Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 25. Usil


__ADS_3

"Kamu–"


"Tuan yang ada di perusahaan PT. Billist itu ya?" Olivia langsung mengingat pria yang berdiri di hadapannya kini.


"Daddy kenal kakak ini?" tanya Elves sumringah.


"Belum Elves, daddy hanya tidak sengaja bertemu dia di kantor tadi pagi."


"Nona perkenalkan nama saya Jack." Jack William mengulurkan tangannya ke arah Olivia.


Olivia mencoba mengulurkan tangan untuk menerima jabatan Jack, tetapi dilarang oleh Oma Melanie.


"Jangan Nak Olivia kamu tidak boleh bergerak dulu!"


Olivia mengangguk dan mengurungkan niatnya.


"Maaf nama saya Olivia," ujar Olivia kemudian.


"Tidak apa-apa, sorry kamu sakit apa sehingga tidak diperbolehkan bergerak seperti ini sekarang?" tanya Jack William. Dia tahu ibunya terlalu lebay kadang untuk sesuatu yang tidak begitu besar.


"Dia patah tulang punggungnya Jack dan ini atas ulah putra kamu ini yang tidak bisa diatur," lapor Melanie pada putranya itu akan apa yang sudah terjadi.


"Apa benar El? Bukannya Daddy sudah memperingatkan agar kamu jangan sampai melukai orang lain. Manja boleh, tapi kalau sampai membuat orang lain menderita itu tidak baik dan tidak benar."


Elves menunduk dengan wajah yang pucat. Daddy-nya itu paling menuruti keinginannya itu alias memanjakannya, bahkan rela berdebat dengan ibunya sendiri kalau sudah menyangkut tentang Elves sang putra, tetapi kalau sudah marah Elves benar-benar takut pada pria itu.


"Sudah Tuan jangan marahi dia, semua yang terjadi atas dasar ketidaksengajaan. Saya hanya menolong dia yang menyebrang sembarangan sehingga tertabrak mobil," Jelas Olivia agar anak kecil itu tidak merasa semakin terpojok.


"Kasihan dia jangan marahi Elves," ujar Olivia lebih lanjut.


"Kakak terima kasih," ucap Elves dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama-sama. Elves jangan sedih lagi ya! Anak laki-laki tidak boleh cengeng!"


Anak kecil itu mengangguk sambil mengusap matanya.


"Maafkan putra saya, saya ya akan bertanggung jawab dengan segala kebutuhanmu sampai kamu sembuh," kata Jack.


"Terimakasih Tuan, tapi sepertinya tidak perlu karena saya akan pulang hari ini juga," sahut Olivia.


"Jangan! Jangan Nak Olivia. Kata dokter Nak Olivia harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu agar bisa cepat sembuh," larang Melanie.


"Tidak apa-apa Nyonya saya tidak apa-apa kok. Lagipula saya sudah ada janji dengan seseorang untuk membuatkan pesanan mereka. Saya sudah menerima uang muka dan tidak mau hengkang dari tanggung jawab saya," jelas Olivia.


Kalau dia berbaring di rumah sakit terus-menerus siapa yang akan membuatkan nasi uduk pesanan Frans besok. Lagipula Melanie menurut Olivia terlalu berlebih-lebihan padahal dirinya masih bisa menggerakkan tangannya.


"Tuh kan Jack dia sudah mau bekerja, kalau terjadi sesuatu yang tidak baik nanti, pasti orang-orang akan menganggap penyebabnya cucu saya."


"Benar kata mommy saya, jadi sebaiknya Nona Olivia menginap dulu di rumah sakit barang satu dua hari atau sampai sembuh total juga lebih bagus. Perkara biaya rumah sakit biar saya yang tanggung jawab sebagai ungkapan kata maaf atas ulah putra saya. Soal pesanan biar saya yang akan menyampaikan pada pelangganmu itu bahwa kamu sedang sakit sehingga tidak bisa membuat pesanan mereka. Siapa pemesanan itu biar saya langsung menghubungi sekarang juga agar dia tidak berharap besok?"

__ADS_1


Kartu namanya ada di dalam tas saya Tuan. Tolong anda periksa dan uang dia sebanyak lima ratus ribu tolong kembalikan."


Jack mengangguk dan langsung memeriksa tas Olivia.


Pria itu mengernyit karena mendapatkan kartu nama Frans di dalam sana. "Ini kartu nama dia?"


Olivia mengangguk lemah.


"Tenang dia itu teman sekantor saya. Dia pasti akan mengerti dengan keadaanmu."


Terima kasih Tuan, sekalian saya minta tolong lagi boleh?"


"Katakan saja, kalau saya bisa membantu pasti akan saya bantu."


"Tolong sampaikan pada Reza suami saya bahwa saya berada di rumah sakit!"


"Baik." Jack William langsung merogoh ponsel di kantor jasnya kemudian menelepon Frans.


"Iya Tuan?" terdengar suara Frans dari dalam telepon.


"Saya hanya ingin menyampaikan permohonan maaf dari Nona Olivia sebab tidak bisa menyanggupi pesanan mu besok karena dia sedang sakit sekarang."


"Tuan Serius?" Terdengar suara Frans yang meragukan ucapan Jack tentang Olivia.


"Kapan saya pernah bercanda denganmu?" Suara Jack William begitu tegas.


"Hmm, masalah uang muka aku yang ganti. Katakan pada Reza istrinya saat ini terbaring di rumah sakit. Pulang dari kantor sebaiknya langsung ke rumah sakit Smart. Nona Olivia dirawat di ruangan Mawar nomor 72!"


"Baik Tuan akan segera saya kasih tahu."


"Ya sudah kalau begitu saya tutup telepon dulu."


"Baik Tuan Jack."


Sambungan telepon diputus oleh Jack William.


"Nona tenang saja Frans tidak masalah. Tentang Reza saya sudah menyuruh Frans untuk mengabarkan keadaan Nona sekarang. Saya harap dengan melihat keadaan Nona yang terbaring di rumah sakit ini Reza bisa bersimpati dan lebih menyayangi anda tidak main pukul lagi seperti tadi pagi."


Olivia langsung menunduk sebab merasa malu.


"Lain kali kalau suami main tangan laporkan saja pada polisi," lanjut Jack dan Olivia hanya diam saja.


"Oh iya El, kita pulang sekarang!" ajaknya pada sang Putra.


"Tidak mau, Elves mau menjaga Kak Olivia."


"Tidak boleh biar Daddy meminta orang nanti untuk menjaganya. Elves pulang, mandi, makan dan beristirahat!"


Anak kecil itu menggeleng.

__ADS_1


"Kamu tidak baik berlama-lama di rumah sakit," bujuk Jack.


"Daddy, please! Elves mau menjaga kakak?"


"Tapi kamu bisa sakit kalau terus-menerus tinggal di rumah sakit begini. Kau itu gampang sakit."


"Pokoknya Elves ngga mau pulang. Elves mau menemani kakak." Anak itu merajuk.


"Daddy sama Oma sama aja suka memaksa," kesalnya.


Jack William hanya menghela nafas.


"Lebih baik Elves pulang. Kalau ingin bertemu kakak bisa kembali besok. Elves tahu kan rumah sakit itu tempatnya orang sakit. Jadi Elves tidak mau kan ketularan." Terpaksa Olivia harus mengatakan ini agar anak itu menurut.


"Buktinya dari tadi berada di sini Elves tidak ketularan penyakit kakak," protes anak itu membuat Olivia menggeleng. Bagaimana mungkin penyakit patah tulang bisa menular.


"Oh ya Tuan Jack katanya tadi ada pasien yang meninggal dunia ya, kamar mayat di rumah sakti ini ada disebelah mana ya?"


Jack terbelalak. Bingung kenapa Olivia malah menanyakan perihal pasien yang meninggal.


Olivia mengedipkan mata barulah Jack mengerti.


"Oh iya sepertinya kamar maya di sebelah kamar Nona Olivia. Katanya orang itu adalah korban tabrak lari dan pasti akan menjadi hantu sebab rohnya penasaran dengan orang yang menabraknya."


"Daddy aku pulang saja deh kalau begitu," ujar Elves dengan posisi wajah yang meringis dan langsung minta digendong oleh Daddy-nya.


"Oke sayang kita pulang sekarang," ujar Jack William dan tersenyum ke arah Olivia. Olivia pun mengangguk dan balas tersenyum.


"Kami pamit dulu ya Nona. Nona tenang saja nanti saya akan mengurus pembantu saya untuk menjaga Nona."


"Iya Tuan terima kasih."


"Dada Kakak, Elves pulang dulu ya! Kalau kakak mendengar suara aneh kakak tidur saja ya!" saran Elves.


Jack hanya mengernyit mendengar saran putranya pada Olivia. Seperti pemberani saja anak itu menasehati orang lain padahal dirinya kalau sedang takut minta ditemani dan yang menjaganya tidak diperbolehkan tidur.


"Iya Elves hati-hati ya, jangan suka ngambek lagi."


"Iya Kakak."


Kami pamit ya Nak Oliv."


"Iya Nyonya."


Ketiga orang itu meninggalkan ruangan dimana Olivia dirawat.


Olivia menghela nafas berat. Setelah mereka pergi Olivia merasa hanya sebatang kara di dunia ini. Tinggal di rumah sakit tidak ada yang menjaga membuat dirinya rendah diri.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2