
......................
Empat bulan berlalu semenjak kejadian Itu. Alessio beberapa kali menemuinya, meskipun jarang karena laki laki itu sangat sibuk dengan apa yang dikerjakannya. Hingga kemudian, dua minggu yang lalu ia kembali ke Rusia untuk menyelesaikan beberapa masalah disana.
Hari ini adalah hari kelulusannya, Lyra tidak menyangka bahwa dihari ini juga adalah hari hari terakhir ia di kota lahirnya, London. Memikirkannya saja sudah membuat wajahnya cemberut yang tentu di ketahui oleh Ashley yang sedang memoles make up nya.
"Hei, kenapa bersedih seperti itu. Bukankan seharusnya kau bahagia hari ini adalah hari kelulusanmu?". Tanya Ashley.
Kemudian Kenzie yang asyik mencoba pakaian kelulusannya pun berbalik dan menimpali, "Apa ini karena Alessio?".
Lyra menatap mereka bingung, "Kenapa ini harus karena Alessio?".
Ashley berdecak, "memang apa lagi alasannya? Kau sedih karena pria tampanmu itu tidak kesini untuk menghadiri kelulusanmu bukan?".
Lyra menatap kesal pada arah Ashley, "Kau ini benar benar sok tahu. Aku sedih karena selepas ini akan meninggalkan kota London, ini adalah kota masa kecilku. Dan memikirkan jika aku akan jauh dari daddy nantinya...."
"Lagipula, kenapa aku harus peduli pada Alessio. Pasti dia sekarang tengah bersenang senang bersama istrinya itu di negeri antah berantah"
Kenzie dan Ashley saling berpandangan.
"Jangan bilang kau cemburu". Ucapan Kenzie sontak membuat Lyra membalikkan badan.
"Hei! apa yang kau maksud? cemburu? ha! Jangan harap. Lagipula, apa yang harus dicemburui? Toh, Alessio kan berselingkuh denganku. Itu artinya ia merasa kurang dari pasangannya dan artinya aku juga lebih baik dari wanita antah berantah itu". Jawabnya percaya diri.
Namun terlepas dari jawaban entengnya, Lyra tidak bisa menyangkal rasa sakit disudut hatinya ketika Kenzie berkata demikian. Bukan kali pertama pemikiran ini terbesit dalam kepalanya. Setiap malam, Lyra harus bertanya tanya jika saat Alessio meninggalkannya, maka ia akan datang pada istrinya.
Lyra memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh.
Ashley mengenggam tangannya, "Kau pasti bisa! Ayo Lyra! tunjukkan pada seluruh dunia bahwa kau lebih baik dari wanita itu dan buat Alessio tergila gila padamu". Ujarnya berapi api.
Kenzie mengangguk antusias, "Betul sekali itu! meskipun statusmu adalah istri kedua, jangan mau kalah dengannya! pastikan kau bisa membuat Alessio berpihak kepadamu"
Lyra memutar bola matanya, "Gee.. Thanks sudah mengingatkanku akan statusku lagi. Tapi terimakasih atas saran dan semangat kalian. Aku... pasti akan merindukan kalian"
Lyra terkejut ketika Kenzie melemparkan tubuhnya dan memeluknya erat, disusul oleh Ashley. "Huhu... Kenapa kau membuat suasananya mellow seperti ini?". Ujarnya menangis. Lyra menepuk pundak temannya itu.
"Kenzie, walaupun kau menyebalkan tapi ucapanmu benar. Jangan pernah lupa untuk menghubungi kami kau tahu! aku akan terus menerrormu sepanjang hari jika kau lupa. Aku juga akan memotong burung Alessio jika pria itu berani macam macam padamu". Ancam Ashley.
Mereka bertiga menangis dan berpelukan bersama. Meresapi waktu yang tersisa.
"Gosh, lihatlah make up mu jadi luntur seperti ini. Aku jadi harus mengulanginya dari awal". Gerutu Ashley.
Kenzie dan Lyra terkikik, "But you love us"
[ Translate : Tapi kau mencintai kami ]
"Tentu saja"
__ADS_1
......................
Perayaan kelulusan dilaksanakan di aula besar. Kemudian dilanjutkan dengan acara foto bersama.
Saat ini, Lyra dan keluarganya tengah asyik berfoto ria dengan Leo yang tak berhenti menggodanya.
Kakak laki lakinya ini sekarang tengah merangkulnya dan sibuk menguyel uyel pipinya sedari tadi.
"Ish.. Brother. Kau itu tidak ada hal penting lain apa yang bisa kau lakukan?".
Leo tersenyum geli, "Tidak ada. Lagipula aku kan menyaksikan adik kesayanganku yang sebentar lagi akan menjadi wanita dewasa". Ujarnya dramatis sembari menghapus air mata khayalan yang ada dipipinya.
Lyra memukul pundak Leo, "Maksudmu apa hah? apakah kau berpikir aku masih kecil"
Orion dan Lily menahan tawanya melihat interaksi kedua buah hati mereka. Leo memang suka menggoda Lyra, namun mereka tahu jika Leo itu sangat menyayangi Lyra. Putra pertama mereka itu tak segan segan melakukan apapun untuk Lyra.
Saat mereka ada di Junior High School (SMA) ada kejadian, dimana seorang anak kepala sekolah membully Lyra karena cemburu padanya. Leo yang mengetahui hal inipun membalas perempuan itu dengan cara menyekapnya di gudang sekolah yang terkenal memyeramkan selama seharian penuh. Keesokan harinya, tukang kebun menemukan gadis itu dalam kondisi pingsan karena dehidrasi.
Tak ada yang berani melaporkan kejadian itu.
Lyra melihat fokus kakaknya sudah tidak tertuju padannya. Melainkan dibalik punggungnya, tatapannya pun tak sehangat tadi.
Lyra pun berbalik, hendak mencari tahu sumber perubahan mood kakaknya. Matanya membulat begitu mengetahui siapa yang sekatamg tengah berjalan ke arahnya.
Alessio. Laki laki itu mengenakan setelan hitam klasik yang cocok dengan proposi tubuhnya, membuat atensi para kaum hawa teralih padanya. Di genggaman tangannya, terdapat buket bunga mawar yang elegan.
Laki laki itu kini sudah berada dihadapannya, Lyra masih terpaku.
Lyra menerima buket bunga itu. "Kenapa kau bisa ada disini?"
Alessio menaikkan satu alisnya, "Kenapa? kau berpikir aku akan melupakan hari besarmu?"
Lyra menunduk malu, tak dapat ia pungkiri bahwa ia merasa kecewa ketika Alessio tidak datang. Namun melihat laki laki itu datang kemari benar benar seperti mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan.
"Aku kira kau sibuk dengan pekerjaanmu". Ujarnya lirih.
Alessio tersenyum kecil, sedikit menunduk untuk menyamakan tinggi mereka dan membelai pipi Lyra, "Aku tidak mungkin lupa. Lagipula, hari ini kau ikut aku kembali".
Lyra menatap Alessio terkejut, "Sekarang juga? Tapi aku belum mengucapkan selamat tinggal"
"Jangan khawatirkan hal itu. Aku sudah berbicara pada keluargamu dan merekapun setuju".
Lyra menatap pada kedua orang tuannya dan melihat mereka mengangguk dengan tatapan sedih. Lyra pun tak menghabiskan waktu untuk berhambur pada pelukan keduanya.
"Princess, kau tidak usah takut. Daddy akan mengusahakan segala hal agar kau bahagia. Daddy akan selalu melihatmu dari sini. Jadi kau tidak perlu khawatir, my star"
"Lyra, jaga kesehatanmu ya. Jangan lupa untuk selalu menghubungi Mommy. Atau mommy akan sangat marah. Mommy menyayangimu".
Lyra mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada orang tuanya. Oh, Tuhan! Kenapa rasanya begitu berat meninggalkan mereka.
__ADS_1
Kali ini ia beralih pada Leo, kemudian sama memeluknya. Leo berbisik di telingannya, "Tidak perlu khawatirkan apapun, aku akan mengusahakan kebahagiaanmu dengan apapun caranya". Lyra tidak berkomentar lebih banyak, walaupun ia bingung dengan apa yang dimaksud Leo.
Iapun melambai pada kedua orang tuanya dan kemudian berjalan bersama Alessio menuju mobil dengan seorang supir yang sudah menunggu didepan.
Lyra menghentikan langkahnya, "Tunggu! bagaimana dengan barang barangku?"
"Tidak perlu khawatirkan itu, semuanyabsudah siap disana" Lyra mengangguk.
Merekapun menaiki mobil dan menuju bandara. Disana mereka menaiki pesawat pribadi milik Alessio. Alessio yang menyadari bahwa sedari tadi Lyra selalu menguap pun membelai rambutnya.
"Aku akan mengantarmu ke kamar. Kau tidurlah, aku yakin bahwa kau sangat lelah".
Karena merasa sangat mengantuk, Lyra pun mengiyakan ucapan Alessio. Laki laki itupun menggendongnya dan membawanya menuju kamar suite di pesawat ini. Memang fasilitasnya tidak main main!
Disana pun, Alessio membaringkan Lyra dengan hati hati. Sebelum kemudian ikut membaringkan diri disampingnya.
......................
Lyra terbangun ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
"Princess, baby? bangun. Kita sudah sampai"
Lyra pun membuka matanya. Kemudian menatap manja pada Alessio.
"Gendong" Titahnya. Alessio tersenyum geli namun menjalankan perintah Lyra.
"Kita ada dimana?". Tanya Lyra dengan suata khas orang bangun tidur.
"Mansion kita". Jika tadi nyawanya belum terkumpul sempurna, sekarang Lyra sudah sepenuhnya bangun. Apa mansion yang sangat besar dan megah ini benar milik mereka?
"Kau bercanda"
"Untuk apa aku bercanda, aku sudah bilang akan memberikanmu yang terbaik bukan?".
Lyra mematung. Tidak tahu harus berkata apa.
"Apakah kau seroyal ini pada selingkuhamu yang lain?"
Atas pertanyaan Lyra, Alessio menatapnya heran. "Selingkuhan? apa maksudmu? kau adalah wanita pertama yang kutawari hubungan ini"
"Jadi maksudmu—". Lyra mengingit bibirnya malu. Kemudian semakin menenggelamkan wajahnya pada d*da bidang Alessio. Samar samar ia merasakan gemuruh tawa dari pria itu.
Lusinan maid berjejer menunggu mereka di tangga. Lyra menatap takjub pada Mansion didepannya.
"Kau suka?". Tanya Alessio.
Lyra tersenyum hangat, "sangat. Aku sangat suka".
......................
__ADS_1
Halo Halo... Jangan lupa buat klik tombol suka ya, biar aku makin semangat update. Dan kasih tahu aku apa pikiran kalian tentang chapter ini di kolom komentar..(*´∀`*)
Xoxo.