Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 62. Hari Pernikahan.


__ADS_3

Bulan dan tanggal yang ditentukan pun tiba. Hari ini adalah hari pernikahan antara Olivia dan Jack. Di kediaman Jack tampak ramai oleh para tamu undangan dan juga panitia pernikahan.


Jack dan Olivia dirias di kamar yang berbeda. Jack ditemani Melanie sedangkan Olivia ditemani oleh Elves dan sang nenek.


"Kata oma bentar lagi mommy Olivia akan benar-benar jadi mommy Elves, kan?" tanya Elves sambil menatap wajah Olivia yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Terlihat seorang perias sedang membenahi bulu mata Olivia lalu beralih mengoleskan perona wajah.


"Iya Sayang," jawab Olivia sambil tersenyum.


"Nanti mommy Olivia juga bakal tidur bareng sama daddy kata oma, nggak bakal tidur dengan Elves lagi dong?" Anak itu terlihat cemberut.


"Nggak juga, nanti pasti mommy sempatkan tidur dengan Elves."


"Mommy janji?"


"Pasti, mommy janji sama Elves."


"Elves minta tolong ya, jangan ajak mommy ngomong dulu, nanti make up mommy Olivia belepotan kayak badut."


"Iya Nek maaf," ucap Elves lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.


"Nggak apa-apa."


"Jack kenapa tegang begitu sih Nak? Kamu kayak baru nikah pertama kali saja sampai mondar-mandir begitu dari tadi," protes Melanie melihat putranya tidak bisa diam sejak dirinya selesai dirias.


"Sama aja mom, pernikahan pertama atau kedua nggak ada bedanya. Itu sama-sama sakral dan tidak bisa dianggap remeh. Kalau salah ucap ijab kan jadi berabe urusannya. Udah gitu bukan cuma malu-maluin diri Jack sendiri, tapi juga Olivia."


"Coba tenangkan dirimu. Nanti akan lancar dengan sendirinya. Justru dengan begini kau akan gugup nanti dan bisa berimbas pada kurangnya konsentrasi!"


Jack mengangguk lalu menghirup nafas segar kemudian menghembuskan secara perlahan.


"Huufft."


"Iya Mom, ini Jack juga sedang menenangkan diri."


"Baguslah kalau begitu. Lebih baik kau duduk dan mommy akan mengecek kesiapan Olivia di kamar sebelah."


Jack mengangguk.


Setelah dirasa semua sudah selesai, Melanie langsung membawa Jack ke kamar Olivia.


"Tuh istrimu sudah selesai dirias dan semua persiapan di luar juga sudah standby," ucap Melanie saat dirinya dan Jack sampai di depan pintu kamar Olivia.


Jack diam di pintu dan memandang kagum ke arah Olivia. Kalau Melanie tidak mengatakan dia adalah Olivia mungkin saja Jack sudah pangling.


"Mas!" sapa Olivia melihat Jack berdiri mematung di depan pintu.

__ADS_1


"Ah iya," sahut Jack gelagapan.


"Kok malah bengong sih?" protes Olivia.


"Ah nggak hanya mengagumi ciptaan Tuhan yang terpampang di depan mata." Jack melangkah mendekati Olivia.


"Sudah siap?" tanyanya kemudian mengulurkan tangan.


"Sudah," jawab Olivia lalu balas mengulurkan tangan. Jack menggenggam tangan Olivia dan membawa calon istrinya menuju meja ijab.


Sepanjang perjalanan menuju meja ijab keduanya menjadi pusat perhatian setiap orang. Para tamu undangan kagum pada Olivia yang bisa memenangkan hati Jack yang sebelumnya sudah beku terhadap perempuan.


"Wah keren ya Olivia, dicampakkan oleh Reza malah dapat yang jauh lebih baik," ucap seorang karyawan Jack yang juga merupakan teman kerja Reza.


"Yup benar, mungkin ini yang namanya dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya," timpal yang lain.


"Wah andai aku bisa bernasib sama seperti Olivia. Mau dong dilempar pak suami juga?"


"Wkwk, entar dilempar dan diterima kang cilok, kan nggak lucu."


"Iya juga ya, tapi siapa tahu Presdir cilok, hahaha."


"Halu aja." Mereka bertiga tertawa renyah.


"Ssst jangan berisik malu dilihat orang mending kalian lihat tuh muka Reza yang merah! Kayaknya dia nyesel melepaskan Olivia."


"Hei ada apa Bro? Kenapa menatap mantan seperti itu?" Seorang teman kerja Reza menepuk bahu pria itu dan duduk di sampingnya.


"Jangan bilang kamu cemburu pada Olivia dan Tuan Jack!"


"Ah nggak siapa yang cemburu?" kilah Reza.


"Bagus kalau begitu karena rasa cemburumu pasti akan menyakiti dirimu sendiri. Sudah tahu kan bagaimana Tuan Jack bersikap pada Nyonya Dianaz? Saya rasa beliau juga akan begitu dengan Nyonya Olivia. Tuan Jack akan memperlakukan Nyonya Olivia seperti ratu dan kalau sudah begitu akan sulit bagi Nyonya Olivia berpaling dari Tuan Jack."


"Kamu bicara apa sih? lagipula mereka belum menikah kenapa harus memanggil Olivia dengan sebutan Nyonya?" protes Reza merasa risih dengan panggilan temannya untuk Olivia.


"Hahaha, kau harus terbiasa Pak Reza sebab sebentar lagi status Olivia akan menjadi Nyonya dari atasanmu sendiri."


Reza tersenyum kecut.


"Tuan Jack mungkin bisa memiliki tubuh Olivia seutuhnya, tetapi tidak dengan hatinya. Aku yakin sampai saat ini Olivia masih mencintaiku."


"Percaya sekali kamu Rez."


"Iyalah, bagaimana pun aku adalah cinta pertamanya. Kamu tahu kan kalau cinta pertama itu sulit dilupakan? Lagipula saya juga yakin kalau Tuan Jack tidak mencintai Olivia. Dia masih menganggap bahwa Olivia adalah Nyonya Dianaz karena kemiripan wajah keduanya. Aku yakin rumah tangga mereka nggak akan bertahan lama."

__ADS_1


"Sok tahu lo, emang rumah tangga kamu dan Meilin yang tidak bertahan lama? Kalau rumah tangga Tuan Jack saya yakin akan bertahan karena mereka sama-sama tulus," ucap pria itu lalu bangkit dari sisi Reza dan mencari tempat duduk lain.


"Acara selanjutnya adalah ijab qobul, karena kedua mempelai sudah hadir silahkan pak penghulu untuk menikahkan Tuan Jack dan Nona Olivia!" Terdengar suara MC dari balik mikrofon.


Pak penghulu mengangguk kemudian menanyakan kesiapan kedua pengantin. Setelah keduanya mengatakan siap dan nenek dari Olivia menyerahkan perwalian Olivia pada pak penghulu karena sudah tidak punya ayah, maka pak penghulu yang mengambil alih mengucapkan kalimat ijab.


Lalu dengan suara lantang dan kalimat yang lancar Jack mengucapkan kalimat qobul.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!"


"Saah!"


"Sah!"


Suara sah terdengar dari segala penjuru.


"Alhamdulillah." Pak penghulu pun memimpin doa.


Jack pun segera menangkup wajah sang istri lalu mengecupnya. Darah pria itu langsung berdesir setelah sekian lama tidak pernah mencium wanita.


"Mas cincinnya," bisik Olivia sebab Jack melewatkan acara tukar cincin.


"Wah ternyata Tuan Jack sudah tidak sabar ya? Lama menjomblo ya Tuan?" Pak penghulu menggoda Jack membuat suasana riuh dengan sorakan dan tepuk tangan.


Semua yang hadir di acara pernikahan merasa ikut bahagia kecuali Reza dan Meilin yang terlihat meradang.


Reza kesal sebab Olivia sudah menjadi milik Jack sedangkan Meilin kesal karena Olivia mendapatkan kebahagiaan setelah keluarga Meilin hancur.


Jack memasang cincin di jari manis Olivia kemudian mengecup kening istrinya lagi. Setelahnya giliran Olivia yang memasangkan cincin nikah di jari manis Jack.


"Mas?"


Tadinya Olivia ragu untuk memasang cincin di jari manis Jack sebab kemarin-kemarin dia melihat cincin kawin Jack dengan mendiang istrinya masih tersemat di sana.


"Kenapa? Cincin itu? Sudah aku lepas. Maaf ya kemarin-kemarin aku lupa melepasnya. Sekarang cuma ada kamu dan Elves di hatiku."


Olivia mengangguk, menyentuh tangan Jack selalu menyelamatkan cincin kawin di jari manis pria itu. Setelahnya Olivia langsung mencium tangan suaminya.


"Semoga langgeng ya sampai Jannah!" seru seorang karyawan.


"Terima kasih doanya," ujar Jack dan Olivia hanya mengulas senyuman.


"Aku akan membuat kalian berpisah apapun caranya," tekad Reza.

__ADS_1


"Kau harus hancur Olivia," geram Meilin.


Bersambung.


__ADS_2