Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 54. Rencana Marta


__ADS_3

Sedangkan Jack William setelah masuk ke dalam mobil langsung mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel tempat acara pernikahan antara Meilin dengan Reza.


"Tuan–" Olivia nampak ragu untuk memulai bicaranya.


"Kenapa? Kau ingin menanyakan soal undangan itu?" tanya Jack mencoba menebak-nebak dan Olivia langsung mengangguk.


"Sebenarnya aku buat itu sebagai antisipasi untuk mempermalukan keluarga Reza dan Meilin jika mereka benar-benar menghinamu sebab feeling-ku mengatakan bahwa mereka akan bertindak kurang ajar terhadap dirimu Olivia."


Olivia hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Jack. Baginya sah-sah saja dan terserah Jack mau berbuat apa sebab laki-laki itu punya kuasa.


"Tapi ternyata undangan itu tidak sia-sia sebab kamu telah menerima lamaranku. Jadi, bagaimana kalau kita benar-benar menikah bulan depan?" tanya Jack sambil mengulas senyuman di bibirnya.


Olivia terbelalak tidak percaya.


"Kalau kamu tidak siap tidak apa-apa. Aku pasti akan menunggu saat kamu benar-benar siap."


Olivia mengangguk lalu diam untuk berpikir sejenak.


"Tuan Jack serius ingin menikahiku?" tanyanya kemudian.


"Iyalah Olivia masa aku bercanda? Tapi lebih bagus kalau bulan depan sih sebab kata Mommy tanggal yang aku masukkan ke dalam undangan itu adalah tanggal baik. Lagi pula Reza dan semuanya akan menganggap kita membual jika tidak benar-benar menikah bulan depan. Namun, semua keputusan ada di tanganmu dan aku akan menerima keputusan apapun yang engkau ambil."


"Kalau begitu saya setuju Tuan. Tuan atur saja semuanya," ucap Olivia sambil menunduk.


"Kau serius?" tanya Jack memastikan.


Olivia hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Jack.


"Olivia!"


"Iya, Tuan?"


"Tatap mataku kalau kau serius! Kau tidak terpaksa, kan? Jika kau terpaksa katakan saja dan aku tidak apa-apa."


"Tidak Tuan saya tidak terpaksa, saya malah senang jika harus menjadi istri dari Tuan Jack."


"Kalau begitu kenapa kamu tidak mau menatap wajahku?"

__ADS_1


Olivia langsung menatap wajah Jack, tetapi tidak lama langsung memalingkan muka.


"Kenapa? Kau tidak suka dengan wajahku? Apa karena wajahku jelek?"


"Tidak Tuan bukan begitu. Tuan tampan kok, tapi saya malu," ucap Olivia sambil menutup wajah dengan kedua tangan sebab pipinya saat ini bersemu merah.


"Benarkah mana tampan dibandingkan Reza?"


"Hmm, lebih tampan siapa ya?" Olivia pura-pura berpikir.


"Lebih tampan Reza ya? Ya sudah katakan saja!"


Olivia tersenyum lalu menjawab, "Tampan Tuan Jack sih, tapi lebih muda dia."


Jack hanya mengangguk-angguk karena apa yang dikatakan Olivia benar adanya.


"Ah, maksud saya lebih dewasa Tuan Jack, maaf." Olivia membenarkan ucapannya agar Jack tidak tersinggung.


"Santai saja Olivia aku sadar diri kok lebih tua dari Reza. Dilihat dari Elves saja sudah kelihatan dan semua orang pasti sudah bisa menebak."


"Tidak apa-apa Tuan daripada muda, tapi pemikirannya tidak dewasa sama sekali lebih baik sama yang lebih tua tapi bisa memahami wanita."


"Tuan mau makan?"


"Ya kita makan dulu sebentar sebelum pulang sebab di pesta pernikahan tadi belum sempat makan."


Olivia hanya menurut saja dan mengekor Jack memasuki pintu masuk restoran.


"Pesan saja apa yang kamu inginkan!" perintah Jack saat mereka sudah duduk di salah satu kursi pengunjung.


Pelayan datang dan menyerahkan buku menu.


"Pesan apa Olivia?" tanya Jack melihat Olivia bingung saat membaca menu yang terdaftar.


"Samakan saja Tuan, saya juga tidak tahu harus memesan makanan yang mana." Sebenarnya Olivia hanya tidak berani saja melihat harga menunya yang mahal-mahal.


Jack mengernyitkan dahi, tetapi kemudian mengangguk.

__ADS_1


"Oke aku pesankan makanan favoritku," ucap Jack dan Olivia hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Setelah ini kita kemana dulu?" tanya Jack saat mereka berdua sedang menikmati hidangan yang dipesan.


"Pulang, memang mau ke mana lagi?"


"Jalan-jalan kek, atau belanja keperluanmu?"


"Tidak perlu Tuan saya tidak–"


"Saya yang traktir," potong Jack.


Olivia tersenyum lalu menggeleng.


"Nanti saja ya kalau kita bareng Elves," tolak Olivia. Wanita itu kepikiran anak asuhnya jika meninggalkan terlalu lama sedangkan kegiatan yang akan dilakukannya bersama Jack tidak penting-penting amat. Dia tidak tahu saja sebenarnya Jack hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja seharian ini tanpa gangguan putranya.


"Hmm, baiklah. Kalau begitu segera habiskan menunya dan kita akan menjemput Elves!"


"Hah! Kita jadi jalan?" tanya Olivia dengan ekspresi kaget.


Jack mengangguk lalu menunduk. Pria itu lalu fokus menyantap makanannya.


Di tempat lain, saat mempelai sudah turun dari pelaminan, Marta mencari tempat sepi dari para tamu untuk menelpon seseorang.


"Aku punya tugas lagi untukmu dan kalau sukses aku kasih hadiah lagi!"


"Waw tugas apakah gerangan Bu Bos?" tanya pria dibalik telepon.


"Lakukan hal yang sama pada Olivia seperti yang pernah kau lakukan dan kali ini jangan lupa direkam! Buat rekaman itu seolah-olah kalian saling menginginkan dan Olivia tidak terpaksa!"


"Beres bos," jawab pria itu begitu antusias.


"Baik, kutunggu kabar darimu dan lakukan dengan penuh kehati-hatian agar pria yang menjadi pelindungnya tidak menyangka bahwa ini hanya sebuah permainan kita!"


"Ibu bisa percayakan ini semua padaku."


"Bagus, kerjakanlah! Setelah membuahkan hasil baru aku akan kasih hadiah untukmu!"

__ADS_1


"Siap Bu." Pria tersebut tersenyum licik.


Bersambung.


__ADS_2