Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 46. Menguji


__ADS_3

"Ibu jelaskan padaku uangnya untuk apa! Ibu!" teriak Olivia.


Mendengar nada suara Olivia yang terdengar kesal, Marissa langsung menutup panggilan telepon mereka.


"Ah ibu." Olivia terdengar lelah menghadapi ibunya itu.


"Bagaimana bisa bayar tidak?" tantang Wati.


"Berapa banyak uang untuk menebus rumah kami Ma?"


"25 juta."


Sontak saja Olivia terbelalak. Bagaimana mungkin dia mendapatkan uang sebanyak itu dalam sekejap mata. Dia pikir uang 10 juta yang ada dalam tasnya masih akan tersisa setelah membayar hutang. Nyatanya masih kurang banyak untuk melunasinya.


"Bagaimana?" tanya Wati lagi. Dia tahu Olivia tidak akan memiliki uang sebanyak itu.


"Saya bayar sepuluh juta dulu, 8 juta untuk utang ibu dan 2 juta untuk menyicil penebusan rumah."


"Hah kau pikir aku tukang kredit yang menerima cicilan?" cibir Wati.


"Kalau begitu berikan saya waktu, saya akan mengusahakan uang 25 juta agar langsung dibayar utuh."


"Baik aku kasih kamu waktu sehari. Kalau dalam 24 jam belum dibayar juga maka rumah itu akan menjadi milikku."


Mendengar kalimat yang diucap Wati Olivia menghembuskan nafas berat sedangkan Wati tersenyum licik.


"Rasakan kau, siapa suruh menduakan putraku," batin Wati.


"Beri waktu satu bulan Ma, aku mohon!"


"Satu hari atau tidak sama sekali!"


Akhirnya Olivia hanya mengangguk pasrah.


"Baiklah untuk hari ini saya bayar hutang yang 8 juta dulu. Besok saya usahakan untuk membayar yang 25 juta," ucap Olivia dengan suara yang lesu.


"Baik aku tinggu!" ucap Wati dengan angkuh.


Olivia mengangguk dan pamit pergi.


"Ayo El, kita pulang sekarang!"


Elves yang mengerti Olivia sedang sedih menurut saja ketika Olivia menggandeng tangannya menuju tempat mobil terparkir.


"Langsung pulang atau kemana dulu nih Non?" tanya pak sopir.


"Langsung pulang saja Pak!"


"Baik."


"Maaf ya El, jalan-jalannya ditunda dulu ya. Mommy sedang tidak enak badan."

__ADS_1


"Iya mommy tidak apa-apa, lagipula Elves tidak ingin kemana-mana." Elves pun tidak berselera untuk berjalan-jalan melihat wajah Olivia yang berubah kusut karena berat pikiran.


Sampai di rumah setelah mengantar Elves, Olivia duduk termenung di kamarnya sendiri.


"Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak 25 juta dalam sehari semalam? Yang ada hanya 2 juta dan sisanya jauh lebih banyak. Apa aku harus meminjam pada Tuan Jack?" Olivia bergumam sendiri.


"Mana mungkin? Aku baru saja mendapatkan gaji dan itupun sudah dilebihkan jauh dari gaji yang sebenarnya? Kalau masih pinjam mungkin saja Tuan Jack akan berpikiran macam-macam terhadapku."


Olivia menunduk sambil memijit pelipisnya. Mendapatkan uang 25 juta dalam waktu 24 jam tidaklah mudah. Andai saja Wati memberikan waktu beberapa bulan mungkin Olivia bisa mengusahakan untuk mencari pekerjaan lain selain masih menjadi baby sister untuk Elves, itupun jika Jack William mengizinkan.


"Aduh kenapa aku jadi pusing ya?"


Lama berpikir membuat Olivia sakit kepala.


"Oma! Oma! Tadi Mommy Olivia dimintai uang oleh oma-oma yang rumahnya di sana, tapi katanya uang yang mommy Olivia kasih tidak cukup sehingga Mommy Olivia sekarang bersedih," lapor Elves pada omanya yang kini duduk di atas sofa ruang keluarga sambil membolak-balik majalah fashion di tangannya.


"Uang?"


Elves mengangguk sedangkan Oma Melanie mengernyit.


"Hutang, utang, apa katanya. Elves tidak paham."


"Olivia bayar hutang?"


"Iya Oma. Padahal Mommy sudah ngasih uang banyak, tapi oma itu tetap meminta lebih."


"Darimana dia dapat uang, bukankah dia bekerja di sini belum ada satu bulan?" Melanie tampak mengingat-ingat sejak pertama kali Olivia menginjakkan kaki di rumah itu. Apakah sudah melebihi satu bulan ataukah malah belum sampai?


"Ah lebih baik aku tanya Jack saja daripada harus berburuk sangka." Melanie langsung menghubungi putranya.


"Oh. Kira-kira kamu kasih berapa?"


"10 juta Mom, tidak masalah bukan biar dia tambah sayang pada Elves. Ada apa ya Mommy bertanya tentang hal itu?"


" Tidak ada Mommy hanya bertanya saja ada. Oke kalau begitu Mommy tutup telepon biar kamu kembali konsentrasi pada pekerjaanmu."


"Oh oke." Jack pun langsung menutup telepon dan melanjutkan pekerjaan yang hampir tertunda.


"Yuk kita lihat mommy!" ajak Melanie pada Elves dan anak itu langsung mengikuti langkah Melanie menaiki tangga.


Sampai di depan kamar Olivia Melani menghentikan langkahnya dan menaruh jari telunjuknya di depan bibir agar Elves tidak berisik.


"Oma!"


"Sst! Diam di sini dan jangan bicara!"


Anak kecil itu hanya mengangguk meskipun bingung mengapa omanya memerintahkan seperti itu.


Melanie mengintip ke dalam kamar. Tampak Olivia sedang gelisah di atas ranjang.


"Apa aku biarkan saja ya rumahku disita oleh mama Wati?" Olivia duduk kembali.

__ADS_1


"Tapi tanpa rumah nenek akan tinggal di mana?" Olivia mengacak rambutnya frustasi.


"Kalau masih mending sebab masih sehat, nah nenek yang sakit-sakitan? Arrgh!" Kali ini Olivia menjambak kasar rambutnya sendiri beberapa kali.


"Dasar aku cucu tidak berguna!"


"Dia butuh uang agar bisa mendapatkan rumahnya kembali," gumam Melanie.


"Ini kesempatanku untuk mengujinya." Melanie terlihat tersenyum.


"Oma kok malah tersenyum sih melihat Mommy bersedih?" Elves heran dengan omanya itu.


"Sini ke kamar Elves biar Oma bisikin sesuatu."


Anak itu menurut saja. Sampai di kamar Melanie meminta Elves untuk merelakan celengan untuk Olivia. Ya sejak Elves berumur 1 tahun Jack dan Melani sudah mengajari Elves untuk menabung.


"Elves ingin membantu Mommy kan?"


"Iya Oma."


"Dengar! Mommy Olivia membutuhkannya uang yang lebih banyak lagi. Bagaimana kalau Elves kasih celengan Elves ini ke mommy Olivia?"


"Boleh Oma."


"Ingat ya kalau Mommy tidak mau pecahkan saja celengan itu di depannya!"


Elves langsung mengangguk dan menggendong celengan yang terbuat dari tanah liat dan berbentuk gajah itu ke dalam kamar Olivia dan memberikannya pada pengasuhnya itu.


"Ada apa El? Kenapa membawa celengan mu ke sini?"


"Ini untuk Mommy, Elves tahu Mommy butuh uang."


"Tidak sayang, kata siapa?"


"Kata oma yang di rumah itu Mommy punya hutang."


Olivia hanya bisa. menghela nafas lalu memejamkan mata.


"Tidak Sayang kamu salah dengar. Sudah bawa kembali celenganmu dan taruh ke tempatnya semula."


"Tapi Elves ingin bantu mommy."


"Tidak usah nih bawa lagi!" Olivia menyodorkan celengan itu kembali dan Elves tidak menerimanya.


Pyarrr.


Celengan itu jatuh ke lantai dan pecah. Banyak lembaran uang ratusan yang berserakan di lantai.


"Elves!" Olivia kaget tidak sengaja dirinya menjatuhkan celengan itu hingga pecah.


"Maafkan Mommy!" Olivia langsung memungut uang di lantai itu dan mengumpulkan di atas ranjang.

__ADS_1


"Aku ingin tahu apa kamu tidak tergoda dengan uang sebanyak itu sementara dirimu sedang membutuhkannya?" batin Melanie. Dia ingin tahu sikap Olivia yang sebenarnya dibalik kebaikannya selama ini pada Elves.


Bersambung.


__ADS_2