan pertanyaanya. Nikolai pun bertanya lagi dengan geram.


"Alessio, aku bertanya padamu"


"Dan aku memilih untuk mengabaikannya. Sekarang, bisakah kita mendiskusikan alasan kalian ada disini?"


Alessio sedikit tersentak ketika Nikolai tiba tiba membanting tinjunya ke meja.


"Apakah kau benar benar bodoh? Setelah semua yang terjadi, setelah apa yang kita bangun kau membiarkan dirimu lemah karena seorang wanita?"


"Itu bukan urusanmu!". Desis Alessio. Laki laki itu mendorong kursinya menjauh, kemudian berdiri dan menatap tajam pada Nikolai. Ia melihat Theseus dan Theodore yang berdiri di pintu, kedua tangan mereka bersilang di depan dada dengan wajah tanpa ekspresi mereka. Benar benar karbon copy satu sama lain.


Berjalan mengitari meja, Alessio mendorong Nikolai menjauh. "Jangan ikut campur masalah ini, aku serius tengang ini, Father. Jangan beri tahu aku apa yang tidak dan harus kulakukan"


"Aku mengajarimu lebih baik dari ini. Buang jauh jauh hatimu. Tidak ada kelemahan. Karena kelemahan itulah yang menjadi hal pertama yang akan dikejar oleh musuhmu". Bentaknya di depan wajah Alessio.

__ADS_1


"Aku tahu itu!". Teriak Alesaio tidak mau kalah.


Nikolai tertawa mendengar jawaban Alessio— sebuah tawa mengejek. "Kau tahu? kalau begitu jelaskan tatapan dimatamu ketika kau melihatnya!"


Agaknya, Nikolai belum selesai dengan perkataanmu. "Waktu itu kau berkata bahwa dia tidak lebih dari mainan yang akan kau buang ketika bosan. Namun apa ini? kau sepertinya terjebak dalam permainanmu sendiri"


Alessio berhenti ketika mendengar pernyataan dari Nikolai. Laki laki itu merasakan kemarahan yang mengalir di sekujur tubuhku. Ayahnya benar benar membabat habis kesabarannya, memaksanya untuk berpikir jauh tentang apa yang sudah ia kubur didalam dirinya selama ini.


"Kau tahu betul apa yang akan terjadi karena ini, tapi kau masih membiarkan dirimu menjadi lemah". Lanjut Nikolai dengan nada yang gelisah. Alessio terpaku karena perkataanya.


Dia salah. Nikolai salah. Sejarah tidak akan terulang, Alessio tidak akan membiarkannya.


"I handed this empire, kekuasaan ini, keluarga ini padamu. Karena aku berpikir kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang dulu kulakukan". Kata Nikolai. Dadanya naik turun karena marah.


"Aku bukan dirimu!". Alessio meraung. Hampir saja kehilangan kendali dan melepaskan tinjunya pada Nikolai. Namun teringat jika sekarang posisi Nikolai jauh lebih tinggi darinya.


"Itu adalah kesalahanmu. Salahmu. Bukan aku!". Desis Alessio. "Kau mencintai mother. Kau membawanya ke dunia kita yang kacau, dan kau yang membuatnya terbunuh".


Mata Nikolai menjadi liar karena marah. Dia mendekat ke arah Alessio. Jarinya meraih kerah baju Alessio dan mendorong putranya ke dinding. "Kau benar. Itu adalah salahku, dan kau membuat kesalahan yang sama, si*lan!". Nikolai melepaskan cengkramannya dari kerah Alessio, kemudian mengambil langkah menjauh.


"Setelah semuanya, aku pikir kau akan tahu lebih baik dari ini. Kau akan membuatnya terbunuh. Dan kau akan kehilangan dirimu sendiri. Pada akhirnya, kau akan membawa seluruh keluarga ini terjun bersamamu"


Itulah yang terjadi di masa lalu, Nikolai hampir menghancurkan kerajaan yang mereka bangun, dan Alessio adalah orang yang membuatnya kembali bangkit dan menyelematkannya. Tapi Alessio tidak akan membuat kesalahan yang sama dengan ayahnya.


"Berhenti membandingkanku denganmu!"


......................


**Hiks.. Mau nangis aja besok udah Senin. Capek banget pengen tidur aja hiks.. (个_个)⊙︿⊙


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.


- Balqis istrinya NaNa**

__ADS_1


__ADS_2