Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 24. Pertemuan Kedua


__ADS_3

"Om tidak boleh menyukai kak Olivia!" Anak kecil itu memeluk Olivia seolah dirinya dan Olivia adalah satu keluarga yang tidak ingin terpisahkan.


"Kalau Om suka memang kenapa? Kak Olivia cantik dan Om juga cakep. Kami sama-sama dewasa jadi cocok." Pria itu semakin meledak Elves.


Anak kecil itu mencebik sambil memalingkan muka. "Lebih ganteng juga Elves."


Olivia hanya menggeleng sambil tersenyum melihat anak yang begitu menggemaskan kini duduk di sampingnya.


"Tapi kalian beda umur. Kak Olivia sudah dewasa dan kamu masih bocah," ujar pria itu lagi.


"Kak Olivia mau sama om itu?" Elves langsung bertanya pada Olivia.


"Maaf saya sudah punya suami."


Sontak keduanya pun saling pandang dengan ekspresi wajah yang kaget.


"Skor kita satu-satu," ujar pria itu lagi.


Elves dan pria itu saling pandang dengan aura permusuhan.


Saat kedua orang berbeda usia itu saling menatap, ponsel Oma Melanie berbunyi.


"Halo Jack ada apa?"


"Kalian dimana sekarang? Katanya Elves kabur saat mommy mengajak jalan-jalan?"


"Iya tapi sekarang Elves sudah berhasil kami tangkap."


"Oke, tapi sekarang Mommy ada dimana?"

__ADS_1


"Di rumah sakit Smart," jawab sang ibu."


"Siapa yang sakit? Baiklah saya segera ke sana."


"Jack bukan kami yang sakit Jack, tapi ... Jack! Jack!" Terdengar jawaban dari dalam telepon.


Tut, tut, tut.


Sambungan telepon terputus sudah dan Jack belum mendengar kalimat yang dilontarkan Melanie tadi.


"Ya ampun nih anak. Kebiasaan. Orang belum ngomong sudah main putus-putusin telepon," keluh Melanie mengingat putranya selalu tidak mendengarkan informasi darinya sampai selesai.


"Nyonya kalau memang Nyonya yang akan menunggui Mbak Olivia berarti saya pergi saja," ujar pria itu setelah Melanie menyudahi teleponnya dengan ekspresi kesal.


"Sudah sana Om pergi saja! Kehadiran Om di sini tidak diinginkan!" usir Elves.


"Hmm, baiklah kalau begitu. Nyonya dan Mbak Olivia saya pamit ya!"


"Oh ya Mbak Olivia ini ada beberapa uang untuk membantu biaya pengobatan Mbak Olivia di rumah sakit. Maaf ya hanya bisa memberikan segini," ujar pria itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan di atas ranjang, di samping Olivia berbaring.


"Tidak usah Mas saya punya uang sendiri kok," tolak Olivia sebab kasihan dengan pria itu sementara posisi pria tersebut saat menabrak dirinya adalah tidak sengaja dan memang Elves yang menyebrang sembarangan.


"Tidak apa-apa Mbak terima saja," bujuk pria itu sebab tidak ingin rasa bersalah akan senantiasa menghantui dirinya meski Olivia ikhlas dan memaafkan dirinya.


"Tidak apa-apa ambil saja. Anggap saja uang ini sebagai permohonan maaf sekaligus mengganti belanjaan Mbak Olivia yang mungkar sudah tidak ada di tempatnya sekarang."


Olivi langsung ingat kepada belanjaannya yang dia lepaskan di pinggir jalan. Pasti sudah ada yang mengambilnya.


"Baiklah Pak terima kasih," ujar Olivia.

__ADS_1


Pria itu mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Eh Mas!" panggil Olivia.


"Ada apa Mbak?"


"Mas bisa cek belanjaan saya di sana. Kalau ada bawa ke sini dan uang Mas akan saya kembalikan."


"Baik Mbak, nanti saya cek dan tolong jangan kembalikan lagi uang saya. Saya ikhlas kok."


"Kalau begitu kalau belanjaan saya misalnya masih ada di sana buat Mas aja deh "


"Loh kok?"


"Biar impas Mbak."


"Naiklah."


"Kalau begitu saya permisi "


Olivia dan Melanie mengangguk.


Saat pria tersebut keluar dari ruangan terlihat sudah berdiri di depan pintu ruangan tersebut. saat melihat ada di dalam cat pun masuk dan menemui mommy-nya itu.


"Mommy! Siapa yang sakit? Elves tidak apa-apa sayang?" tanya Jack William melihat Saputra duduk di tepi ranjang rumah sakit.


"Bukan Elves yang sakit, tetapi kakak ini."


Sontak saja Jack William langsung mengalihkan pandangannya pada wanita yang terbaring di tengah-tengah ranjang.

__ADS_1


"Kamu–"


Bersambung


__ADS_2