
"Sekarang ayo kita ke kantor polisi!" ajak Frans secara baik-baik sebab Reza sudah terlihat tidak berdaya.
"Aku tidak mau, tolak Reza."
"Bangun sendiri atau aku akan memerintahkan mereka menyeretmu dengan kasar!" tegas Frans dengan tatapan tajam yang menghunus sampai ke relung hati Reza.
Pria itu menggeleng.
"Ampuni aku, aku terpaksa melakukan ini karena desakan Meilin," ujar Reza sengaja berbohong agar yang dibawa ke kantor polisi adalah Meilin bukanlah dirinya.
"Dan kau mau diperintahkan begitu saja?" Frans menatap intens wajah Reza lalu tersenyum sinis.
"Ikat dia di ruangan ini dan tutup pintunya dengan rapat!" perintah Frans selanjutnya langsung dilaksanakan oleh anak buahnya.
Beberapa dari mereka menggiring Reza pada sebuah kursi lalu mendudukkan di atasnya. Tak lupa pula mereka mengikat tangan dan kedua kaki Reza.
"Matikan lampu kamar ini!"
"Baik Tuan Frans." Salah satu dari mereka pun mematikan lampu sehingga kamar yang awalnya terlihat terang benderang akhirnya berubah menjadi hitam pekat.
__ADS_1
Mereka semua keluar dari ruangan itu sebelum akhirnya menutup pintu.
"Tuan Frans, ampuni aku! Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi!" teriak Reza sehingga suaranya menggema dalam ruangan.
"Tuan?" Seorang anak buah Frans ingin protes saat melihat tuannya itu hendak membuka pintu lagi.
"Aku ingin bicara dengannya sebentar!"
"Baik." Mereka membiarkan Frans kembali masuk ke dalam kamar.
"Reza, malam ini kau pergunakanlah waktu yang tersisa untuk bertobat karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok saat Tuan Jack menemuimu." Perkataan Frans terdengar begitu menakutkan di telinga Reza.
"Ah kenapa aku melupakan kalau Olivia dalam genggaman Jack sekarang?" Penyesalan Reza membuat pria itu semakin merasa lemah dan tidak berdaya.
"Tuan lepaskan aku! Andai aku tidak dalam keadaan terikat seperti ini pasti aku akan bersujud di kaki Tuan," ucap Reza dengan suara lemahnya.
"Yang berhak menentukan semua adalah Tuan Jack bukan aku ataupun kamu!" tegas Frans membuat Reza meringis dalam kegelapan.
"Dan satu lagi, kau tidak perlu bersimpuh di kakiku karena kau tidak punya kesalahan padaku. Lagipula aku bukan Tuhan yang berhak menerima sujud dari seseorang. Namun, mungkin Tuhan berkenan memberikan kesempatan pada tanganku untuk mengambil nyawa seseorang," ucap Frans dengan suara yang terdengar begitu menakut hingga Reza mengeluarkan keringat dinginku saking cemasnya.
__ADS_1
"Apa iya Tuan Jack memerintahkan Tuan Frans untuk membunuhku?" gumam Reza seolah bertanya pada dirinya sendiri. Namun suaranya masih terdengar di telinga Frans.
"Ya, itu mungkin saja terjadi, tapi berdoalah agar Tuan Jack memberikan pilihan lainnya untukmu," ucap Frans lalu berbalik dan akhirnya keluar dari pintu. Namun, sebelumnya salah seorang dari anak buah Frans mematikan lampu terlebih dahulu.
"Tuan, Meilin kabur dari villa ini!" lapor seseorang setelah beberapa langkah beranjak dari kamar Reza.
"Tuan dia membawa kabur Tuan kecil juga!" lapor yang lainnya.
"Apa?! Bagaimana mungkin? Cari dia sampai dapat dan segera bawa ke tempat ini lagi!" perintah Frans.
"Baik Tuan." Beberapa orang tampak berlari keluar dari villa sedangkan beberapa anak buah lainnya ditugaskan menjaga di depan kamar Reza agar pria itu tidak kabur.
Frans sendiri melangkah ke arah kamar Jack untuk memberitahukan kabar yang didengarnya itu. Namun, saat tiba di depan kamar atasannya itu Frans terdiam mendengar suara-suara Jack dan Olivia yang seolah beradu nafas.
"Aku lupa Nyonya Olivia masih dalam pengaruh obat perangsang, jika Tuan Jack meninggalkannya karena mendengar kabar Elves maka semuanya bisa kacau." Akhirnya setelah pikir panjang Frans memutuskan mencari sendiri tanpa memberitahu dan mengajak Jack.
"Semoga saja secepatnya Elves diketemukan sebelum Tuan Jack mengetahui berita ini," batin Frans lalu terbalik dan langsung berlari keluar dari villa. Dia memberitahukan pada beberapa karyawannya dan meminta tolong untuk ikut mencari. Setelah itu dirinya langsung bergabung bersama anak buah yang lainnya untuk mencari keberadaan Elves dan Meilin saat ini.
Bersambung.
__ADS_1