
......................
"Well well... Tidak heran jika semua orang merebutkanmu. Kau adalah wanita tercantik yang pernah kutemui". Ujarnya sembari mengusap bibir bawah Lyra.
Lyra menatapnya jijik. Kemudian memalingkan wajahnya, membuat laki laki didepannya itu terkekeh.
"So feisty. I like it"
Lyra masih memalingkan wajahnya. Presensi seorang pria asing yang sok asik didepannya benar benar meneriakkan kata bahaya dimana mana.
Terdengar suara kursi ditarik. Laki laki itu menempatkan kursi secara terbalik kemudian duduk dengan bagian depannya bersandar pada sandaran kursi.
"Siapa kau?". Tanya Lyra.
laki laki itu tersenyum. Sebuah senyum yang penuh dengan kepalsuan.
"Oh benar, kenalkan sayang. Namaku Lorenzo Marquez. Kau bisa memanggilku Enzo, atau panggilan sayang lainnya". laki laki otu mengedip padanya. Membuat Lyra mendelik.
"Bisakah kau berhenti memanggilku sayang. Apa tujuanmu membawaku kesini?".
Laki laki itu — Lorenzo, karena Lyra tidak mau memanggilnya Enzo mengendikkan bahunya. "Tidak apa apa. Hanya ingin menuntaskan rasa penasaranku saja"
Lyra mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?"
Laki laki itu mencondongkan dirinya mendekati Lyra. "Aku bertanya tanya bagaimana gadis sepertimu bisa membuat orang orang bertekut lutut. Terutama Alessio Romanov yang tidak memiliki hati"
Lyra menenggak ludahnya susah payah. Benar dugaanya, laki laki ini adalah salah satu musuh Alessio.
"Kuakui kau cantik. Namun apa lagi yang membuat mereka tertarik padamu. Aku tidak tahu". Lanjut laki laki itu sembari mengusap sisi wajah Lyra. Membuat gadis itu mati matian menahan dirinya untuk tidak menampar Lorenzo.
"Tapi tidak apa apa. Aku akan menikmati pertunjukan ini". Lyra sangat tidak mengerti dengan maksud perkataan Lorenzo. Apa laki laki ini gila?
"Apakah kau The Godfather?". Tanya Lyra. Teringat akan penjelasan Alberto beberapa hari yang lalu.
Tak disangka laki laki itu justru tertawa terbahak bahak. Kemudian menatap Lyra penug humor.
"Lyra Lyra... kuharap apa yang kau tanyakan itu benar". Ujarnya sarkas.
"Maksudmu?"
"Oh, kau tidak perlu mengerti sayang. Tugasmu disini hanyalah duduk cantik dan menuruti perkataanku".
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
__ADS_1
Hilang sudah humor yang tadinya ada diwajah Lorenzo. Laki laki itu kini sudah menatapnya dengan tajam. Kemudian ia mencengkram dagu Lyra menggunakan tangannya. Lyra meringis kesakitan.
"Kau tidak ingin tahu". Ancamnya. Kemudian melepaskan dagu Lyra dengan kasar. Lyra bersumpah akan ada bercak merah di dagunya.
Kemudian laki laki itu mengambil sesuatu dari balik tubuhnya, sebuah bingkisan dan memberikannya pada Lyra.
"Apa ini?". Lyra menatap bungkusan itu penuh curiga.
Lorenzo menatapnya dengan seringaian. "Buka saja".
Lyra membukanya dan mengeluarkan sebuah pakaian —jika itu bisa disebut pakaian. Berwarna emas berkilauan dengan modelnya yang sangat pendek yang hanya menutupi separuh pahanya saja, belahan dadanya pun dibuat sependek mungkin. Bagian punggungnya pun terekspos.
"Aku mau kau memakainya".
Perintah dari Lorenzo membuat Lyra membelalakkan matanya. Gadis itu kemudian menatap tajam pada Lorenzo.
"Aku tidak mau!"
"Kau harus! atau aku sendiri yang akan merobek bajumu dan memakaikannya dengan paksa padamu".
Lyra mencengkram pakaian itu dengan erat. Air matanya kembali turun —tidak peduli pada riasan yang ada diwajahnya. Dengan bergetar Lyra pun berdiri, tidak berani melawan perintah Lorenzo. Laki laki itu pasti tidak main main dengan ucapannya.
Ia menunggu, namun Lorenzo tidak kunjung keluar. Gadis itu menatapnya garang dibalik air matanya.
"Apa kau tidak pernah diajari tata krama dalam hidupmu? keluar!"
"Tidak. Aku akan memastikan kau memakainya dengan baik".
Air mata semakin mengalir di pipinya. Harga dirinya sebagai wanita begitu terendahkan oleh Lorenzo. Lyra masih menatap nyalang pada laki laki itu.
"Kalau kau tidak mau memakainya. Aku yang akan memakaikannya padamu". Ancam laki laki itu.
Dengan bergetar Lyra membuka pakaiannya. Selama itu air mata tak henti mengalir di wajahnya. Ia merasa dilecehkan.
"Alessio tolong aku"... Batinnya.
Lyra benar benar takut. Apalagi melihat seringaian jahat Lorenzo ketika melihat tubuh polosnya, ia merasa dilucuti dari hak nya sebagai wanita.
"My my my.... Tak ayal Alessio begitu menjagamu, kau pasti memuaskan nya dengan tubuh seperti itu bukan?".
Lyra tidak menghiraukan perkataan Lorenzo. Memilih untuk memakai pakaian laknat itu secepat yang ia bisa.
Ia menutupi dadanya sendiri yang hampir terekspos karena terbukanya pakaian itu. Kalau memakai ini, ia benar benar merasa seperti gadis j*lang yang dipamer pamerkan.
"Sekarang keluarlah. Penjaga akan membawamu ke suatu tempat". Lorenzo mengulurkan tangannya. Namun Lyra hanya menatap benci pada uluran tangan Lorenzo. Membuat laki laki itu terkekeh dan mengangkat tangannya.
__ADS_1
"Baiklah baiklah... Aku akan keluar. Kita akan bertemu lagi, Lyra". Laki laki itu mengedip dan keluar dari pintu.
Setelah kepergian Lorenzo, Lyra kira ia bisa bernafas lega. Namun harapannya pupus ketika dua orang penjaga bertubuh gempal mulai masuk dan menyeretnya keluar.
"Kemana kalian akan membawaku!". Tanyanya yang tidak ditanggapi oleh kedua penjaga ini.
Mereka membawanya ke sebuah ruangan. Dimana Lyra bisa melihat sekumpulan gadis gadis dengan pakaian minim yang sama seperti dirinya dikumpulkan.
Penjaga itu mendorongnya hingga Lyra tersungkur. Salah satu dari gadis gadis itu membantunya. Membuat Lyra mengucapkan terimakasih.
"Kita ada dimana?". Tanya Lyra pada gadis yang menolongnya tadi. Gadis itu memiliki rambut merah menyala yang nampak sangat cantik.
"Kita berada di pelelangan".
"Apa?". Lyra dapat merasakan tubuhnya yang lemas. Ia sering mendengar tentang jual beli manusia dalam organisasi gelap seperti ini, namun tak menyangka jika ia akan menjadi salah satunya.
Dan benar saja, dari balik panggung ini. Lyra bisa mendengar pembawa acara memulai acara pelelangan. Satu persatu dari gadis gadis itu dibawa, hingga tersisa hanya dirinya.
Kemudian seorang penjaga kembali membawanya pada seorang pria tua dibalik meja dengan setumpuk kertas dimejanya.
"Siapa selanjutnya?".
Penjaga itu mendorongnya kedepan. Pria tua itu mulai mengukur ukuran tubuh dan tinggi tubuhnya menggunakan meteran pengukur.
"Nama?". Tanyanya.
"Lyra Estrella". Jawab Lyra dengan bangga.
Pria itu menuliskannya dikertas yang ia bawa. Kemudian kembalu bertanya. "Umur?".
"Sembilan belas tahun". Pria itu kembali mencatat informasi yang diberikan oleh Lyra.
"Ada sesuatu di rekam medismu yang harus kami ketahui?".
"Apa itu penting jika aku pernah mematahkan tulang kakiku saat aku terjatuh di umur tujuh tahun?". Tanyanya sinis.
Laki laki tua itu meringis. "Tidak begitu"
Laki laki tua itu kemudian mengangguk pada penjaga dibelakangnya. Penjaga itu kembali menarik Lyra maju keatas panggung. Untuk sesaat ia harus menyesuaikan matanya dengan sinar yang menyilaukan.
Gadis itu melihat ratusan orang yang berada di tribun penonton. Semua terlihat menyorakinya. Tapi kemudian perhatiannya pada sang pembawa acara yang mulai berbicara.
"Ladies and Gentleman, didepan kita adalah grandprize dari malam ini. Lihatlah dia! begitu cantik... Dan jangan lupakan jika perempuan didepan kalian ini adalah putri keluarga Estrella. Namun kalian tahu apa yang lebih pentingnya lagi? perempuan ini adalah wanita kesayangan Tuan muda kita, Alessio Romanov"
......................
__ADS_1
**Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo**.