
Frans segera meminta alamat keberadaan Olivia saat ini pada anak buahnya. Ternyata Olivia sedang ingin berbelanja di pasar. Kejadian hari ini tidak membuat Olivia serta merta berniat untuk menghentikan aktivitasnya menjual nasi uduk keliling sebab kalau sampai berhenti berjualan dirinya bisa saja kelaparan.
Untung saja uang sisa hasil penjualan cincin milik ayahnya dia bawa di dompet sehingga sebelum pulang ke rumah, wanita itu mampir dulu ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan.
"Nona ini Nona Olivia, kan?" tanya Frans berbasa-basi.
"Maaf Anda siapa? Apa kenal saya?"
"Mungkin kita tidak kenal, tapi saya tadi pagi sempat membeli nasi uduk buatan Anda di perusahaan Billist," jelas Frans berbohong padahal tadi pagi dia sama sekali tidak keluar dari ruangannya.
"Oh sorry Mas saya lupa, sebab tadi pagi banyak yang beli, jadi saya lupa wajah Mas."
"Tentu saja Mbak Olivia tidak ingat saya karena saya menyuruh orang lain untuk membeli nasi uduk dan saya menunggu di tempat lain."
"Oh."
"Saya mendengar dari sesama karyawan di perusahaan bahwa tadi jualan Mbak jatuh ke jalan beraspal karena ulah salah satu dari karyawan di perusahaan kami. Untuk itu saya datang kemari karena di utus oleh petinggi perusahaan untuk meminta maaf sekaligus membayar kerugian Mbak Oliva atas jualan Mbak Olivia yang tercecer di jalan beraspal itu." Frans menyodokkan amplop ke tangan Olivia.
"Tidak usah Mas itu bukan salah perusahaan, itu salah saya sendiri. Mas tahu? Karyawan yang yang melakukan semua itu adalah suami saya."
"Oh begitu ya?" Frans pura-pura tidak tahu.
Olivia mengangguk.
"Jadi perusahaan tidak perlu merasa bersalah karena yang menumpahkan jualan saya adalah suami saya sendiri."
"Tapi ini sudah perintah dari CEO kami. Jadi saya harap Mbak Olivia bisa menerima agar saya tidak terkena amarah. Atasan saya tidak suka dengan penolakan." Frans membujuk Olivia agar menerima uang tersebut.
"Maaf tidak bisa. Saya tidak bisa menerima uang yang bukan hak saya," tolak Olivia.
Meskipun wanita itu sangat membutuhkan uang, tetapi Olivia tidak ingin sembarangan menerima uang dari siapapun. Bisa saja dengan menerima uang tersebut akan timbul fitnah di kemudian hari atau bahkan bisa menyengsarakan hidupnya seperti halnya uang-uang yang diterima oleh ibunya dari orang tua Reza. Yang membuat dirinya kini terkekang dalam pernikahan yang tidak sehat.
"Baiklah." akhirnya Frans memasukkan amplop berisi uang itu ke dalam kantong jas nya. kembali.
"Boleh tanya-tanya?"
"Boleh tanya saja Mas, kalau saya tahu pasti saya jawab," sahut Olivia.
"Biasanya tiap harinya Mbak Olivia mengeluarkan modal berapa untuk berjualan?"
"Oh kalau itu tergantung banyaknya dan jenis nasi uduk yang saya buat Mas."
"Kalau tadi pagi kira-kira habis modal berapa?"
__ADS_1
"Kalau untuk nasi uduknya 600 ribu Mas, tapi kalau dengan tahu krispi totalnya 700 ribu."
"Oke kalau begitu besok buat banyaknya seperti tadi pagi ya dan antar ke perusahaan!" pinta Frans sambil memberikan 5 lembar uang seratus ribuan.
"Ini sebagai uang muka, besok setelah nasinya diberikan saya akan berikan sisanya."
"Maaf Mas tidak bisa, saya tidak mungkin berdagang ke sana lagi. Mas sendiri tahukan keributan yang terjadi tadi pagi. Saya malu jika harus ke sana lagi. Tidak tahu harus ditaruh dimana mukaku ini," jelas Olivia sebab dia benar-benar malu karena telah diseret di hadapan orang banyak oleh suaminya sendiri.
"Wah sayang sekali padahal pemimpin perusahaan di sana suka dengan masakan Mbak Olivia," ujar Frans.
"Dan saya sampai tidak jadi makan karena nasi uduk yang saya beli tadi pagi diinginkan oleh atasan saya."
"Bagaimana ya Mas?" Olivia tampak berpikir antara merasa sayang jika menolak orderan dengan takut Reza murka lagi."
"Saya niatnya sekalian untuk membelikan teman-teman di sana, tapi sayangnya Mbak Olivia malah nggak mau."
"Maaf mas bukannya saya tidak mau tapi tidak berani mengantarkan ke sana tapi, kalau memang Mas nya mau mengambil langsung ke rumah boleh-boleh saja atau mungkin kita bisa bertemu di suatu tempat dan saya akan menyerahkan nasi saya di tempat yang Mas tentukan."
"Solusi yang baik jadi besok pagi Mbak Olivia tidak harus mengantar sampai ke depan perusahaan tetapi, sebaiknya menunggu saya di perusahaan ekspedisi yang berdiri sebelum bangunan perusahaan PT. Billist. Bagaimana Mbak Olivia setuju?"
"Baik Mas saya setuju," jawab Olivia.
"Oke saya tunggu sebelum jam 7 di tempat yang sudah kita tentukan tadi."
"Ini uang mukanya ambil dulu, siapa tahu dibutuhkan untuk membeli bahan-bahan." Frans menyodorkan uang lima ratus ribu yang ada di tangannya."
"Baik." Olivia meraih uang tersebut dan memasukkan ke dalam dompet yang ada di dalam tas selempang kecilnya.
"Boleh minta nomor telepon Mas nya? Bukan apa-apa biar saya bisa langsung mengabari jika Mas nya besok belum datang."
"Oke boleh." Frans mengambil kartu nama di dalam dompetnya kemudian menyerahkan kepada Olivia.
"Baik terima kasih."
Frans mengangguk. "Kalau begitu saya pamit, sampai bertemu besok pagi."
Olivia pun mengangguk.
Frans melangkah pergi sedangkan Olivia menghela nafas panjang.
"Semoga semuanya lancar-lancar saja nggak ada gangguan seperti tadi pagi," ucapnya penuh harap.
Olivia pun masuk ke dalam pasar untuk berbelanja bahan-bahan.
__ADS_1
Hampir dua jam wanita itu mengitari pasar dan kini sudah tampak keluar dengan dua kantong kresek di tangannya.
Saat sampai ke jalan raya untuk menunggu angkot, tiba-tiba saja ada seorang anak kecil kira-kira berumur 3 tahun yang berlari di jalanan dengan perempuan setengah tua dan seorang pria setengah baya yang mengejarnya.
"El!" teriak kedua orang yang mengejarnya itu saat melihat anak kecil yang berlari tersebut malah menyebrang ke tengah jalan dan saat itu pula ada mobil kencang yang melintas.
Olivia yang paling dekat jaraknya dengan anak itu langsung melepaskan belanjaannya begitu saja dan berlari mengejar anak kecil itu dan langsung mendekapnya.
Ckiit!
Brak.
Mobil mengerem mendadak, tetapi mengenai punggung Olivia yang membelakangi mobil. Hampir saja Olivia melompat tapi dirinya terlambat.
"Arggh!" Olivia mengerang kesakitan saat rasa sakit menghantam tulang-tulang punggungnya.
"Mbak tidak apa-apa?" tanya pengendara mobil yang langsung turun.
"Kakak tidak apa-apa?" Anak kecil itu berbalik.
Olivia yang berada dalam keadaan setengah sadar tersenyum kemudian tubuhnya oleng dan menyentuh aspalan.
"Kakak!" teriak anak itu dan mengguncang-guncang tubuh Olivia. Namun, Oliva tidak bergeming.
"Kakak bangun!" Anak itu malah menangis.
"Elves? Sudah sini sama Oma biar pak sopir yang membawa tubuh kakak ini ke dalam mobil dan kita antar ke rumah sakit."
Elves mengangguk dan beranjak dari tubuh Olivia.
"Biar saya saja yang bawa Nyonya. Saya yang menabraknya maka saya akan bertanggung jawab," ujar pria pemilik mobil yang tidak sengaja menabrak tubuh Olivia.
Perempuan yang dipanggil Oma oleh Elves itupun mengangguk.
Pria pemilik mobil itu langsung menggendong tubuh Olivia dan membawa masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Pak sopir ikuti mobil itu!" perintah Oma dari Elves dengan menggendong tubuh Olivia ke dalam mobilnya sendiri.
"Baik Nyonya."
Mereka pun mengikuti mobil yang membawa tubuh Olivia menuju rumah sakit.
Bersambung.
__ADS_1