Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 14. Manusia Parasit


__ADS_3

Reza kemudian keluar dari kamar tersebut dan berjalan ke kamar tamu. Olivia hanya melihat punggung keduanya yang melewati dirinya.


"Ah sudahlah terserah Mas Reza. Aku harus mengendalikan diri sebelum jatuh cinta terlalu dalam padanya. Ingat Oliv dia menikahi dirimu bukan karena menyukai ataupun mencintaimu. Dia hanya menyelamatkan nama baik diri dan keluarganya di hadapan orang banyak." Olivia mengingatkan diri sendiri.


"Seharusnya kau lebih malu sama Tuhan Mas bukannya pada manusia. Kalau kamu memang benar-benar mencintai Meilin kenapa tidak dia saja yang menggantikan wanitamu yang pergi itu. Mengapa malah memasukkan diriku ke dalam kehidupanmu? Akh, sudahlah mungkin ini sudah jalannya takdir hidupku. Semoga saja hubungan di malam pertama kami tidak membuatku hamil," gumam Olivia lalu menutup pintu kamar.


Dia sudah tidak perduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh dua manusia berlainan jenis itu di dalam kamar tamu.


Di dalam kamar Olivia memainkan ponselnya. Dia ragu antara memberitahu mertuanya ataukah tidak.


"Sudahlah nggak usah, kasihan mama kalau mendengar kabar ini." Olivia meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Dia tidak mungkin mengacaukan kebahagiaan sang mertua yang begitu senang melihat putranya akhirnya menikah.


Hari berganti hari, bulan pun silih berganti. Sejak membawa Meilin pulang ke rumah, Reza memutuskan untuk tidak kembali ke kamarnya dengan Olivia. Pria itu lebih memilih tidur sendirian di kamar tamu. Reza hanya masuk ke dalam kamar saat ingin mengambil pakaian ganti.


Kendati demikian Olivia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Membersihkan rumah, mencuci pakaian Reza dan juga memasak untuk suaminya. Dalam hati berharap agar Reza berubah. Menjadi baik padanya dan menjadi pria hangat, bukan pria yang menatapnya dingin dan cuek seperti dua bulan ini.


"Mas uangku sudah habis tak tersisa sedangkan bahan-bahan di dapur sudah habis," lapor Olivia pada suatu malam saat Reza kembali ke rumah.


Olivia tahu Reza tidak mungkin pulang larut malam seperti ini dari kantor, tetapi pria itu keluyuran dulu sebelum akhirnya pulang ke rumah. Olivia enggan menanyakan karena pasti tidak akan mendapatkan jawaban.


"Kau butuh uang?" tanya Reza.


Olivia mengangguk sambil tersenyum, jarang-jarang Reza mau merespon ucapannya meskipun mereka tinggal berdua dalam satu atap.


"Kalau butuh uang ya kerja! Kau pikir aku Bank berjalan apa?!" bentak Reza hingga membuat Olivia tersentak kaget.


"Tapi Mas aku harus kerja apa? Bukankah uangmu aku gunakan untuk membeli keperluan dapur dan kamar mandi. Itu bukan hanya kebutuhan aku saja loh Mas. Kamu juga makan kok," protes Olivia. Dia tidak pernah menggunakan uang yang Reza berikan sebelumnya untuk kepentingan pribadi. Bahkan dua bulan menikah dengan Reza, Olivia tidak ada membeli satu setel pakaian pun untuk dirinya sendiri.


"Bukan urusanku. Pikir saja sendiri bukankah kamu juga punya otak?!"

__ADS_1


Olivia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.


"Baik," sahutnya.


"Ingat jangan coba-coba lapor sama mama! Atau kau memang ingin jadi pengemis?"


Tanpa menjawab perkataan Reza, Olivia undur ke belakang.


Olivia masuk ke dalam kamar dan mengambil cincin pemberian sang ayah. Cincin itu diberikan oleh ayahnya tanpa sepengetahuan Marisa sehingga Olivia tidak pernah memakai cincin tersebut dan malah menyembunyikannya.


Kini terpaksa Olivia harus menjual cincin tersebut.


"Sepertinya cukup untuk dibelikan bahan-bahan nasi uduk." Olivia berniat untuk menjual nasi uduk keliling lagi sambil mencari lowongan pekerjaan. Kalau dia mencari kerja tanpa jualan mana mungkin perutnya yang lapar akan terisi. Bukankah zaman sekarang sangat sulit mendapatkan pekerjaan di kota hanya dengan berbekal ijasah SMA? Kalaupun diterima kebanyakan tidak bisa langsung bekerja dan akan gajian setelah kerjanya mencapai satu bulan.


Ya Olivia memutuskan untuk menggeluti usaha seperti saat masih bersama sang ibu.


Saat Olivia melihat-lihat cincin di tangan, ponselnya terdengar bergetar. Tanpa berpikir panjang Olivia langsung meraihnya.


"Halo Bu."


"Oliv kirimi ibu uang!"


"Olivia nggak punya uang Bu."


"Bohong, Reza kan kerja masa nggak punya uang."


Olivia menghela nafas berat.


"Mas Reza belum gajian," bohongnya.

__ADS_1


"Masa sih belum? Ini sudah tanggal 2, kan?"


"Iya tapi gajiannya dirapel bulan depan karena perusahaan tempat Mas Reza bekerja mulai bangkrut," ucap Olivia sembarangan.


"Aduh gimana ya? Ibu mau bawa nenek kamu ke dokter nih." Terdengar suara bernada khawatir dari dalam telepon.


"Nenek kenapa Bu?" tanya Olivia panik.


"Penyakit asma nya kambuh. Kalau tidak segera dibawa ke rumah sakit takut tambah parah."


"Memang ibu tidak punya uang tabungan begitu atau hasil jualan?"


"Mana ada Oliv, ibu sudah berhenti jualan."


"Apa? Ibu berhenti jualan? Ibu gimana sih, kalau nggak jualan lagi darimana dapat uang untuk biaya hidup ibu dan nenek?" Olivia gusar sendiri.


"Sejak kamu menikah dengan Reza, Wati dan Tomi yang menjamin biaya hidup ibu dan nenek kamu. Bisanya mereka tuh rutin tiap bulan ngirimin kami uang, tapi bulan ini mungkin lambat. Jadi tolong ya Oliv kirimi ibu uang!"


"Iya, iya. Nanti Oliv coba minta ke Mas Reza. Ibu butuh berapa?"


"500 ribu sekalian."


"Ya sudah saya telepon Mas Reza dulu."


Olivia menutup panggilan telepon dan melihat kembali cincin di tangan kirinya.


"Semoga cukup," ucapnya penuh harap.


"Hah pantas saja Mas Reza suka mengancam ini itu tentang ibu dan nenek. Ternyata mereka makan dari uang mama dan papa. Ibu, ibu! Kenapa kau tidak pernah berubah sih? Kapan berhenti jadi manusia parasit seperti ini?" Olivia mendengus kesal.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2