
"Mas aku pengen makan itu!" tunjuk Olivia melihat seorang wanita tua menyantap makanan di teras rumahnya. Selama tiga bulan kehamilannya baru hari ini Olivia menginginkan sesuatu. Padahal sebelum-sebelumnya Jack selalu bertanya Olivia ingin apa, tetapi wanita itu menjawab tidak ngidam apapun.
"Makanan apa sih Sayang?" Jack mengintip ke luar dari kaca mobil. Saat ini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menjenguk Meilin.
"Sepertinya enak," ucap Olivia, ludahnya seolah mau keluar menatap orang tersebut. Benar-benar ngiler.
"Berhenti Pak!" perintah Jack pada sopirnya dan sopir pribadinya langsung mengerem mendadak.
"Ada apa Tuan?" tanya sopir itu karena merasa aneh majikannya meminta berhenti mendadak.
"Sebentar saja," ucap Jack lalu turun. Olivia ikut turun dan menguntit sang suami di belakang.
Seorang wanita tua yang berpenampilan kumal dan terlihat banyak lebam-lebamnya di wajah dan ditubuh itu melihat ada dua orang yang berjalan ke arah mereka langsung berhenti makan, dia nampak kaget.
"Maaf ada apa Tuan?" tanyanya pada Jack tapi matanya terpaku melihat Olivia. Seolah ingin memastikan apa yang dilihatnya benar.
"Maaf menganggu makan Anda, saya hanya ingin melihat makanan yang dikonsumsi oleh Anda karena sepertinya istri saya ngidam makanan ini," terang Jack.
"Oh ini hanya makanan rumahan biasa saja Tuan," ucap wanita setengah baya itu dan Jack mengangguk.
"Kita pergi sekarang Sayang, saya tahu dimana bisa mendapatkan makanan seperti ini," ucap Jack sambil menggenggam tangan Olivia dan hendak membawanya pergi.
Olivia menggeleng. "Boleh tidak saya makan di sini?" tanya Olivia dengan suara hati-hati.
Tentu saja permintaan Olivia membuat Jack maupun wanita itu jadi kaget.
"Jangan Olivia, tempat ini kotor dan makanannya tentu juga kotor," bisik Jack di telinga Olivia, dia ingin memastikan makanan yang masuk ke dalam perut istrinya adalah makanan bersih dan sehat. Olivia menggeleng.
"Aku ingin makan di sini," rengeknya seperti anak kecil. Jack hanya bisa menghembuskan nafas berat.
"Tunggu aku punya satu bungkus lagi," ucap wanita itu dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Katanya makanan rumahan kok dibungkus?" Jack pikir karena mengatakan makanan rumahan maka makanan itu dimasak sendiri oleh wanita tadi. Olivia hanya diam.
"Kok aku kayak familiar ya dengan wajah wanita ini?" batin Olivia sambil menatap punggung wanita yang masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian wanita itu berlari ke arah mereka dengan satu bungkus nasi dan satu gelas air mineral.
"Silahkan dimakan, tapi kalau bisa makannya yang cepat ya!" Wanita itu mengulurkan bungkusan ke tangan Olivia dan Olivia menerima dengan begitu sumringah sedangkan Jack nampak kaget mendengar ucapan wanita itu.
"Bagaimana mungkin orang makan harus terburu-buru?"
Wanita itu tidak menjawab membuat Jack langsung beralih menatap Olivia.
"Yakin mau makan itu?" bisik Jack di telinga Olivia dan Olivia mengangguk mantap.
"Hah baiklah," ucap Jack pasrah.
"Silahkan duduk!" Wanita itu mempersilakan Olivia dan Jack duduk di teras rumah tanpa alas. Langsung pada lantai yang terbuat dari semen. Jack terlihat risih untuk duduk sementara Olivia langsung duduk dan makan.
Baru menghabiskan separuh makanan, tiba-tiba ada seorang pria yang masuk dengan tergesa-gesa.
"Mas nasinya tidak ada," ujar Marisa dengan tubuh dan suara bergetar.
"Tidak ada bagaimana?" tanya Pria itu sambil menatap tajam wajah Marisa dan wanita itu hanya menunduk.
"Bukankah tadi pagi aku sudah memintamu untuk membeli? Kau tuli atau bagaimana?" sentak pria itu, namun Marisa tidak kaget karena sikap suaminya yang kasar itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Bukan hanya mulutnya saja yang kasar, tapi tangan dan kakinya tidak kalah kasar. Sering memukul dan menendang apabila Marisa tidak mau menuruti keinginannya.
"Bukan begitu, tapi uangnya sudah tidak ada. Makanya Mas kerja jangan hanya main mabuk-mabukan saja. Kau pikir hasilku memulung bisa mencukupi kebutuhan kita?"
Plak.
Satu tamparan sukses mendarat di pipi Marisa, begitu setiap kali dia berani membantah sang suami.
__ADS_1
"Dasar istri tidak berguna!" Pria itu berbalik dan langsung keluar pintu.
"Oh jangan-jangan makanan untukku dikasih sama wanita ini?" tanya pria itu sambil menatap tajam ke arah Olivia. Jack hanya mengernyit dan menebak-nebak keadaan. Marisa di belakang pria itu hanya diam terpaku.
"Kau membuat orang lain kenyang, tapi membuat suamimu kelaparan!" Pria itu bergegas ke arah Olivia dan hendak merampas makanan di tangannya.
"Tunggu!" Jack menghentikan pria itu membuat pria tersebut langsung urung.
"Saya akan bayar!" lanjut Jack membuat pria itu mengernyit bingung, lalu beberapa saat kemudian menyunggingkan senyuman.
"Kalau tidak karena istriku yang ngidam, tidak mungkin saya izinkan dia makan di sini," ucap Jack sambil mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompet dan memberikan pada pria itu.
"Kalau begitu sering-sering ngidam makan di rumah ini," ucap pria tersebut, mencium uang di tangan lalu pergi begitu saja.
"Saya sudah kenyang," ucap Olivia langsung bangkit berdiri. Jack pun ikut berdiri.
"Ini untuk ibu karena telah membantu memenuhi ngidam istri saya, bahkan ibu sampai kena amarah suami karena semua ini." Jack mengulurkan beberapa lembar uang ratusan yang jumlahnya sama dengan yang diberikan kepada pria tapi.
"Tidak usah, saya ikhlas dengan semuanya," tolak wanita itu.
"Tapi–?"
"Tidak apa-apa Tuan, pergilah dan jaga Olivia baik-baik!"
Olivia yang dari tadi tidak begitu memperhatikan akhirnya kembali menatap wajah wanita itu karena menyebut namanya.
"Anda kenal istri saya?" tanya Jack kaget.
"Ya, saya adalah ibunya."
Sontak pengakuan Marisa membuat Jack terbelalak.
__ADS_1
"Benarkah?"
Bersambung.