
......................
Kali ini, Lyra sedang membaca buku dengan tubuh gadis itu yang berada diantara paha Alessio. Punggungnya berada pada d*da laki laki itu. Sementara tangan Alessio sedari tadi tak henti henti mengelus rambutnya.
"Kenapa lama sekali membaliknya?"
Lyra mencibir mendengar komentar Alessio. Gadis itu mendongak dan menatap kesal pada laki laki dibelakangnya.
"Aku belum selesai membacanya, Al".
Alessio hanya terkekeh kemudian melanjutkan pekerjaanya mengelus rambut Lyra.
"Aku mau mengepang rambutmu". Ujar laki laki itu tiba tiba.
"Memangnya kau bisa?". Ejek Lyra.
Alessio menyentil pelan hidungnya. "Jangan meremehkanku, sayang".
Lyra diam saja. Menunggu apa yang akan Alessio lakukan setelahnya. Lyra dapat merasakan laki laki itu yang mulai mengepang rambutnya.
Gadis itu menghembuskan nafas nikmat. Seseorang yang bermain dengan rambutnya selalu membuatnya mengantuk. Lyra tak sedikit juga hampir tertidur ketika membaca. Itu karena jari Alessio yang menyisir lembut surai coklatnya.
"Selesai". Lyra mengambil ponselnya. Kemudian melihat pantulan dirinya sendiri di ponsel. Dan benar saja, laki laki itu dapat mengepang rambutnya dengan rapi. Bahkan sangat rapi untuk ukuran seorang laki laki.
"Wow" Ujarnya takjub. "Darimana kau belajar ini?". Tanyanya menyelidik. Lyra memiliki kecurigaan jika Alessio melakukan ini dengan wanita wanitanya yang terdahulu —atau mungkin dengan Asteria.
Alessio melihat ekspresi cemburu di wajah Lyra hanya terkekeh geli kemudian mencubit pangkal hidungnya. "Aku belajar ketika kecil dulu. Saat father membawaku dalam pertemuan, seringkali aku merasa bosan. Maka dari itu aku membawa tali dan biasanya akan kugunakan untuk membuat simpul simpul abstrak —contohnya kepangan untuk membunuh rasa bosan".
Lyra mengangguk puas dengan penjelasan Alessio.
Alessio mengecek jam tangannya kemudian berkata, "Aku harus pergi. Ada urusan yang harus kutangani".
Lyra mengerutkan kening tak suka. Pasalnya, beberapa hari ini Alessio sangat sibuk hingga mereka tidak memikiki waktu berdua. Dan kali ini hanya sekali mereka memiliki waktu luang dan laki laki ini kembali sibuk?
"Mau kemana?"
Alessio ragu sebentar sebelum kemudian menjawab. "Mansion utama"
Lyra merasakan rasa sesak di d*danya kembali. Meskipun segala urusan bisnis sudah di pindahkan ke mansion mereka. Namun Alessio masih memiliki urusan di mansion utama dimana tempat itu juga merupakan tempat tinggal Asteria.
__ADS_1
Memikirkan itu membuat Lyra jadi murung seketika.
Melihat wajah suram Lyra, Alessio dengan cepat mengklarifikasi. "Hei, baby. Jangan bersedih, aku berjanji akan pulang cepat"
Meskipun Alessio membuat janji demikian, tetap saja ia masih agak ragu terutama ketika laki laki ini akan memasuki sarang ular. Oleh karena itu, sebuah ide tercetus di kepalanya.
"Alessio. Aku mau ikut!". Bukan sebuah permintaan, namun terkesan seperti perintah paksaan.
Alessio menatapnya heran, "Kenapa kau mau ikut, sayang?"
Lyra memicingkan matanya. "Kenapa kalau aku mau ikut? jangan jangan kau takut karena mau berbuat aneh aneh, ya?". Tanyanya curiga.
Alessio mengusap wajahnya kasar. "Astaga, Lyra. Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu. Aku ada pekerjaan disana". Ujarnya tajam yang tanpa disengaja.
Kali pertama ini Alessio berkata sedikit kasar padanya dan efeknya langsung instan. Mata hazelnya mulai berkaca kaca.
Alessio yang melihat itupun panik seketika. Ia memeluk Lyra erat.
"Astaga, Princess.... Maafkan aku. Aku tidak bermaksud memarahimu. Tentu saja kau boleh ikut".
Mendengar itupun, Lyra menyunggingkan senyum miring yang tak terlihat oleh Alessio. Gadis itu mengusap air mata bualannya yang keluar. Kemudian menampilkan ekspresi cerianya sebaik mungkin.
Sudah ia duga ia akan menang.
......................
Lyra memandang hutan lebat di sekelilingnya dibalik kaca mobil. "Kenapa tempatnya dikelilingi hutan seperti ini?"
Alessio mengenggam tangannya. "Karena, musuh akan sangat susah mengakses mansion utama jika letaknya disini"
Lyra menatapnya bingung. "Kalau begitu, kenapa mansion kita letaknya tidak disini?"
"Itu karena kau pasti tidak suka jika letaknya jauh dengan peradaban. Bukankah begitu?"
Lyra memikirkan pertanyaan Alessio sejenak. Memang benar sedari kecil sampai dewasa, ia sudah terbiasa tinggal di tempat perkotaan. Lyra juga terlalu banyak menonton film horor untuk mengetahui jika kebanyakan hal sial itu terjadi di hutan.
Lyra jadi merinding sendiri membayangkan film horror yang waktu ia tonton dan menceritakan tentang pemeran utama yang terbunuh di hutan.
Alessio melihat wajah ngeri Lyra salah mengartikannya sebagai hal lain. Laki laki itu mengusap punggung tangannya secara berputar.
"Tidak perlu khawtir, Princess.. Keamanan mansion kita sangat ketat bahkan semut saja tidak bisa masuk".
__ADS_1
Lyra tertawa atas analogi Alessio. Tak lama kemudian mereka sampai di di gerbang sebuah mansion yang terlihat agak kuno. Dengan arsitektur yunani modern. Namun yang mengherankan adalah ketika luasnya yang hanya separuh mansionnya dan Alessio.
"Alessio, kenapa mansion kita malah lebih besar dari mansion utama?"
Alessio tersenyum jahil padanya, "Itu karena sudah kubilang bukan jika aku akan memberikan yang terbaik padamu, hmm?". Lyra memerah.
Gadis itu tersenyum sendiri. Sangat puas akan Alessio yang nampak menepati janjinya.
Kemudian mereka sampai. Supir pribadi Alessio membukakan pintu mobil untuk mereka. Lyra dapat melihat Asteria yang menunggu dengan senyum yang seketika luntur ketika melihat Lyra disebelah Alessio.
Melihat itu, Lyra tersenyum miring. Kemudian mendekat dan merangkul lengan Alessio dengan manja. Membuat Asteria semakin panas melihatnya.
Alessio sedikit kaget melihat sikap manja Lyra —namun ia memakluminya karena gadis itu memang suka bermanja manja dengannya. Jadi, Alessio merangkulkan tangannya dipinggang Lyra dan mengecup pucuk kepalanya.
Bisa kalian bayangkan apa yang dirasakan oleh Asteria?
Melihat suami dan juga pria yang ia cintai dengan terang terangan membawa wanita lain dihadapannya dan memberikannya kasih sayang yang ia sendiri tak pernah berikan pada istrinya sendiri.
Rasanya lebih baik ia mati. Ini terasa seperti mimpi buruk.
Asteria berusaha memberikan senyuman terbaiknya. "Selamat datang, Alessio"
Alessio hanya mengangguk kemudian berbalik pada Lyra. "Tidak apa apa kutinggal sebentar?". Tanyanya dengan raut khawatir.
"Tentu". Alessio mengelus rambutnya kemudian membawanya masuk dan melewati Asteria. Kemudian menuntunnya untuk duduk di sofa dan meninggalkan satu kecupan terakhir sebelum laki laki itu pergi.
Tak lama kemudian setelah Alessio meninggalkannya. Asteria menyusulnya duduk diseberang Lyra, kemudian mengisyaratkan pada pelayan untuk datang padanya.
"Buatkan kami teh". Titahnya. Pelayan itu menunduk patuh kemudian pergi.
Lyra memandangi wanita itu dengan senyum palsu. "Rumah yang bagus". Pujinya.
Asteria sama sekali tidak menatapnya ketika menjawab, "Terimakasih"
Ia kira akan semudah itu?
Kali ini dengan kepolosan yang dibuat buat, Lyra berkata. "Tapi sayang sekali sepertinya ini kurang besar untuk menampung banyak orang, bukan?"
Dan perkataan Lyra berhasil membuat Asteria mendongak dan menatap penuh kebencian padanya.
......................
__ADS_1
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusian kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo.