Pengantin Kedua Tuan Muda

Pengantin Kedua Tuan Muda
CHAPTER 36 | Maldives (2)


__ADS_3


......................


Alessio menatapnya dengan dalam, kemudian berbisik sembari meng*lum cuping telingannya. "Duduklah dengan kedua kakimu diantara pahaku".


Lyra pun menurutinya. Sekarang posisinya duduk diatas paha kanan Alessio. Alessio mulai mer*mas da*danya dibalik kaos yang Lyra pakai. Membuat gadis itu secara tak sengaja bergerak maju mundur dipahanya.


Hal itu lantas membuat kenikmatan terasa disekujur tubuhnya. Kepalanya menengadah. Otot paha Alessio sangat keras, menyentuh tepat di inti tubuhnya yang sudah basah.


Geraman "Yes" dan "****" terdengar dari mulut laki laki itu dan itu merupakan hal terpanas yang pernah Lyra dengar. Alessio meletakkan tangannya dipinggangnya dan mulai menggiringnya dalam gerakan gerakan yang membuat Lyra mabuk kepayang.


"Ayo sayang, seperti itu. Puaskan dirimu di pahaku". Bisiknya sensual.


"Ya, seperti itu". Puji laki laki itu sembari menaik turunkan pahanya.


Rasanya sangat intens sampai Lyra tidak akan mengira bahwa ia akan kuat merasakannya. Gadis itu mempercepat gerakan pinggulnya —mencari kepuasannya sendiri.


Kemudian gerakannya melambat saat gadis itu menyadari sesuatu familer yang tengah berada di bawah perutnya.


"Jangan berani kau berhenti, Princess". Geram Alessio memperingatkan.


Lyra menggeleng, menutup matanya kenikmatan. "Aku tidak bisa"


Ia terkesiap saat Alessio mencengkram lehernya ditangannya. Tidak mencekiknya, namun hanya sedikit menekannya. Kemudian menciumnya diantara ciuman yang menuntut.


"Kau bisa, baby". Bisiknya diantara ciuman itu.


Lyra menggelengkan kepalanya, Namun Alessio memberikannya tatapan penuh perintah, "lakukanlah untukku".


Maka itulah yang dilakukan Lyra, dengan beberapa gerakan gadis itu jatuh pada kenikmatan duniawi. Menikmati pelepasannya —ia menatap pada Alessio. Rasanya ia ingin melakukan hal yang sama pada Alessio.


Laki laki itu, seakan mengetahui isi hatinya, kemudian menyampirkan anak rambut yang terjatuh di wajahnya ke belakang telinga. "Melihatmu memuaskan dirimu sendiri padaku sudah membuatku sangat puas"


Lyra mengangguk malu. Kemudian menyembunyikan wajahnya diceruk leher laki laki itu. Sementara Alessio terus mengelus punggungnya.


"Oke, aku akan berganti dulu". Lyra pun berdiri dan menuju ruang ganti. Berganti dengan baju yang lebih nyaman digunakan untuk tidur.


Saat ia kembali, ia melihat Alessio pun sudah berganti celana. Memikirkannya kembali membuat Lyra memerah.


Alessio menepuk tempat tidur disampingnya. Lyra pun membaringkan tubuhnya disamping Alessio. Merentangkan tangannya meminta laki laki itu memeluknya yang disetujui oleh Alessio.


Gadis itu membenamkan dirinya semakin dalam pada Alessio, menyerah pada rasa kantuk yang benar benar menyertainya.


......................

__ADS_1


Lyra terbangung ketika merasakan seseorang mengelus pipinya dengan lembut. Gadis itu perlahan membuka matanya dan mendapati Alessio tengah mengelus wajahnya sembari menyebut namanya.


"Lyra..."


Karena masih mengantuk, Lyra pun merespon dengan kata kata tidak jelas seperti. "mhhffmm"


Karena gemas, laki laki itupun mencubit kedua pipi Lyra yang mendapatkan respon aduhan oleh gadis itu.


"Bangun, princess. Kita sudah sampai"


Lyra menatapnya dengan mata yang masih sayu. Kemudian merentangkan tangannya sembari memberikan Alessio tatapan manja.


"Gendong" Ujarnya. Alessio terkekeh namun menuruti perintah sang tuan putri.


Meletakkan satu tangan dibalik punggung dan satunya lagi dibalik lutut Lyra, laki laki itupun menggendongnya dengan gaya bridal menuruni pesawat sampai dengan masuk kedalam mobil.


Saat duduk dimobil, ia dapat melihat pemandangan bandara international Maldives yang berada di pulau Hulhele. Mereka melewati jembatan yang menghubungkan pulau Hulhele dengan pulau Male, kemudian dilanjutkan dengan menumpangi Seaplane untuk sampai ke resort yang dituju.


Saat sampai disana, mereka disambut oleh pegawai resort menggunakan alat musik semacam gendang yang dimainkan dengan alunan musik daerah sekitar.


Lyra memandang takjub kesekeliling pulau. Maldives benar benar indah. Laut yang mengelilinginya benar benar biru dan menggundangnya untuk berenang.


Kemudian sebuah mobil jemputan menjemput mereka dan mengantarkan mereka sampai ke resort.


Gadis itu memekik kesenangan! ia mulai mengitari sekeliling bangunan itu, mendapati jika sentuhannya walaupun tradisional juga terlihat sangat elegan disaat yang bersamaan. Tempat tidur utama juga menghadap ke laut, dengan jendela otomatis yang bisa ditutup menggunakan remot.


Kini Lyra beralih ke bagian depan, dimana sudah disediakan tempat bersantai menggunakan jaring jaring dan diberikan bantal bantal ditengahnya, kolam renang dan beach seat dengan payung ditengahnya. Terdapat juga tangga yang mengarah ke arah laut lepas jika mereka ingin berenang. Kemudian yang lebih indahnya lagi adalah sebuah perosotan yang mengarah ke air laut.


Dibagian belakang, terdapat balkon yang menghadap ke laut —tapi resort mereka memang benar benar berada ditengah laut. Dengan marble bath tub untuk berendam dan juga bersantai.


"Astaga, Alessio. Ini indah sekali. Kau tidak tahu betapa bahagianya aku saat ini". Ungkap Lyra takjub.


Ia merasakan Alessio memeluknya dari belakang. Kemudian mencium lehernya sejenak. "Aku suka jika kau bahagia, princess"


Untuk sejenak mereka terdiam. Lyra sibuk mengamati pemandangan yang benar benar memanjakan matanya. Sementara Alessio sibuk menggagumi Lyra dari belakang.


"Kau tahu...". Lyra tiba tiba berbicara.


"Ini kali pertama aku bisa pergi ke luar. Maldives sudah ada di bucket list ku sejak lama. Aku bahkan tak berpikir bahwa aku akan kesini"


Alessio menautkan kedua alisnya bingung. "Kenapa tidak kesini saja? bukankan kedua orang tuamu juga berkecukupan, sayang?"


Lyra menggelengkan kepalanya sedih. "Aku tidak tahu. Ketika aku kecil, daddy membawaku kemana saja. Tapi ketika aku berumur sepuluh tahun, aku tidak diperbolehkan kemana mana tanpa pengawasan"


Alessio terdiam. Tidak ada satupun yang bersuara. Lyra jadi merasa tidak enak karena sudah menghancurkan atmosfer tenang yang tadinya ada.

__ADS_1


Kemudian ia menggengam tangan Alessio. "Sudahlah, kita kesini untuk bersenang senang bukan? lagipula aku sangat lapar"


Alessio tertawa mendengar penuturan Lyra, kemudian mengacak rambutnya. "Baiklah, aku akan memanggil room service untuk mengantarkan makanan". Lyra mengangguk.


Alessio kemudian meninggalkannya, sibuk menelepon room service. Lyra dapat mendengar suara laki laki itu walaupun Alessio berada di ruang sebelah.


Lyra menyadari, saat berada dengan Alessio. Terkadang ia merasa terkekang karena selalu berada di mansionnya tanpa pergi kemana mana. Namun nyatanya, ia sangat nyaman berada di sangkar emas yang diciptakan oleh Alessio. Membuatnya terasa aman.


Mungkin itulah yang dikatakan orang ketika berkata, rasa aman di sangkar emas. Karena ia benar benar menyukainya. Kemanapun Alessio pergi, Lyra dengan senang hati akan mengikuti.


Hal ini tak ayal membuat rasa cintanya semakin besar, perhatian yang diberikan Alessio selalu membuatnya melayang. Laki laki itu tak tahu efek apa yang bisa ia timbulkan untuk Lyra.


Kemudian ia merasakan seseorang menepuk pundaknya. Lyra berbalik dan melihat Alessio dibelakangnya.


"Makananya akan sampai sebentar lagi. Ayo kita tunggu sembari melihat pemandangan laut di luar"


Alessio mengulurkan tangannya, yang dengan senang hati disambut oleh Lyra.


......................


Ini Gili Lankafushi



yang ditempati Lyra dan Alessio










**Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡


Xoxo**.

__ADS_1


__ADS_2