Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 65 | Be Selfish for Once


__ADS_3


......................


Baru saja Alessio akan beranjak, Lyra sudah terlebih dahulu menahan lengan laki laki itu.


"Tidak perlu Alessio. Aku hanya masuk angin biasa. Tidak perlu berlebihan". Ujar gadis itu memelas. Lyra tidak suka dengan dokter.


"Lyra... jangan disepelekan. Aku akan pergi"


"Tidak mau!". Tiba tiba saja Lyra sudah menangis. Membuat Alessio bingung sendiri. Laki laki itu kemudian kembali memeluk tubuh gadisnya dan menenangkannya.


"Baiklah. Baiklah. Tidak ada dokter. Tapi kau harus sarapan. Oke?". Tawar Alessio sembari mengecup pucuk kepalanya.


Lyra mengangguk.


"Good girl". Puji Alessio. Laki laki itu kemudian memanggil pelayan dari interkom. Meminta untuk sarapan agar segera dibawakan ke kamar.


Sementara itu Lyra tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Ia merasa campur aduk saat orang tuanya dan Leo berkata mereka akan berkunjung. Antara senang dan cemas, dan ia tidak tahu apa yang harus ia cemaskan.


Berbicara tentang itu, ia lupa untuk memberitahu Alessio bahwa orang tuanya tengah berada di perjalanan menuju kemari.


Gadis itu hendak membuka mulutnya, namun tidak jadi ketika suara ketukan pintu memecah keheningan.


Alessio lalu beranjak dan berjalan menuju pintu dan membukannya. Nampaklah seorang pelayan yang membawa troli berisikan sarapan.


"Ini, Tuan muda. Makanan yang anda minta". Ujar pelayan itu sambil membungkuk dan tidak berani menatap pada Alessio.


"Pergilah". Setelah mendengar titah mutlak dari Alessio. Pelayan itupun pergi.


Alessio membawa troli berisikan makanan itu mendekat. Dapat gadis itu lihat, sarapan yang cukup banyak. Yaitu Scrambled eggs dan hashbrown, kemudian krim sup dan pancake yang dilengkapi dengan sirup maple. Tak lupa segelas susu putih disana.


Alessio kemudian mengambil mangkuk sup. Menyendokkan se sendok disana. Kemudian mendekatkannya dengan bibirnya dan meniupnya. Barulah menyuapkannya pada Lyra.


Lyra memakan sup itu dengan antusias. Selama beberapa hari tak selera makan dan selalu pilih pilih, akhirnya ia dapat memakan makanan secara langsung seperti ini. Ia merasa bahwa kehadiran Alessio membuat andil besar disini.

__ADS_1


Laki laki itu dengan telaten menyuapinya. Tanpa ada rasa mengeluh sedikitpun. Walaupun beberapa kali Lyra memprotes bahwa sup itu terlalu panas dan sebagainya.


Memandangi wajah Alessio dengan lekat. Lyra tidak bisa berbuat banyak selain tambah jatuh kedalam kubangan cinta kepada Alessio. Laki laki itu selalu tahu cata cara yang akan berhasil membuatnya jatuh setiap hari.


Hal kecil seperti ini, membuat Lyra memiliki harapan bahwa jauh disana, Alessio juga memiliki perasaan yang sama untuknya. Namun hingga sekarang, Lyra tidak berani bertanya.


Ya, sebut saja ia pengecut atau apalah. Tapi memang Lyra itu belum siap, apalagi ketika nantinya berakhir dengan penolakan. Lebih baik ia diam dalam ketidaktahuannya daripada berakhir tragis dalam penolakan.


"Baby, apa yang kau pikirkan?". Suara Alessio membuyarkan lamunan Lyra.


"Uh tidak ada". Kilahnya.


Alessio menatapnya lekat. Membuat buncahan debaran di dadanya semakin menggila. Kemudian laki laki itu bergerak dan menyampirkan anak rambut yang jatuh diwajahnya.


"Aku tahu kau berbohong. Dan aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, namun jika kau membutuhkan teman bercerita. Aku akan selalu ada disini".


Lyra memberikan Alessio senyum lembut. Sungguh, momen momen seperti inilah yang membuatnya percaya diri bahwa setidaknya terdapat sepercik perasaan suka di hati Alessio untuknya.


"Terimakasih Alessio. Aku memang selalu membutuhkanmu disampingku, apa itu berarti aku lemah?".


"Tidak. Wanitaku ini bukanlah wanita lemah. Tidak sama sekali, aku suka berada di sampingmu, menjadi tamengmu sekaligus pelindungmu. Biarkan aku mengotori tanganku untukmu, tugasmu hanyalah tetap menemaniku".


Alessio menatapnya tidak mengerti. "Apa maksudmu?"


Lyra membuang nafasnya. "Sampai kapan aku disini? sampai kau bosan padaku?".


Gadis itu tidak tahu darimana. Yang pasti , setelah mengatakan itu tiba tiba saja air matanya mulai turun berderaian. Ia harus memegang erat ujung dressnya untuk mencegahnya agar tidak memeluk Alessio.


Alessio meletakkan nampan berisi makanan itu di meja. Kemudian duduk disamping Lyra dan menarik gadis itu kedalam rengkuhannya. Melingkarkan tangannya di pundak Lyra, dan satunya lagi bergerak menghapus air mata gadis itu dan mengelus rambutnya.


"Aku tidak akan pernah bosan padamu. Aku memang tidak tahu bagaimana cara mencintai, Lyra. Tapi satu hal yang aku tahu, kau itu wanitaku, duniaku. Aku akan melakukan apapun untukmu, aku bahkan akan meratakan dunia jika sampai kau pergi. Aku akan mencarimu sampai kau tidak bisa lagi bersembunyi. Jadi jawabannya, kau akan selalu disini. Bersamaku. Itulah tempatmu".


Tangisnya semakin kencang. Ia memegang erat pakaian yang dikenakan oleh Alessio. Lagi lagi kata kata laki laki itu dapat membuatnya merasakan kupu kupu yang bergejolak dihatinya.


Keraguan yang ada dihatinya sedikit demi sedikit pun hilang. Lyra memilih untuk percaya pada ucapan Alessio. Namun masih ada satu hal lagi yang menganggunya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Asteria? tidak kah kita jahat sekaligus egois jika melakukan ini?"


Alessio menangkup wajahnya dan membuat Lyra menatap penuh padanya. Laki laki itu tersenyum lembut.


"Seorang anak kecil pernah berkata padaku". Pandangan Alessio terlihat jauh —seolah laki laki itu sedang menerawang kejadian yang masih berkesan di benaknya.


"Alee, tidak apa apa untuk menjadi egois. Alee berhak untuk bahagia. Lalu jika satu keegoisan untuk kebahagiaan Alee, kenapa tidak? Setiap orang berhak untuk bahagia, begitu juga dengan Alee". Sambungnya.


Lalu laki laki itu menatapnya lurus di mata hazel Lyra. "Dan aku memilih untuk egois untuk kali ini. Sudah cukup aku melakukan apapun yang diperintah orang lain. Tapi kali ini aku akan memilih untuk egois, aku akan memilih kita"


Lyra semakin membenamkan wajahnya di dada Alessio. Ucapan laki laki itu membuatnya puas serta bahagia. Ya, sekali ini saja ia akan egois.


"Ngomong ngomong. Anak kecil mana yang berkata seperti itu? kenapa pintar sekali?"


Alessio terkekeh. "Ada. Selain pintar, dia juga sangat cantik"


Perkataan Alessio membuat Lyra mendongak dan menatap Alessio dengan bibir yang mengerucut.


"Siapa dia? apa aku mengenalnya?". Tanyanya garang.


Alessio hanya mengangkat satu alisnya. "Jangan bilang kau cemburu?". Goda nya. Kemudian mencubit gemas hidung gadis itu.


Lyra mengusap hidungnya yang dicubit oleh Alessio. "Ishh.. kata siapa. Kan aku hanya penasaran"


Alessio tergelak dengan tawa.


"Terserah princess saja"


......................


Tugas aku segunung, gais... Jadi ya huhu... ditambah wifi masih error. Terus aku juga ada deadline di apk sebelah. Jadi pusing hiks..(ToT)


Derita pelajar ya gitu huhu..


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡

__ADS_1


Xoxo.


- Balqis istrinya NaNa


__ADS_2