Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 57. Hampir Terulang


__ADS_3

"Tante! Tante! Itu Mommy!" seru Elves sambil menunjuk ke arah luar mall yang kebetulan terlihat dari kaca jendela. Saat itu Elves ingin berpindah ke mainan motor listrik karena merasa tidak tertarik lagi dengan mainan dokter-dokteran.


"Mommy kamu lagi di toilet Elves," ujar Tina. Dia pikir Elves mulai rewel karena ditinggal oleh Olivia.


"Bukan Tante, mommy digendong orang dan mommy memejamkan mata."


"Apa?!" Tina langsung bergegas ke arah kaca jendela dan melihat ke arah luar.


"Itu bukan Daddy kamu?" tanya Tina memastikan.


"Bukan, daddy tidak pakai baju itu dan juga tidak kurus," jelas Elves.


"Waduh, jangan-jangan Olivia diculik." Tina terlihat gusar.


"Kenapa sih Lo?"


"Bram nitip anak ini ya?"


"Emang dia siapa dan elo mau kemana?"


"Mommy anak ini diculik dan aku akan mengejarnya."


"Waduh, yasudah ayo aku ikut dan anak ini kita bawa saja!" Kebetulan Bram adalah anak dari pemilik tempat permainan ini.


"Boleh Bram, ayo cepat!" Tina langsung menggendong Elves dan berlari ke arah eskalator disusul Bram di belakangnya setelah berbicara sebentar pada karyawan lainnya.


"Om orang itu masuk ke mobil," ucap Elves terus saja mengawasi pria yang telah membawa Olivia.


"Yasudah kita juga masuk dan kita kejar!" perintah Bram sambil membuka pintu mobil.


Tina bergegas mendudukkan tubuh Elves kemudian dirinya pun ikut duduk di samping Bram.


Bram memutar arah dan masuk di mobil bagian depan dan langsung tancap gas.


"Tante Elves ingin menghubungi Daady," ucap Elves sambil merogoh ponsel di saku celananya.


"Elves punya nomor Daddy?" tanya Tina di tengah-tengah mobil melaju kencang.


"Punya Tante," ujar Elves sambil menggeser-geser layar ponsel miliknya.


"Kau bisa baca?" tanya Tina sambil melihat Elves dengan mata terbelalak.


"Tidak Tante, tapi sudah hafal harus menyentuh tulisan yang mana," ucap Elves malu-malu.


"Oh kupikir kecil-kecil sudah jago membaca."


Anak itu menggeleng. Elves kan belum sekolah."


"Eh iya, ya. Kamu masih sangat kanak-kanak."


"Kau pikir anak itu ajaib apa Tin, kecil-kecil begitu sudah bisa membaca," protes Bram sambil terus mengejar mobil di depannya.


"Kali aja salah satu dari anak ajaib," ucap Tina.


"Tante yang ngomong sama Daddy," ucap Elves yang tidak tahu harus berbicara apa pada Jack.


"Hah, baiklah." Tina mengambil ponsel yang disodorkan oleh Elves.


"Halo Tuan."

__ADS_1


"Halo siapa kamu?" tanya Jack yang sangat yakin itu bukan suara Olivia.


"Saya teman Olivia Tuan dan–"


"Ya ada apa dengan Olivia?"


"Dia diculik Tuan dan putra Tuan sekarang berada bersama saya. Kami sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku penculikan terhadap Olivia."


"Katakan alamat kalian dimana!"


"Bram ini dimana Bram?"


"Katakan saja padanya suruh pakai GPS agar bisa memantau pergerakan mobil kita sebab tujuan kita tidak tahu ke arah mana!"


"Baik-baik saya dengar," ucap Jack yang mendengar saran dari Bram yang suaranya memang nyaring dan terdengar dengan jelas dari dalam telepon.


"Tolong jangan matikan hapenya!" pinta Jack sambil berlari keluar ruangan.


"Tuan ada apa?" tanya Frans yang melihat Jack pergi dengan terburu-buru.


"Ada yang gawat, kau atasi saja semua pekerjaan kita di sini ya! Suruh juga beberapa anak buah kita untuk mengikutiku sebagai antisipasi takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kami!" perintah Jack lalu berlari lagi hingga sampai di depan lift.


Sampai di lantai dasar dia pun kembali berlari menuju parkiran.


"Sepertinya mereka masih tidak jauh dari sekitaran mall," ucap Jack sambil menaruh ponselnya di atas dasboard mobil dan dirinya langsung tancap gas.


"Hai siapapun kamu, bagaimana keadaan Elves?" tanya Jack sambil terus saja menyetir dengan kencang, tidak perduli dengan keadaan jalanan yang sedikit macet.


"Elves baik-baik saja Tuan."


"El bicaralah pada Daddy-mu!"


"Tenanglah daddy akan mendapatkan mommy-mu kembali."


"Janji ya Dad?"


"Oke sayang, yang penting Sekarang Elves jangan terlalu khawatir."


Setengah jam di perjalanan akhirnya Jack bisa menyusul mobil yang ditumpangi Tina dan Elves.


"Daddy! Itu mobil Daddy Tante!" seru Elves sambil menunjuk mobil Jack yang kini tepat berada di depannya.


"Daddy!" Elves melongo ke luar kaca mobil yang terbuka.


"Elves itu berbahaya, jangan lakukan!" protes Tina.


"Tapi Daddy tidak melihat Elves."


"Tuan mobil kami ada di depan mobil Tuan," ucap Tina agar Elves tetap tenang.


"Baik katakan mobil yang mana yang membawa tubuh Olivia!"


"Itu mobil carry warna biru di depan."


"Baik."


"Tuh kan El, daddy kamu sudah tahu kalau kita semua ada di depan mobilnya."


"Iya Tante."

__ADS_1


"Belok kanan Bram! Belok kanan! Itu mobilnya masuk ke dalam jalan pelosok!" seru Tina dan Bram segera membelokkan mobilnya. Namun, terhalang oleh mobil lainnya sedangkan jalan yang mereka masuki hanya muat untuk satu mobil. Jadi kalau ada mobil yang ingin salipan maka salah satu harus mengalah dan mundur.


Terlihat seorang pria turun dari dalam mobil Carry sambil menggendong tubuh Olivia dan membawanya masuk ke dalam sebuah rumah yang terlihat kosong dan sepi.


"Hei kamu kemana mobil yang kita buntuti itu?"


"Maaf Tuan kami tidak bisa melihat ke arah depan," ucap Tina dengan rasa sesal.


Kik kik kikkk!


Jack menyalahkan klakson dengan begitu keras sebagai pertanda agar mobil yang berada di deretan paling depan tidak berjalan pelan sekali.


"Ah! Dasar pemilik mobil itu tidak bisa diajak kerjasama." Jack menggerutu sendiri.


Jack langsung memarkirkan mobilnya sembarangan di tengah jalan lalu berlari mendahului mobil yang ditumpangi oleh Tina dan Elves.


"Tuan!" seru Tina dalam mobil.


"Tolong jaga Elves!" teriak Jack tanpa menghentikan larinya.


Melihat Olivia digendong dalam keadaan tidak sadar membuat Jack geram dan langsung mempercepat larinya walaupun jarak dia dan pria itu masih terpisah jarak beberapa meter.


Pintu rumah terbuka dan pria itu menaruh tubuh Olivia di atas kasur kapuk yang lapuk dan tergeletak begitu saja di atas lantai.


Setelahnya pria itu mengunci pintu kamar dari dalam.


"Kau tahu Olivia, aku paling suka melakukan tugas ini," ucap pria itu sambil mengusap-usap pipi Olivia dengan jari telunjuknya kemudian memainkan helai demi helai rambut Olivia.


"Selain bisa menikmati tubuhmu secara gratis, aku juga bisa mendapatkan hadiah yang menarik." Pria itu terkekeh karena begitu senang mendapatkan kesempatan mencicipi Olivia untuk yang kedua kalinya.


"Dulu aku menikmati tubuhmu dengan mendapatkan perlawanan darimu, tetapi sekarang aku penasaran bagaimana jika kamu diam." Pria itu menyeringai dan hendak mencium Olivia yang masih tampak memejamkan mata.


Namun, saat wajahnya mulai dekat dengan wajah Olivia, tiba-tiba Olivia sadar dari pingsannya dan berteriak kencang.


"Aaaarghh!" teriak Olivia dengan kencang.


"Berteriaklah dan tidak akan ada yang bisa menolongmu seperti waktu itu! Kau tahu meskipun rumah ini jelek tapi sudah dilengkapi dengan peredam suara sehingga sekeras apapun suaramu maka tidak akan pernah terdengar ke luar, hahaha."


"Brengsek kamu!" Olivia langsung memukul bahu pria itu dengan keras.


"Pukul dan setelah itu bersiap-siaplah!" Pria itu mengerling nakal.


"Dasar pria kurang ajar! Kubunuh kau! Lebih baik masuk penjara daripada kau melecehkanku untuk yang kedua kalinya!"


Bug.


"Auw, arggh!"


Olivia langsung menendang senjata pria itu membuat pria tersebut mengerang kesakitan.


"Kau! Rupanya kau ingin bermain kasar!" kesal pria tersebut lalu menarik tangan Olivia dengan kasar.


Brak.


Pintu berhasil di dobrak dari luar membuat keduanya sama-sama kaget. Namun dengan penerimaan yang berbeda. Olivia tampak bernafas lega dan pria itu gusar karena aksinya dipergoki orang lain.


"Mas tolong aku! Dia mau memperkosa diriku lagi!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2