
...----------------...
Elain bolak balik mengitari kamarnya. Semenjak tadi otaknya tidak berhenti untuk berpikir. Gadis itu memelintir rambut panjangnya di jarinya dan mengigit bibir bawahnya.
Tadi papanya baru mengatakan bahwa akan diadakan pesta di kediaman Soviech malam nanti. Dan seperti biasa, keluarga mereka pun di undang. Masalahnya adalah, ia sebagai wanita harus membawa pasangan di pesta itu.
Sebenarnya ia tidak ingin datang. Tapi papanya dengan jelas mengatakan bahwa ia harus datang jika tidak ingin "merusak reputasi keluarga" mereka.
Lalu siapa yang akan ia ajak? Dominick? tidak mungkin.
Karena laki laki itu pasti mengajak Aluna. Dan sejujurnya, selama ini ia tidak memiliki waktu banyak dengan Dominick.
Elain sudah memaafkan laki laki itu semenjak insiden di cafe tempo hari. Lagipula, Dominick yang sudah menyelamatkannya juga. Namun akhir akhir ini Dominick juga sibuk, begitu juga Igor. Itu semua karena mereka mencari dalang pelaku penculikkan Lyra atas perintah dari Alessio.
Ia juga wanita yang memiliki gengsi. Tak mungkin juga ia menghubungi Dominick dan mengajaknya ke pesta bersamanya.
Lalu sekarang apa yang akan ia lakukan? Kalau bersama Igor, tapi Igor sudah bilang ada urusan sangat penting yang harus diselesaikannya malam ini. Mungkin itulah mengapa papa menyuruhnya untuk mendatangi pesta itu.
Elain menghela nafasnya. Ia benar benar bingung sekarang.
Kemudian suara ketukan di pintu kamar menginterupsi kegiatan otaknya yang tengah berpikir.
Lyra kemudian berdiri dan membuka pintu kamarnya.
Seorang pelayan ada di depan kamarnya, lalu membungkuk sopan dan berkata. "Nona. Tuan Dominick menunggu anda di ruang tengah".
Hal itu sontak membuat matanya membulat. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat.
D*mn Dominick dan efek yang laki laki itu berikan padanya.
"Baiklah. Aku akan menemuinya setelah ini". Setelah pelayan itu pergi. Elain menutup pintunya dan bersandar dibalik pintu.
Ia mengatur nafasnya. Kemudian menyeka sebulir keringat di dahinya. Oke dia harus tenang, harus tenang, tenang, tenang...
Elain terus mengulang mantra itu di pikirannya.
Kemudian gadis itu mematut penampilannya sendiri di kaca. Apa sudah baik dan sudah pantas bertemu dengan Dominick?
Elain menyisir rambutnya. Ia tidak memakai make up sama sekali, namun ia memang biasanya bertemu Dominick dengan wajah polosan saja.
Ia sampai si dasar tangga. Kemudian melihat punggung Dominick. Posisi laki laki itu tengah memunggunginnya.
Elain harus menarik nafas dalam. Kemudian mulai memberikan senyum seperti biasanya untuk menutupi kegugupannya.
"Hai, Dominick!".
Dominick berbalik. Laki laki itu tersenyum padanya. Kemudian Elain mengisyaratkannya untuk duduk disofa.
Dominick duduk disofa, dengan Elain disebelahnya.
"Tumben sekali kau kesini?"
Dominick menatapnya lucu, "Tumben? bukankah aku memang sering ke sini, El?".
Elain memutar bola matanya, "Iya. Tapi sudah jarang semenjak kau berpacaran dengan Aluna"
__ADS_1
B*doh! Elain b*doh!
Kenapa ia malah mengatakan itu...
Mulut nakal.
Bagaimana jika nanti Dominick kegeeran menyangka jika ia cemburu dengan Aluna? ish jangan sampai!
Tanpa ia duga. Dominick kemudian terdiam. Lalu menggaruk tengkuknya. Elain menatap heran pada perilaku aneh laki laki ini.
"Uhh.. Mengenai itu. Aku kesini karena tentang Aluna".
Oh.
Hati Elain mencelos. Tentu saja, bahkan ke sinipun karena Aluna. Ternyata itu seberapa besar efek Aluna padanya.
Elain berusaha menetralkan kembali ekspresinya. "Ada apa?"
Dominick berdeham. Laki laki itu nampak gugup. "Jadi begini, aku ingin mengajakmu ke pesta malam ini"
Elain menatapnya terkejut. Lalu bertanya bingung. "Kenapa tidak dengan Aluna saja?"
"Aluna tidak ingin hubungan kami terdengar sampai ke media, menurutnya itu akan mempengaruhi karirnya. Kau tahu sendiri bagaimana brutalnya media nanti? Aku tidak ingin dia yang terkena imbasnya".
Wow... Sungguh romantis. Elain ingin tertawa. Seorang Dominick melakukan hal yang romantis untuk pasangannya? tidak pernah Elain membayangkan dalam seribu tahunpun itu akan terjadi. Dominick yang selama ini hobi mencampakkan wanita.
Pria itu berubah.
Dan itu karena Aluna.
Sebuah cadangan yang dibutuhkan ketika Aluna tidak ada. Tidak main itu sungguh melukai ego dan hatinya.
Baiklah, jika Dominick memang benar benar memintanya. Toh, ia juga harus pergi dan tidak mempunyai pasangan untuk malam ini.
"Baiklah. Tapi kau harus menjemputku ya?".
Dominick tersenyum lega. "Tentu saja tuan putri"
Elain tidak bisa menahan senyum yang terbit di bibirnya.
Sementara Dominick, melihat senyum Elain adalah hal yang familier untuknya. Sehingga ketika Elain tidak tersenyum padanya, maka rasanya akan sangat asing baginya.
Ia teringat masa masa ketika Elain mengabaikannya. Dunianya terasa monoton, karena Elain adalah konstan yang terus berporos padanya.
Untung saja ada Aluna.
Bersama Aluna, dunianya lebih berwarna, ia mengerti arti cinta. Ia belajar untuk menghargai. Bersama Aluna juga ia tahu cara mengorbankan. Ia tidak bisa hidup tanpa senyum Aluna.
Aluna dan Elain sama sama wanita yang penting dalam hidupnya.
Ia tidak tahu harus apa jika suatu saat ia diharuskan memilih antara dua wanita itu.
Sedikit yang ia tahu, pilihan itu akan datang padanya tak lama lagi.
......................
Dilain sisi. Aluna tengah bersiap siap dengan memoles dirinya didepan kaca besar di kamarnya. Ia mendengar ada pesta yang diadakan oleh keluarga Soviech di kediaman mereka.
__ADS_1
Dan ia cukup percaya diri bahwa Dominick akan mengajaknya sebagai pasangan pesta pria itu.
Ia tahu jika ia dan Dominick itu sangat serius. Dominick berulang kali mengatakan padanya bagaimana pria itu mencintainya.
Dan Aluna sangat mencintainya.
Ia benar benar wanita yang sangat beruntung. Terkadang ia ingin sekali meneriakkan pada dunia bahwa Dominick Ivanov adalah miliknya. Namun ia tidak bisa.
Ia tahu seseorang seperti Dominick pasti memiliki penggemar di mana mana. Aluna juga tidak buta akan masa lalu pria itu sebagai player. Ia takut semua itu akan berdampak pada karir yang sudah susah susah ia bangun.
Karena jika masalah dating, tidak peduli siapapun. Pasti pihak perempuan lah yang disalahkan. Seolah jatuh cinta adalah sebuah kesalahan.
Ia banyak belajar dari media tentang itu.
Kemudian teleponnya berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Dominick. Ia mengangkatnya dengan antusias. Pasti Dominick akan mengajaknya.
"Halo..."
"Halo sayang. Sedang apa?"
"Oh, aku sedang tidak apa apa"
"Baiklah. Aku meneleponmu untuk mengabari jika nanti malam aku tidak akan pergi ke apartemenmu. Aku harus menghadiri sebuah pesta dengan Elain"
"Elain?"
"Iya.. Aku mengajaknya karena tidak memiliki pasangan. Aku tidak mau media membobardimu"
"Aluna? kenapa diam saja sayang?"
"Ugh.. Dominick. Aku harus pergi, managerku memanggilku"
"Ah—baiklah. Jaga dirimu"
"Tentu"
"I Love you"
"I love you too"
Aluna mematikan ponselnya. Kemudian mengenggam erat benda pipih itu di tangannya. Mata hijaunya menatap nyalang.
Elain. Lagi lagi perempuan si*lan itu! berapa kali ia harus menganggunya dengan Dominick. Ia selalu diam.
Tapi kali ini ia tidak akan membiarkannya.
......................
Btw kalau yg di miring kan itu berarti percakapan yang diseberang telpon ya
**Minggu Minggu pada ngapain nih?
nanti lagi up nya nunggu rame hehe...
Jangan Lupa vote, like dan komen ya.. Kalau aku lihat antusias kalian jadinya semangat up sehari lebih dari satu chapter..♡´・ᴗ・`♡
Xoxo**.
__ADS_1