
Mendapatkan persetujuan dari Olivia, Jack pun memperlihatkan senyuman termanisnya lalu membelai rambut sang istri dengan lembut.
Pagi yang mulai panas, terasa lebih panas saat keduanya mulai memadu kasih.
"Oliv seharusnya aku tidak meminta jatahku sekarang," ucap Jack saat menyadari tubuhnya menyentuh tubuh Olivia yang panas.
Dia menghentikan aksinya untuk melakukan penyatuan pada diri Olivia. Dia tidak mungkin mengedepankan nafsu dibandingkan kesehatan istrinya sendiri.
"Kenapa berhenti Mas, lakukan saja! Ini sudah kepalang tanggung!" pinta Olivia. Sepertinya wanita itupun sudah terlihat bergairah.
"Kamu yakin?" tanya Jack seolah ragu dengan ucapan Olivia dan Olivia mengangguk mantap.
"Baiklah kalau begitu."
Siang yang biasa menjadi siang yang begitu syahdu bagi keduanya. Siang yang indah yang tidak akan bisa dilupakan oleh keduanya sepanjang hidup mereka.
Di siang itu akhirnya mereka berdua melebur menjadi satu. Melepaskan gejolak yang selama ini minta disalurkan. Jangan tanya Jack dia sangat bahagia telah memiliki Olivia seutuhnya apalagi setelah lebih dari tiga tahun dia tidak pernah menyentuh wanita.
"Terima kasih Sayang. I Love you," ucap Jack sambil mengecup kening Olivia lalu menarik selimut kemudian berbaring di sisi wanita itu setelah sesi bercinta mereka sudah usai.
"Olivia maafkan aku ya karena telah membuatmu lelah disaat kondisimu seperti ini," Jack menatap mata Olivia. Melihat anggukan dan senyuman dari Olivia Jack ikut tersenyum setelahnya memeluk tubuh Olivia dengan erat lalu tertidur.
Olivia hanya menggeleng karena dirinya tidak bisa bergerak akibat pelukan Jack yang begitu erat meskipun kondisi Jack sudah dalam keadaan tertidur pulas. Ingin melepaskan tubuhnya, takut membangunkan sang suami. Olivia tidak tahu Jack semalam tidur atau tidak.
"Kenapa dia gampang tertidur sih? Apa semalam dia lembur?" Olivia mengusap wajah suaminya lalu tersenyum kala Jack sedikit bergerak akibat ulahnya.
Olivia yang merasa lucu terus meraba-raba pipi Jack sehingga tidur pria itu terganggu.
"Sayang aku ngantuk," ucap Jack sambil menangkap kedua tangan Olivia lalu menggenggam sedangkan matanya masih saja terpejam.
"Mas, lepaskan aku! Aku mau ke kamar mandi. Badan rasanya tidak nyaman kalau tidak dibersihkan."
__ADS_1
"Kamu tidak boleh mandi, tubuh kamu masih demam Oliv! Lebih baik tidur lagi." Jack menarik tubuh Olivia dalam pelukannya kembali dan Olivia hanya bisa menghembuskan nafas, pasrah.
Di dalam kamar Melanie Elves terbangun dari tidurnya lalu berjalan keluar.
"Apakah Daddy sudah datang Oma?" tanyanya saat melihat mobil yang dipakai oleh Jack sudah ada di garasi.
"Iya El, beberapa jam yang lalu Daddy kamu sudah kembali."
"Kenapa tidak membangunkan Elves?" tanya anak itu dengan ekspresi cemberut, tetapi lucu bagi siapa yang melihatnya.
"Emang orang tidur bisa mendengar?" tanya Melanie sambil tersenyum.
Elves menggeleng.
"Aku kangen Daddy, minta gendong," rengeknya.
"Baiklah kalau begitu ayo Oma antar ke kamar!"
Elves mengangguk antusias lalu merentangkan tangannya pada Melanie minta digendong.
Sampai di depan kamar Jack dia menurunkan Elves.
"Turun dulu ya, Elves mulai berat," ujar Melanie menggoda cucu satu-satunya itu.
"Elves memang sudah besar," timpal anak itu seolah bangga dengan ucapan Melanie tadi.
Setelah Elves turun, Melanie langsung mengetuk pintu.
"Nak! Nak!"
Tak ada jawaban dari dalam karena keduanya sudah terlelap.
__ADS_1
"Jack! Jack! Buka pintunya! Elves mau bertemu," ucap Melanie sambil terus mengetuk pintu.
"Mas bangun!" Olivia mengguncang tubuh Jack karena tak jua bangun.
"Nak Olivia!" seru Melanie lagi.
"Mas bangun ih!" seru Olivia.
"Kita kembali lagi nanti saja ya Elves, sepertinya Mommy dan Daddy kamu sudah tertidur, Oma tidak mau mengganggu tidur Mommy kamu yang sedang sakit."
Elves menggeleng.
"Tidak apa kalau Daddy sudah tidur, El hanya ingin melihat wajahnya saja."
"Baiklah kalau begitu, tapi janji ya jangan berisik! Setelah menatap wajah Daddy kamu harus kembali keluar agar mereka beristirahat dengan tenang. Daddy kamu selama tiga hari ini pasti kurang tidur karena berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang ada di kantor."
Elves mengangguk paham dan Melanie langsung memutar handle pintu. Ia terperangah melihat pakaian Jack maupun Olivia berserakan di lantai.
"Astaghfirullah haladzim!" seru Melanie lalu menutup kembali pintu kamar putranya dan menggendong Elves lagi.
"Loh kok nggak jadi Oma?" tanya Elves bingung.
"Mommy dan Daddy lagi nggak bisa diganggu. Kalau kita mengganggu Daddy bisa marah nanti."
Elves mengangguk meskipun tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Melanie.
Olivia yang melihat Melanie menatap ke kamar mereka jadi merasa malu tatkala menyadari mereka belum memungut pakaiannya di samping ranjang.
Olivia hanya menggelengkan kepala mengingat aksi Jack yang begitu liar tadi sehingga pakaian yang tadinya berada di atas ranjang terlempar begitu saja.
"Ah aku malu, mau ditaruh dimana mukaku ketika bertemu Mommy," gumam Olivia sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Rasanya Olivia ingin mengurung diri di kamar terus menerus.
Bersambung.