Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 38. Baby Sister Atau Nyonya? (2)


__ADS_3

"Habis makan kau langsung istirahat saja," saran Jack sebab tadi Olivia mengatakan kurang sehat.


"Ya Tuan, tapi Elves?"


"Kamu tenang saja, Elves ada mommy dan juga saya yang akan menjaganya."


Olivia mengangguk. Elves pun ikut mengangguk.


Sehabis makan Olivia kembali ke kamarnya dan Elves diajak Jack kembali ke kamar milk daddy-nya. Jack tidak mau Elves mengganggu tidur Olivia jika dibiarkan dekat dengan wanita itu malam ini.


"Memang kenapa kalau Elves kembali ke kamar mommy?"


"Nanti Mommy tidak bisa istirahat, dan kalau sudah begini mommy bisa sakit. Kamu mau mommy sakit?"


Anak kecil itu menggeleng.


"Ya sudah kalau mau tidur, tidur sama daddy saja."


Elves menggeleng.


"Memang kenapa?"


"Elves tidak mengantuk, biasanya kalau begini mommy Olivia akan membacakan dongeng untukku, tapi sayangnya mommy tidak bisa diganggu." Elves cemberut.


"Ya sudah ambil buku bacaannya sana! Biar daddy yang akan bacakan."


"Serius daddy?" Elves terlihat antusias.


"Iya, sana buruan ambil!"


Elves mengangguk lalu berlari ke kamarnya sendiri.


Beberapa saat kemudian Elves kembali dengan buku berukuran besar di tangannya.


"Sekarang Elves berbaring biar daddy yang baca!" Jack meraih buku bacaan di tangan Elves.


Anak itu pun melakukan apa yang diperintahkan oleh sang daddy.


Jack William lalu membacakan dongeng si Kancil Mencuri Timun untuk putranya. Namun, tidak ada tanda-tanda mengantuk juga dari putranya.


"Baik daddy baca yang lainnnya saja." Jack pun membuka lembaran buku berikutnya dan kali ini dia membaca dongeng Abunawas.


"Astaga kau belum tidur juga," keluh Jack melihat Elves bukannya mengantuk malah matanya masih melek saja.


"Satu kali lagi Dad!" pintanya.


"Baiklah." Jack pun melanjutkan cerita Abunawas. Elves tertawa-tawa mendengar cerita yang dibacakan Jack.


"Sepertinya aku salah baca," gumam Jack melihat putranya malah antusias. Bagaimana mungkin Elves bisa mengantuk sebab dirinya telah membacakan cerita komedi yang semakin membuat anak itu bertambah antusias.


"Sudah sekarang tidurlah sebab sudah malam!" perintah Jack dan Elves mencoba memejamkan matanya begitupun dengan Jack.

__ADS_1


Malam sudah semakin larut dan Jack sudah terbuai di alam mimpi sedangkan Elves sendiri tampak menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Entah mengapa semalaman anak itu tidak biasa tidur.


"Elves, kamu belum tidur?" Jack terbangun akibat merasakan gerakan Elves pada ranjang.


"Nggak bisa tidur Dad." Anak itu merengek sambil meneteskan air mata.


"Ya sudah jangan nangis, daddy temani saja ya!"


Elves mengangguk kemudian memeluk sang daddy dengan erat. Jack pun membelai kepala putranya dan sekali-kali mengusap punggung putranya, berharap dengan melakukan hal seperti itu bisa membuat Elves nyaman dan akhirnya tertidur pulas.


Elves pun memejamkan mata begitu pun Jack. Mereka berdua memejamkan mata dengan posisi saling berpelukan.


Hal yang sama terjadi lagi, sang daddy begitu cepat larut dalam kantuk sedangkan putranya masih tidak bisa tidur.


Jack hendak mengubah posisi, dan saat itu tersadar bahwa Elves dalam pelukannya belum tidur juga.


"Ya ampun sayang, kau belum tidur juga?" Jack menggaruk kepalanya bingung.


"Elves tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk mommy," anak itu berkata dengan bersungut-sungut.


"Hufffth!" Jack menghela nafas panjang. Sepertinya dia baru menyadari bahwa sang putra sudah bergantung kepada Olivia.


"Ya sudah, kalau begitu daddy antar kamu ke kamar mommy saja."


Anak itu mengangguk dan Jack langsung menggendong tubuh Elves.


"Olivia buka pintunya!"


"Olivia!"


"Iya Tuan sebentar." Olivia yang masih mengantuk turun dari atas ranjang dan berjalan gontai ke arah pintu sambil mengucek matanya.


"Ada apa Tuan?" tanya Olivia setelah membuka pintu kamar. Namun, sebelum Jack menjawab Olivia sudah terlebih dulu melihat Elves.


"Kenapa dengan Elves Tuan?" Raut wajah Olivia terlihat khawatir. Dia takut terjadi hal buruk pada anak asuhnya.


"Tidak apa-apa hanya saja sampai sekarang dia belum tidur juga."


Olivia melirik jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.


"Ya ampun Tuan kenapa baru diantar sekarang? Tadi jam 12 saya mengecek Elves di kamarnya, tetapi karena tidak ada saya kembali lagi ke kamar ini. Saya pikir Elves sudah tidur bersama Tuan." Olivia meraih tubuh Elves dalam gendongan Jack.


"Tuh, kan Dad."


"Sayangnya yang tidur itu saya bukan dia. Sudah kamu tidurkan dia dan saya harus kembali ke kamar!" Jack berbalik dan Olivia membawa tubuh Elves ke atas ranjang.


"Sekarang tidur ya, kamu bisa sakit kalau kurang istirahat, kau juga baru pulih dari sakitmu."


Elves mengangguk, memeluk tubuh Olivia lalu memejamkan mata. Entah karena sudah mengantuk sebab sudah hampir semalaman tidak bisa tidur atau bahkan nyaman dalam dekapan Olivia.


"Padahal mudah kalau menidurkan Elves." Olivia membelai rambut Elves lalu memejamkan mata kembali.

__ADS_1


Esok pagi, Jack memanggil Olivia. Pria itu memerintahkan Olivia untuk menemani Elves berbelanja pakaian.


"Kapan Tuan?"


"Nanti saja setelah Elves bangun. Kasihan dia kalau harus dibangunkan sekarang. Biar nanti saya akan menyuruh sopir untuk menjemputnya kalian."


"Baik Tuan, tapi tolong kabari terlebih dahulu agar saat sopir belum tiba kami sudah bersiap-siap."


"Oke tenang saja, aku pasti menghubungimu."


Olivia mengangguk dan Jack pamit pergi ke kantor.


Siang hari sebelum jam makan siang kantor, Jack mengutus sopirnya untuk menjemput Elves dan Olivia berbelanja.


"Kita ke kantor daddy dulu ya Pak sopir!" pinta Elves.


"Baik Den." Sopir mengarahkan mobilnya menuju perusahaan milik sang daddy.


"Selamat siang Den, mau bertemu Daddy?" sapa seorang karyawan.


"Iya Pak. Boleh antar kami?"


"Oh oke Den, mari saya antar!"


"Ayo Mommy!" Elves menggenggam tangan Olivia dan mengikuti langkah karyawan tadi menuju lift.


"Mommy?" tanya karyawan lain sambil memandang tak berkedip ke arah Olivia sebab Elves memanggilnya dengan sebutan Mommy.


"Bukankah Nyonya Dianaz sudah meninggal ya?" tanya karyawan lain.


"Tapi dia kok Wajahnya sangat mirip sekali," timpal yang lain.


"Dia itu Olivia baby sister Elves," jelas Frans yang kebetulan lewat di sisi mereka.


"Baby sister atau Nyonya sih? Kok saya lihat wanita yang bersama Den Elves cocok jadi ibunya."


Frans menggeleng. "Dia sudah punya suami, tuh suaminya!" Frans melirik ke arah Reza yang tampak menuruni tangga.


"Oh iya ya, saya lupa. Dia kan penjual nasi uduk itu ya? Yang diserang Reza karena dianggap memalukan."


"Tepat sekali," ujar Frans lalu meninggalkan para karyawan yang memungkinkan masih menghibah.


"Wah Cantik sekali dia, apa dia sudah bercerai dengan Reza ya?"


"Bodoh kalau Reza sampai meninggalkan wanita secantik dia, udah gitu pinter cari duit dan enggan gengsian."


"Iya zaman sekarang susah loh cari wanita yang seperti itu."


"Kalau sampai Tuan Jack menyukai Olivia ini dan menikahinya, nyaho si Reza."


"Dasar! Ternyata bukan cuma kaum wanita yang suka berghibah tapi pria pun," desis Franz mendengar bisik-bisik dari karyawan tadi meskipun sudah tidak jelas apa yang dibicarakan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2