Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 28. Ingin Mommy


__ADS_3

"Minum dulu!" Jack William menyodorkan segelas air putih ke mulut Olivia.


"Saya bisa minum sendiri Tuan," tolak Olivia. Bagaimana pun dia merasa pantas mendapatkan perhatian yang lebih dari Jack William karena dirinya sudah bersuami.


"Heh, baiklah." Jack William menyerahkan gelas ke tangan Olivia.


"Hati-hati," ucapnya.


Olivia hanya mengangguk lalu meneguk air dalam gelas. Setelah kosong Jack William lalu mengambil gelas itu kembali dari tangan Olivia.


"Tidurlah, kau harus banyak-banyak beristirahat!"


Olivia mengangguk, menghela nafas lalu memejamkan mata.


Jack William duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Pria itu terlihat serius dengan ponselnya.


"Tuan Jack nggak lelah ya mainin ponsel sedari tadi," gumam Olivia.


"Aku mengecek pekerjaan lewat handphone, kau belum tidur?"


Olivia menggeleng.


"Kenapa?"


"Belum mengantuk."


"Ada yang dipikirkan?"


Olivia menggeleng padahal dirinya memang memikirkan kejadian saat menelpon Reza tadi di mana yang menerima adalah Meilin.


"Perlu saya temani bicara?" Jack William menawarkan diri.


"Tidak perlu, Tuan kerjakan saja pekerjaan Tuan. Saya akan berusaha untuk tidur."


Jack William mengangguk kemudian beralih menatap layar ponselnya kembali. Pria itu terlihat fokus mengetikkan sesuatu di sana.


Jam 8 malam pembantu Jack William kembali. Wanita itu kaget ketika melihat ada majikannya di sana.


"Ada sesuatu yang terjadi sama Non Olivia Tuan?" Perempuan itu panik takut terjadi sesuatu pada oli biasa ditinggal pergi oleh dirinya.


"Bibi darimana saja?"


"Dari shalat terus makan Tuan. Non Olivia tidak kenapa-kenapa kan?"


"Hmm."


Jawaban Jack William sungguh tidak membuat pembantunya tenang. Dia lalu berjalan ke arah ranjang dan memeriksa keadaan Olivia untuk memastikan.


"Saya tidak apa-apa Bu."


Jawaban Olivia membuat perempuan itu kaget, tetapi juga bernafas lega.


"Kau belum tidur Non?"


"Tidak Bu, belum mengantuk. Ini masih dalam usaha tidur dengan cara memejamkan mata. Kayaknya dari tadi rasa ngantuk tidak keluar."


"Non Olivia ada-ada saja."


"Bibi tidurlah duluan," bisik Olivia.

__ADS_1


"Mana boleh Non, ibu tidur duluan sebelum Nona Olivia tidur. Tugas ibu di sini kan untuk menjaga Non Olivia? Kalau ketahuan Tuan Jack ibu bisa dipecat."


"Ibu tenang saja ibu tidurlah duluan. Saya tahu ibu lelah setelah seharian habis bekerja. Tenanglah Olivia akan pura-pura tertidur agar Tuhan Jack tidak tahu kalau Olivia sebenarnya belum tidur," ide Olivia. Dia kasihan melihat wajah wanita yang ada didepannya saat ini tampak lelah.


"Beneran Non?" tanya si bibi memastikan.


"Iya Bi."


"Dia sudah tidur Bik?" tanya Jack William sambil menutup ponselnya lalu beralih memandang ke arah Olivia.


"Iya Tuan sudah."


"Ya sudah kalau begitu bibi juga tidur."


Wanita separuh baya itu mengangguk lalu menghamparkan karpet di lantai lalu berbaring di atasnya.


Jack William memeriksa Elves dan juga Olivia. Melihat keduanya sudah tertidur pulas Jack William kembali ke sofa dan membaringkannya tubuhnya di atas kursi empuk itu.


Tidak membutuhkan waktu lama pria itu langsung terlelap tidur karena memang seharian lelah bekerja ditambah syok saat mendengar kabar ada wanita telah masuk rumah sakit gara-gara Elves putranya.


Benar kata Elves, Jack William saat tertidur memang mendengkur keras sehingga semakin membuat Olivia tidak bisa tidur karena berisik.


Bahkan pria itu sekarang malah terbatuk. Pria itu terbangun kemudian mencari air putih.


"Itu Tuan air botol mineralnya ada di samping ibu," petunjuk Olivia kepada pembantu Jack William yang sekarang sudah tertidur pulas.


"Oh iya terima kasih," ucap Jack William sambil berjalan ke arah pembantunya lalu meraih satu botol air mineral dan membawanya kembali ke atas sofa.


Pria itu meneguk air sampai tenggorokannya berbunyi seperti orang yang sudah sangat kehausan.


"Maaf mengganggu tidurmu kamu terbangun karena batuk atau tidurku yang mengorok tadi?"


"Tuan bisa tahu kalau Tuan tadi tidur dengan mengorok?" Olivia tidak habis mikir mengapa pria tersebut bisa merasakan apa yang dilakukannya saat tidur.


"Oh itu? Jelaslah saya tahu karena memang itu kebiasaan buruk saya saat tidur."


Olivia mengangguk.


"Coba Tuan tidur dengan posisi miring, siapa tahu bisa mengurangi kebiasaan buruk Tuan itu."


"Ya, saranmu bisa diterima."


Olivia mengangguk lalu memejamkan mata sedangkanJack William kembali membaringkan tubuhnya dan kali ini mencoba tidur dengan posisi miring.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Olivia. Semenjak mengubah posisi tidurnya Jack William tidak mendengkur keras seperti sebelumnya walaupun memang masih mendukung, tetapi suaranya lebih halus dan jarang.


"Sepertinya dia berhasil." Olivia mengeluh mengapa dirinya tidak bisa tidur semalaman ini.


"Aku tidak insomnia, kan?" dia menggelengkan kepala berharap apa yang diduganya itu tidak benar.


Esok menjelang, semua orang sudah bangun dari tidurnya sedangkan Olivia bahkan belum tidur 5 menit pun sejak semalam.


"Selamat pagi!" sapa bibi pada semua orang.


"Selamat pagi." Elves menjawab sapaan bibi dengan sapaan juga.


"Selamat pagi Den Elves, bagaimana tidurnya semalam?"


"Baik Bik."

__ADS_1


"Selamat pagi Bik, saya dan Elves harus balik ke rumah sekarang juga. Bibi tolong jaga Olivia ya!"


"Beres Tuan."


"Ayo Elves kita pulang!" ajak Jack William.


Anak kecil itu menggeleng.


"Ayo dong kita sekarang kembali ke rumah. Daddy kan harus segera berangkat ke kantor."


"Yang ke kantor kan Daddy bukan Elves. Jadi Elves di sini aja."


"Ngapain sih di sini terus? Nanti Kak Olivia juga bakal nemenin Elves tiap hari."


"Ah Daddy pasti bohong."


"Nggak, nggak bakal bohong."


"Janji?"


"Janji, kalau tidak percaya tanyakan sendiri pada Kak Olivia."


Sontak saja Elves langsung menoleh pada Olivia. Anak kecil itu tidak berkata apa-apa, tetapi dari sorot matanya sudah mewakilkan bahwa dia meminta penjelasan dari Olivia.


Olivia juga tidak berkata apa-apa melainkan mengangguk saja.


"Beneran Kak?" tanya Elves antusias dengan mata yang berkaca-kaca. Anak itu terharu jika apa yang dikatakan Daddy-nya benar.


"Iya nanti kalau kakak sudah sembuh total kakak akan menjadi baby sister Elves," jawab Olivia dengan raut wajah yang sumringah.


"Jadi baby sister ya?" Elves malah murung.


"Iya, tapi kenapa Elves sedih begitu? Tidak senang kalau kakak yang jadi baby sister Elves?" tanya Olivia tidak mengerti.


"Baby suster itu nggak bagus, paling sebentar sudah ninggalin Elves." Elves cemberut.


"Terus Elves maunya apa?" tanya Jack William tidak paham dengan keinginan puteranya itu.


"Elves pengen Kak Olivia jadi Mommy bukan baby sister."


Sontak saja permintaan Elves membuat semua orang terkejut. Olivia pun saling pandang dengan Jack William.


"Maaf tidak bisa sayang."


"Tidak Bisa Elves."


Ujar Olivia dan Jack William hampir bersamaan.


"Kenapa tidak bisa? Elves kan juga ingin punya mommy seperti teman-teman?" Anak kecil itu merajuk dan hendak menangis.


"Bisa, siapa bilang nggak bisa," sambung bibi akan pembicaraan ketiganya membuat Olivia dan Jack William kaget lagi.


"Elves tinggal merubah panggilan kakak ke kak Olivia dengan panggilan mommy Olivia," bagaimana?"


"Bagaimana Kak, boleh?" tanya Elves membuat Olivia yang termenung menjadi gugup.


"Ah, iya-iya boleh," jawab Olivia kemudian.


"Hore Elves punya mommy!" Elves melompat-lompat kegirangan sedangkan Jack William hanya menggelengkan kepala. Merasa aneh dengan tingkah putranya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2