Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 59. Hukuman Untuk Marta


__ADS_3

"Bawa Marta kemari!" perintah Jack pada anak buahnya.


"Baik Tuan."


"Dan kamu lapor polisi!"


"Baik Tuan."


Semua anak buah Jack pun keluar dari ruangan dan melakukan tugas masing-masing.


"Tuan ampun Tuan jangan lapor polisi!" mohon pria yang dibekuk di atas kursi. Namun, Jack sama sekali tidak mengindahkan perkataan pria itu.


"Tuan ampuni saya, saya janji akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan asal saya tidak masuk penjara," mohon pria itu lagi.


"Diamlah saya tidak ingin berbicara banyak hari ini! Kau cukup jujur pada polisi siapa orang yang menyuruhmu!"


"Apakah artinya saya hanya sebagai saksi dan akan dibebaskan?"


Jack tersenyum sinis. "Kita lihat saja nanti. Jujurlah agar kau tidak merugi." Setelah mengatakan kalimat itu Jack bergegas keluar.


"Kau jaga dia, aku ingin mencari angin segar!" Jack menepuk pundak salah satu anak buahnya yang tinggal di ruangan itu.


"Baik Tuan."


Jack mengangguk dan langsung melangkah keluar.


***


Di sebuah hotel acara pernikahan antara Meilin dengan Reza belum berakhir. Masih banyak tamu undangan yang berdatangan untuk mengucapkan selamat.


"Ibu Marta, boleh bicara sebentar?" tanya seorang anak buah Jack meminta izin. Dia harap bisa membawa Marta dengan cara halus.


"Bicara saja di sini. Apa yang ingin kamu bicarakan? Kalau bukan hal yang penting lebih baik ditunda saja atau kalau perlu tidak usah sampaikan sekalian." Marta terlihat angkuh dan memandang sebelah mata orang suruhan Jack.


"Maaf bukan saya yang ingin bicara tetapi Tuan Jack."


Marta mengernyit.


"Apa itu tentang pernikahan mereka? Katakan aku akan tetap datang."


"Bukan, ini bukanlah masalah pernikahan. Namun lebih penting dari hal itu."


"Sudah pergi saja Bu, barangkali Tuan Jack ingin memberikan bonus untuk kinerja ibu yang selalu totalitas," bisik Meilin di telinga Marta.


Namun, Marta yang memiliki firasat tidak baik langsung menepis perkataan Meilin.


"Tidak, saya tidak akan pergi dengan kalian. Siapa yang perlu maka dia yang harus datang ke sini!"


"Meskipun yang memanggil Anda adalah atasan Anda sendiri?"

__ADS_1


"Tentu saja. Saya sudah mengambil cuti. Jadi Tuan Jack tidak berhak mengganggu waktu saya untuk hari ini."


"Oh berarti Ibu Marta ingin kami membawanya dengan kasar." Seorang anak buah Jack mencekal pergelangan tangan dengan kencang dan menarik tangan itu dengan kasar ke luar ruangan.


"Apa-apaan sih kamu? Kalian semua bisa saya laporkan pada polisi!" ancam Marta.


"Silahkan Ibu dan kami pastikan Ibu yang akan mendekam di penjara!" bentak anak buah itu.


"Apa maksud kalian? Reza, Meilin, Mas tolong ibu!" teriak Marta ya kini sudah diseret oleh anak buah Jack keluar dari area pernikahan.


Kedua mempelai dan keluar pun mengejar Marta.


"Hei lepaskan!" teriak suami Marta.


Tidak ada yang menggubris perintah dari pria itu.


"Hei lepas kalau tidak saya akan langsung lapor polisi." Pria itu langsung memencet nomor telepon kantor polisi.


"Selamat siang Pak, maaf saya ke sini membawa surat penangkapan untuk ibu Marta."


Kedatangan dua orang polisi secara tiba-tiba mengangetkan semua orang.


"Ibu akan ditangkap? Pak polisi tidak salah orang kan?" Meilin sama sekali tidak percaya jika ibunya melakukan kejahatan yang sampai melibatkan polisi.


"Tidak sayq tidak salah tangkap, ibu anda otak dari pemerkosaan yang terjadi pada Nona Olivia," terang polisi.


"Apa?" Tentu saja semua orang terlihat syok termasuk Wati dan sang suami. Kedua orang tua Reza itu bahkan memandang Marta tak berkedip.


"Manusia yang licik tidak akan pernah menunjukkan pada orang lain tentang rencana jahatnya dan dia akan selalu pandai mengatur meski dalam kondisi seperti apapun. Sebenarnya memang tadi Nona Olivia hampir diperkosa. Untungnya segera ketahuan dan pelaku langsung mengungkap bahwa dirinya yang telah memperkosa Nona Olivia ketika dia masih gadis."


Sontak saja Reza dan kedua orang tuanya terbelalak. Mereka semua merasa bersalah karena telah menganggap Olivia wanita gampangan.


"Tidak itu tidak benar," bantah Marta.


"Saya difitnah!" Wanita itu menekankan pada kata fitnah.


"Siapapun yang tidak percaya boleh ikut kami ke kantor polisi!"


Tidak disangka Reza dan kedua orang tuanya mengangguk dan berjalan di belakang polisi.


"Lepaskan saya!" Marta memberontak ketika cekalan di lengan diganti dengan borgol.


"Ini pasti gara-gara Olivia yang tidak suka dengan pernikahan antara Meilin dengan Reza sehingga dia memfitnahku seperti ini. Dasar wanita tidak tahu diri. Lepas!" teriak Marta lagi.


"Tenanglah Jeng, kalau kamu tidak bersalah saya yakin Jeng Marta pasti akan bebas," ujar Wati agar Marta tidak terus memberontak.


Mendengar perkataan Wati, Marta sedikit tenang. "Benar kata Jeng Wati mereka tidak ada bukti untuk menuduhku. Kalau bicara tentang saksi bilang saja pria itu hanya mencari-cari alasan untuk melimpahkan kesalahannya pada orang lain." Marta tersenyum licik dan akhirnya ikut dengan polisi tanpa perlawanan lagi.


Sampai di kantor polisi sudah ada Jack dan pria yang hampir memperkosa Olivia tadi. Bahkan Olivia yang ingin menyaksikan keadilan ditemani Tina dan Bram pun juga ada di sana. Namun, Elves tidak ikut karena Jack dan Melanie melarangnya. Dia berpendapat tidak baik anak kecil ikut ke kantor polisi.

__ADS_1


Marta selalu mengelak ketika polisi menyudutkan dirinya. Namun, ketika Jack menunjukkan bukti-bukti kejahatan Marta wanita itu tidak berkutik dan akhirnya karena merasa tertekan mengakui kesalahannya.


"Jadi benar kau yang menyuruh melecehkan Olivia?" tanya Wati tidak percaya.


Marta hanya menunduk, tidak berani memandang wajah besannya apalagi menjawab pertanyaan itu.


Wati menggeleng. "Reza! Apakah kamu tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang?" tanya Wati sambil memandang lekat mata putranya.


"Tahu Ma."


"Baik kalau begitu segera lakukan! Aku tidak ingin memiliki menantu dari seorang wanita kejam seperti dia!"


"Maksud Mama?" tanya Meilin mulai gusar. Dia menatap Wati dengan tatapan sendu seolah minta dikasihani.


"Mulai sekarang aku talak kamu," ucap Reza begitu lancar sehingga membuat Meilin syok dan langsung terduduk lemas.


Olivia tidak kalah kaget. Namun, dalam hati dia bersyukur bisa lepas dari lelaki yang mudah mengambil keputusan tanpa pikir panjang seperti Reza.


"Karena kita sudah tidak punya ikatan apa-apa lagi dengan Meilin dan keluarga lebih baik kita pergi saja!" Wati menarik tangan Reza keluar dari kantor polisi.


"Mas Reza, kamu tega!" teriak Meilin sambil terisak. Gaun pernikahan masih melekat di tubuhnya, tetapi dia harus bercerai dengan sang suami karena perilaku sang ibu.


"Puas sekarang Ibu menghancurkan masa depanku!" teriak Meilin kesal.


"Kak Meilin dan Tante Marta ada di sini?" tanya seorang gadis memakai seragam putih abu-abu.


"Iya Sari ada apa?" tanya Meilin sambil mengusap air matanya.


"Kak Koni Kak," ucap gadis itu dengan tubuh yang bergetar.


"Ada apa dengan Koni?" desak Meilin. Sedari pagi tidak ada yang melihat Koni. Meilin dan keluarga pikir anak itu sedang berbaur dengan para tamu.


"Dia Kak, di–a ...."


"Katakan dengan jelas!"


"Koni bunuh diri Kak, dia melompat dari lantai 3 sekolah."


"Apa! Mengapa itu bisa terjadi?!" tanya Marta panik.


"Dia hamil di luar nikah dan kekasihnya tidak mau bertanggung jawab," jelas gadis itu dengan raut wajah khawatir dan takut.


"Katakan pria itu siapa! Akan kubunuh dia!" geram Marta sambil bangkit dari berdirinya.


Olivia terbelalak melihat kenyataan terpampang di depan mata.


"Ya Allah! Engkau Maha Tidak Tidur. Semoga semua baik-baik saja dan Ibu Marta bertaubat." Hanya itu yang bisa Olivia ucapkan dalam hati. Mensyukuri kemalangan yang terjadi pada orang lain sama sekali tidak dianjurkan meskipun pada musuh sekalipun.


"Oliv, Allah Maha adil. Dia sudah membalaskan perlakuan mereka padamu bahkan lebih buruk dari yang terjadi padamu." Jack mengusap-usap punggung Olivia.

__ADS_1


"Iya Mas, tapi kasihan Koni. Apa aku bisa melihatnya?"


Jack mengangguk. "Boleh ayo kita ke sana sekarang."


__ADS_2