
"Kau akan hadir Olivia?" tanya Jack sambil melepaskan genggaman tangannya karena keduanya sudah sampai di samping mobil.
"Masuklah!" perintah Jack saat dirinya sudah membuka pintu mobil.
"Saya di belakang saja Tuan," tolak Olivia.
"Sudahlah tidak apa-apa, sekali-kali duduk di depan apalagi saya juga ada yang mau diomongin sama kamu."
"Tentang apa Tuan?"
"Masuk dulu!"
"Ah, baiklah." Olivia langsung masuk ke dalam mobil, Jack memutar arah lalu masuk di belakang kemudi, di samping Olivia.
Pria itu langsung mengemudikan mobilnya melihat Olivia sudah duduk bersandar pada sofa.
"Apakah kau akan hadir di pesta pernikahan Reza dan Meilin?" tanya Jack memulai pembicaraan.
"Entahlah Tuan saya belum memikirkannya."
Jack mengangguk.
"Tapi menurut saya sebaiknya kamu hadir saja. Tunjukkan pada mereka berdua bahwa kamu baik-baik saja dengan perceraian ini. Bukankah ini juga sudah menjadi pilihanmu?"
"Tuan benar, tetapi saya tidak mau dihina di tempat itu karena saya tahu benar dengan karakter Meillin."
"Ya kamu benar juga, tapi dia sudah mengundangku dan sebagai atasan mereka, saya harus menghadiri undangan dari karyawan selama tidak sibuk. Dan kau dengar sendiri tadi? Dia menyuruhku mengajakmu pergi ke sana. Jika kamu tidak ikut maka asumsinya akan bertambah jelek terhadap dirimu."
"Ah entahlah Tuan saya tidak tahu harus bersikap apa."
"Masih banyak waktu untuk memikirkannya karena waktunya masih sangat lama," ucap Jack sambil memberikan undangan ke tangan Olivia.
Olivia menerima lalu membacanya.
__ADS_1
"Masih tiga bulan lagi? Kenapa undangannya sudah disebar?" tanya Olivia bingung.
"Aneh, kan? Saya pikir hanya kita yang mendapatkan undangan sekarang sedangkan yang lainnya belum. Mungkin karena saya orangnya sibuk sehingga bisa meluangkan waktu jika diberikan undangan sejak awal, atau bahkan ada maksud tersembunyi. Dia ingin membuatmu kesal karena setelah bercerai denganmu Reza langsung melamar dirinya."
"Tuan benar, atau mungkin saja undangan bohongan," ucap Olivia dengan begitu yakin.
"Mungkin saja, semua kemungkinan bisa terjadi apalagi dia adalah wanita licik."
Olivia hanya mengangguk, dalam hati bodoh amat dengan apapun yang dilakukan Meilin selama tidak merugikan dirinya. Toh dia dan Reza sekarang sudah resmi bercerai dan sudah menjadi orang lain.
Selanjutnya selama perjalanan pulang tidak ada yang bicara lagi. Olivia fokus menatap Jalanan sedangkan Jack fokus menyetir meskipun beberapa kali melirik ke wajah Olivia sambil tersenyum dan wanita itu malah tidak menyadarinya.
"Sudah sampai," ucap Jack lalu mengarahkan mobilnya masuk ke pekarangan rumah. Di depan pintu rumah Elves dan Melanie sudah menunggu.
"Bagaimana sudah selesai?" tanya Melanie saat Olivia sampai di sisinya.
"Sudah Nyonya, hari ini saya resmi bercerai," jawab Olivia.
"Kemauan apa sih Mom? Jangan aneh-aneh, Olivia masih kelelahan."
Tiba-tiba saja Olivia melihat ke arah neneknya yang kini dilatih berjalan langsung oleh dokter di halaman rumah Jack.
"Tuan–"
"Ya, saya yang meminta dokter datang kesini untuk melatih nenekmu berjalan. Tadi kata bibi nenek bangkit dari kursi roda dan berjalan satu dua langkah. Agar mempercepat kesembuhan saya panggilkan dokter saja."
"Terima kasih Tuan."
"Dan itu semua tidak gratis Olivia." Perkataan Milanie ini seolah menjadi beban dalam diri Olivia sebab dia pasti tidak akan punya uang untuk membayar semuanya.
"Apapun saya akan lakukan Nyonya untuk membalas kebaikan kalian. Menjadi pembantu seumur hidup pun tanpa digaji saya akan menerimanya asalkan Nyonya beri makan kami saja."
"Sayangnya aku tidak menginginkan itu, malah keinginanku lebih besar daripada hanya sebagai pembantu dan kamu Olivia, sudah menandatangi persetujuan sebelum membaca."
__ADS_1
"Mommy apa-apaan sih?" protes Jack.
"Dan kamu Olivia sebaiknya membaca dulu sebelum menandatangani sebuah persetujuan agar tidak mudah dijebak dan dibohongi orang lain."
"Iya Tuan, tapi ini saya lakukan karena saya sudah begitu percaya dengan Tuan dan Nyonya Melanie bahwa kalian tidak akan menyengsarakan kehidupan saya ke depannya. Kalian berdua sudah terlalu baik pada saya dan tidak mungkin saya berburuk sangka terhadap keluarga di sini yang begitu tulus membantu saya."
"Nah, ini yang saya suka dengan Olivia, nggak kayak Jack yang curigaan mulu sama Mommy."
Jack mengernyit lalu menggeleng. "Bukan curigaan Ma, tapi hanya mengantisipasi saja. Sini saya lihat surat perjanjian kalian!" pinta Jack sambil mengulurkan tangan ke arah Melanie.
"Nanti saja setelah nenek Olivia benar-benar sembuh total."
"Kayaknya Jack tidak bisa menunggu nih, suruh siapa membuat Jack penasaran."
"Sudah tunggu saja sampai nenek Olivia benar-benar bisa berjalan."
"Yasudah selama nenek Olivia belum sembuh total tidak ada uang yang mengalir ke rekening Mommy," ancam Jack.
"Nah nih anak main mengancam segala. Ya sudah mommy ambil surat perjanjiannya dan ayo kita masuk!"
Melanie berjalan cepat kembali ke kamarnya kemudian kembali dengan amplop di tangan.
"Formal banget nih kayaknya perjanjian, awas Olivia kau bisa dihukum jika tidak menepati janji," kelakar Jack lalu terkekeh.
Tanpa basa-basi lagi Jack langsung mengambil kertas dalam amplop dan membacanya.
Jack terlihat kaget. "Mommy? Kenapa mommy ngelakuin ini?" tanya Jack heran membisu Olive jadi getar-getir saja melihat ekspresi saat Jack membaca surat perjanjian itu.
"Kamu tidak suka? Kalau tidak suka biar saya rubah," ujar Melanie.
Jack hanya tersenyum dan balik badan. "Tidak perlu dirubah dan saya yang akan menyimpan surat perjanjian ini!" teriak Jack sambil berlalu menuju kamarnya sedangkan Olivia terlihat bingung. Namun, dia yakin kedua majikannya itu tidak akan membuatnya menderita.
Bersambung.
__ADS_1