
"Sari bisa antar kami?" tanya Olivia pada gadis yang memberikan informasi itu.
"Bisa Kak," ucap gadis itu sambil mengangguk.
"Oke ayo kamu ikut mobil kami, atau kamu bawa kendaraan sendiri?" tanya Jack.
Kini gadis itu menggeleng.
"Yasudah ayo cepat!"
Gadis itu mengangguk sekali lagi lalu bergegas keluar dari kantor polisi mengikuti langkah Jack dan Olivia yang keluar terlebih dulu.
"Sari sekarang Koni ada dimana?" tanya Olivia setelah ketiganya duduk di dalam mobil.
"Di rumah sakit Kak, para guru langsung membawa tubuh Koni saat terjatuh."
"Kamu tahu keadaannya?"
"Saya tidak bisa memastikan Kak karena diperintah langsung untuk mencari Tante Marta. Sedari tadi pihak sekolah menelpon Kak Meilin, tetapi tidak diangkat. Namun, dengar-dengar dari telepon teman tadi, Koni kritis."
"Ya Allah semoga Koni selamat," ucap Olivia sambil mengusap wajahnya gusar.
Di belakang mobil mereka menyusul Marta dan Meilin yang diantarkan oleh mobil kepolisian sedangkan ayah dari Koni sendiri langsung meluncur dengan sepeda motornya saat Sari memberitahukan kabar buruk itu.
Setengah jam di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
"Pasien atas nama Koni Sudrajat ada di ruangan mana ya suster?" tanya Olivia panik.
"Ada di ruangan ICU, disebelah sana Mbak!" tunjuk wanita yang bekerja di bagian administrasi rumah sakit itu.
Buru-buru Olivia melangkah ke arah ruangan tersebut. Ternyata di dalam sudah ada ayah dari Koni.
"Innalilahi wainnna ilaihi roji'un," ucap pria itu sambil menutup wajah Koni dengan kain jarik membuat Olivia yang hendak masuk ke dalam ruangan terpaku di tempat melihat wajah Koni sudah pucat pasi.
__ADS_1
"Apa! Koni sudah meninggal?" Olivia menutup mulut karena syok. Rasanya dia tidak ingin mempercayai ini semua. Namun, semua sudah terpampang jelas di depan mata.
"Tidak! Tidak mungkin Koni meninggal." Marta menggeleng tidak percaya mendengar perkataan Olivia lalu dengan langkah tergesa-gesa dia berjalan cepat ke arah pintu dan membentur tubuh Olivia dengan kasar.
"Minggir! Kau jangan mengarang cerita ya!" bentak Marta lalu berlari ke arah putrinya terbaring.
"Pa putri kita tidak apa-apa, kan?" Marta berdiri di samping sang suami yang hanya mengeluarkan air mata tanpa bersuara. Pria ini bahkan tidak perduli dan tidak menjawab pertanyaan dari Marta.
"Pa!" seru Marta. Namun, karena tidak ada reflek dari suaminya dia langsung menata intens putrinya yang sudah terbujur kaku.
"Koni bangun Sayang! Ini hanya lelucon kan? Kamu sebenarnya masih hidup, kan?" Marta membelai pipi putrinya.
"Sayang bangun, hiks, hiks, hiks!" Akhirnya Marta tidak kuasa menahan air matanya.
"Koni bangun Nak!" seru Marta sambil mengguncang-guncang tubuh putrinya dengan keras sedangkan sang suami yang berada di sebelahnya seperti mayat hidup yang memandang putrinya tanpa berkedip sedikitpun dan sama sekali tidak menghiraukan keadaan.
"Koni bangun! Bangun! Huhuhu." Kali ini Marta menangis kencang.
"Sudah Bu, putri ibu sudah tiada. Jadi, jangan menyakiti tubuhnya dengan mengguncang-guncang kasar tubuh Putri Ibu," saran seorang perawat.
"Istighfar Bu semua sudah rencana dari Tuhan. Kami hanya berusaha dan Dia-lah yang menentukan mati dan hidupnya seseorang."
"Saya tidak butuh ceramah! Arrgh!" Marta berteriak-teriak seperti orang gila.
"Bu sabar Bu!" Meilin mencoba menenangkan ibunya dengan cara mengusap-usap punggung wanita setengah baya itu.
"Kamu juga tidak becus jaga adik kamu!" sentak Marta lalu menghempaskan tangan Meilin dengan kasar.
Olivia yang berdiri di depan pintu hanya menggeleng melihat tingkah laku Marta yang sama sekali tidak berubah. Selalu menyalahkan orang lain terhadap keadaan yang menimpa dirinya. Andai saja dia mau berkaca dan pandai bersyukur maka semua ini tidak akan pernah bisa terjadi.
Ya, jika Marta bisa memahami keadaan maka dia tidak akan menyalahkan Marisa seratus persen karena telah mengambil suami dari tangannya.
Seharusnya dia bisa introspeksi diri kalau yang membuat suaminya berselingkuh adalah karena perhatian Marta yang kurang dan selalu meremehkan Devindra yang taraf pekerjaannya. berada di bawah Marta. Meskipun bukan berarti membenarkan tingkah Marisa yang tentu saja juga salah karena telah merebut sesuatu yang sudah menjadi hak milik orang lain.
__ADS_1
Kalau Marta juga pandai bersyukur, hatinya tidak akan tertutup debu-debu kebencian karena sebenarnya dia sudah mendapatkan suami yang jauh lebih baik daripada Devindra. Baik dari segi pekerjaan, ketampanan maupun kesetiaan. Harusnya dia mengambil hikmahnya saja daripada harus memikirkan balas dendam terhadap Olivia yang tidak tahu menahu dengan masa lalu kedua orang tuanya.
"Apa kamu lihat-lihat! Senang kamu hah melihat saya mendapatkan musibah? Senang kamu melihat Koni meninggal?" Marta menatap tajam ke arah Olivia.
"Tidak Bu, itu tidak benar. Saya juga sedih atas kepergian Koni yang mendadak seperti ini," ucap Olivia sambil menghapus air matanya. Dirinya memang tidak ada pertalian darah seperti dengan Meilin. Namun, Koni yang Olivia kenal adalah anak yang baik bahkan dia lebih menghargai Olivia dibandingkan dengan Meilin kakaknya sendiri. Sayangnya keduanya jarang bertemu.
"Munafik! Pergi kamu!" Marta berjalan cepat ke arah Olivia lalu tanpa terduga wanita itu langsung mendorong tubuh Olivia dengan kasar. Untung saja di belakang Olivia berdiri Jack sehingga saat Olivia akan jatuh ke belakang tertahan pada tubuh kekar pria itu.
"Jangan macam-macam. Ada polisi di luar!" Jack memperingatkan.
"Kau juga harus mati! Dasar anak pelakor!" teriak Marta hendak memukul Olivia.
"Hentikan! Jangan pernah menyalahkan orang lain!" Suaminya tiba-tiba berbalik dan bersuara membuat Marta yang masih ingin mengamuk pada Olivia langsung menoleh.
"Papa?"
"Kau yang salah!"
"Papa membela wanita ini?" tanya Marta. Matanya terbelalak tak percaya.
"Kematian Koni tidak ada sangkut pautnya dengan wanita ini tapi semata-mata akibat keteledoran dari mama sendiri. Dengan pemikiran balas dendam yang memenuhi seluruh otak mama, mama melewatkan perhatian terhadap putrimu sendiri sehingga Koni sampai seperti ini. Seharusnya yang terbujur kaku di ranjang ini bukan Koni, tapi mama sehingga mama yang belum bisa move on terhadap mantan suami mama itu bisa menyusulnya di sana!"
"Apa maksud papa?"
"Karena sudah tidak ada Koni lagi diantara kita berarti saat ini juga papa talak mama!"
seru pria itu dengan ekspresi murka.
"Papa tidak bisa begini dong! Mentang-mentang mama masuk penjara papa memperlakukan mama seperti ini. Ini hari berkabung Pa, kita kehilangan Koni. Apa papa tidak bisa menahan diri? Koni pasti sedih mendengar keputusan papa."
"Koni akan lebih sedih kalau melihat papa masih bertahan dengan makhluk jahat seperti mama. Pergilah biar saya urus pemakaman putriku sendiri!"
"Puas kau Olivia puas?!" bentak Marta.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pergi saja demi kebaikanmu," ajak Jack sambil menggenggam tangan Olivia dan membawa wanita itu keluar dari rumah sakit.
Bersambung.