
Olivia membawa Elves ke rumahnya untuk mengecek keadaan ibunya di sana. Apakah memang benar sudah pergi ataukah masih ada di rumah tersebut dan ibunya itu bekerja sama untuk membohongi dirinya dengan Wati.
Sampai di depan rumah keadaan terlihat sepi dan setelah dicek ternyata pintunya sudah dikunci.
"Mommy, ini rumah siapa?" tanya Elves sebab Olivia mendatangi rumah yang lain lagi.
"Sebenernya rumah ayah Mommy, tapi ... ah sudahlah kita pergi saja," ajak Olivia dengan menggandeng tangan Elves.
"Eh tunggu dulu aku telepon ibu dulu siapa tahu kali ini diangkat," ujar Olivia sambil menelpon nomor Marisa.
"Halo Bu, ibu dimana? Olivia ingin berbicara dengan nenek!" pinta Olivia. Namun, Marisa langsung menutup telepon.
"Ah ibu kenapa ditutup sih? Sepertinya aku harus melacak keberadaan ibu," ucap Olivia sambil mengotak-atik ponselnya.
"Oh rupanya posisi ibu sekarang ada di stasiun kereta api. Apakah ibu ingin pulang ke desa?" Olivia menebak-nebak.
"Oke El kita ke stasiun sekarang," ucap Olivia sambil melambaikan tangan memberhentikan taksi.
"Kemana Mbak?"
"Stasiun kereta api terdekat Pak!"
"Siap Mbak."
"Bisa cepat ya Pak sebab saya sedang mengejar ibu saya. Kalau terlambat sedikit ibu pasti sudah keduluan pergi. Bapak tenang saja nanti saya kasih tips."
"Oke Mbak, langsung tancap gas," ujar sopir taksi langsung melakukan kendaraannya.
Mobil taksi melaju cepat di jalanan hingga hanya dalam waktu singkat sudah sampai di stasiun kereta api.
Olivia menoleh ke sana kemari saat sebelum turun dari taksi dan saat melihat ibunya dia langsung meminta sopir taksi untuk menghentikan laju mobilnya.
"Stop di sini Pak!" perintah Olivia lalu mengulurkan ongkos ditambah uang tips sebab pak sopir bisa tepat waktu.
"Terima kasih Pak.
"Sama-sama Mbak, terima kasih juga uang tipsnya dan hati-hati Mbak."
"Iya Pak."
"Ayo El kita turun."
Saat Olivia dan Elves turun dari taksi semua penumpang kereta api sudah berjejer hendak masuk.
Tidak ingin terlambat Olivia langsung menggendong Elves dan membawanya berlari ke arah Marisa.
__ADS_1
"Ibu!" teriak Olivia membuat Marisa langsung menoleh. Wanita itu gusar melihat Olivia sedang berada di tempat yang sama dengan dirinya.
Olivia langsung menelusup pada orang-orang yang antri ingin masuk ke dalam gerbong. Seseorang yang tidak suka dengan Marisa karena menerobos begitu saja langsung mencekal tangan Marisa.
"Iya Mas tolong jangan dilepas!" pinta Olivia pada pria yang masih memegang pergelangan tangan Marisa.
Pria itu mengangguk sambil tersenyum dan Olivia semakin mempercepat langkahnya.
Tepat saat sampai di samping Marisa, Olivia menahan ibunya agar tidak pergi.
"Kemana nenek Bu?" tanya Olivia.
Marisa tidak menjawab.
"Bu! Kemanakah nenek? Apakah ibu benar-benar menaruh beliau ke panti jompo?" tanya Olivia curiga.
"Memangnya kalau bersama ibu apa untungnya?" tanya Marisa sinis.
"Kau sebagai cucunya saja tidak bisa diandalkan, kenapa aku yang hanya berstatus mantan menantu harus terus mengurasnya?"
"Bu, Olivia tidak bermaksud menelantarkan nenek, tapi–"
"Apa artinya kalau kamu sendiri meninggalkan dia dengan ibu?"
"Yang menyuruh kamu bekerja siapa? Ibu hanya ingin kamu menjadi seorang istri yang baik bagi Reza. Kau tinggal duduk manis di rumah sambil menunggu suami pulang kerja. Tidak usah muluk-muluk, jadi istri yang penurut. Sayangnya kamu tidak mau melakukan itu dan malah membuat kami kehilangan tempat tinggal seperti sekarang."
"Kenapa ibu malah menyalahkan saya? Seharusnya ibu sebelum berhutang memikirkan dulu keadaannya. Apakah sekiranya ibu mampu atau tidak untuk membayar? Hidup itu sesuaikan dengan kemampuan Bu, kita orang miskin tidak usah berlagak seperti orang kaya."
"Sekarang kamu pintar ngomong ya? Benar apa yang disampaikan Wati dan Reza ternyata setelah menikah kamu itu terlalu banyak protes."
"Terserah ibu mau menilai Olivia seperti apa. Yang jelas Olivia tidak mau disalahkan atas semua ini. Asal ibu tahu Mas Reza itu tidak seperti yang terlihat. Dia tidak hanya mengkhianati pernikahan kami dengan sering membawa perempuan ke dalam rumah, tetapi selama hidup bersamanya Olivia tidak pernah diberikan nafkah. Apa salah jika Olivia mencari kerja? Apakah salah jika Olivia memilih menjadi pengasuh anak ini?" tanya Olivia sambil mengusap kepala Elves.
"Sekarang saya tidak ingin meminta apapun pada Ibu. Cukup katakan dimana sekarang nenek berada. Katakan ibu menitipkan nenek di panti jompo yang mana biar Olivia yang akan menjemputnya!"
"Aku tidak tahu," ucap Marisa datar.
"Tidak tahu bagaimana Bu? Saya janji setelah ini tidak akan merepotkan ibu lagi untuk menjaga nenek."
Marisa terdiam. Terdengar suara dari balik mikrofon yang mengatakan keberangkatan akan segera tiba.
"Bu, katakan Bu!" desak Olivia.
"Aku tidak tahu," ujar Marisa lalu melepaskan pegangan tangan Olivia pada lengannya dan dirinya langsung bergegas masuk ke salah satu gerbong.
"Bu katakan Bu!" teriak Olivia.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, semalam aku meninggalkan dia di depan rumah dan sekarang aku tidak tahu nenekmu itu kemana. Sudahlah jangan salahkan aku, menjaga dia bukanlah tugasku!" Marisa berteriak pula dari pintu gerbong.
"Ah ibu, kenapa tidak menelpon aku sebelumnya? Arggh!" Olivia terlihat sangat kesal.
"Mommy kita akan kemana sekarang? Di sini panas sekali," keluh Elves.
Sontak saja Olivia langsung mengingat keberadaan Elves pula di tempat itu.
"Oh sorry sayang kalau begitu sekarang mommy antar Elves pulang."
"Dan Mommy nggak ikut pulang?"
"Nenek Mommy hilang dan Mommy harus mencarinya."
"Baiklah," ucap Elves pasrah. Dia tidak mungkin melarang Olivia apalagi terus ikut dengannya.
"Kamu memang anak yang pintar," ucap Olivia sambil mencubit gemas pipi Elves.
"Sudah yuk pulang!"
Elves mengangguk.
Sampai di rumah setelah meminta izin pada Melanie dan menitipkan Elves pada para pembantu Olivia langsung melakukan pencarian neneknya. Olivia merasa bersyukur memiliki majikan yang sangat baik seperti Melanie.
***
Satu Minggu berlalu ternyata pencarian Olivia belum berhasil juga padahal Melanie pun sudah turut membantu dengan menyuruh beberapa orang untuk ikut melakukan pencarian.
"Bagaimana Oliv sudah ketemu?" tanya Melanie yang melihat Olivia kembali dengan wajah yang tampak kacau. Raut keputusan-asaan sangat tergambar jelas di wajah wanita itu. Bahkan mata Olivia tampak memerah karena sehabis menangis.
"Tidak Nyonya, saya tidak tahu harus mencari kemana lagi," ucap Olivia dengan menyeka keringat di dahinya.
"Lebih baik kita telepon Jack saja biar dia bisa membantu mencari."
"Jangan Nyonya sepertinya Tuan Jack sedang sibuk akhir-akhir ini. Nyonya tahu sendiri kan sejak seminggu yang lalu beliau menelpon dengan terburu-buru dan mengatakan ingin keluar kota, beliau tidak pernah menelpon lagi. Sepertinya beliau tidak bisa diganggu."
"Tapi Olive–"
"Sudahlah Nyonya besok saya akan berusaha mencari lagi. Yang terpenting sekarang Nyonya dan Elves memahami keadaan saya dan tidak memecat saya."
"Pasti Olivia, mana mungkin kami tega melihatmu yang sudah terkena musibah masih mau menambah masalah."
"Ada apa ini?" Tiba-tiba suara bariton dari arah pintu membuyarkan pembicaraan Melanie dan Olivia.
Bersambung.
__ADS_1