
"Kita pulang, kasihan Elves sama Mommy, tentang Meilin biarlah dokter yang berbuat terbaik untuknya," ucap Jack setelah mereka berada lama di rumah sakit. Olivia mengangguk dan Jack langsung menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan rumah sakit.
"Besok aku bisa menjenguk lagi ya, Mas?"
"Tentu saja boleh, tiap hari juga boleh. Kita jenguk dia sebelum aku ke kantor atau malam sepulang dari kantor. Maaf aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian meskipun dengan sopir sekalipun. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu. Aku takut Reza akan kembali menganggu dirimu lagi meskipun dia sudah berjanji untuk pergi jauh-jauh dari kehidupan kita."
"Oke Mas tidak apa-apa, sesempat Mas Jack saja. Yang terpenting Olivia bisa melihat perkembangan Kak Meilin."
"Baiklah," ucap Jack lalu mengusap kepala Olivia sebelum akhirnya membukakan pintu mobi untuk istrinya itu.
Setelah hari itu, setiap hari Jack menyempatkan mengantar Olivia ke rumah sakit seperti janjinya pada Olivia.
Sebulan kemudian Olivia mengeluh capek sekali setelah pulang dari rumah sakit.
"Sayang, mandi dulu ah, kan kita baru dari rumah sakit!" Jack menegur Olivia karena sepulang dari rumah sakit langsung naik ke atas ranjang dan memejamkan mata.
Malam memang sudah larut dan Elves sudah tertidur di kamarnya. Semenjak menyaksikan kecelakaan di depan matanya, Elves selalu minta ditemani tidur oleh Melanie.
"Aku capek banget, Mas," lirih Olivia, matanya sudah terasa berat dan susah untuk dibuka.
"Tapi Sayang, baju kita bau obat dan bisa jadi juga membawa virus–" Jack tidak melanjutkan perkataannya tatkala mendengar dengkuran halus dari mulut sang istri.
Jack menggelengkan kepala. "Kasihan, kayaknya dia kecapean. Mengapa dia tidak meminta pulang sedari tadi?" Jack mengingat kejadian setelah menjenguk Meilin, dia masih berbicara dengan seorang dokter yang sangat akrab dengannya dan Olivia tidak mengatakan apapun, melainkan hanya mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Apa Olivia takut menganggu perbincangan kami?" Jack meraih handuk lalu masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dia lalu mengambil pakaian tidur dan berbaring di samping sang istri. Sebelum ikut memejamkan mata terlebih dahulu Jack mencium kening sang istri dan mengucapkan selamat tidur.
Beberapa jam terlelap mereka berdua dibangunkan oleh suara adzan dari ponsel Olivia.
"Mas, kau sudah bangun juga?" tanya Olivia sambil menatap wajah Jack yang tersenyum ke arahnya.
"Kenapa tersenyum begitu, ada yang aneh dari diriku?" tanya Olivia merasa aneh.
"Nggak ada, hanya saja senang saat membuka mata langsung di hadapkan dengan wajah istri."
"Aku kita apaan, shalat subuh yuk!"
"Sana mandi duluan! Semalam kamu nggak sempet mandi, kan?"
"Hmm, pasti baunya asem ya, Mas?" tanya Olivia sambil mencium tubuhnya sendiri lalu terkekeh.
"Nggak, sudah sana mandi, biar aku bangunin Elves dulu!"
"Oke siap." Olivia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum shalat berjamaah sedangkan Jack langsung pergi kamar sebelah untuk membangunkan Elves dan juga maminya. Ternyata Melanie sudah selesai mandi dan sedang membangunkan Elves.
"Mom shalat!" seru Jack sambil masuk ke dalam kamar putranya.
"Sana duluan Nak, biar Mommy yang akan membantu Elves ambil wudhu'!"
__ADS_1
"Baik Mom, Jack tunggu kalian di ruang shalat!" seru Jack sambil menutup kembali pintu kamar putranya.
"Sudah Mas," ucap Olivia sambil keluar dari kamar mandi.
"Kok cepet sih mandinya? Tumben," heran Jack.
"Hehe, dingin, Mas," sahut Olivia sambil cengengesan.
"Nggak dicampur pakai kran air panas gitu?"
"Sudah, tapi tetap aja masih dingin."
"Yasudah kalau begitu giliranku yang mandi. Kamu bisa menungguku di kamar atau langsung ke ruang shalat, barangkali Elves dan Mommy sudah ada di sana."
"Oke aku segera ke sana deh!" seru Olivia lalu berganti pakaian dan pergi keluar kamar.
Beberapa menit kemudian mereka semua sudah berkumpul di ruang salat dan melakukan ibadah shalat subuh berjamaah.
Selesai shalat dan Jack masih memimpin pembacaan dzikir, Olivia merasakan sensasi yang tidak enak pada perutnya. Ia meringis kesakitan, bangkit dari duduknya dan langsung berlari ke arah kamar mandi karena merasa ada sesuatu yang akan keluar.
"Hoek, hoek!" Olivia serasa ingin muntah, tapi tak ada yang bisa dikeluarkan dari perutnya.
"Hoek, hoek!" Suaranya semakin nyaring hingga membuat Jack langsung menghentikan aktivitasnya.
"Olivia mana Mom?"
"Tadi dia buru-buru bangkit dari duduknya dan pergi," ucap Melanie sambil terburu-buru membuka mukena.
"Kamu kenapa Sayang?" tanya Jack sambil meraih tengkuk Olivia dan memijitnya.
"Enggak tahu, Mas," sahut Olivia dengan nafas terengah-engah.
"Mommy buatkan teh hangat saja ya," ucap Melanie lalu bergegas ke dapur sedangkan Elves lebih memilih duduk di atas ranjang sambil memandang kepada Olivia dan Jack yang berada di dalam kamar mandi yang pintunya tidak tertutup.
"Sudah Mas," ucap Olivia sambil melepaskan tangan Jack kemudian berkumur-kumur.
"Badanku lemas banget," lirih Olivia. Segera Jack menggendong istrinya dan membaringkan tubuh Olivia di atas ranjang.
Melanie datang tergesa-gesa dengan segelas teh hangat.
"Minum dulu, bentar lagi masakan bibi akan matang."
"Iya Mom, terima kasih," ucap Olivia, sedangkan Jack, tangannya langsung cekatan mengambil ponsel dan menelpon dokter.
"Beberapa saat kemudian pembantu mereka memasuki kamar Jack dengan membawa nampan berisi makanan. Di belakangnya menyusul seorang dokter wanita.
"Ini mau makan apa periksa dulu?" tanya dokter sambil mendekati Olivia.
__ADS_1
"Periksa saja Dok, saya penasaran kenapa beberapa hari ini saya terasa lemas," jawab Olivia.
"Baik," ujar dokter sambil mengambil alat periksa dari dalam tas.
"Makanannya taruh di sana dulu Bik!" perintah Jack sambil menunjuk meja di samping tempat tidur mereka.
"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit keluar."
"Iya terima kasih."
"Selain lemas, ada keluhan lain?" tanya dokter sambil terus memeriksa Olivia.
"Sering ngantuk dan juga mual-mual," jawab Olivia.
"Jadwal menstruasinya bagaimana?"
Olivia langsung mengingat jadwal menstruasinya yang sudah terlewat jauh.
"Seharusnya bulan yang lalu dok, tapi sampai sekarang belum kunjung datang lagi."
"Apa tandanya Elves akan punya adik?" tanya Melanie begitu antusias.
"Oh iya, ya. Biasanya kapan Sayang?" tanya Jack.
"Sehari setelah kita bermalam di villa."
"Apa mungkin–?" Jack tidak melanjutkan perkataannya.
"Untuk lebih jelasnya, Nyonya cek saja! Kebetulan saya sedang membawa testpack, biasanya alat yang satu ini sering terlupa." Dokter memberikan alat itu ke tangan Olivia.
Olivia memandang ke arah Jack sebelum menerima alat itu dan Jack tampak mengangguk. Dengan ragu-ragu Olivia mengambil alat tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan sampai mengecewakan Mas Jack lagi. Ya Tuhan semoga aku tidak mandul." Olivia sangat takut akan hal itu. Dia ingat mantan mertuanya pernah mengatakan dirinya mandul.
Dengan pelan-pelan dan perasaan was-was dia mengunakan alat tersebut. Setelahnya dia terpaku melihat garis merah yang akan muncul.
"Satu–"
"Sayang bagaimana?" tanya Jack di pintu kamar mandi.
Olivia menoleh dan menatap Jack dengan wajah yang pucat dan tidak bersemangat.
"Garis satu Mas," lirihnya.
"Kau hamil Sayang!" seru Jack begitu antusias.
"Tidak ini hanya garis–" Olivia terdiam sebab setelah berbaik garis merah di alat tersebut kini sudah bertambah menjadi dua.
__ADS_1
"Aku hamil, Mas?" tanya Olivia, antara senang dan tidak percaya.
Bersambung.