Pengantin Yang Ternoda

Pengantin Yang Ternoda
Bab 81. Ending


__ADS_3

"Kau benar-benar ibu?" tanya Olivia untuk meyakinkan dirinya sendiri, dari tadi dia sudah merasa seperti itu hanya saja belum yakin melihat penampakan Marissa yang berbeda dengan sebelumnya.


"Iya Nak, aku Marisa ibumu." Tidak tahan lagi Marisa langsung memeluk putrinya.


"Maaf tubuh Anda kotor dan saya tidak pernah tahu kalau istri saya masih punya ibu. Saya pikir dia hanya punya nenek saja," ucap Jack sedikit kesal jika mengingat bagaimana sikap Marisa pada Olivia dulu. Itu membuat Marisa langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Olivia.


"Maaf telah membuatmu kotor," ucap Marisa lalu mundur ke belakang.


"Tidak apa-apa," ujar Olivia.


"Benar dia ibumu?" tanya Jack lagi dan Olivia hanya mengangguk lemah.


"Maafkan atas kesalahanku ya Nak. Sekarang ibu merasakan bagaimana rasanya dikasari sama seseorang. Maafkan ibu yang selama ini telah berbuat seperti itu padamu. Dulu ibu selalu bertindak sewenang-wenang hanya untuk mencapai impian ibu bahkan jika itu menggadaikan masa depanmu sekalipun ibu tetap memaksamu."


"Iya Bu, tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu dan saya bahagia dengan Mas Jack sekarang. Sebaiknya, kita tidak perlu menoleh ke belakang lagi jika itu hanya akan menyakiti hati kita, tapi fokuslah melangkah ke depan karena di sana masih banyak harapan," ucap Olivia sambil menatap lekat wajah Olivia yang terlihat gurat kesedihan di sana. Olivia yakin bahwa Marisa melewati hidup yang berat setelah tidak bertemu lagi dengannya.


"Terima kasih Nak, ibu pikir kamu tidak akan bisa memaafkan ibu yang telah menzalimi kamu dan juga nenekmu." Marisa terlihat menunduk.


"Sekejam-kejamnya ibu, ibu tetap orang yang melahirkan Olivia. Penderitaan apapun yang Olivia alami tidak akan mampu mengalahkan rasa sakit saat ibu berjuang melahirkanku. Olivia bahagia jika ibu berubah," ucap Olivia dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau memang tulus Nak, ibu saja yang tidak bisa melihat kebaikanmu. Semoga bayi dalam kandunganmu ini menjadi anak yang sholeh atau sholehah agar berbakti kepadamu dan suamimu ini."


"Terima kasih Bu, atas doanya."


Marisa mengangguk. "Bagaimana keadaan nenekmu?"


"Nenek baik-baik saja, dia sudah sembuh dari penyakit stroke-nya sehingga sekarang bisa berjalan seperti orang normal."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Ibu tinggal di sini?"


"Iya, Nak. Ini rumah suami ibu."


"Kalau ibu tidak bahagia pulanglah ke rumah dan tinggalkan laki-laki ini jika hanya menyiksa fisik dan batin ibu."


"Mau pulang kemana, Nak? Bukankah kita tidak mempunyai rumah?"


"Kalau kamu mau, ibu bisa tinggal di rumah," ucap Jack.


"Tidak usah Nak, tidak perlu," tolak Marisa karena merasa tidak enak.


"Biar ibu tinggal di rumah kami Mas," ucap Olivia dan Jack hanya diam saja.


"Bu, rumah kita sudah kembali setelah ibu mertua saya menebusnya. Jadi ibu bisa tinggal di sana kalau mau pulang. Maaf, bukan tidak mau mengajak ibu untuk tinggal bersama kami di rumah Mas Jack, tapi Olivia tidak enak sama mertua karena sudah sering merepotkan, apalagi nenek juga sudah tinggal di sana."


"Tidak apa-apa Nak, saya paham kok dan saya juga tidak mau tinggal di rumah besan. Biarlah ibu bertahan di sini saja."


"Terserah ibu, tapi kalau ibu berubah pikiran silahkan datang ke rumah kami dan nanti Olivia akan kasih kunci rumah kita karena sekarang Olivia tidak membawanya."


"Baik."


Olivia menyodorkan kartu nama pada Marisa.


"Apa ini Nak?"


"Ini alamat kami tinggal, di situ ada nomor telepon Mas Jack juga Olivia. Jadi, jika terjadi sesuatu dengan ibu atau ibu ada kendala untuk sampai di rumah kami, ibu bisa langsung menghubungi salah satu dari kami."


Marisa menerima kartu nama lalu memandang wajah Olivia yang hanya menampilkan senyuman sedangkan saat beralih menatap wajah Jack pria itu hanya mengangguk-angguk.


"Baiklah, terima kasih. Insyaallah suatu saat saya akan ke sana."


"Iya Bu, kalau begitu kami permisi dulu." Olivia menyalami tangan Marisa begitu pun dengan Jack. Namun, saat Jack mengulurkan tangannya Marisa berkata, "Tidak usah Nak tanganku kotor."


"Tidak apa-apa Bu." Jack tetap

__ADS_1


memaksa mengulurkan tangan dan Marisa pun terpaksa menerima uluran tangan Jack meskipun dalam keadaan tangan yang kotor.


"Kami permisi dulu, lain kali kalau ada kesempatan insyaallah akan mengajak Olivia ke sini lagi."


"Terima kasih Nak dan hati-hati."


"Iya Bu, Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi!"


Marisa menatap kepergian anak dan menantunya dengan sedih. Kalau saja dia tidak bertindak semaunya pada Olivia dulu mungkin dia tidak akan sungkan untuk pulang ke rumah lamanya. Namun, dia bahagia setelah melihat Jack menuntun Olivia hingga naik ke atas mobil.


"Kupikir Reza adalah pria yang bisa membahagiakan Olivia dengan kekayaannya, tetapi ternyata Olivia bisa mendapatkan suami yang lebih baik dari segi apapun. Nak Jack tidak hanya kaya, tapi dia juga tulus mencintai putri saya. Semoga kebahagiaan selalu dilimpahkan untuk kalian, Nak." Marisa memejamkan mata dan menghembuskan nafas lega.


"Kenapa kamu tidak mengizinkan ibu untuk tinggal bersama kita? padahal aku sama Mommy tidak apa-apa kalau kamu mau mengajak beliau tinggal di rumah kita."


"Nggak Mas, nggak dulu deh. Aku tidak mau gegabah, takut-takut ibu hanya berakting tadi."


"Ya ampun kok malah berpikiran seperti itu sih Oliv?"


"Karena aku sudah biasa tinggal bersama ibu, aku tahu seperti apa sikap ibu, walaupun aku berharap dia memang sudah benar-benar berubah. Kita sudah memberinya kartu nama tadi, jika dia tidak berubah maka dia akan langsung menghubungi kita dan meminta bantuan ini itu dengan berbagai macam alasan. Namun, kalau dia memang benar-benar berubah mungkin saja akan sungkan untuk meminta bantuan kita secepat ini."


"Baiklah kalau itu maumu. Nanti aku akan menyuruh seseorang untuk memantau keadaan beliau sebab sepertinya suami ibu adalah seorang pria yang temperamen."


"Baik Mas, terima kasih banyak. Kau dan mommy tidak hanya baik padaku, tetapi juga keluargaku. Entah bagaimana caranya aku membalas hutang budi pada kalian." Olivia menghembuskan nafas panjang.


"Cukup jadi istri yang baik dan setia. Selalu ada di sampingku dalam kondisi apapun."


"Insyaallah Mas, asal jangan Mas Jack aja yang selingkuh. Kalau untuk yang satu ini Olivia mundur, biar deh meskipun Olivia harus kembali menjadi orang miskin."


"Cck, malah ngomong selingkuh lagi! Istri satu aja belum habis-habis," ucap Jack sambil memencet hidung Olivia.


"Lepas–kan, aku nggak bisa nafas!"


Jack melepaskan lalu terkekeh.


Mereka pun melanjutkan perjalanan.


Beberapa bulan kemudian, Jack di telepon oleh Melanie karena Olivia akan melahirkan. Saat perjalanan dari kantor menuju rumah sakit, dia melihat Marisa ditampar oleh suaminya sehingga terpaksa pria itu turun dari mobil dan langsung berlari ke arah Marissa.


"Hentikan!" teriak Jack. Suaranya menggelegar di udara.


"Oh ada yang mau ikut campur urusan kami," ucap pia itu sambil melangkah ke arah Jack sambil cengar-cengir.


"Aku hanya ingin kau tidak mengasari dia. Kalau sudah tidak suka kenapa tidak diceraikan saja daripada hanya dijadikan tempat pelampiasan kemarahan?"


"Kau–" Pria itu terbelalak ketika mengingat Jack pernah memberinya uang.


"Ya, aku yang dulu pernah ke sini."


"Oke, ada penawaran berapa jika ingin aku melepaskan dia?"


"Ibu, apakah yang ibu inginkan sekarang?" tanya Jack sebelum mengambil keputusan.


"Aku ingin dia menceraikanku agar bisa bebas pergi dari tempat ini," jawab Marisa.


"Baik, aku akan menceraikan dia asal sekarang juga Anda bisa memberikan uang 20 juta."


"Baik, Pak ambil kertas di dalam mobil!" perintah Jack pada sopir pribadinya.


"Baik Tuan."


"Sekalian uang 20 juga dalam tas!"


"Baik."

__ADS_1


"Sekarang talak ibu mertua saya dan tanda tangani kertas ini. Setelah itu uang 20 juta akan jatuh ke tanganmu!"


"Jangan Nak, jangan sampai mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk ini semua. Nak Jack bisa bantu saya melaporkan suami saya ini saja ke polisi dan otomatis talak akan jatuh dengan sendirinya, bukan?"


"Tidak ada waktu Bu, Olivia saat ini sedang berjuang untuk melahirkan anak pertamanya, dan saya juga tidak ingin timbul masalah jika harus melaporkan dia ke kantor polisi karena setelah bebas dia bisa mengganggu ibu lagi. Jadi cara aman satu-satunya dengan membayar uang yang diminta oleh pria ini. Uang bisa dicari Bu, dan kewarasan ibu tidak bisa dibeli seharga 20 juta."


"Pria yang cerdas," ucap pria itu pada Jack lalu menandatangani surat pernyataan setelah mengucap kalimat talak.


"Urusan kami denganmu sudah selesai. Ingat jangan pernah mengganggu kami lagi karena kalau sampai itu terjadi, kau tahu sendiri akibatnya," ancam Jack.


"Baik," ucap pria itu sambil mencium segepok uang di tangannya.


"Ayo Bu kita pergi sekarang! Jack tidak mau terlambat menemani persalinan Olivia!" ajak Jack dan langsung membawa Marisa ke dalam mobil.


"Jalan Pak! Cepat!"


"Baik Tuan."


***


Di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Olivia Mom?" tanya Jack sambil berlari ke arah Melanie hanya berdiri di depan pintu ruangan bersalin dengan Elves.


"Mommy sakit perut Dad," jawab Elves.


"Masuklah Nak, barangkali putramu menunggumu. Dari tadi Olivia mengejan terus menerus, tapi bayinya tidak mau keluar juga. Maaf ibu yang tidak tega melihatnya akhirnya pamit keluar dan di sana yang menjaga hanya nenek Olivia saja."


Mendengar perkataan Melanie, Jack langsung masuk ke dalam diikuti oleh Marissa di belakangnya.


"Mas!" Olivia tersenyum melihat kedatangan Jack.


"Maaf aku terlambat, tadi ada gangguan sedikit."


Olivia mengangguk. "Kau bersama Ibu? Ahh sakit!" Olivia meringis.


"Bertahan Sayang, kau harus berjanji untuk tetap berada di sampingku," ucap Jack. Ketakutan yang sama terlintas kembali saat mengingat Elves dilahirkan.


"Insyaallah Mas." Olivia berpegangan kuat pada Jack.


"Arrhhh!"


"Oek, oek, oek."


Tangisan bayi dari ruangan bersalin membuat Melanie dan Elves heboh di luar.


"Elves punya adik!"


"Sayang bayinya sudah lahir, kau ibu yang hebat," ucap Jack lalu mengecup kening Olivia.


"Mas!" Olivia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain tersenyum dengan mata berkaca-kaca karena terharu. Akhirnya dia benar-benar menjadi seorang ibu.


"Bayinya laki-laki Tuan," ucap dokter sambil mengangkat bayinya ke atas.


"Tidak apa-apa Dok, laki-laki atau perempuan sama saja. Toh nanti kami bisa bikin lagi yang perempuan," ucap Jack lalu terkekeh membuat dia langsung mendapatkan cubitan dari Olivia.


"Ingat ya Tuan, atur jarak kelahiran kalau ingin anak lagi agar tidak kekurangan kasih sayang dari orang tua," nasehat dokter.


"Iya Dok saya hanya bercanda kok. Pasti, karena saya akan selalu memastikan keadaan istri saya baik-baik saja," ucap Jack lalu memeluk Olivia.


Dokter hanya mengangguk.


"Terima kasih Sayang sudah menjadi istri yang sempurna bagiku," ucap Jack sambil memeluk tubuh Olivia dan beberapa kali mengecupnya. Hari ini Jack benar-benar senang. Begitupun dengan Olivia, tidak ada hari yang sebahagia ini sebelumnya.


"Alhamdulillah."

__ADS_1


***********TAMAT**********


__ADS_2