
"Kalau Elves sudah tidur kau beristirahatlah! Jangan sampai kamu ikut sakit!" Jack William memperingatkan Olivia agar jangan sampai melupakan kesehatannya sendiri karena terlalu fokus dengan keadaan Elves.
"Iya Tuan."
Jack William mengangguk.
"Oh ya Tuan–" Olivia tidak melanjutkan ucapannya karena Jack William sudah keluar dari kamar Elves.
"Ada apa?" Jack William kembali dan menatap wajah Olivia.
"Besok pagi setelah selesai menyuapi Den Elves dan memberinya obat saya pamit keluar, boleh tidak Tuan?" tanya Olivia dengan hati-hati.
Jack William diam sejenak. Pria itu tampak berpikir.
"Besok hari minggu, jika kau ingin menghabiskan harimu seharian dengan Reza tidak masalah. Saya yang akan menemani Elves."
"Terima kasih Tuan."
"Ya. Ada yang mau disampaikan lagi?"
"Tidak ada." Olivia menggeleng.
"Baiklah kalau begitu saya istirahat ke kamar."
"Iya Tuan."
Jack William pun kembali ke kamarnya. Setelah membersihkan diri dia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Besok hari Minggu waktunya mengajak Elves ziarah ke makam mommy-nya terus jalan-jalan. Semoga besok anak itu sudah benar-benar pulih." Jack William menghela nafas sebelum akhirnya memejamkan mata dan tertidur pulas.
Tengah malam Jack William terbangun dari tidurnya. Dia baru saja bermimpi didatangi oleh almarhumah istrinya.
"Dianaz apa maksudmu?"
Terbayang dalam benak Jack William tadi saat Dianaz mengatakan 'jangan lagi memikirkan akan cintamu padaku, tapi fokuslah pada kebahagiaan Elves putra kita. Apapun yang dia inginkan penuhilah!'
"Ah Dianaz mana mungkin aku bisa melupakan cinta kita? Kau tenang saja sampai saat ini saya masih mampu mencukupi semua kebutuhan Elves." Senyum di bibir Jack William terbit saat mengingat senyum manis yang mengembang di sudut bibir Dianaz tadi sebelum pergi.
Walaupun Jack William sadar itu hanyalah sebuah mimpi. Namun, dia sangat bahagia istrinya sudah mau menemui dirinya lagi setelah sekian lama pergi. Jack William menebak bahwa Dianaz sudah bahagia di alam sana karena di setiap perkataan yang keluar dari mulutnya wanita itu selalu tersenyum. Wajah Dianaz pun berbinar-binar penuh cahaya.
"Dianaz, semoga kau memang bahagia di alam sana seperti dugaanku. Aku turut bahagia jikalau engkau bahagia Sayang."
Senyum mengembang lagi di bibir Jack William.
"Aku harus lihat Elves di kamarnya dulu. Barangkali Dianaz datang dalam mimpi tadi juga ingin menegurku karena tidur sendiri tanpa memikirkan keadaan Elves dan menyerahkan semua tanggung jawab kepada pengasuhnya."
__ADS_1
Jack William bangkit dari ranjang dan keluar dari kamar. Pria itu kemudian berjalan ke arah kamar Elves dan membuka pintu secara perlahan agar tidak membangunkan Elves ataupun Olivia yang ada di dalam kamar tersebut yang mungkin saja sekarang sedang tertidur pulas.
Saat membuka pintu tampak Elves yang sedang tidur dengan posisi miring di atas ranjang sambil memeluk erat tubuh Olivia sehingga wanita itu tidak bisa bebas bergerak.
Awalnya Jack William melihat Olivia membuka mata sambil membelai-belai rambut Elves. Namun, saat dirinya masuk Olivia pura-pura memejamkan mata.
"Aku tahu kamu belum tidur," tebak Jack William langsung. Namun, tetap saja Olivia masih memejamkan mata.
"Olivia, bukankah aku baru saja mengatakan kalau Elves tidur kau juga harus ikut tidur?"
"Maaf Tuan saya tidak bisa tidur." Terpaksa Olivia membuka mata dan menjawab pertanyaan Jack, kalau tidak dia takut Jack William akan murka.
"Apa yang kamu pikirkan? Tidak mungkin tentang Elves, kan?"
Olivia mengangguk.
"Kau bisa memberitakan padaku siapa tahu aku bisa membantumu."
Olivia diam, dia bingung apakah harus menceritakan bahwa dirinya sudah diusir oleh Reza ataukah tidak.
"Kalau tidak mau cerita ya tidak apa-apa. Tidurlah!"
Setelah mengatakan perintah itu Jack William kembali ke kamarnya.
Esok hari setelah menyelesaikan tugasnya terhadap Elves, Olivia langsung pamit keluar rumah. Kali ini dia ingin mencari rumah kontrakan yang akan ditempatinya setelah pulang dari rumah Jack William. Olivia memutuskan untuk tidak menceritakan tentang keadaan rumah tangganya pada Jack William sebab selain tidak ingin membuka aib keluargaku juga tidak ingin Jack William mengasihani dirinya sehingga bisa saja merepotkan pria itu.
"Pergi sebentar. Mommy ada urusan yang harus diselesaikan. Nanti siang kalau sudah selesai mommy janji akan segera kembali ke sini."
Elves mengangguk, tetapi mata anak itu tampak berkaca-kaca saat melihat punggung Olivia menjauh dari pintu kamarnya.
"Akan terasa sepi kalau tidak ada mommy," keluh anak itu.
"Kan ada Oma Melanie juga Daddyi," ujar Melanie sambil masuk ke kamar Elves setelah sebelumnya berpapasan dengan Olivia yang pamit padanya.
"Benar Daddy akan menemani El?" tanya Elves setengah tidak percaya sebab biasanya daddy-nya selama ini terlalu sibuk.
"Iya besok kan Daddy kamu libur," sahut Milanie.
"Benarkah? Biasanya meskipun libur masih bekerja," ucap Elves mengingat beberapa minggu ini Jack William selalu sibuk sehingga tidak sempat menemani putranya itu jalan-jalan. Setiap hari Minggu Jack William selalu melakukan perjalanan ke luar kota maupun ke luar negeri untuk bertemu kolega besoknya.
Jack William mengangguk membuat senyum manis terbit di bibir Elves.
"Benarkah?" tanyanya sumringah.
"Iya sayang seharian ini daddy akan menghabiskan waktu untuk bersama Elves."
__ADS_1
"Sayang mommy Olivia nggak ikut," ucap anak itu.
"Kan ada oma yang juga akan menemani Elves," ujar Melanie.
"Oma tuh oma, bukan mommy," ujar Elves cemberut.
"Hmm, nanti samperin deh Mommy pas siang. Sekarang kita ke makam Mommy Dianaz dulu ya?"
"Oke Daddy."
Mereka pun mulai bersiap-siap.
Setengah hari Jack Wiliam bersama Elves dan Melanie mutar-mutar kota setelah melakukan ziarah ke makam Dianaz. Kini saatnya mereka berhenti di sebuah restoran untuk makan siang.
"Dad, kita bungkusin juga ya makanan ini untuk mommy, kita enak makan di sini. Mommy di rumahnya makan apa sekarang?"
"Iya, iya. Nanti daddy pesankan lagi untuk mommy. Kita sekarang harus makan dulu setelah selesai kita langsung menemui mommy dan mengajak dia jalan-jalan kalau bisa."
"Hore!"
Anak itu berjingkrak kesenangan. Jack William dan Melani hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putra dan cucunya itu.
Selesai makan Jack William langsung mengarahkan mobilnya ke kediaman Reza. Niat hati ingin menjumpai Olivia, tetapi ternyata mereka malah menjumpai Resa yang baru keluar dari pintu rumah, berjalan sambil bermesraan dengan wanita lain.
"Apakah Olivia tahu akan hal ini?" Jack William langsung memotret keduanya dengan ponsel.
Setelah Reza naik mobil dan pergi dari rumah barulah Jack William turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu rumah.
Dia mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban dari dalam.
"Apakah Olivia tidak pulang ke sini?"
Jack William mencoba mengetuk pintu kembali disertai dengan mengucap kalimat salam. Namun, tetap saja tidak ada yang membuka pintu.
"Sepertinya dia tidak ada di rumah."
Jack William kembali ke dalam mobilnya.
"Bagaimana Daddy, apakah mommy tidak ada?"
"Tidak ada, mungkin mommy sudah ada di rumah kita. Jadi, lebih baik kita pulang sekarang."
Elves mengangguk.
Jack William melajukan mobilnya kembali di jalanan.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Jack William melihat Olivia memasuki sebuah gang. Jack William langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan pamit pada Elves dan Melanie untuk membeli sesuatu padahal dia sebenarnya ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Olivia di gang tersebut.
Bersambung.