Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 50. Sidang Perceraian.


__ADS_3

Jam 7 pagi Elves, Olivia dan Jack sudah nampak rapi.


"Tumben kalian barengan turun," ucap Melanie sambil menatap ke arah ketiganya yang menuruni tangga dengan heran.


Jack dan Olivia hanya menjawab dengan senyuman.


"Rapi lagi kayak mau pergi," ujar Melanie lagi sebab diantara ketiganya tidak ada yang menjawab.


"Kita bertiga mau jalan bersama," jawab Jack sedangkan Olivia yang merasa tidak enak langsung menunduk.


"Nggak ngajak Mommy, nih? Tumben-tumbenan," protes Melanie.


"Mau bawa neneknya Olivia Mom ke dokter langganan Mommy dulu. Mommy mau ikut?"


"Oh ke dokter? Nggak ah, Mommy dah bosen ke dokter mulu," jawab Melani lalu terkekeh.


"Nyonya dulu sakit apa?" tanya Olivia penasaran sebab Jack mengatakan dokter langganan dan Melanie mengatakan bosan.


"Sama kayak nenekmu, stroke hingga harus duduk di kursi roda. Nenekmu itu masih mending, masih bisa bicara meskipun terbata, kalau Mommy mulutnya tuh sampai miring dan kaku."


"Tuan ada-ada saja, mulut miring bagaimana?"


"Maksudnya bibirnya itu kayak gimana gitu," ucap Jack lalu terkekeh.


"Sudah nggak usah diceritakan," larang Melanie.


"Hebat berarti ya dokternya bisa menyembuhkan penyakit yang sudah parah. Berarti ada kemungkinan nenek bisa sembuh bisa."


"Insyaallah, bisa. Apa yang tidak kalau sudah Tuhan yang berkehendak? Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha dan berdoa selebihnya serahkan pada Tuhan."


"Tuan benar semoga ini adalah jalan kesembuhan untuk nenek. Kalau nenek benar-benar sembuh Olivia berjanji akan menuruti permintaan Tuan."


"Tidak usah saya ikhlas," kata Jack.


"Tapi di dunia ini tidak ada yang gratis ya Olivia jadi kalau Jack tidak ingin menerima penawaran kamu bagaimana kalau saya yang mengambil alih?"


"Maksud Mommy apa sih?" tanya Jack tidak paham.


"Kalau nenek Olivia sembuh berarti dia harus memenuhi satu keinginan saya. Bagaimana Olivia?"


"Baik Nyonya."


"Tapi Mommy tidak boleh meminta yang aneh-aneh." Jack memperingatkan.


"Nggak akan, janji," ucap Melanie.


"Ya sudah kita makan saja!" perintah Jack.


"Kau panggil nenekmu saja dan suapi biar cepat, untuk Elves kali ini aku yang akan menyuapi!" perintah Jack. Tangannya mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk-pauk untuk Elves dari tangan Olivia.


"Tapi Tuan makannya ba–"


"Makan bersama kamu nanti setelah mereka berdua selesai makan."


Olivia mengangguk lalu bangkit dari duduknya dan bergegas menemui sang nenek yang baru saja selesai ia mandikan dan ditinggal karena harus mengurus Elves. Mulai hari ini Olivia harus bisa mengatur waktu agar pekerjaan dan neneknya sama-sama tidak ada yang terbengkalai.

__ADS_1


Saat melihat Elves belum bangun tadi, Olivia segera ke kamar neneknya dan mengurus wanita tua itu.


Beberapa saat kemudian Olivia kembali ke samping Elves dengan mendorong kursi roda sang nenek.


"Maaf ya El, kali ini Elves disuapi daddy dulu karena kita sedang terburu-buru. Nanti lain kali Mommy janji akan pandai-pandai membagi waktu."


"Iya mommy," jawab Elves. Anak itu memaklumi karena simpati terhadap nenek dari Olivia.


Selesai makan mereka langsung berpamitan pada Melanie dan langsung menuju sebuah klinik dengan mobil Jack.


Sampai di depan klinik Olivia mendorong kursi roda neneknya sambil mengawasi setiap penjuru klinik.


"Kau tenang saja Olivia, selain melakukan fisioterapi dokternya juga memiliki ilmu semacam pengobatan dalam begitu. Jadi, ada kemungkinan besar nenek akan sembuh."


"Aamiin semoga saja ya Tuan."


Jack mengangguk. "Ayo El lebih cepat lagi jalan'," ujar Jack sambil menuntun putranya.


Di depan pintu Jack langsung disambut ramah oleh beberapa perawat di sana. Setelah pasien yang berada di dalam kamar periksa sudah keluar barulah nenek Olivia dipersilahkan masuk.


Satu bulan kemudian ternyata sudah ada perkembangan pada nenek Olivia. Wanita itu perlahan mulai bisa menggerakkan tangannya yang tadinya kaku mulai luwes, bicaranya juga sudah mulai lancar kembali.


"Alhamdulillah ya Nek," ucap Olivia saat melihat perkembangan dari sang nenek. Hanya saja wanita tua itu masih belum bisa berjalan.


"Iya Oliv, terima kasih ya sudah merawat nenek."


"Sama-sama Nek, itu sudah kewajiban Olivia sebagai cucu Nenek. Kalau Nenek mau berterima kasih ucapkan saja pada Tuan Jack karena tanpa beliau tidak mungkin Olivia bisa membawa Nenek ke klinik mahal itu." Olivia tidak bisa membayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk Jack terhadap pengobatan rutin itu.


Olivia berpikir, rasanya walaupun dia mengabdi seumur hidup pada Jack tidak akan bisa membayar semua kebaikan dan hutang budi terhadap Jack dan keluarga yang sudah begitu baik padanya. Benar kata orang-orang hutang budi akan dibawa sampai mati.


"Iya Tuan, itu sudah pasti yang pertama."


Jack mengangguk. "Masalah nenekmu yang belum bisa berjalan itu dokter mengatakan bisa menanganinya, tetapi membutuhkan waktu lebih banyak lagi sebab keterlambatan dibawa ke rumah sakit," jelas Jack panjang lebar.


"Iya Tuan, tidak masalah, kami akan bersabar. Iya kan, Nek?"


"Iya Tuan. Kalau nanti saya benar-benar bisa digerakkan dan berjalan saya janji akan membantu pekerjaan di rumah ini."


Jack hanya menjawab perkataan nenek Olivia dengan anggukan.


Kalau begitu mari kita segera pergi, bukannya sidang akhir perceraian antara kamu dan Reza akan segera dimulai ya?" Jack mengingatkan Olivia.


"Oh iya, kenapa aku jadi lupa sih?" Olivia menepuk jidatnya langsung pamit.


"Permisi Tuan saya akan berganti pakaian dulu."


"Tidak usah terburu-buru, biar saya yang antar!" teriak Jack.


Beberapa saat kemudian Olivia turun dari atas tangga dengan pakaian formal.


"Ayo saya temani!"


"Tuan tidak sibuk?"


"Untuk hari ini saya lagi santai, oleh karena itu ingin hadir persidangan kalian."

__ADS_1


"Elves bagaimana Tuan?"


"Tidak perlu dibawa biar Elves dengan Mommy saja."


"Baiklah."


Setelah keduanya pamit pada nenek Olivia, Elves dan Melanie mereka langsung berangkat ke pengadilan.


Hari ini adalah sidang akhir setelah mereka berdua diberikan kesempatan untuk mediasi dan keduanya sama-sama sudah mengambil keputusan untuk bercerai dan tidak akan pernah ada yang namanya kata rujuk.


Palu pun diketuk pertanda Reza dan Olivia resmi bercerai setelah sebelumnya Reza mengatakan kata talak di hadapan orang banyak.


Olivia keluar dari gedung pengadilan dengan gontai, entah dia harus sedih atau bangga terhadap takdir perceraian ini. Meskipun bahagia bisa lepas seutuhnya, yang pasti gelar janda sudah melekat pada dirinya. Gelar yang kadang membuat orang lain akan menilai miring dirinya.


"Hai selamat ya atas perceraian kalian," ucap Meilin sambil berlari ke arah Olivia.


Melihat Meilin menghampiri dirinya Olivia langsung mengulas senyuman. Dia tidak ingin wanita itu menganggap dirinya sedih dan kecewa atas keputusan ini.


"Terima kasih sudah membantuku lepas dari laki-laki pengecut macam Mas Reza." Olivia tersenyum sinis.


"Oh ya? Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang?"


"Tentu saja aku tahu Meilin, kakakku yang licik. Kau bangga bisa membalaskan dendam ibumu terhadapku. Namun, tidak masalah aku bisa melepas Mas Reza dengan ikhlas. Tidak seperti keluarga kalian yang dipenuhi rasa dendam."


"Cih sok tabah kamu padahal dalam hati ... sakit," ledek Meilin.


"Terserahlah kamu mau ngomong apa. Ayo Tuan kita pergi dari tempat ini!" Olivia menarik tangan Jack pergi. Namun, Meilin mengejarnya.


"Tunggu Tuan Jack!"


Jack menghentikan langkahnya dan berbalik sedangkan Meilin melangkah mendekat.


"Apa Tuan tidak merasa pembantu Tuan itu lancang?" Meilin memandang ke arah tangan Olivia yang memegang pergelangan tangan Jack.


"Maaf Tuan." Olivia segera melepas pegangan tangannya dan menunduk membuat Meilin menertawakannya.


"Katakan ada urusan apa denganku?!"


"Saya hanya ingin Tuan hadir di pesta pernikahanku dengan Mas Reza," sahut Meilin sambil menyodorkan undangan pernikahan ke tangan Jack.


Jack menerimanya lalu mengangguk.


"Saya sangat berharap Tuan membawa pembantu Tuan ini ikut serta," ucap Meilin dengan menekankan pada kata pembantu.


"Tentu saja, ada lagi?"


"Tidak ada Tuan."


"Kalau begitu kami berdua permisi," ucap Jack lalu menggenggam tangan Olivia. Olivia hanya melirik dan tidak menolak mengingat ada Meilin di depannya saat ini.


"Kita pergi Olivia," ucap Jack lalu membawa Olivia keluar dari area pengadilan agama.


Setelah selesai sidang perceraian antara Olivia dan Reza akhirnya Jack mengajak Olivia ke sebuah restoran terlebih dahulu sebelum keduanya pulang ke rumah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2