
"Oh ya Oliv, nanti kamu bayar belanjaanmu dengan kartu ini ya?"
"Ini kartu apa Mas? Kok kayak bukan kartu ATM. Apakah ini yang dinamakan dengan kartu kredit?"
"Sudahlah berikan saja nanti pada kasir."
"Baiklah." Olivia meraih kartu dari tangan Jack kemudian memasukkan ke dalam tasnya.
Setelah Jack pergi Olivia mengandeng tangan Elves berjalan-jalan di dalam mall.
"Mau beli apa dulu?"
"Main," jawab Elves.
"Belanja dulu aja ya! Nanti baru main."
"Baiklah," sahut Elves pasrah.
Olivia menarik troli kemudian mengajak Elves berkeliling mencari belanjaan.
"Aku mau ini Mommy." Elves menarik sebuah jajanan tradisional berukuran bulat dan besar.
"Apa itu?" tanya Olivia
karena memang tidak tahu nama dari makanan itu.
"Ini yang namanya rambut nenek, Mommy."
"Oh itu toh makanan yang kamu maksud kemarin? Emang enak?"
"Enak dan berwarna-warni."
"Emang rambut nenek warna-warni ya?" tanya Olivia menggoda Elves.
Anak itu mengangguk. "Paling tidak berwarna dua macam yaitu hitam dan putih."
Olivia hanya mengangguk-angguk.
"Yuk kita cari yang lain dulu."
Elves pun mengangguk dan mereka melanjutkan belanjanya.
"Sekarang kita main baru setelah itu makan," ujar Olivia setelah mengontrol belanjanya yang sudah komplit. Mereka kini melangkah ke arah kasir.
"Asyik!" Elves menyambut dengan antusias.
"Main apa ayo?"
"Dokter-dokteran."
"Oke ayo!"
__ADS_1
Mereka pun menuju ke bagian permainan.
"Hei kamu Tina, kan?"
Wanita yang disapa oleh Olivia mengangguk.
"Ah iya kamu Oliv, kan?"
"Iya benar, apa kabar Tin? Senang bertemu denganmu."
"Baik, senang bertemu denganmu juga Oliv. Eh dia siapa? Keponakanmu?" tanya Tina beralih menatap ke arah Elves.
"Bukan, tapi anakku." Olivia mengusap-usapnya rambut Elves.
"Ah masa sih kamu sudah punya anak segede dia, perasaan kita baru lulus sekolah deh, atau jangan-jangan–"
"Jangan-jangan apa? Aku hamil diluar nikah?" potong Olivia akan perkataan Tina.
"Ya, tapi tetap aja masih nggak masuk akal. Kalau iya sudah dari dulu perut buncitmu kelihatan karena kehamilan."
"Dia putraku, tapi bukan anak kandung," jelas Olivia.
"Wah jadi kamu menikah dengan duda?"
"Belum, tapi baru akan menikah bulan depan."
"Oh masih calon ya!"
"Ya begitulah."
"Lumayan sih."
"Wah aku juga mau kalau nikah sama duda kaya, nggak perlu repot-repot kerja keras begini," ucap Tina.
"Hasil keringat sendiri lebih membanggakan Tin, sudah nggak usah ngomong tentang kekayaan. Didengar orang nanti mereka menganggap kita matre."
"Tapi jangan lupa aku diundang ya?"
"Beres, tapi boleh aku minta nomor teleponmu?"
"Oh boleh." Tina merogoh kartu nama dari dalam tas selempangnya kemudian memberikan kepada Olivia.
"Ini ya simpan baik-baik! Jangan sampai lupa, entar aku nggak diundang lagi di acara pernikahan kalian."
"Insyaallah nggak bakal lupa. Eh benar kamu ya karyawan yang bertugas di bidang permainan ini?"
"Yup benar. Silahkan dipilih mau permainan yang mana."
"Katanya dia mau main dokter-dokteran."
"Benar adik?" tanya Tina memastikan pada Elves.
__ADS_1
"Iya Tante, tapi setelah itu mau main itu, itu, dan itu." Tunjuk Elves pada beberapa macam mainan.
"Oke, kalau sultan mah bebas mau main apa saja. Dijajal semua permainan di sini juga nggak apa-apa."
"Kamu mah yang nggak apa-apa, aku lelah kalau harus menunggu lama. Lihat sendiri banyak banget permainan yang ditawarkan di area ini. Bisa-bisa seharian nggak pulang-pulang."
Tina terkekeh mendengar protes Olivia.
"Nggak apa-apa oliv, itung-itung bahagiain anak agar ayahnya tambah sayang sama kamu."
"Sudah ah, banyak bicara. Itu Elves sudah tidak tahan untuk menjajal permainan yang ada di sini."
"Oke-oke, sabar ya adik manis. Maklum kami baru berjumpa setelah lama tidak bertemu. Eh siapa nama adik tadi?"
"Elves."
"Oke yuk kita masuk ke dalam!"
Elves mengangguk dan mengikutinya langkah Tina ke tempat permainan dokter-dokteran.
"Sudah temani sana, jangan cuma foto-foto doang. Aku pamit sebentar mau melayani pengunjung lain."
"Oke pergilah!"
Satu jam mereka di tempat permainan, tetapi Elves belum bosan juga.
"Sayang Mommy ingin ke toilet dulu ya, mau pipis," ujar Olivia dan Elves mengangguk.
"Tin, aku nitip dia sebentar ya, aku kebelet pipis ini."
"Oke Oliv, kamu tenang saja. Elves aman bersamaku."
"Beneran ya Tin, jangan lengah jagain dia saat kamu harus melayani pengunjung lain!"
"Beres, ada teman-teman kok."
"Oke aku pergi dulu. El, mommy pergi sebentar ya!"
"Oke Mommy."
"Sudah cepetan Oliv, entar keluar di sini tuh air ketuban. Kan aku yang repot." Tina cekikikan.
"Dasar." Olivia langsung berjalan cepat ke arah toilet.
"Eh kok aku lupa ya nggak tanya sama Tina tadi posisi toiletnya ada di mana?"
"Di sebelah sana Mbak," jawab seorang pria yang mendengarkan gumaman dari Olivia.
Terima kasih Mas," ucap Olivia tanpa ada inisiatif untuk melihat wajah pria yang berbicara. Olivia terus melangkah ke arah yang ditunjuk oleh pria tadi tampa curiga sedangkan pria itu membuntuti dari belakang.
"Loh kok sepi ya!" Olivia merasa aneh sedangkan pria di belakangnya langsung menyekap dan membius Olivia hingga wanita itu pingsan.
__ADS_1
"Akhirnya target sudah menjadi mangsa," ujar pria itu lalu menggendong tubuh Olivia keluar dari mall.
Bersambung.