
Satu jam setelah kepergian Jack William dan keluarganya ada seorang wanita yang datang dan mengabarkan pada Olivia bahwa dirinya itu datang ke rumah sakit ini karena diutus oleh Jack William untuk menjaga diri Olivia.
Tidak disangka perempuan separuh baya itu begitu supel sehingga Olivia tidak merasa kesepian lagi di dalam kamar rawat rumah sakit.
"Sekarang sudah jam berapa Bu?" tanya Olivia mengingat dirinya sudah terbaring lama di atas ranjang rumah sakit.
"Jam 6 sore Nona," sahut pembantu dari keluarga Jack itu.
"Sudah malam berarti Bu?" Olivia mengedarkan pandangannya ke arah pintu kamar seperti mencari keberadaan seseorang.
"Maaf Nona, Tuan Jack berpesan pada saya agar mengatakan pada Nona bahwa beliau tidak bisa kembali ke rumah sakit malam ini. Mungkin besok pagi dia akan kembali bersama Den Elves untuk menjenguk Nona."
"Tidak apa-apa Bu biarkan saja mereka beristirahat di rumah. Saya juga tidak mau kalau Elves kembali ke rumah sakit ini lagi. Anak kecil rentan terkena penyakit apabila terkena angin malam dan juga kalau sampai harus menginap di rumah sakit."
"Oh maaf Nona saya pikir Nona melihat ke arah pintu karena menunggu kedatangan mereka."
"Tidak Bu Saya hanya ingin melihat suami saya kenapa dia belum datang juga ya Bu?"
"Nona Olivia sudah punya suami?"
"Iya Bu, tadi kata Tuan Jack sudah memberitahu Mas Reza, tapi sampai semalam ini kenapa belum menjengukku juga? Apa dia masih marah padaku?"
"Sudahlah Nona. Nona Olivia tidak perlu berpikir macam-macam. Mungkin saja suami Nona masih dalam perjalanan, masih sibuk saat ini, atau baru pulang dari kerja. Jadi tidak bisa langsung ke sini, mungkin masih membersihkan badan dulu atau masih shalat dan makan," ujar si bibi menenangkan.
"Mungkin saja Bu. Semoga dia datang malam ini dan bisa menemani saya."
Si Bibi hanya mengangguk.
"Oh ya Nona, makan dulu," ujar bibi itu melihat seorang pegawai rumah sakit yang mengantarkan makan malam pada Olivia.
"Ay iya Bu, terima kasih." Olivia mengulurkan tangan hendak mengambil kotak makanan yang sudah berada di tangan si bibi.
"Biar ibu saja yang menyuapi Non." Si bibi menolak untuk memberikan kotak makanan itu ke tangan Olivia.
"Tuan dan nyonya besar berpesan agar Nona Olivia tidak melakukan aktivitas sendiri. Jadi keberadaan saya di sini harus membantu segala keperluan Nona Olivia termasuk untuk menyuapi Nona Olivia juga."
"Tapi saya bisa melakukannya sendiri Bu, penyakit saya tidak separah yang mereka kira. Saya masih bisa menggerakkan tangan saya dan patah tulang di punggung saya sepertinya tidak parah-parah amat."
"Oh tidak bisa Non berarti saya menyalahi perintah. Nanti saya bisa dipecat oleh Tuan Jack."
"Meskipun saya sendiri yang minta Bu?"
Perempuan setengah baya itu mengangguk.
"Kalau ketahuan Nyonya Melanie tambah parah, saya bisa dikritik tujuh hari tujuh malam," ujarnya kemudian.
Olivia mengernyit.
"Sampai separah itu Bu?"
__ADS_1
"Ya, kalau Nyonya Melanie itu berlebihan Nona. Sangat protektif. Den Elves jatuh sedikit dan tergores kecil saja, suster yang menjaganya diceramahi siang hari siang malam. Makanya tidak ada yang betah mengasuh Den Elves karena dia anaknya, mohon maaf ya Non, sangat manja dan bandel. Siapapun yang mengasuh Den Elvis pasti terkena teguran oleh beliau."
Olivia mengangguk.
"Jadi Elves sekarang tidak ada yang mengasuh?"
"Tidak ada Nona, kemana-mana dia bersama dengan Nyonya."
"Mommy-nya kemana?"
"Sudah meninggal 3 tahun yang lalu Nona saat melahirkan Den Elves."
"Begitu ya Bu, kasihan sekali Elves tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Kenapa Tuan Jack tidak mencarikan ibu pengganti saja?"
"Itu dia Nona, sepertinya Tuan Jack masih belum bisa move on dari Nyonya Dianaz, mendiang istrinya itu."
Olivia menghela nafas. "Tuan Jack benar-benar pria yang setia ya Bu. Nyonya Dianaz sudah tiada pun cintanya masih utuh untuknya sementara pria yang lain meskipun sudah punya istri masih berselingkuh dengan wanita lain." Rasa bangga dan rasa sedih bercampur aduk di dalam hati Olivia. Bangga terhadap pria yang baru ditemuinya dan sedih mengingat nasibnya sendiri.
Bahkan saat dirinya sakit seperti ini pun Reza tidak mau menjenguk dirinya.
"Mungkin dia masih marah padaku," batin Olivia.
"Nyonya Dianaz pasti cantik ya Bu?"
Si bibi mengangguk. "Aku kira Tuan Jack pasti menyukaimu Nona Olivia, tapi sayangnya kau sudah bersuami. Hah, tapi itu lebih baik daripada kau hanya dijadikan pengobat rindu pada almarhumah Nyonya Dianaz mengingat wajahmu yang begitu mirip dengannya."
"Bu! Ibu kok jadi melamun?" tegur Olivia melihat wanita di hadapannya tiba-tiba wajahnya jadi melow.
"Ah tidak ada Nona. Sudah Nona ayo makan! Takutnya Nyonya Melanie ngecek ke sini dan dia tahu Nona belum makan."
Olivia mengangguk pasrah dan menuruti keinginan pembantu Jack William itu untuk menerima suapan demi suapan.
Olivia melirik si bibi di sela-sela makannya.
"Kenapa Nona menatapku seperti itu?" tanya si bibi yang penasaran dengan lirikan Olivia.
"Ah tidak, Olivia tidak menyangka saja bahwa ibu sebaik ini." Olivia merasakan seperti punya ibu yang perhatian saat ini meskipun wanita setengah baya yang duduk di hadapannya kini bukanlah ibu kandungnya. Melihat dari sikapnya wanita itu begitu tulus meskipun semua yang wanita itu lakukan hanyalah berdasarkan perintah.
"Ah biasa saja Nona."
Olivia mengangguk.
"Sebaiknya Nona istirahat saja," saran bibi setelah Olivia menghabiskan makanannya dan meneguk segelas air putih.
"Tidak Bu, Olivia belum mengantuk mending Ibu saja yang istirahat. Ibu pasti capek setelah seharian mengerjakan pekerjaan rumah dan ditambah lagi harus menjaga Olivia."
"Saya sudah terbiasa kerja keras tiap hari jadi pekerjaan seperti ini hanyalah hal kecil bagi saya." Padahal sudah diwanti-wanti oleh majikannya jangan sampai tidur sebelum Olivia tidur. Apalagi ini belum terlalu malam, masih setengah 7.
"Bu tolong ambilkan ponsel di dalam tas saya!"
__ADS_1
"Yang itu Non?" Bibi menunjuk tas yang tergeletak di samping kiri tubuh Olivia tepat di kakinya.
"Iya Bu."
Wanita itupun mengambil tas dan dan mengeluarkan ponsel Olivia.
"Benar Nona bisa menggerakkan tangan sendiri dan tidak sakit?" Bibi merasa ragu untuk memberikan ponsel ke tangan Olivia.
"Iya Bu, kalau dibiarkan diam terus nanti malah kaku."
"Baiklah." Wanita itu menyerahkan ponsel ke tangan Olivia sebab takut yang ingin dibicaraka Olivia adalah privasi.
"Aku keluar dulu ya Non, mau mencari makan dulu."
"Astaga jadi ibu sendiri belum makan," ujar Olivia baru menyadari akan hal itu.
"Iya Non, sekalian shalat Maghrib, udah mepet nih dengan Isya'."
"Iya Bu, buruan sana entar malah telat lagi."
Wanita setengah baya itu mengangguk dan keluar dari ruang rawat Olivia.
Olivia segera menelpon Reza.
Ada senyum yang mengembang di bibir Olivia tatkala panggilan teleponnya diangkat. Dia berpikir pasti amarah Reza sudah mereda. Semoga saja.
"Halo."
Deg.
Darah Olivia berdesir seketika tatkala menyadari pemilik suara dibalik telepon itu.
Meilin.
"Dimana Mas Reza, kenapa malah kau yang mengangkat teleponku?"
"Dimana ya?"
"Meilin hentikan mendekati Mas Reza!"
"Kau mau tahu aku ada dimana? Aku berada dikamarmu, hahaha." Terdengar tawa renyah dari Meilin.
"Sayang mandinya sudah apa belum?" teriak Meilin tanpa memutuskan sambungan telepon.
"Belum sayang tunggu sebentar ya, setelah ini aku masakin kamu."
"Mas Reza?" Olivia mengepalkan tangannya.
"Kalian ya benar-benar membuatku geram." Olivia langsung menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
Bersambung.