
......................
Lyra merasa ada sesuatu yang aneh belakangan ini. Semua orang seperti nampak sangat was was tanpa alasan yang jelas.
Alessio semakin mengetatkan keamanan pada seisi Mansion. Laki laki itu juga melarangnya pergi tanpa dirinya ataupun lusinan bodyguard yang ia siapkan.
Lyra sungguh tidak tahu apa yang terjadi. Akhir akhir ini Alessio juga semakin sibuk. Dan pria itu menugaskan Theodore untuk selalu bersamanya.
Seperti sekarang, tengah membaca buku di perpustakaan yang ada dimansion ini. Dan Theodore yang ada diseberangnya tidak bisa berhenti memainkan pistol ditangannya.
Gadis itu menutup bukunya dengan kasar, menyebabkan sampul buku hardcover itu menimbulkan suara yang sangat keras. Hingga perhatian Theo tertuju padanya.
"Theo... Bisakah kau berhenti bermain main dengan pistol itu?"
Theo memandangnya tanpa dosa, kemudian menggaruk lehernya. "Uhh... Kenapa?"
Lyra mendecakkan lidahnya tak sabar. "Kau pikir memegang pistol seperti itu adalah hal yang sangat normal?"
Theo semakin memandangnya tak mengerti. "Memang ada yang salah. Lagipula ini untuk keamananmu juga, babygirl".
Seketika itu mulutnya terdiam dan matanya membelalak. Theo nampak seperti orang yang keceplosan mengatakan sesuatu.
Lyra menatapnya menyelidik. "Oke, Theo. Sebenarnya apa yang terjadi disini?"
Theo terlihat benar benar panik sekarang. "Maksudmu apa, babygirl?".
"Jangan berpura pura bodoh didepanku ya, Theo. Aku tahu kalian menyembunyikan sesuatu akhir akhir ini"
Theo terdiam. Kemudian matanya menatap ke arah kesana dan kemari. Hingga kemudian laki laki itu menceletuk. "Ugh... Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Sampai jumpa nanti".
Tanpa memberikan kesempatan untuk Lyra berbicara, laki laki itu sudah lari terbirit birit keluar.
Lyra hendak menyusulnya, namun langkahnya terhalang saat tubuhnya menubruk tubuh kokoh didepannya. Ia nyaris saja jatuh jika tidak ada tangan yang menahan lengannya agar tidak terjatuh.
Lyra mendongak. Mendapati Alessio yang menatapnya khawatir.
"Kau tidak apa apa, sayang?". Tanyanya penuh kekhawatiran. Kemudian membantunya kembali menyeimbangkan tubuhnya.
"Aku tidak apa apa".
Alessio menatapnya tak suka. "Kenapa kau berlarian, Lyra. Itu sangat berbahaya". Tuturnya layaknya berbicara dengan seorang anak kecil.
Lyra mendengus. "Well... tanyakan saja pada Theo"
"Theo. Apa yang ia lakukan?"
"Itu dia —ah sudahlah... lupakan saja. Dari pada itu, aku sangat merindukanmu". Lyra pun mengalunkan tangannya di pinggang Alessio —memeluk erat laki laki itu. Menghirup aromanya dan menyalurkan segala kerinduan yang setiap harinya selalu membuncah.
Laki laki itu tersenyum geli. Kemudian mengecup pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Oh, apakah sayangku yang satu ini merindukanku?". Goda Alessio.
__ADS_1
Lyra tidak ragu untuk menjawab. "Sangat. Kau pergi ke pesta dengan Asteria dan meninggalkanku disini". Ujarnya mengadu.
Alessio melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Lyra dikedua telapak tangannya. Kemudian memberikan kecupan singkat di bibirnya.
"Tidak perlu cemburu, sayang. Kau tahu jika aku datang ke sana hanya sebagai formalitas saja bukan? aku lebih baik menghabiskan waktu seharian bersamamu".
Gadis itu mengangguk. Tapi masih tetap cemberut. Alessio menatapnya seakan laki laki itu ingin memakannya. Karena Lyra benar benar terlihat sangat menggemaskan.
"Baiklah, untuk permintaan maafku. Aku akan mengajakmu berlibur".
Perkataan Alessio sukses mendapatkan perhatian Lyra. Gadis itu menatapnya dengan mata hazel penuh binar.
"Benarkah? Serius? mau liburan kemana?"
"Kau mau kemana, Princess?". Tanya Alessio balik.
Lyra sama sekali tidak menyangka dengan pertanyaannya Alessio. Gadis itu berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab.
"Maldives!"
Alessio mengecup pipinya lembut. "Baiklah, kita akan berangkat sekarang"
Lyra harus menahan dirinya untuk tidak bersorak gembira dan bergulung gulung dilantai. Tapi ucapan Alessio yang terakhir seketika kembali muncuk ditelinganya.
"Apa? Sekarang?"
......................
Akhirnya disinilah ia, berada di limusin Alessio bersama laki laki itu. Lyra tengah menyenderkan kepalanya pada pundak Alessio. Sementara Alessio sedang sibuk dengan ipad ditangannya.
Tak lama kemudian mereka sampai di area bandara. Alessio membantunya turun.
Lyra dapat melihat pesawat Boeing 747-8 VIP dengan lambang yang biasa ia lihat ketika dikantor Alessio dan juga tulisan. ROMANOV pada badan pesawat.
"Ini, milikmu?". Tanya Lyra takjub sembari memandangi body pesawat raksasa itu.
"Salah satu milikku. Iya"
Lyra membelalakkan matanya. "Salah satu milikmu? ada berapa yang kau punya Alessio"
Alessio tidak menjawab dan hanya mengendikkan bahunya. Kemudian mengenggam tangan Lyra untuk memasuki pesawat.
"Selamat datang, Tuan Romanov dan Nona Estrella". Sapa salah satu pramugari diantara banyaknya pramugari yang berdiri di tangga pesawat. Lyra membalasnya dengan tersenyum sementata laki laki itu hanya melewatinya dengan tak acuh.
"Selamat siang, Tuan Romanov".
"Ini adalah pilot kita hari ini, baby. Mr. Henderson dan Mr. Rodrigo". Lyra memberikan senyum pada mereka berdua.
Lyra menatap takjub seisi pesawat. Dengan tempat duduk sofa berwarna putih yang tentu terlihat sungguh empuk. juga perabotan perabotan mewah yang sangat memanjakan mata.
Terdapat ruang konferensi, kamar mandi, kamar tidur utama dan kamar tidur tamu, bar, area gimnastik, dan kantor yang cukup besar untuk rapat dewan. Jet ini memiliki kecepatan mencapai 1.195 km/jam dan memiliki jangkauan maksimum 17.020 km.
__ADS_1
Alessio menuntunnya pada kamar utama yang ukurannya cukup luas untuk kamar didalam area pesawat.
"Kau beristirahatlah, princess..."
Lyra mengangguk. Selain karena lelah akan perjalanan menuju bandara. Ada sesuatu yang lain dipikirannya.
Namun ternyata harapannya pupus saat Alessio justru duduk disebelahnya dan kembali sibuk dengan ipadnya.
Lyra menghembuskan nafas. Ia menunggu sembari berbaring. Namun tetap tidak ada yang terjadi.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menginisiasi nya.
Lyra pun bangun kemudian mendudukkan dirinya di pangkuan Alessio dan mulai menciumi setiap inci wajah laki laki itu.
Alessio menggeram. Kemudian meletakkan kedua tangannya di pinggang Lyra. Lyra menjilat —dan menciumi leher serta bibirnya. Kemudian turun membuka kemejanya dan memberikan ciuman di daerah otot d*danya.
"Lyra... Apa yang kau lakukan?". Suara Alessio serak.
"Aku..." memberikan ciuman di pundaknya kemudian sedikit menggigitnya —Alessio mend*sah. "Sedang menciumimu"
Gadis itu menyambar bibir Alessio. Memberikannya ciuman yang dalam, mengigit bibirnya dan memasukkan lidahnya dalam mulut Alessio.
Alessio mulai kehilangan kontrol. Laki laki itu mulai mengambil alih ciuman mereka. Ciumannya turun lalu menghisap leher putih Lyra hingga memberikan jejak kemerahan.
Tak hanya leher, bagian pundak dan belahan d*danya juga menjadi sasaran love bite Alessio. Lyra akan kesulitan menutupinya besok pagi.
"Apa yang kau mau, princess?". Gumamnya tak henti memberikan ciuman serta mengelus punggung gadis itu.
"Please.... Aku merindukanmu, Alessio. I need you". Perkataan Lyra memunculkan seringai di wajah Alessio.
"Bersiaplah, baby. I'm gonna f*ck you so hard, dan kau akan memohon sambil mend*sahkan namaku"
......................
Interior dalam pesawat
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
__ADS_1
Xoxo.