Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 63 | Not a trophy wife


__ADS_3


......................


Elain saat ini tengah membaca buku di perpustakaan yang ada di mansion ini. Ia sungguh bosan, padahal ini hari pertamannya. Tapi ia masih merasa bosan.


Suasana disini memang tidak familier. Satu satunya rutinitas yang masih berlaku bagi Elain adalah sekolahnya. Setiap hari mulai dari sekarang, gurunya tidak akan datang ke mansion Volkov lagi, melainkan ke mansion Ivanov. Alesannya tentu saja sudah sangat jelas, karena mansion ini adalah kediaman barunya.


Elain baru saja menyelesaikan pelajarannya. Dan gurunya pun baru saja pulang. Ia membolak balikkan buku literasi yang ada di tangannya saat Elain menyadari bahwa ponselnya berbunyi.


Ia melihatnya. Dan menemukan notifikasi panggilan masuk dari kakaknya. Elain pun mengangkatnya.


"Haloo.."


"Elain? bagaimana? Suka dengan rumahnya? apa kabarmu disana?"


Elain tertawa. Ia tidak membayangkan bahwa ia akan sangat merindukan celotehan Igor. Biasanya ia akan merasa kesal ketika Igor mulai bersikap cerewet padanya. Namun kali ini ia benar benar merindukannya.


"Aku bahkan belum genap disini sehari. Dan kau sudah bertanya tanya?"


"Ya, siapa tahu kau tidak nyaman disana bukan? aku bisa meminta Dominick untuk mencari rumah yang baru untukmu"


"Astaga.. Igor. Aku hanya bercanda ya ampun. Tidak perlu. Karena aku menyukai rumah ini"


"Benar? serius?"


"Iya. Kata Dominick juga kau kan ikut andil dalam memilih mansion ini"


"Tentu saja. Akulah yang paling tahu tentang selera adikku. Ngomong ngomong tentang Dominick, dimana dia?"


Elain mengigit bibirnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tidak bisa mengatakan pada Igor bahwa sekarang Dominick tengah berada bersama dengan Aluna, bukan? ia tidak ingin kakaknya menghajar Dominick habis habisan.


"Uhm.. Dia ada di.."


Elain berpikir sejenak. "Ah ya, ada urusan tadi!"


"Urusan? tapi kalian baru saja menikah kemarin. Urusan apa sampai dia bisa meninggalkanmu sendiri?"


"Urusan dengan Aluna". Ingin sekali Elain menjawab itu. Namun tidak ia lakukan.


"Aku tidak tahu. Mungkin saja itu adalah urusan yang tidak bisa diganggu gugat". Kilahnya.


"Tapi tetap saja. Itu sangat tidak pantas untuk dilakukan pengantin baru. Aku akan berbicara kepadanya"


"Tidak usah!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Itu bukan masalah besar, Igor. Sungguh. Aku juga sedang ingin menikmati waktu sendiri hehe"


"Baiklah. Tapi berjanjilah. Jika Dominick melakukan sesuatu yang tidak tidak. Beritahu saja padaku"


"Tentu saja"


"Aku harus menutup teleponnya sekarang. Jaga dirimu"


"Iya, kakak"


Setelah sambungan telepon terputus, Elain pun menghela nafas dan mengelus dadanya. Igor tidak bisa mengetahui tentang ini. Ia tidak bisa lagi membebani kakaknya. Ia harus bisa menangani masalahnya sendiri. Sudah cukup ia bergantung dengan kakaknya selama ini. Lagipula ini rumah tangganya bersama Dominick, Elain tidak bisa melibatkan orang lain dengan ini.


Elain kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada buku yang ia baca. Ia bisa melihat melalui ujung matanya dua orang pelayan yang berdiri tertunduk di depan pintu . Dua pelayan itu yang diperintahkan Dominick untuk selalu mengikutinya kemanapun.


Elain berusaha untuk acuh, walaupun sebenarnya risih.


Tak lama kemudian. Ponselnya kembali berbunyi. Awalnya ia berdecak, memikirkan bahwa kakaknya itu yang meneleponnya lagi. Elain berniat untuk menolak panggilan ketika nama Jason yang terpampang di layar ponselnya.


Ah, ya. Berbicara tentang Jason. Elain cukup merindukan sosok laki laki yang ia anggap sebagai temannya itu. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat ia dan Jason bertemu di cafe dan Elain memberikan undangan pernikahannya pada Jason.


Raut wajah Jason menjadi terpaku. Elain sempat khawati untuk sesaat. Namun kemudian laki laki itu tersenyum kecil dan berkata bahwa ia akan datang.


Selepas itu, tak banyak yang mereka bicarakan. Entah mengapa Elain merasa pertemuan mereka menjadi agak canggung. Hingga akhirnya, Jason menyudahi pertemuan mereka dengan mengatakan bahwa ia memiliki urusan.


Gadis itupun lalu menerima panggilan dari Jason.


"Jason.. Astaga! kemana saja kau! aku bolak balik mengirimimu pesan namun tak pernah kau balas. Kau juga tak datang ke pernikahanku, apa kau baik baik saja?". Cercar Elain tanpa menunggu kata sapaan dari Jason.


"Halo, El. Maaf ya. Aku memang benar benar sibuk akhir akhir ini hingga jarang membuka ponselku. Mengenai pernikahanmu, maaf sekali aku tidak bisa hadir. Tapi aku mengirimimu hadiah. Apa kau suka?"


Elain mendengus.


"Suka? Tentu saja Jason! siapa yang tidak suka ketika seseorang memberikannya gaun evening yang cantik itu!"


"Haha.. aku senang jika kau suka. Aku memang memesannya khusus untukmu. Ah, tapi ini bukan alasanku untuk meneleponmu"


"Lalu?"


"Kau sedang apa sekarang? apa sedang mengerjakan sesuatu yang penting?"


"Tidak. Kenapa?"


"Mau ikut aku keluar?"

__ADS_1


"Kau tidak bertanya, apa suamiku nantinya akan marah atau tidak?"


"Tidak. Meskipun dia suamimu, tapi dia tetap tidak mempunyai hak untuk melarangmu pergi, Elain. Kau itu istrinya, bukan tahanannya"


"Hehe.. benar juga. Baiklah. Aku ikut, lagipula aku juga bosan. Kapan kau kesini?"


"Sebenarnya, aku sudah didepan rumahmu dari tadi. Jadi, kau bisa keluar sekarang"


"Hah? yang benar saja?"


"Iya. Coba keluar"


Elain mematikan telelonnya, kemudian bergegas keluar rumah dengan dua pelayan tadi yang masih setia mengekorinya. Dan benar saja, begitu ia keluar. Ia bisa menemukan Jason yang berdiri santai didepan mobil Lexus hitam.


"Jason!". Elain menjinjing roknya. Kemudian berlari menuju Jason.


"Nyonya!".


Elain tidak menghiraukan pekikan para pelayan yang ada di belakangnya. Gadis itu lalu menghambur dalam pelukan Jason. Memeluk laki laki itu erat.


Ia sangat merindukan Jason. Tanpa sadar, laki laki itu sudah menjadi konstan poros yang selalu ada di hidupnya. Jason benar benar lelaki yang selalu mengerti dirinya. Dan mendengarkan setiap cerita yang Elain ceritakan. Sebuah definisi dari sahabat yang sempurna.


Sementara Jason sendiri terpaku ketika gadis berambut gelap itu memeluknya. Tangannya dengan bergetar pun membalas pelukan Elain dan mengusap usap lembut pundaknya. Ia menghirup aroma gadis itu dalam.


Elain merasa nyaman. Selain pada Igor dan Dominick, Jason adalah satu satunya orang yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman seperti ini.


Elain melepaskan pelukannya —terlepas dari kekecewaan Jason. Kemudian tersenyum.


"Ayo... katanya mau pergi".


Jason terkekeh lalu mengusap kepalanya. "Tentu. Ayo". Jason menggandeng tangan Elain dan hendak masuk kedalam mobil ketika suara dua pelayan itu menginterupsi.


"Nyonya... Anda tidak boleh pergi. Ini perintah tuan Ivanov"


Baru saja Elain akan menjawab. Jason sudah terlebih dahulu maju dan berkata dengan nada dingin —sama sekali berbeda dengan Jason yang selalu hangat padanya.


"Dia bukan boneka yang hanya dipajang di rumah. Katakan itu pada tuanmu, lebih baik dia mempelajari cara menghormati wanita sebelum menikah dengan seseorang"


......................


**Seperti biasa, yang di cetak miring itu artinya berarti lawan bicaranya ya..


Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo.

__ADS_1


- Balqis istrinya NaNa**


__ADS_2