
Jack menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Gawat ini adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja," batin pria itu sambil memalingkan muka agar wajahnya tidak bisa terlihat jelas oleh Jack padahal Jack sendiri tidak akan bisa mengingat satu-persatu wajah karyawannya apalagi pria itu hanyalah OB di salah satu perusahaan cabang miliknya.
"Kamu tidak apa-apa, kan Oliv?" tanya Jack khawatir.
Perlahan pria itu bergeser ke arah pintu dan hendak kabur, tetapi lengannya dicekal oleh Jack.
"Mau kemana kamu?"
Pria itu membeku dan diam seperti batu.
Bug bug bug.
Jack menghajar pria itu membabi buta.
"Jangan kau pikir kau akan bebas setelah menyentuh calon istriku!"
Bug bug bug.
Untuk kedua kalinya Jack menghajar pria itu kemudian memegang wajahnya dan membenturkan kepalanya ke arah dinding.
Jack berhenti tatkala melihat pria yang tidak melawan karena syok itu sudah mengucurkan darah dari sudut bibirnya.
Sekali lagi kau berani menyentuh Olivia, maka kau akan ku kirim ke neraka!" ancam Jack.
"Ampun," ucap pria itu dengan suara lemah dan mendesis kesakitan.
Olivia yang tidak puas karena Jack menghentikan pukulannya, bangkit dan langsung menggantikan Jack memukul pria bejat yang sudah tidak berdaya itu.
"Hentikan Oliv!" teriak Jack melihat Olivia menendang pria itu tanpa ampun. Kalau tidak dihentikan bisa-bisa nyawa pria itu melayang di tangan Olivia.
"Biarkan aku menghajarnya Mas aku benci sama dia. Aku benci sama dia!" teriak Olivia tak kalah keras. wanita itu sudah benar-benar dikuasai amarah.
Bug bug bug
Olivia terus menghajar tanpa ampun sepertinya amarahnya sudah memuncak.
"Hentikan Oliv kau bisa membunuhnya!" teriak Jack lagi.
"Olivia sabar!" seru Tina dan langsung berlari ke arah Olivia lalu memeluk sahabatnya dengan erat sehingga Olivia tidak bisa bergerak lagi.
Elves berdiri mematung, dia meneteskan air mata melihat Olivia mengamuk sambil menangis.
"Kita ke sana yuk," ajak Bram tidak ingin melihat Elves kepikiran melihat kondisi Olivia.
"Aku tahu kamu sangat marah karena dia hampir saja melecehkanmu. Aku mengerti perasaanmu, tapi aku tidak mau kau dipenjara dan meninggalkan kami berdua," ujar Jack sambil duduk di samping Olivia.
"Dia bukan hampir saja melecehkanku Mas, tapi sudah. Arrggh!" Olivia menendang pria itu dengan kakinya membuat pria itu kini pingsan.
"Akan kubunuh dia!" Olivia hendak bangkit dari duduknya dan memberontak pada Tina yang menahannya.
"Sudah Olivia, istighfar!" seru Jack lalu mencoba menenangkan Olivia dengan cara mengusap-usap punggung Olivia.
"Tolong pikirkan Elves kalau kau harus masuk penjara."
Setelah mendengar nama anak itu disebut barulah Olivia mulai turun emosinya.
"Maaf jika aku egois," ucap Olivia sambil menunduk, tapi gara-gara dia hidupku berantakan. Aku harus kehilangan kesucianku sebelum menikah di tangannya. Jangankan memandang wajahnya, melirik dia pun aku jijik. Bahkan aku jijik dengan tubuhku sendiri kala mengingat dia telah berani menjamahku tanpa ampun." Sorot mata Olivia penuh dendam. Jack tidak pernah melihat ekspresi Olivia seperti ini sebelumnya. Wanita yang dia kenal lembut sekarang sangatlah kasar.
"Aku kehilangan kehormatanku gara-gara dia Mas." Olivia terisak sedangkan Tina hanya bengong mendengar cerita Olivia. Dia pikir melihat keceriaan di wajah Olivia wanita itu tidak pernah mengalami nasib yang mengenaskan seperti ini. Nyatanya Olivia menyimpan kesedihannya seorang diri.
"Jadi dia yang memperkosamu waktu itu?" tanya Jack dengan raut wajah terkejutnya.
Olivia mengangguk lemah.
__ADS_1
"Tuan!" sapa beberapa anak buah Jack pada atasannya itu.
"Kalian urus pria ini. Amankan di tempat khusus. Sepertinya saya mencurigai sesuatu!"
"Baik Tuan." Segera anak buah Jack mengangkat tubuh pria yang sudah tidak berdaya itu.
"Apa tidak sebaiknya langsung membawa pria ini ke kantor polisi Tuan?" tanya Tina yang merasa ambigu dengan perintah Jack pada anak buahnya. Sepertinya tempat aman yang dimaksud bukanlah kantor polisi.
"Tidak kami harus tahu dulu siapa yang menyuruhnya," jawab Jack dengan tenang.
"Maksudnya?" tanya Olivia dan Tina serempak.
"Sepertinya pria itu memang mengincar dirimu Olivia. Apakah kau tidak sadar? Jika dia memang hanya ingin menyalurkan nafsunya bukankah di daerah dekat sini tadi banyak berkeliaran para wanita seksi? Kenapa harus ke mall dulu untuk mencarimu? Saya yakin sebelumnya dia mengikuti mobil kita."
Olivia terdiam mendengar kesimpulan Jack, lebih tepatnya memikirkan apakah pria itu memang seperti yang dituduhkan oleh Jack.
"Kalau mengingat waktu dia memperkosa dulu, dia melakukan dengan cara menjebak sebelum melakukan aksinya," batin Olivia.
"Sudah kita pulang saja!" ajak Jack sambil menuntun Olivia keluar dari ruangan itu.
Tina pun berjalan di belakang mereka.
"Mana Elves?" tanya Jack sambil balik badan.
"Bersama Bram temanku. Sepertinya mereka menunggu di mobil."
"Kalau begitu kalian semua ikut ke rumahku!" perintah Jack dan Tina hanya mengangguk.
"Elves sini!" seru Olivia saat dirinya hampir sampai di sisi mobil Bram. Kebetulan Bram membuka kaca mobil dan Elves mengulurkan wajah keluar kaca.
Elves meringis memandang Olivia, sepertinya anak itu takut melihat kemarahan Olivia tadi.
"Jangan takut sama Mommy, sini!" seru Olivia lagi.
Elves memandang wajah Bram yang mengangguk padanya.
"Baik Om." Elves turun dari mobil dan berlari ke arah Olivia.
"Mommy!" teriak Elves dan Olivia merentangkan tangan agar Elves masuk ke dalam pangkuannya langsung. Sejurus kemudian Elves sudah berada dalam gendongan dan Olivia langsung membawa tubuh anak itu masuk ke dalam mobil Jack.
"Mommy tidak marah lagi?" tanya Elves menatap wajah Olivia dengan sedikit ragu.
"Tidak sayang, maafkan mommy yang tidak dapat mengontrol emosi tadi ya. Elves takut ya sama Mommy?"
Elves mengangguk pelan.
"Yasudah Mommy janji tidak bakal marah-marah lagi."
"Beneran?" tanya Elves sumringah.
"Iya," jawab Olivia sambil mencium pipi kiri dan kanan Elves secara bergiliran. Barulah anak itu bisa tertawa lepas.
"Sudah ya kita pulang sekarang," ucap Jack sambil menghidupkan mesin mobil.
Setelah mobil Jack bergerak, Tina pun mengajak Bram untuk mengikuti mobil itu.
"Ngapain kita ikutin mereka?" tanya Bram bingung.
"Tuan yang tadi meminta kami datang ke rumahnya."
"Oh oke kalau begitu."
Setelah sampai di rumah Jack dan mempersilahkan masuk, Jack memberikan keduanya amplop berisi uang.
"Terima kasih ya sudah membantah kami."
__ADS_1
"Tapi Tuan kami ikhlas membantu Olivia. Kami tidak mengharapkan imbalan, iya kan, Bram?"
"Iya Tuan."
"Sudah ambillah dan itu bukan imbalan melainkan sebagai ucapan terima kasih."
Keduanya mengangguk.
"Dan namaku siapa?" tanya Jack pada Tina.
"Tina Tuan."
"Boleh saya minta tolong?"
Tina mengangguk.
"Temani Olivia sebentar ya sampai emosinya sudah benar-benar stabil. Saya ingin melihat pria yang tadi."
Tina melirik ke arah Bram dan pria itu terlihat mengangguk.
"Dan kamu juga jangan pulang sebelum makan. Saya akan meminta bibi untuk menyiapkan makan untuk kalian berdua." Setelah mengatakan hal itu Jack pun berlalu pergi.
***
"Bagaimana apa dia sudah sadar?"
"Sudah Tuan."
"Sudah tahu identitas pria itu?"
"Tahu Tuan. Dia adalah OB di perusahaan cabang milik Tuan yang dipimpin oleh Bu Marta. Jadi, sangat mudah untuk mengetahui identitasnya. Ini dia berkasnya."
"Oke bagus." Jack pun menghampiri pria itu dan bertanya, "Siapa yang menyuruhmu?"
"Ti–dak Tuan tidak ada yang menyuruhku," bohong pria itu.
"Oh jadi kamu tidak bisa jujur? Baiklah kalau begitu aku yang akan jujur pada keluargamu." Jack menunjukkan kertas di tangannya.
"Tu–an, jangan Tuan!"
"Atau kau akan melihat ibu dan adikmu hancur?"
"Jangan Tuan, kumohon jangan!"
"Yasudah kalau begitu katakan siapa yang menyuruhmu!" bentak Jack.
"Tapi saya–"
"Katakan! Atau apa yang terjadi pada Olivia akan terjadi pada adik perempuanmu dan akan lebih mengenaskan lagi. Bayangkan jika adikmu dijamah oleh tiga orang sekaligus! Akankah adikmu baik-baik saja atau malah depresi?" Jack tersenyum menyeringai.
"Jangan Tuan, jangan!"
"Yasudah katakan!" sentak Jack hingga suaranya menggema di dalam ruangan.
"Ba–ik. Yang menyuruh saya adalah ...."
"Siapa!" bentak Jack lagi hingga pria itu kaget dan mundur ke belakang.
"Marta, ya Ibu Marta."
Tentu saja Jack terbelalak mendengar nama yang disebut oleh pria itu.
"Ibu manager di perusahaan tempatmu bekerja?" tanya Jack memastikan.
"Iya Tuan benar."
__ADS_1
"Kurang ajar dia!" geram Jack sambil meremas kedua tangannya.
Bersambung.